Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Dicky Mulai Sadar


__ADS_3

Fitri menggenggam tangan Dicky dengan erat dan hangat, berharap dia akan bisa memberikan kekuatan pada suaminya itu.


Kemudian Fitri mengelus dada Dicky yang kini di perban, mengusap lembut bulu-bulu halus yang ada di dada suaminya itu, rasanya ingin sekali Fitri merebahkan kepalanya di dada Dicky, namun dada Dicky kini sedang terluka.


Perlahan Dicky mulai mengerjapkan matanya, jemari tangannya sudah mulai bergerak perlahan.


"Mas, Mas Dicky, kau sudah sadar Mas?" tanya Fitri sambil mengusap air matanya.


"Fit, aku haus Fit, aku mau minum!" lirih Dicky. Bibirnya memang terlihat kering dan pucat.


Kebetulan di ruangan itu ada suster yang sedang membereskan peralatan medis, Fitri kemudian menoleh ke arah suster itu.


"Suster, suami saya sudah sadar, dia haus suster, tolong suami saya suster, apakah boleh minum?" tanya Fitri.


"Maaf Bu Fitri, Dokter Dicky baru saja di operasi untuk mengeluarkan peluru di dadanya, jadi dia belum boleh minum dulu, bersabar sedikit ya Bu!" jawab Suster itu.


Tak lama kemudian suster itu pun keluar dari ruangan itu.


"Haus Fit!" ucap Dicky dengan suara lemah nyaris tak terdengar.


"Mas Dicky sabar ya, saat ini Mas Dicky belum boleh minum dulu, paling tidak lama kok, sabar ya Mas!" bisik Fitri sambil mengusap wajah Dicky dan menciumi keningnya.


"Haus Fit!" lagi-lagi Dicky meminta minum, Fitri tidak tega melihat suaminya yang terlihat begitu kehausan.


Kemudian Fitri mulai mengecup bibir kering itu, mengecup dan memagutnya hingga bibir kering itu berubah menjadi basah, Fitri berusaha membuat Dicky tidak terlalu haus.


Ceklek!


Seorang Dokter dan beberapa orang perawat masuk ke ruangan itu.


"Hei, apa yang Bu Fitri lakukan?" tanya Dokter itu yang heran dan terkejut saat di lihatnya Fitri sedang mengecupi bibir suaminya.


"Suami saya haus Dok, tapi katanya tidak boleh minum sehabis operasi, apa salahnya saya membantu meringankan kekeringan bibir suami saya!" jawab Fitri.


Dokter hanya manggut-manggut sambil menggaruk kepalanya, kemudian dia mulai memeriksa kondisi Dicky.


"Dokter Dicky sakit saja seperti ini, saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau sehat!" ujar sang Dokter sambil mengecek perban di dada Dicky.


"Bagaimana keadaan suami saya Dok?" tanya Fitri.


"Pelurunya sudah keluar, cuma luka dalamnya masih basah, sementara jangan banyak bergerak dan Dokter Dicky boleh minum setengah jam kemudian!" jawab sang Dokter itu.


"Hmm, lama juga ya, kasihan Mas Dicky!" gumam Fitri.


"Sekarang Dokter Dicky akan di pindahkan di ruang perawatan, di sana lebih nyaman sambil menunggu proses pemulihannya!" ujar Dokter.


Beberapa orang perawat mulai memindahkan Dicky ke ruang perawatan. Fitri mengikuti di belakangnya.


Dicky kini di rawat di sebuah ruangan VIP yang di jaga ketat oleh dua orang security di depan ruangannya, karena insiden yang di alami Dicky, atas perintah Ibu Anjani.

__ADS_1


Jadi tidak boleh sembarang orang yang bisa menjenguk Dicky, hanya orang-orang tertentu saja.


Ruangan yang kini di tempati Dicky adalah ruang termewah di rumah sakit itu, mirip hotel dengan ranjang besar dan sofa yang empuk membuat siapa saja yang berada di tempat itu betah berlama-lama.


"Jangan lupa obatnya teratur di minum untuk mempercepat proses penyembuhan Dokter Dicky!" ujar sang Dokter.


"Baik Dokter!" jawab Fitri.


Tak lama kemudian Dokter dan beberapa perawat itu sudah kembali keluar dari ruangan Dicky.


"Sialan! Dokter itu mengerjai aku!" umpat Dicky dengan suara lemah.


"Ada apa Mas, jangan banyak bicara dan bergerak dulu!" tukas Fitri.


"Aku juga Dokter, aku tau kapan pasien pasca operasi harus minum, tidak sampai setengah jam juga kali!" sungut Dicky.


"Sudahlah Mas, kau ini baru sadar cerewet sekali, tapi aku senang kau telah melewati masa krisis, saat kau kehabisan darah aku panik, aku posting di media sosial, banyak orang yang mengantri ingin mendonorkan darahnya untukmu!" ungkap Fitri.


"Kau membuatku malu saja! Selama ini aku jarang meminta-minta pada orang, apalagi meminta darah!" ucap Dicky.


"Hmm, dasar gengsi! Memangnya cuma kau saja yang bisa memberikan sesuatu, tanpa memberikan kesempatan orang lain untuk melakukan hal yang sama!" sahut Fitri.


Dicky tertawa, tapi segera dia memegang dadanya yang nyeri saat dia tertawa.


"Aww!!" Dicky meringis.


"Dadaku sakit Fit, aku tidak boleh tertawa atau teriak ini, sakit!" jawab Dicky.


"Ya sudah, Mas Dicky istirahat saja jangan banyak tingkah, yang penting semua misteri di rumah Ibu sudah terpecahkan, kita tau siapa dalang semuanya ini!" ucap Fitri.


"Fitri, aku tidak menyangka kau akan seberani itu masuk ke dalam kamar Pak Bram, kenapa kau tidak bilang padaku sih?" tanya Dicky.


"Kalau aku bilang padamu, bisa-bisa kau langsung mengamuk pada Pak Bram dan yang lainnya, dan itu sangat berbahaya!" sahut Fitri.


"Apa yang kau lakukan juga berbahaya Fit, lain kali aku tak akan mengijinkanmu berbuat seperti itu lagi! Awas saja!" ancam Dicky.


"Sssst, kata dokter kau jangan banyak bicara dulu Mas!" bisik Fitri.


Fitri menempelkan telunjuknya di bibir Dicky.


"Ibu di mana?" tanya Dicky.


"Entahlah, katanya dia ada urusan lain yang belum selesai, aku juga tidak tau apa itu!" jawab Fitri.


"Tapi aku mau ..."


"Sssst, jangan bicara lagi!" potong Fitri cepat.


"Aku haus!" cetus Dicky.

__ADS_1


"Belum setengah jam untuk minum!'' tukas Fitri.


"Tidak usah minum, cium saja!" bisik Dicky. Fitri melotot.


"Dasar modus!"


"Kau yang mulai duluan!" Dicky tak mau kalah.


"Itu tadi, sekarang tidak lagi!" cetus Fitri.


"Ayo dong!"


"Tidak!"


"Sedikit saja!" rajuk Dicky.


"Tidak! Nanti akan ada yang bangun!"


"Sudah dari tadi kok bangunnya! Mau lihat?"


"Jangan! Dasar mesum!" Fitri kemudian mulai kembali mengecup Bibir Dicky, karena suaminya itu begitu cerewet sekali.


Ceklek!


Seorang perawat masuk keruangan itu.


Dia segera memalingkan wajahnya saat Fitri sedang mencium bibir Dicky.


"Maaf, Bu Fitri, di luar sedang ada keributan, bisakah keluar sebentar?" tanya Suster itu.


"Keributan? Keributan apa?" tanya Fitri.


"Bu Fitri keluar saja! Ada orang yang mau menemui Dokter Dicky, padahal kan Bu Anjani sudah pesan agak dokter Dicky tidak boleh menerima tamu siapapun selain keluarga intinya!" jelas suster itu.


"Siapa yang mau bertemu suami saya?" tanya Fitri.


"Saya tidak tau Bu Fitri, makanya Bu Fitri keluar saja, karena orangnya ngotot mau ketemu Dokter Dicky!" jawab Suster.


"Baiklah, kau jaga di situ ya Sus, aku akan menemui orang itu, tapi ingat, jangan coba sentuh suamiku tanpa seijinku!" ujar Fitri yang langsung beranjak dari tempatnya lalu melangkah perlahan keluar dari ruangan itu.


Bersambung ...


****


Sambil menunggu up selanjutnya yuk baca karya author yang lain...


Klik profile ya ... kalian bisa pilih buku mana yang mau kalian baca.


Terimakasih 😘🙏

__ADS_1


__ADS_2