
Fitri pergi ke rumah sakit di antar oleh Mang Salim, sementara Alex di titipkan pada Bu Sumi, dengan ASI yang sudah di sediakan beberapa botol.
Sudah tidak bisa terkatakan lagi bagaimana perasaan Fitri, di depan matanya sendiri dia melihat suaminya itu tertembak, tepat mengenai dadanya.
Hati Fitri bagai teriris sembilu, sepanjang jalan dia terus berurai air mata, hingga matanya kini menjadi sembab dan bengkak.
"Sudahlah Mbak Fitri, Pak Dokter itu orang yang baik, dia pasti cepat sembuh!" hibur Mang Salim saat melihat Fitri terus terusan menangis.
"Aku takut Mang, aku takut sekali kehilangan Mas Dicky, di dunia ini, hanya Mas Dicky yang begitu tulus padaku, aku takut!" Isak Fitri.
"Tenang saja Mbak Fitri, tenang kan pikiran, kalau seperti ini terus kasihan Pak Dokter, apalagi Alex, dia masih butuh perhatian dan kasih sayang Mbak Fitri!' ujar Mang Salim.
Mereka kemudian sampai di rumah sakit itu, tanpa menunggu lagi, Fitri segera turun dari dalam mobil dan langsung berjalan cepat menuju ruang UGD.
Di depan ruangan itu, Bu Anjani nampak duduk sambil menangis.
"Bu! Bagaimana Mas Dicky Bu? Bagaimana keadaannya?!" tanya Fitri yang langsung duduk di sebelah Bu Anjani.
"Dia sedang di tangani Dokter, saat ini dokter sedang berusaha mengeluarkan peluru yang bersarang di dada Dicky!" jawab Bu Anjani sambil menyeka air matanya.
"Ohhh, Mas Dicky! Kenapa lagi-lagi masalah menimpa padanya?? Selama ini bahkan dia tidak pernah sedikitpun berbuat jahat?? Kenapa selalu dia yang menanggungnya??!" Fitri menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Maafkan Ibu Fitri! Semua ini gara-gara Ibu!" gumam Bu Anjani menyalahkan diri sendiri.
Fitri terhenyak seketika.
"Kalau Ibu tidak terburu-buru mengakui Dicky sebagai anak Ibu, mungkin Dicky tifaknakan mengalami ini! Mungkin saat ini Dicky masih bermain dengan Alex!" Bu Anjani menangis sesenggukan. Ada penyesalan yang dalam di wajah nya.
Melihat Bu Anjani seperti itu, Fitri jadi merasa bersalah, walau bagaimana, ini adalah takdir, bukan karena kesalahan Bu Anjani.
"Bu, jangan merasa bersalah, kalau Ibu tidak mengakui Mas Dicky, mungkin sampai sekarang Pak Bram dan Bu Arini itu masih menjadi musuh di rumah Ibu, mungkin mereka masih bebas berkeliaran dan merampok harta Ibu!" ucap Fitri sambil menggenggam tangan Bu Anjani.
"Terimakasih Fitri, sebenarnya bagi Ibu harta bukanlah segalanya, kalau mereka minta baik-baik, tentunya ibu juga akan memberinya, tapi ... mereka bahkan telah melukai putraku!" kata Bu Anjani.
Seorang Dokter keluar dari ruang UGD itu.
__ADS_1
Fitri dan Bu Anjani langsung bangkit dan menghampiri Dokter itu.
"Bagaimana keadaan putra saya??" tanya Bu Anjani.
"Dokter Dicky mengalami banyak pendarahan, saat ini dia butuh donor darah, tim kami sudah mencari darah yang di butuhkan, cuma kebetulan stok sedikit!" jelas seorang Dokter.
"Aku yang akan mendonorkan darahku untuk putraku!" kata Bu Anjani.
"Mohon maaf Bu, untuk wanita yang berusia di atas 50 tahun tidak di anjurkan untuk mendonorkan darahnya!" jawab Sang Dokter.
"Kau tau siapa aku?? Berani membantah perintahku?? Aku tau golongan darahku sama dengan anakku, makanya aku ingin memberikan darahku ini padanya!" seru Bu Anjani.
"Tapi Bu ..."
"Lakukan sekarang juga Dokter!" kata Bu Anjani.
"Bu, jangan memaksakan diri, aku akan meminta tolong di media sosial, banyak yang menyayangi suamiku, pasti akan banyak juga yang akan dengan ikhlas mendonorkan darahnya!" ucap Fitri.
Beberapa orang wartawan mulai mendatangi tempat itu, dan langsung mengintrogasi Bu Anjani.
"Maaf, putraku sedang sakit di dalam, aku tidak akan nenjawab pertanyaan kalian, sekarang ku mohon kalian pergilah dari sini!" sahut Bu Anjani.
Beberapa wartawan mundur, namun ada beberapa wartawan yang tetap bertahan menunggu.
Kasus yang terjadi dalam keluarga Bu Anjani kini menjadi perbincangan hangat publik, menjadi trending topik di semua media sosial.
Dalam waktu singkat, banyak ucapan-ucapan dan komentar turut prihatin dengan apa yang menimpa Dokter Dicky.
Banyak juga para kerabat dan sahabat yang datang ke rumah sakit sekedar untuk menjenguk Dokter Dicky.
Dalam waktu singkat juga banyak pendonor darah untuk Dicky, mereka mengantri untuk di cek kesehatan.
Dimas dan Mia datang menghampiri Fitri yang masih duduk di depan ruang UGD.
Untuk sementara Dicky belum boleh di jenguk oleh siapapun, termasuk istri dan ibunya.
__ADS_1
"Fitri, kami turut prihatin dengan apa yang menimpa Dicky, yakinlah kalau dia akan cepat sembuh!" ucap Dokter Mia.
"Terimakasih dokter, dukungan kalian sangat berarti buat suamiku!" balas Fitri.
"Dicky itu pasti kuat melewati semuanya, kau jangan khawatir, dia masih punya hutang janji padaku!" ujar Dimas.
Fitri kembali menitikkan air matanya, melihat begitu banyak ucapan simpati dari berbagai kalangan, dia semakin mengenal sosok Dicky suaminya itu, seorang Dokter yang tulus yang mendedikasikan hidup dan ilmunya untuk membantu banyak orang.
Itulah yang menyebabkan semakin hari Fitri semakin mencintai Dicky suaminya, dan betapa besarnya cinta Fitri untuk Dicky, seorang Dokter yang pernah menyelamatkan hidupnya.
"Ibu Fitri, Dokter Dicky sudah bisa di jenguk, namun kondisinya masih lemah, jangan di ajak bicara!" ucap seorang perawat yang berjalan mendekati Fitri.
Fitri segera bangkit dan masuk ke dalam ruangan itu, Bu Anjani nampak sudah duduk terlebih dahulu di samping Dicky, sesekali dia mengusap rambut putranya itu.
Fitri kemudian duduk di sisi pembaringan Dicky, menatap wajah suaminya itu, kembali air mata Fitri tumpah membasahi wajahnya.
"Kau di sinilah Fit, Dicky membutuhkan dukungan darimu, istri yang sangat di cintainya!" ucap Bu Anjani.
Fitri lalu mengusap wajah Dicky yang putih bersih, matanya masih terpejam, ada balutan perban di dadanya, masih terlihat rembesan darah, namun dia sudah melewati masa krisisnya karena banyak orang yang mendonorkan darahnya untuk Dicky.
"Dia sangat tampan kan Fit, sejak dulu aku selalu mengagumi ketampanan dan kecerdasannya, putraku memang luar biasa!" ucap Bu Anjani yang terus lekat memandang Dicky.
"Iya Bu, dia pernah menyelamatkan hidupku dari kegelapan dan keputusasaan, memberikan aku harapan saat aku kehilangan harapan, bukan hanya itu, dia bahkan memberikan aku cinta!" lirih Fitri sambil menangis.
Bu Anjani juga nampak menangis, namun dia langsung mengusap wajahnya.
Kemudian wanita itu segera berdiri dari tempatnya.
"Fitri, kau tetaplah di sini temani putraku, jangan beranjak dari sisinya, ada hal yang akan aku selesaikan!" ujar Bu Anjani.
"Ibu mau kemana?" tanya Fitri.
"Ke suatu tempat!" jawab Bu Anjani singkat sambil berlalu dari hadapan Fitri.
Bersambung ...
__ADS_1
*****