Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Kembali Ke Jakarta


__ADS_3

Pagi itu Fitri sudah terbangun dari tidurnya, Dicky nampak masih nyenyak tertidur di samping Fitri.


Perlahan Fitri menyentuh pipi dan dahi Dicky, demam nya sudah turun, Fitri tersenyum lega.


Kemudian Fitri kembali menyelimuti tubuh Dicky, lalu dia segera beranjak turun dari tempat tidurnya.


Fitri langsung berjalan keluar kamar ke arah dapur, bermaksud untuk membantu ibunya menyiapkan sarapan pagi.


"Kau sudah bangun Fit?" tanya Bu Eni saat melihat Fitri yang muncul di dapur.


"Iya Bu, Ibu sedang buat apa? Sini aku bantu!" tawar Fitri.


"Ibu sedang buat Bubur ayam Fit, kau urus saja suamimu, kasihan Dicky, semalam di suruh tidur di kamar tamu saja tidak mau!" ujar Bu Eni.


"Masalah aku dan Mas Dicky sudah selesai Bu!" kata Fitri.


Bu Eni tertegun dan langsung menoleh menatap Fitri.


"Serius Fit? Kau sudah tidak marah lagi dengan suamimu? Berarti semalam Dicky tidur di kamar mu?" tanya Bu Eni. Fitri menganggukan kepalanya.


"Iya Bu, ternyata aku dan Mas Dicky hanya salah paham, tapi sekarang kami sudah baik-baik saja, ibu jangan khawatir!" jawab Fitri.


"Syukurlah Fit, makanya kamu jadi istri, hidup jangan berdasarkan sudut pandang sendiri, belajar mendengarkan setiap perkataan suami, ibu biar bawel begini bapakmu sayang banget sama Ibu, karena dari dulu Ibu selalu tunduk sama Bapak!" tutur Bu Eni.


"Iya Bu, aku mau buatkan sereal buat Mas Dicky dulu, kasihan semalam dia demam!" kata Fitri.


"Ya, buatlah Fit, layani Dicky dengan baik, dia itu kelihatan sayang banget lho sama kamu, apalagi sekarang kan kamu hamil anaknya, tidak sia-sia ibu cekokin kalian jamu!" ujar Bu Eni sambil mematikan kompornya karena buburnya sudah matang.


Setelah selesai membuat sereal hangat, Fitri kemudian kembali ke kamarnya, Dicky masih nampak tertidur dengan nyenyak, wajahnya kemerahan terpantul sinar matahari pagi yang menembus dari jendela kamar Fitri.


Tidak tega membangunkan suaminya itu, Fitri kemudian mengecup kening dan pipi Dicky.


Dicky mulai mengerjapkan matanya.


"Fitri? Kau sudah bangun? Ah, aku kesiangan rupanya!" ucap Dicky sambil beranjak bangun dari tidurnya.


"Tidak apa-apa Mas, yang penting sekarang Mas Dicky sudah tidak demam lagi!" sahut Fitri.


"Kalau hatiku sedang bahagia, aku tidak akan demam Fit, tapi kalau hatiku sedih, karena istriku marah, entah mengapa kepalaku jadi pusing!" ucap Dicky sambil mengelus wajah Fitri yang mulai bersemu merah.


"Ah Mas Dicky, buat aku merasa bersalah saja!" ucap Fitri sambil membalikan tubuhnya menahan rasa malu.

__ADS_1


Dicky kemudian memeluk Fitri dari belakang.


"Sesampainya kita di Jakarta, kita langsung ke dokter Mia ya, melihat calon bayi kita!" ucap Dicky sambil mengelus lembut perut Fitri yang masih rata itu.


"Iya Mas, Mas Dicky sudah lihat ya, hasil tes kehamilan yang ada di tempat tidur?" tanya Fitri.


"Iya sayang, kau tau bagaimana perasaanku saat pertama kali melihat itu? Hatiku sangat bahagia Fit, rasanya tidak ada satupun hal yang bisa menggantikan kebahagiaanku saat itu, namun saat kau tidak ada, hatiku begitu cemas dan khawatir!" jawab Dicky.


Ceklek!


Pintu kamar Fitri tiba-tiba di buka dari luar, Bu Eni masuk.


"Eh maaf, tidak tau kalau kalian sedang bermesraan, Ibu jadi malu!" ujar Bu Eni yang hendak kembali membalikan tubuhnya.


Dicky kemudian melepaskan pelukannya pada Fitri.


"Ada apa Bu?" tanya Fitri.


"Sarapannya sudah siap, kalian silahkan sarapan di meja makan, Bapak sudah menunggu di sana!" jawab Bu Eni.


"Baik Bu, nanti setelah Mas Dicky mandi, kami akan segera menyusul ke meja makan!" ujar Fitri.


Bu Eni langsung keluar dari kamar Fitri, sementara Dicky beranjak masuk ke dalam kamar mandi.


"Tidak usah Fit, mandi dengan air dingin lebih segar, apalagi air dari pegunungan!" sahut Dicky.


"Tapi kan Mas Dicky baru habis demam!" kata Fitri.


"Tidak apa Fit, kalau Mas Dicky mu bahagia, tidak akan pernah sakit lagi!" ujar Dicky sambil tersenyum.


****


"Kalian jadi pulang hari ini? Kenapa tidak menginap semalam lagi?" tanya Pak Karta saat mereka sarapan bersama.


"Maaf Pak, nanti kami akan cari waktu lagi, aku hari ini sudah ijin lagi!" sahut Dicky.


"Kalau begitu kita saja yang datang ke sana Pak, kita temani Fitri yang sedang mengandung cucu kita!" usul Bu Eni.


"Kau pikir aku tidak ada kerjaan, lantas siapa yang mengurus sawah kita?" tanya Pak Karta.


"Sudahlah Pak, Bu, kalian kan bisa datang di akhir pekan, aku dan Mas Dicky juga sesekali akan berkunjung kemari jika waktu senggang!" sergah Fitri.

__ADS_1


Setelah mereka selesai makan, Dicky dan Fitri segera bersiap-siap akan pulang kembali ke Jakarta.


"Hati-hati Fit! Jaga cucu ibu!" seru Bu Eni saat Dicky mulai membimbing Fitri masuk ke dalam mobilnya.


"Tenang saja Bu, Pak, cucu kalian aman bersamaku!" sahut Dicky yang kemudian mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah orang tua Fitri.


Perjalanan yang agak macet membuat perut Fitri kembali mual, dia kemudian menghentikan mobil Dicky dan turun di pinggir jalan, kembali memuntahkan isi perutnya.


"Fitri, pokoknya aku mau kau mengajukan cuti mengajar, kau fokus saja pada kehamilanmu ini, aku tidak mau terjadi apa-apa pada calon bayiku!" ujar Dicky.


"Tapi Mas, aku sangat suka mengajar, lagi pula rasa mual ini hanya di awal kehamilan kok, nanti juga hilang sendiri!" sergah Fitri.


"Tidak!" tegas Dicky.


"Mas ..." Fitri terdiam mendengar perkataan suaminya itu, namun kini matanya mulai berkaca-kaca.


Dicky yang menyadari itu langsung menggenggam tangan Fitri.


"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud membuatmu sedih, baiklah kau masih boleh mengajar kembali, tapi dengan satu syarat!" ujar Dicky.


"Apa syaratnya Mas?" tanya Fitri.


"Aku akan membayar satu orang asisten untuk menemanimu kemanapun kau pergi untuk menjagamu kalau aku tidak ada!" sahut Dicky.


"Apa? Asisten?" tanya Fitri bingung.


"Yah, semacam pengawal pribadi, aku harus pastikan kalau kau selalu aman!" sahut Dicky.


"Kau berlebihan Mas!" cetus Fitri.


"Sebentar Fit, aku harus menyelesaikan ini dulu!"


Dicky lalu merogoh ponselnya dan mulai memencet nomor telepon seseorang.


"Halo, suster Wina, tolong kau tanya bagian operator, mengenai cctv di hari Rabu malam, siapa saja yang masuk ke ruanganku, aku mau mencari bukti untuk sebuah kasus!" kata Dicky.


"Kasus apa Dokter?" tanya Suster Wina.


"Kasus pelecehan!" sahut Dicky.


"Baik Dokter!" jawab Suster Wina. Dicky kemudian kembali mematikan ponselnya.

__ADS_1


****


__ADS_2