
Pagi-pagi sekali, Dicky di kejutkan oleh berita yang di bacanya di ponselnya, status Dimas yang baru saja mempunyai seorang bayi.
"Hahaha akhirnya pecah telur juga si Dimas!" seru Dicky.
Fitri yang baru habis mandi mengerutkan keningnya.
"Kau kenapa Mas?" tanya Fitri.
"Kau lihat Fit, si Dimas sudah pasang status kelahiran bayinya, sudah mulai pamer dia!" sahut Dicky sambil menyodorkan ponselnya ke arah Fitri.
"Jadi, Dokter Mia sudah melahirkan? Kapan kita jenguk mereka Mas?" tanya Fitri tak sabar.
"Nanti saja Fit, ngapain juga buru-buru jenguk si Dimas, nanti dia ke ge er an lagi!" sahut Dicky.
"Kok begitu Mas? Dia kan temanmu, lagi pula saat Alex lahir mereka juga datang kan menjenguk kita!" ujar Fitri.
"Iya deh, tapi siang ini aku ada urusan di rumah sakit, nanti saja agak sore, Oya, gimana soal pengunduran dirimu dari sekolah?" tanya Dicky.
"Aku sih sudah kirim email ke yayasan, saat ini sedang di proses, sementara kelas di pegang oleh guru pengganti!" jawab Fitri.
"Baguslah, lalu ibu gimana? Jadi pulang ke Sukabumi?"
"Pagi ini ibu dan bapak ke rumah Anita mas, mereka akan tinggal sementara di sana!" jawab Fitri.
"Syukurlah, mudah-mudahan mereka betah di sana!" ujar Dicky.
Mereka kemudian berjalan menuju ke ruang tamu, Bu Eni dan Pak Karta nampak bersiap-siap berangkat ke rumah Anita.
"Bapak dan Ibu mau berangkat sekarang?" tanya Fitri.
"Iya Fit, lagian kita juga sudah siap kok!" sahut Pak Karta.
"Ya sudah, nanti kalau sempat besok aku dan Alex juga main ke sana, biar ramai!" kata Fitri.
"Ayo Pak! Kita jalan! Ibu mau mampir ke pasar sebentar ini, beli makanan, mana tau di sana tidak ada makanan!" kata Bu Eni yang langsung menarik tangan Pak Karta menuju ke mobil yang telah terparkir di depan.
Mereka kemudian langung berangkat pagi itu juga ke rumah Anita dan Donny.
"Jangan beli makanan banyak-banyak Bu, kan kita sudah bawa kue kering, tidak enak sama Nak Donny, kesannya kita takut kelaparan di sana!" sergah Pak Karta saat dalam perjalanan.
"Huh, bapak gimana sih? Maksud Ibu tuh baik, beli makanan sekalian buat mereka juga, Bapak selalu deh punya pikiran negatif sama Ibu!" sahut Bu Eni.
__ADS_1
"Ya kalau buat mereka sekalian sih tidak apa-apa, tapi jangan terlalu berlebihan! Kita kan harus menjaga perasaan anak kita! Berikan mereka kesempatan untuk memberikan apa yang mereka mampu berikan untuk kita!" ucap Pak Karta bijak.
"Iya kalau mampu memberikan, kalau tidak bagaimana Pak?? Bapak nih kuno juga jadi orang!" sungut Bu Eni.
Di pasar, Bu Eni membelikan berbagai macam buah, juga bahan makanan dan sayur mayur, pak Karta membiarkan saja apa yang di perbuat istrinya itu, selama maksud nya masih baik.
Setelah itu mereka kemudian kembali berjalan menuju ke rumah Anita, sekitar 40 menit mereka baru tiba di rumah yang kini nampak sepi itu.
Pak Karta memarkirkan mobilnya di depan gerbang rumah itu.
Anita heran dan mengerutkan keningnya saat melihat kedatangan orang tuanya yang tidak pernah di sangka nya itu.
"Ibu? Bapak? Tumben kalian datang!" kata Anita terkesiap.
"Sudah jangan banyak tanya, bantu Ibu angkat barang belanjaan ke dalam!" sahut Bu Eni.
Anita lalu membantu mengangkat beberapa plastik belanjaan juga bungkusan kue kering yang di bawanya dari rumah Dicky.
Sementara Pak Karta membawa tas besar yang berisi barang dan pakaiannya dan Bu Eni.
"Ibu, banyak sekali bawaannya!" gumam Anita bingung.
Anita menganggukan kepalanya, sorot matanya terlihat haru melihat kedatangan orang tuanya itu.
"Terimakasih Pak, Bu, eh ayo masuk, kamar kalian di kamar yang besar itu ya!" kata Anita sambil menunjuk seniah kamar tamu utama.
"Ya memang dulu kami tidur di situ, waktu Dicky dan Fitri masih menempati rumah ini!" sahut Bu Eni.
Pak Karta kemdian menaruh tas besar itu di dalam kamar tamu utama itu.
Lalu mereka duduk di ruang tamu, Anita langsung membuatkan teh hangat untuk kedua orang tua kandungnya itu.
"Diminum dulu Pak, Bu!" tawar Anita.
"Suamimu sudah berangkat Ta?" tanya Pak Karta.
"Sudah Pak, baru sekitar lima belas menit yang lalu dia berangkat!" jawab Anita.
"Ta, tadi Ibu membeli bahan makanan, kau simpan di kulkas ya, buat persediaan, ada telur, sayur, ikan, daging, kau sedang hamil perlu makanan yang sehat!" kata Bu Eni.
"Trimaksih Bu, seharusnya Ibu tak perlu melakukan itu, Donny juga sudah memenuhi semua kebutuhanku!" ujar Anita yang merasa tidak enak.
__ADS_1
"Sudahlah Ta, namanya juga orang tua, pasti ingin memberikan ya g terbaik buat anaknya, terlebih calon cucunya!" sahut Bu Eni.
****
Sore itu sepulang dari rumah sakit, Dicky langsung mengajak Fitri dan juga Alex, ke rumah Dimas, menjenguk bayinya yang baru lahir.
Alex terlihat selalu antusias jika Dicky dan Fitri mengajaknya jalan-jalan.
"Duh anak Papa masih kecil saja sudah ganteng begini, saingan deh sama Papanya!" ucap Dicky saat melihat Alex yang tuntun Fitri memakai pakaian yang lucu khas anak-anak, yang membuat siapa saja yang melihatnya menjadi gemas.
"Ayo Mas, kita sudah siap, nanti keburu malam, kasihan Alex!" ajak Fitri.
Dicky menganggukan kepalanya lalu segera berjalan ke arah garasi dan langsung naik ke dalam mobilnya.
Walaupun Dicky punya Mang Salim sebagai supir pribadinya, namun Dicky lebih suka pergi kemanapun dengan mengemudikan mobilnya sendiri, biasanya Mang Salim yang mengantar Fitri atau Bi Sumi ke pasar.
Perjalanan ke rumah Dimas memakan waktu yang cukup lama, karena jalanan yang padat merayap.
Saat itu lampu merah, saat matanya melayangkan pandang ke sebelah, Dicky membulatkan matanya saat melihat mobil di sebelahnya, terlebih kaca jendela mobil itu nampak di buka setengah, jelas terlihat siapa yang mengemudikannya.
"Ken?? Kurang ajar! Ku pikir dia di Jepang!!" dengus Dicky.
"Itu Ken Mas?" tanya Fitri bingung.
"Kau lihat saja sendiri Fit, dan lihat saja siapa yang di sebelahnya!" sahut Dicky sambil menunjuk ke arah sampingnya.
"Ken jalan dengan wanita lain? Kok bisa sih dia seperti itu?? Sementara Dinda pontang panting mencari kabarnya!" tanya Fitri.
Tin ... Tin ... Tin
Suara klakson di belakang Dicky mengagetkan Dicky, lampu sudah berubah warna menjadi hijau.
Mobil yang di kendarai Ken sudah melaju lebih dulu, dengan cepat Dicky langsung menancap gasnya mengejar Ken.
"Akan ku kejar dia!! Aku malu punya sepupu seperti dia!!" sengit Dicky.
"Sabar Mas! Ingat ini di jalan raya!" seru Fitri memperingatkan.
Bersambung....
****
__ADS_1