
Hari ini hari Senin, Dicky dan Fitri mulai terlihat sibuk pagi itu, apalagi setiap hari Senin di sekolah akan ada upacara Bendera, Fitri akan datang lebih cepat dari biasanya.
"Ayo Mas, sudah siap belum?" tanya Fitri saat melihat Dicky yang sedang menyisir rambutnya.
"Sebentar sayang, kita kan juga belum sarapan!" sahut Dicky.
"Kita sarapan saja di mobil deh Mas, Bi Sumi buat roti bakar kok!" ujar Fitri.
"Oke deh sayang, ayo berangkat!" Dicky lalu menggandeng istrinya menuruni tangga.
Dicky lalu mengambil beberapa Roti bakar yang ada di meja makan dengan sebuah tempat makan, mereka kemudian mulai berangkat meninggalkan rumah mereka.
"Fit, nanti siang kau ikut jemputan sekolah ya, Mas mu ini tidak bisa menjemput, karena akan ada jadwal operasi amandel anak pada jam itu!" kata Dicky.
"Iya Mas, tidak apa-apa kok, nanti aku akan ikut jemputan sekolah!" jawab Fitri.
"Terimakasih ya sayang, kau memang istri Mas yang paling pengertian!" ucap Dicky sambil mengecup jemari Fitri.
"Memangnya ada istri Mas Dicky yang lain?!" ledek Fitri.
"Mana ada Fit, ini saja satu tidak habis-habis manisnya, aku bukan tipe pria yang doyan kawin, cukup untuk satu wanita!" ujar Dicky.
"Ah Mas Dicky, selalu bisa membuatku bahagia!" gumam Fitri.
Tak lama mereka sudah sampai di sekolah, Fitri lalu segera turun dari mobil setelah mencium tangan Dicky.
"Fitri!" panggil Dicky. Fitri menoleh.
"Kan tadi sudah cium tangan Mas!" kata Fitri.
"Cium tangan sudah, tapi pipiku belum di cium nih Fit! Nanti aku bakalan pusing tujuh keliling!" seru Dicky.
"Iiih Mas Dicky nih, tidak tau apa orang lagi buru-buru!" Fitri kemudian langsung berbalik dan mencium mesra suaminya itu, sehingga wajah Dicky langsung berbinar.
Lalu Fitri segera berlari kecil memasuki gedung sekolah yang besar itu.
"Duh pagi-pagi sudah romantis, jadi iri aku!" kata Bu Erna yang tiba-tiba sudah ada di belakang Fitri.
"Eh, Bu Erna lihat saja, aku jadi malu!" ucap Fitri tersipu.
"Ngapain malu Bu, harusnya Bu Fitri bangga dong di sayang sama suaminya!" ujar Bu Erna.
__ADS_1
Setelah Fitri dan Bu Erna meletakan tasnya di meja kerja masing-masing. Terdengarlah suara bel yang menandakan semua anggota sekolah berkumpul di lapangan untuk melaksanakan upacara bendera Merah putih.
Semua murid berbaris sesuai dengan kelasnya masing-masing, para guru juga terlihat mulai membentuk barisan.
Fitri juga mulai berbaris di barisan paling depan.
Cuaca pagi itu begitu cerah, matahari bersinar menyoroti setiap orang yang ada di lapangan besar itu.
Pada saat pengibaran bendera merah putih, tiba-tiba pandangan Fitri menjadi gelap, kepalanya agak pusing, perutnya merasa mual luar biasa.
Dia berniat berbalik untuk menyingkir ke belakang, namun baru saja kakinya melangkah, dia sudah keburu jatuh ke tanah dan tak sadarkan diri.
Para guru langsung spontan menoleh ke arah Fitri, dengan sigap Pak Donny langsung mengangkat tubuh Fitri dan membawanya ke ruang UKS.
Beberapa guru wanita mengikutinya dari belakang.
Bu Erna nampak memijiti kepala Fitri sambil menyodorkan aroma minyak kayu putih ke hidung Fitri, supaya Fitri cepat tersadar.
"Bu Sita, tolong pegang kelas sebentar ya, aku mau membantu Bu Fitri supaya cepat sadar!" Pinta Bu Erna.
"Hmm, dia selalu saja membuat drama, supaya semua orang perhatian padanya!" cetus Bu Sita sambil berlalu dari tempat itu.
Pak Donny nampak sedang membuka sepatu Fitri dan memijiti kakinya.
"Entahlah Pak, mungkin juga Bu Fitri belum sempat sarapan dari rumah, sehingga masuk angin!" jawab Bu Erna.
"Kalau begitu saya ambilkan obat masuk angin ya Bu, sekalian membuat teh manis buat Bu Fitri!" kata Pak Donny.
"Iya Pak, boleh!" sahut Bu Erna.
Tak berapa lama kemudian, Fitri mulai mengerjapkan matanya, dia langsung menoleh ke arah Bu Erna yang duduk di sampingnya.
"Bu Erna? Aku di mana?" tanya Fitri.
"Tadi Bu Fitri pingsan waktu upacara, memangnya Bu Fitri belum sarapan?" tanya Bu Erna balik.
"Sudah kok Bu, tadi aku sarapan roti bakar, cuma tadi kepalaku tiba-tiba pusing dan pandanganku berkunang-kunang!" jawab Fitri.
"Mungkin Bu Fitri masuk angin, ini minumlah teh manisnya, setelah itu minum obatnya, nanti saya akan carikan makanan buat Bu Fitri!" kata Pak Donny yang sudah ada di dekat Fitri.
Fitri lalu mulai meminum teh manis itu hingga habis.
__ADS_1
"Sudah enakan sekarang, kepala ku sudah berkurang pusingnya, terimakasih ya Pak Donny, Bu Erna!" ucap Fitri.
"Sama-sama Bu, sekarang Bu Erna istirahat saja di sini ya, aku mau masuk kelas dulu, kasihan anak-anak, Bu Sita di mintai tolong saja cemberut!" ujar Bu Erna.
"Bu Erna, aku ikut ya, aku juga ingin mengajar, badanku sudah enakan!" kata Fitri.
"Lho, itu pak Donny lagi beli makanan buat Bu Fitri, tunggu saja dulu sebentar lagi, kalau sudah benar-benar fit baru mengajar lagi!" sergah Bu Erna.
"Bu Erna, aku tidak enak kalau hanya berdua dengan Pak Donny, rasanya risih Bu, walau bagaimana dia itu kan laki-laki!" ujar Fitri.
Bu Erna tertegun mendengar ucapan Fitri, dia baru sadar kalau dia pergi maka Fitri akan tinggal berdua dengan Pak Donny.
"Kau benar Bu Fitri, yang ada akan menimbulkan fitnah, kalau begitu aku akan tetap di sini menunggumu, sampai Pak Donny kembali!" kata Bu Erna.
Tak lama kemudian Pak Donny sudah datang dengan membawa satu piring nasi goreng.
"Ini Bu, aku beli di kantin, aku suruh Bu kantin cepat membuatnya, makanya kilat kan!" ujar Pak Donny.
Kemudian perlahan Fitri mulai menyantap nasi gorengnya, hingga habis tak tersisa.
"Tuh kan betul, Bu Fitri lapar rupanya!" ujar Bu Erna.
"Iya Bu, sekarang tubuh saya malah jadi segar!" kata Fitri.
Setelah tubuhnya sudah segar dan pulih, Fitri mulai kembali ke kelasnya, para murid menyambutnya dengan gembira.
"Bu Fitri tadi kenapa pingsan?" tanya Rio.
"Bu Fitri lapar!" sahut Fitri.
"Coba Bu Fitri bilang, aku banyak bawa bekal makanan!" timpal Meira.
"Terimakasih anak-anak, sekarang ibu sudah sehat, kita mulai pelajaran hari ini ya!" kata Fitri.
Fitri mulai membahas pelajaran hari itu, namun tiba-tiba dia merasa mual kembali, dengan cepat Fitri berlari ke arah toilet, memuntahkan semua isi perutnya, hingga tubuhnya kembali lemas.
Anak-anak dengan cemas menunggu dan berkerumun di sekitar toilet. Pak Jamal, kepala sekolah yang sedang berkeliling heran dan langsung menghampiri mereka.
"Ada apa kumpul-kumpul di sini anak-anak?! Kalian tidak belajar?" tanya Pak Jamal.
"Bu Fitri sakit Pak! Tadi dia muntah-muntah di toilet!" jawab Dara.
__ADS_1
****