Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Pemberian Bu Anjani


__ADS_3

Dicky menggandeng Fitri masuk ke ruangan perawatan Bu Anjani, ada rasa berdebar yang mereka rasakan.


Bu Anjani masih nampak berbaring di ruangan itu, entah mengapa siang ini wajah beliau terlihat begitu cerah.


"Selamat siang Ibu, lihat, siapa yang datang menengok Ibu!" ucap Dicky.


Senyum Bu Anjani mengembang manakala dia melihat Alex, cucu kesayangannya ada dalam gendongan Fitri.


"Alex, kemari Nak, sini ... Oma kangen sama Alex!" kata Bu Anjani sambil berusaha melambaikan tangannya.


Fitri kemudian berjalan mendekat dan meletakan Alex di sisi tempat tidur Bu Anjani.


Dengan penuh kerinduan Bu Anjani memeluk dan menciumi Alex dengan satu tangan, karena tangannya yang lain tidak bisa di gerakan sama sekali.


"Alex ada di sini Bu, Ibu jangan banyak bergerak dulu!" tukas Dicky.


"Ibu kangen Nak, sudah lama Ibu tidak melihat Alex, sekarang sudah sebesar ini, kangen Ibu Nak!" ucap Bu Anjani sambil mulai menangis.


Dicky menghapus air mata Ibunya dengan kedua tangannya.


"Jangan menangis Ibu, kami sudah datang menjenguk Ibu, Ibu tidak sendirian lagi!" bisik Dicky.


"Ibu pasti akan sehat, akan pulih seperti sedia kala!" lanjut Fitri.


"Nak, Ibu tidak ingin pulang ke rumah itu ..." lirih Bu Anjani tiba-tiba.


"Kenapa Bu?" tanya Dicky.


"Rumah itu dingin, sepi, sunyi, sejak Ayahmu meninggal, rumah itu menjadi tambah sepi, saat mulai ramai dan hangat, kau malah pergi meninggalkan Ibu lagi, Ibu tidak ingin pulang ke sana!" ujar Bu Anjani.


"Lalu Ibu akan pulang ke mana?" tanya Dicky.


"Ibu ingin pulang ke tempat yang memberikan kedamaian dan kehangatan, asal jangan di rumah itu!" jawab Bu Anjani.


"Baiklah Bu, nanti kalau Ibu sudah sembuh, kita pulang ke rumahku ya, di sana Ibu pasti akan menemukan kedamaian dan kehangatan!" ucap Dicky sambil menggenggam tangan Ibunya.


"Da da da ... Mam mam mam!" terdengar suara Alex berceloteh.


Bu Anjani kembali memeluk dan menciumi cucu semata wayangnya itu.


"Maafin Oma ya Lex, andai saja Oma tidak sombong dan egois dulu, pasti sampai sekarang Oma bisa terus bermain bersama Alex!" ucap Bu Anjani dengan mata kembali berkaca-kaca.


"Sudahlah Bu, yang lalu jangan di bahas lagi, yang penting sekarang Ibu sudah bersama kami, keluarga Ibu!" kata Dicky.


"Nak, tolong ambilkan tas Ibu yang ada di bawah meja ini, yang berwarna coklat!" ujar Bu Anjani.

__ADS_1


Dicky menurut lalu melongok ke arah bawah meja, ada tas berwarna coklat di sana, Dicky lalu mengambil tas itu dan memberikannya pada Bu Anjani.


"Ini Bu tasnya!" ujar Dicky.


"Sekarang kau buka tas itu!" titah Bu Anjani.


Perlahan Dicky membuka tas itu, hanya ada sebuah kotak dan sertifikat rumah di dalam tas itu, Dicky lalu mengeluarkan kotak itu dan sertifikat rumah itu.


"Di dalam kotak itu, ada duplikat kunci rumah dan perhiasan milik Ibu, sengaja Ibu bawa ke rumah sakit ini, karena Ibu ingin memberikan semua perhiasan ini untuk Fitri!" ucap Bu Anjani.


Dicky dan Fitri terkesiap mendengar ucapan Bu Anjani, mereka lalu saling berpandangan.


"Tapi Bu ... "


"Sekarang kau bukalah sertifikat rumah itu, coba kalau lihat, sertifikat itu atas nama siapa?" ujar Bu Anjani.


Dengan sedikit bergetar Dicky kemudian mengambil dan membuka sertifikat itu, matanya melotot saat membaca sertifikat rumah besar milik Bu Anjani ternyata atas nama Dicky Pradita.


"Bu, kenapa serifikat ini atas namaku? Itu milik Ibu!" sergah Dicky.


"Tidak Nak, milik Ibu sekarang adalah kalian, rumah besar itu sekarang menjadi milikmu, dan sertifikatnya juga atas namamu! Terimalah Nak, hanya ini yang bisa ibu berikan pada kalian!" ucap Bu Anjani.


"Tapi Bu ..."


"Terimalah Nak, dan bawalah pulang semuanya itu, jangan pernah menolak apa yang telah Ibu amanat kan padamu!" potong Bu Anjani cepat.


"Terimakasih Ibu!" ucap Dicky.


Hari itu mereka berkunjung hingga sore hari, Bu Anjani nampak bahagia akhirnya bisa main dengan cucunya lagi.


Dicky dan Fitri akhirnya pamit pulang, karena Alex sudah mulai rewel dan tidak betah, apalagi suasana di rumah sakit membuat dia tidak bisa main dengan leluasa.


Bu Anjani hanya tersenyum sambil memandang kepergian mereka.


Di lorong rumah sakit mereka bertemu dengan Ken dan Dinda yang berniat menjenguk Bu Anjani.


"Bang Dicky mau pulang?" tanya Ken.


"Iya, anakku sudah mulai rewel, aku titip Ibu ya, kau jaga dia baik-baik!" sahut Dicky.


"Siap Bang, aku akan jaga Ibu, mumpung ada bidadari yang menemani!" sahut Ken sambil melirik ke arah Dinda.


"Dinda, kau apa kabar? Lama kita tidak ketemu ya?" tanya Fitri pada Dinda.


"Baik Mbak!" sahut Dinda.

__ADS_1


"Ken, aku sarankan kau cepat-cepat melamar Dinda! Kau mau cari apalagi? Bukankah kau sudah lulus dan bekerja sekarang??" ujar Dicky.


"Ah Bang Dicky bisa saja, kami ini kan masih muda Bang, masih ingin menikmati hidup!" sahut Ken cuek.


"Hidup yang manalagi yang mau kau nikmati Ken? Ingat, aku tidak pernah melupakan saat melihatmu di hotel berkencan dengan wanita lain!" bisik Dicky sambil menarik Ken mendekat ke arahnya.


"Ssst, jangan buka kartu lah Bang!" lirih Ken yang melirik ke arah Dinda yang masih terlihat mengobrol dengan Fitri.


"Ayo Mas, kasihan Alex belum mandi ini!" ajak Fitri tiba-tiba.


Dicky langsung melepaskan tangannya dari lengan Ken.


"Ingat kata-kata ku Ken!" seru Dicky sambil melangkah menggandeng tangan Fitri berjalan menuju pintu keluar.


Ken hanya tertawa sambil mengacungkan ibu jarinya.


"Kau bicara apa pada Ken Mas?" tanya Fitri.


"Aku hanya memperingati dia, agar dia tidak lagi berselingkuh dari kekasihnya itu!" sahut Dicky.


"Iya Mas, kasihan ya Dinda, sampai sekarang dia tidak tau kalau pacarnya itu pernah berselingkuh di belakangnya, padahal Dinda itu gadis baik!" ucap Fitri.


Mereka kemudian mulai naik kedalam mobil mereka, Alex terlihat mulai menangis karena lelah dan haus.


"Cup ... cup ... cup, Alex, sudah ya jangan menangis lagi, nih Mama kasih susu buat Alex ya, tapi jangan menangis lagi!" ucap Fitri sambil membuka kancing bajunya dan menyodorkan dadanya ke mulut Alex.


"Tutup dada mu Fit! Aku tidak ingin ada petugas parkir atau orang lain yang melihatnya!" sergah Dicky yang merasa risih melihat dada Fitri yang padat dan besar itu menyembul keluar saat menyusui Alex.


Fitri kemudian mulai menutupinya dengan kain.


"Sabar kek Mas, orang lagi ribet begini!" ujar Fitri.


"Aku mana rela ada orang yang melihat itu, itu hanya aku yang berhak melihatnya, dan menikmatinya!" seru Dicky gusar.


Mobil itu terus melaju keluar dari parkiran, tak lama kemudian mobil itu melipir dan berhenti di sebuah pohon besar yang rindang.


"Lho kok berhenti di sini Mas?" tanya Fitri.


"Fit, aku gantian dong sama Alex, haus nih mau menyusu juga!" bisik Dicky dengan tatapan mata seperti biasanya.


Fitri hanya menarik nafas panjang sambil menggaruk kepalanya.


Bersambung ...


****

__ADS_1


Hai guys ... sekedar info saja, Tokoh Dinda ini akan menjadi pemeran utama dalam novel author selanjutnya lho ...


Jangan lupa dukungannya guys ..🙏😘


__ADS_2