Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Menutup Mata Dan Kata Hati


__ADS_3

Dua hari ini Riana menjalani harinya seperti biasa, wanita itu bekerja dan kembali ke apartemen sebelum matahari terbenam. Untuk mengisi kesepiannya, Riana sesekali menghubungi kedua orang tuanya. Bahkan bertukar chat dengan kedua temannya Dinara dan Funny. Berbeda jika di kantor, maka Riana akan lebih banyak bersama dengan Sella. Temannya itu selalu bisa menghibur dirinya dengan guyonan yang terkadang tidak masuk akal, tetapi mampu membuat Riana tergelak.


Namun malam ini Riana benar-benar merasa kesepian. Ia merindukan sosok Raihan yang peduli padanya serta memprioritaskan dirinya seperti tahun-tahun sebelumnya.


Riana mendesahkan napasnya ke udara dengan mata yang terpejam singkat. Sekelebat bayangan di saat mereka selalu saling menempel kapanpun serta Raihan yang selalu tidak ingin jauh darinya memenuhi isi kepala Riana. Betapa manisnya saat itu sikap Raihan kepadanya, sehingga selalu membuat Riana terbang ke awan karena sangking bahagianya. Tetapi lihatlah saat ini, semua itu seolah sirna, baik dirinya serta Raihan seperti berada di tempat yang berbeda. Bahkan Riana tidak lagi tau kegiatan Raihan diluar sana, sebab Raihan sudah jarang membalas pesan darinya. Seperti saat ini, sejak dua jam yang lalu pesannya tidak kunjung mendapatkan balasan.


"Apa sesibuk itu kamu Rai, sampai nggak bisa kabarin aku dan balas pesan aku?" lirihnya bergumam. Ia hanya menutup kedua mata dengan lengannya. Seolah tidak ingin siapapun mengetahui jika dirinya tengah menahan lelehan air mata yang akan meluruh.


Haah


Dan desahann keluar dari bibir Riana, mewakilkan dadanya yang kembali merasa sesak. Hingga kemudian matanya mengerjap ketika mendengar suara ketukan pintu apartemennya. Untuk sejenak Riana terpaku di tempat, mempertajam pendengarannya jika ia tidak salah mendengar. Itu memang benar-benar suara ketukan pintu. Dengan gontai, Riana beranjak duduk, lalu bangkit dari tempat tidur menuju pintu. Tanpa memeriksa terlebih dahulu siapa yang sudah bertamu di waktu malam seperti ini, Riana langsung membukakan pintu.


Seketika bola matanya membelalak penuh, ia tidak menyangka jika Raihan sudah kembali tanpa mengabari dirinya.


"Rai....?" gumamnya pelan namun masih bisa di dengar oleh Raihan.


"Hai sayang....?" Raihan menampakkan wajahnya dengan seulas senyum. Terlihat sangat tampan dan Riana sangat menyukai wajah Raihan itu.


"Kok kamu nggak bilang kalau udah pulang By?" Riana mengabaikan sapaan Raihan. Ia melayangkan pertanyaan itu kepada lelaki di hadapannya.


"Surprise dong sayang. Aku 'kan pengen buat kamu kaget." Katanya mengusap kepala Riana. "Tapi kamu nggak izinin aku masuk nih? Masa aku berdiri terus di depan pintu?" katanya mengulum senyum, bermaksud menggoda.


"Oh iya, aku lupa. Kamu masuk dulu ya." Riana mempersilahkan kekasihnya itu masuk ke dalam, hingga Raihan melesat masuk seperti biasanya. Riana segera menutup pintu lalu mendekati Raihan dengan wajah yang sulit diartikan.


Raihan mendelik, ia memperhatikan sikap Riana yang seolah tidak senang akan kehadirannya yang datang secara tiba-tiba tanpa memberikan kabar itu. "Biasanya kamu langsung peluk aku kalau aku dateng. Ini malah diam aja. Kamu nggak suka kalau aku datang ya?" Raihan memprotes sikap Riana yang tidak seperti biasanya. Tidak ada respon, Raihan kembali bicara, "Yaudah kalau gitu aku pulang aja ya..." katanya disertai langkah yang nyaris melewati Riana.


Bibir Riana mengerucut, ia menarik lengan Raihan untuk menahan langkah tunangannya itu, lalu merentangkan tangan dan memeluk Raihan. "Kangen. Aku kangen kamu, tapi kamu jahat Rai. Kamu nggak ngabarin aku dan nggak bales chat aku."

__ADS_1


Raihan membiarkan Riana menumpahkan keluhannya. Diam mendengarkan dengan tangan yang terulur membelai rambut Riana. "Terus apa lagi, hm?" tanyanya setelah Riana mendadak diam.


"Kamu jahat banget, kamu bukan Rai yang aku kenal. Kalau Rai yang dulu selalu balas chat aku, selalu telpon aku dan selalu prioritaskan aku." Riana tergugu, akhirnya terisak di dalam pelukan Raihan.


"Iya maaf ya sayang. Aku emang udah jahat banget sama kamu," lirihnya. "Kamu mau 'kan maafin aku?"


Riana menggeleng. "Tapi kamu nanti begitu lagi," cebiknya.


"Aku sibuk kerja sayang. Kerjaan aku sekarang juga harus ngawasin tim aku. Sekarang aku udah nggak kerja sendiri lagi. Kerjaan mereka juga jadi tanggung jawab aku. Kamu bisa ngerti 'kan?" Raihan mencoba memberikan pengertian kepada Riana dengan lembut.


Riana diam sejenak. Apa selama ini ia kurang bisa mengerti Raihan?


"Iya aku ngerti." Berbeda dengan isi hatinya, Riana justru mengucapkan kata yang berlawanan. Ia hanya tidak ingin memperumit keadaan, meskipun ingin selalu rasanya ia memprotes sikap Raihan.


"Yaudah kita duduk ya. Nanti aku nginep disini, boleh kan?" katanya tersenyum.


Dan Riana hanya mengangguk saja. Membiarkan Raihan menuntun dirinya duduk di sofa. "Aku juga kangen kamu. Dua hari di Bandung, aku kepikiran kamu terus." Raihan membawa Riana ke dalam dekapannya, lalu mengecup singkat puncak kepala tunangannya itu.


"Aku nggak sempet pegang HP. Charger juga ketinggalan di mobil," jelas Raihan.


Riana nampak berpikir. "Pantes aja aku telpon nggak aktif," cicitnya kemudian.


"Iya, maaf ya sayang." Lagi, Raihan melabuhkan kecupan di puncak kepala Riana.


Entah sejak kapan pandangan mereka kembali bertemu dan saling mengunci. Hingga memudahkan Raihan mengecup bibir Riana sesaat, namun kembali mengecup ketika melihat respon Riana yang merona malu.


"Kamu gemesin banget sih." Dan Raihan semakin gencar menciumi seluruh wajah Riana, hingga berakhir di bibir. Ciumannya berubah menjadi pagutan liar. Mereka saling menyesap dan membelit bibir satu sama lain. Tangan Raihan mulai nakal menjalar di dada Riana, meremasnya bahkan memilin puncuk yang menyembul itu, hingga sukses membuat Riana melenguh pelan.

__ADS_1


Mendengar lenguhan Riana, gairah Raihan menggebu-gebu. Ia tidak dapat menahan gejolak di dalam dirinya lebih lama lagi. Raihan kemudian melepaskan tautan bibir mereka, tatapannya berkabut gairah.


"Ke kamar ya sayang," ujarnya sensual.


Riana paham apa yang diinginkan oleh Raihan, apalagi jika bukan bertukar keringat di atas ranjang. Riana mengangguk karena ia juga menginginkan Raihan. Mendapatkan persetujuan, tentu saja Raihan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia segera menggendong Riana dan membawanya ke dalam kamar.


Mereka kembali menautkan bibir ketika sudah berada di atas ranjang. Tubuh Riana berada di bawah kungkungan Raihan, tangannya menyikap piyama tipis yang dikenakan Riana, hingga menggapai sesuatu yang kenyal di bagian dada wanita itu.


Keduanya saling menautkan bibir dengan rakus dan menanggalkan pakaian masing-masing. Kini tubuh mereka sudah polos, perlahan ciuman Raihan turun ke leher Riana, lalu memberikan tanda kemerahan disana.


"Ehhmm....." Lenguhan itu kembali lolos ketika kini Raihan sudah bermain di dua bongkahan kenyal Riana.


Lama mereka saling melakukan pemanasan, Raihan menyatukan miliknya dengan lubang kenikmatan Riana. Riana melenguh dan mencengkeram kuat bahu Raihan ketika hentakan Raihan semakin cepat. Keduanya saling bergerak dan mendesahh penuh kenikmatan, sebelum kemudian Raihan menumpahkan cairannya di luar, lalu membersihkannya dengan tisu.


"Aku cinta kamu. Kamu cantik banget sayang," ucap Raihan lalu melabuhkan bibir di kening Riana cukup dalam.


Entah kenapa, Riana tidak menanggapi dengan binar bahagia. Ia tidak bisa melihat mata Raihan yang penuh cinta untuknya. Meskipun kerap kali Raihan mengumbar kata cinta kepadanya, namun merasa ungkapan itu begitu asing baginya.


Riana membiarkan tubuhnya di peluk oleh Raihan yang sudah terpejam. Meski sadar yang telah mereka lakukan adalah salah, tetapi ia sudah terlanjur jauh mendalami cinta yang ia berikan untuk Raihan. Katakanlah dirinya bodoh, berusaha menutup mata dan kata hati, entah demi siapa.


Bersambung


Riana dan Raihan



...Yoona minta dukungan kalian untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih banyak 🤗...

__ADS_1


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2