
Menjelang Magrib Dicky baru tiba di rumahnya. Wajahnya nampak lelah setelah hampir seharian ini dia bekerja di rumah sakit, belum lagi dia harus mengontrol setiap staf dan karyawan, karena Dicky kini adalah seorang kepala rumah sakit.
Seperti biasa, Fitri akan berjalan menyambutnya, lalu membawakan tas kerjanya.
"Mas Dicky capek ya, kelihatannya suntuk sekali!" ujar Fitri.
"Iya Fit, aku lelah!" sahut Dicky.
"Mas Dicky mandi dulu ya, air hangatnya sudah siap, mau aku buatkan minuman hangat?" tanya Fitri. Dicky Menganggukan kepalanya.
"Boleh Fit, aku langsung mandi dulu ya!" sahut Dicky yang langsung beranjak ke kamarnya dan segera mandi.
Sementara Fitri langsung beranjak ke dapur setelah menaruh tas Dicky di mejanya.
"Mau makan sekarang Mbak Fitri? Makanannya sudah siap!" tanya Bi Sumi.
"Sebentar Bi, Mas Dicky sedang mandi, kalau Dina dan Dara sudah lapar, suruh mereka makan duluan, kelihatannya Mas Dicky capek hari ini, aku mau membuatkan dia minuman hangat dulu!" jawab Fitri.
"Kalau begitu baiklah Mbak, nanti kalau mau di antar ke atas makannya bilang Bibi saja!" ujar Bi Sumi.
"Beres Bi!" sahut Fitri.
Setelah Fitri selesai membuatkan minuman hangat, Fitri langsung beranjak masuk ke dalam kamarnya.
Dicky nampak sudah mandi dan kini dia berbaring di tempat tidurnya.
"Mas Dicky, ini minumannya di minum dulu!" ujar Fitri sambil menyodorkan minuman hangat itu.
Dicky langsung meneguknya sampai habis.
"Mas Dicky mau makna sekarang?" tanya Fitri.
"Tidak Fit, aku belum lapar, nanti saja!" jawab Dicky.
"Baiklah Mas!"
"Tapi kalau kau sudah lapar, kau makan duluan saja Fit!" ujar Dicky.
"Tidak Mas, tadi sore aku sudah makan, ini Dedek bawaannya lapar terus, aku tunggu Mas Dicky saja!" sahut Fitri.
__ADS_1
Dicky kemudian mulai mengelus perut Fitri. Ada gerakan halus yang meresponnya.
"Sudah besar dia sekarang, rasanya tidak sabar ingin melihat wajahnya!" ucap Dicky.
"Sebentar lagi Mas, Oya, ini kan sudah lebih dari tujuh bulan, aku ingin belanja keperluan Dedek, kapan Mas Dicky ada waktu untuk menemaniku?" tanya Fitri.
"Aku selalu punya waktu untukmu Fit, besok ya kita beli perlengkapan Dedek!" jawab Dicky.
"Iya Mas!"
"Kau bisa pilih apa saja yang kau dan dedek butuhkan, jangan sungkan Fit!" ujar Dicky.
"Terimakasih Mas, sudah gelap nih, Mas Dicky makan ya, nanti terlambat makan malah masuk angin!" kata Fitri.
"Iya Fit, bisakah makan malamnya di kamar saja, kok aku capek ya kalau harus turun lagi ke bawah!" ujar Dicky.
"Kalau begitu biar aku turun dan mengambilkan makanan untukmu!" ucap Fitri.
"Jangan Fit, telepon saja Bi Sumi, biar dia yang mengantarnya ke atas, aku tidak ingin kau capek naik turun tangga, sementara aku belum bisa untuk menggendongmu!" tukas Dicky.
Dicky lalu mengambil ponselnya dan mulai menelepon Bi Sumi.
Sekitar 10 menit kemudian Bi Sumi sudah datang dengan membawa sebuah nampan besar.
"Terimakasih Bi!" sahut Dicky dan Fitri.
Bi Sumi lalu segera beranjak meninggalkan kamar itu, sementara Dicky dan Fitri mulai menikmati makan malam mereka.
****
Fitri terbangun ketika dia merasakan ada gerakan bolak balik dari tempat tidurnya, sepertinya Dicky gelisah dalam tidurnya.
Sekilas Fitri melirik jam yang ada di dinding kamarnya, masih jam dua dinihari.
Jam di mana seharusnya waktu nyenyak-nyenyaknya tidur. Namun Dicky kelihatan gelisah.
"Mas!" panggil Fitri pelan sambil mengelus punggung Dicky yang membelakanginya.
"Hmm ..." hanya terdengar suara gumaman Dicky.
__ADS_1
"Mas Dicky kenapa?" tanya Fitri.
Hening
Tidak ada jawaban dari Dicky.
Fitri kemudian bangkit dari tidurnya, kemudian dia mulai menyalakan lampu kamar itu.
Dicky nampak mengerjapkan matanya, terkena silauan cahaya lampu kamar itu.
"Fit, kenapa lampunya di nyalakan?" tanya Dicky.
"Mas Dicky sejak tadi gelisah, ada apa Mas? Apa kau ada masalah?" tanya Fitri.
"Fit, aku takut kau akan pergi meninggalkan aku jikalau aku menceritakan satu hal padamu!" ujar Dicky.
"Hal apa Mas?"
"Ranti!" singkat Dicky. Fitri terdiam seketika.
"Apa yang terjadi dengan Ranti?" tanya Fitri lirih.
"Dio menelepon aku, katanya saat ini Ranti sedang kritis, entah berapa lama lagi dia akan bertahan, kasihan!" jawab Dicky.
Fitri lalu tersenyum sambil mengelus dada Dicky.
"Apakah Mas Dicky ingin menjenguk Ranti?" tanya Fitri. Dicky menggelengkan kepalanya.
"Tidak!" sahut Dicky.
"Mas, kau pikir aku akan marah dan pergi darimu saat aku tau kau masih perduli dengan Ranti? Aku kenal dirimu Mas, hatimu begitu lembut, tidak tegaan, bahkan karena kelembutan hatimu dan rasa kasihanmu, kau rela menyelamatkan aku!" ungkap Fitri.
"Jadi ... kau tidak akan marah dan pergi meninggalkan aku kan?" tanya Dicky. Fitri menggelengkan kepalanya.
"Jenguklah Ranti di saat-saat terakhirnya, aku percaya padamu Mas!" ucap Fitri.
"Terimakasih Fit, tapi ... maukah kau mendampingi aku?" tanya Dicky lagi.
"Mas, aku percaya padamu, tanpa perlu aku ada di sampingmu kau pasti akan pulang kan, pergilah Mas ..." jawab Fitri.
__ADS_1
"Trimakasih Fit!" ucap Dicky sambil mulai memejamkan matanya.
****