Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Lamaran Donny


__ADS_3

Donny duduk di ruang tamu rumah Bu Eni dan Pak Karta, sementara Bu Eni meletakan secangkir kopi untuk Donny.


Pak Karta dan Anita nampak duduk mengobrol dengan Donny di ruang tamu itu, senja sudah berubah menjadi gelap, semilir angin dingin berhembus dari pintu, menciptakan rasa dingin di tubuh mereka.


"Bapak baru tau kalau ternyata selama ini Anita punya tunangan!" kata Pak Karta.


"Iya Pak, kami hampir saja menikah, tapi karena kecelakaan itu akhirnya pernikahan kami batal, saya frustasi saat itu, saya kira Anita sudah meninggal karena dia menghilang begitu saja!" ungkap Donny.


"Wah, kisah cinta kalian mirip kayak di novel-novel ya, kau kan suka menulis Ta, tulis saja novel, siapa tau kau punya penggemar dan jadi terkenal, kan Ibu bisa ikut terkenal!" ujar Bu Eni.


Anita hanya tersenyum saja tanpa bisa menimpali ucapan Ibunya itu.


"Tapi kami senang Nak, kalau akhirnya kalian bisa di pertemukan lagi, itu artinya kalian berjodoh!" lanjut Pak Karta.


"Iya Pak, sekalian, kalau di ijinkan, saya ingin melamar Anita, kebetulan saya sudah tidak punya orang tua, Ibu saya belum lama meninggal, jadi saya sendiri saja melamar Anita, saya ingin cepat menikahinya, takut dia akan hilang lagi!" ucap Donny.


"Kami sebagai orang tua sih setuju saja demi kebahagiaan anak, sekarang kita tanya sama Anita, apakah dia bersedia di lamar olehmu dan menjadi istrimu?" ujar Pak Karta sambil menoleh pada Anita yang sejak tadi menunduk.


"Bagaimana Ta? Kau harus tentukan pilihanmu sekarang! Syukur si Donny mau menerima kamu apa adanya!" tanya Bu Eni.


Anita kemudian menganggukan kepalanya, Donny menarik nafas lega.


"Terimakasih Anita, aku janji akan menjaga dan melindungi mu, juga menjaga hati ini tetap milikmu!" ucap Donny.


Ada rasa haru yang mereka rasakan saat itu.


"Donny, sebelum kau tentukan hari pernikahan, ada yang Ibu mau tanyakan padamu!" kata Bu Eni tiba-tiba.


"Silahkan Bu!" sahut Donny.


"Maaf ya, Ibu cuma mau tanya apa kau punya rumah dan tabungan untuk masa depan kalian?" tanya Bu Eni to the point.


"Ibu! Hal pribadi kau tanyakan! Itu tidak sopan!" sergah Pak Karta yang merasa tidak enak.


"Lho, kita harus tau Pak bibit bebet dan bobot calon mantu kita, jangan beli kucing dalam karung, nanti menyesal belakangan!" kilah Bu Eni.

__ADS_1


"Ibu nih, bikin malu saja!" sungut Pak Karta.


"Tidak apa-apa Bu, Pak, itu pertanyaan yang wajar menurut saya, saya punya satu apartemen dan rumah, untuk rumah saya masih punya walaupun itu rumah warisan, selama ini saya hanya tinggal berdua dengan ibu saya, untuk tabungan walaupun sedikit saya siap menafkahi Anita dan mencukupi kebutuhannya Bu, kendaraan kebetulan saya hanya punya motor, tapi saya bisa menabung untuk membeli mobil!" jelas Donny.


Pak Karta manggut-manggut, sedangkan Bu Eni masih terlihat mengerutkan keningnya.


"Memangnya apa pekerjaanmu dan berapa penghasilanmu?" tanya Bu Eni.


"Bu, kau ini seperti polisi saja mengintrogasi orang! Maafkan Ibu ya Nak Donny, dia memang kalau ngomong ceplas ceplos!" ucap Pak Karta.


"Tidak apa-apa Pak, kalau Ibu ingin tau, pekerjaanku adalah guru di sekolah internasional, penghasilanku berkisar delapan sampai sepuluh juta sebulan, status sementara masih guru honorer karena saya belum lama mengajar di situ, tapi sebentar lagi saya akan menjadi guru tetap!" jelas Donny.


"Oooh, begitu kan jelas, lalu apakah kau punya bisnis sampingan yang lain?" tanya Bu Eni lagi.


"Bisnis sampingan saya mengajar privat di luar jam kerja saya, penghasilan kotor perbulan sekitar tujuh jutaan!" jawab Donny.


Bu Eni baru manggut-manggut tanda mengerti.


"Hmm, lumayan juga, ya sudah, jangan lupa tiap bulan ingat kewajiban sama orang tua ya, seperti si Dicky mantu kesayangan Ibu itu!" ujar Bu Eni.


"Siap Bu, karena saya sudah tidak punya orang tua lagi, maka kewajiban saya sekarang adalah pada bapak dan Ibu, jadi kalian tenang saja!" sahut Donny.


Beberapa kali Pak Karta menyenggol pinggang Bu Eni untuk mengehentikan ucapannya.


"Jadi bagaimana Pak, Bu? Apakah saya sudah di restui menjadi menantu Bapak dan Ibu?" tanya Donny.


"Iya Nak, Bapak dan Ibu merestui kalian!" jawab Pak Karta.


"Terimakasih Pak, Bu!" ucap Donny senang sambil menyalami Pak Karta dan Bu Eni.


"Jadi, kapan rencananya pernikahan kalian akan di laksanakan?" tanya Pak Karta.


"Kalau bisa secepatnya Pak, saya sudah tak sabar!" jawab Donny.


"Ibu punya usul, bagaimana pernikahan kalian di laksanakan di sini, di kampung sini, seperti saat dulu Dicky dan Fitri menikah!" usul Bu Eni.

__ADS_1


"Kalau saya sih, di manapun tak masalah, yang penting sah dan lancar tanpa halangan!" sahut Donny.


Anita kemudian menulis sesuatu di buku hariannya itu, setelah selesai dia menunjukan pada Donny dan kedua orang tuanya.


Kita tanyakan saja dulu pada Fitri dan Mas Dicky, aku tidak mau terburu-buru, aku masih mau banyak mengobrol dengan Fitri, jadi aku mohon, jangan buru-buru menentukan tanggal.


"Sepertinya Anita butuh waktu, jadi Nak Donny, kita akan bicarakan masalah ini nanti setelah ada Fitri dan suaminya!" kata Pak Karta.


"Tidak apa-apa Pak, asalkan kalian semua menyetujuinya, itu sudah membuat saya bahagia!" jawab Donny.


"Jadi apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Pak Karta.


"Saya akan membawa Anita ke Jakarta Pak! Karena saya mau memperkenalkan Anita dengan beberapa orang saudara dan kerabat saya!" jawab Donny.


"Lalu nanti Anita akan tinggal di mana?" tanya Pak Karta.


"Di apartemen saya Pak, biar saya kembali tinggal di rumah warisan Ibu saya!" jawab Donny.


"Jangan! Kalian ini belum menikah, bahaya, lebih baik Anita tetap tinggal di sini, nanti kalau ada apa-apa, siapa yang repot?" sergah Bu Eni.


"Baiklah, kalau begitu, saya mohon pamit dulu, nanti saya akan kembali lagi, untuk persiapan pernikahan, rencananya saya mau ambil cuti dari sekolah!" ucap Donny.


"Nak, ini sudah malam, bahaya, malam ini kau bermalam saja di sini, besok pagi baru kau bisa pulang ke Jakarta!" usul Pak Karta.


"Tapi Pak ..."


"Sudah, kau bermalam saja di sini, hitung-hitung latihan jadi menantu, jangan lupa bantu ngepel dan cuci piring ya!" potong Bu Eni cepat.


"Siap Bu! Terimakasih sebelumnya, sekarang, bisakah saya mengobrol dengan Anita, masih kangen Bu, Pak!" ucap Donny.


"Silahkan Nak!" kata Pak Karta yang langsung berdiri dan menarik tangan Bu Eni menjauh dari tempat itu.


"Kita ngintip lagi yuk Pak!" ajak Bu Eni saat mereka ada di ruang tengah.


"Dari pada ngintipin mereka nanti Ibu jadi iri, mendingan kita nostalgia di kamar saja, sudah lama nih kita tidak bergelut!" bisik Pak Karta.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2