
Dicky masih duduk di bangku ruang tamu itu, sampai Bu Eni datang menghampirinya sambil membawa minuman hangat dan aneka cemilan.
"Minumlah Nak Dicky, kau pasti lelah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta!" tawar Bu Eni.
"Terimakasih Bu, bagaimana Fitri Bu? Dia baik-baik saja kan?" tanya Dicky.
"Fitri baik-baik saja, tapi sepertinya dia belum siap untuk bertemu dengan Nak Dicky, sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian?" tanya Bu Eni balik.
"Maafkan sikap Fitri ya Nak!" timpal Pak Karta yang merasa tidak enak atas penolakan Fitri terhadap Dicky.
"Fitri hendak membuat kejutan untukku malam itu Pak, Bu, tapi aku ketiduran di ruanganku, entah mengapa aku bisa tertidur senyenyak itu sampai pagi, mungkin Fitri marah karena aku pulang terlambat!" jelas Dicky.
"Kalau hanya itu masalahnya, mengapa Fitri sampai sesedih itu, bahkan dia tidak mau menemui mu!" ujar Bu Eni.
"Fitri sedang hamil anakku Bu, mungkin orang hamil bawaannya sensitif!" sahut Dicky.
"Jadi Dicky sudah tau kalau Fitri hamil?" tanya Bu Eni.
"Iya Bu, itulah yang Fitri siapkan untuk memberi aku kejutan, tapi aku malah mengecewakannya, aku sangat menyesal!" ungkap Dicky dengan wajah sedih.
"Yang sabar ya Nak, nanti Fitri juga akan luluh, apalagi Ibu tau Fitri sangat sayang sama Dicky!" ujar Bu Eni.
"Nak Dicky kalau mau istirahat di kamar depan saja, itu kamar kosong yang selalu di bersihkan untuk tamu yang menginap!" kata Pak Karta.
"Terimakasih Pak, Bu, aku istirahat di sini saja, aku tunggu Fitri sampai dia mau menemui aku!" ucap Dicky.
"Ya ampun Nak Dicky, kasihan sekali kamu, coba kamu bicara sama Fitri di kamarnya, siapa tau kalian bisa berkomunikasi dan menyelesaikan masalah ini!" kata Bu Eni.
Dicky kemudian beranjak ke kamar Fitri yang pintunya tertutup rapat itu.
"Fitri ... Ini Mas Dicky sayang, maafkan aku kalau aku mengecewakanmu, aku mohon Fit, kau bisa memaafkan aku!" seru Dicky dari luar kamar Fitri.
Fitri yang mendengar suara Dicky hanya bisa menangis, sebenarnya ada rasa rindu yang tersimpan untuk suaminya itu.
Ingin rasanya Fitri berlari dan memeluk Dicky, apalagi kini di dalam rahimnya ada benih Dicky yang sedang bertumbuh.
Namun lagi-lagi rasa gengsi menguasainya, apalagi saat dia kembali teringat akan foto itu, foto yang membuat hati Fitri sakit ketika mengingatnya.
"Aku akan tetap menunggumu di depan kamar ini Fit, sampai kau bisa memaafkan aku!" ujar Dicky.
Air mata Fitri bertambah deras mengalir.
Ingin rasanya dia membalas setiap perkataan Dicky, namun lidahnya terasa Kelu.
__ADS_1
Malam semakin mencekam, suara jangkrik dan gesekan pohon bambu menambah kesunyian malam itu, waktu sudah menunjukan jam 11 malam, sudah tidak ada suara yang terdengar lagi dari balik pintu kamar Fitri.
Dengan ragu-ragu Fitri membuka sedikit pintu kamarnya.
Dicky nampak duduk terkulai di lantai depan kamarnya itu dengan bersandar tembok.
Wajahnya terlihat lelah dan sedikit pucat, matanya terpejam.
Fitri lalu mendekati suaminya itu, memegang sedikit keningnya, panas.
Fitri mulai panik, rasa cinta dan khawatir mengalahkan rasa sakit hatinya, perlahan Fitri mengusap pipi Dicky.
"Mas Dicky!" panggil Fitri lirih.
Dicky mulai mengerjapkan matanya.
"Fitri, maafkan aku ... maafkan aku Fit!" ucap Dicky dengan suara bergetar.
"Mas Dicky, ayo masuk Mas, jangan di sini, lantainya dingin!" bisik Fitri sambil meneteskan air matanya.
Perlahan Fitri memapah Dicky masuk ke dalam kamarnya, kemudian membantu Dicky untuk berbaring di tempat tidurnya, lalu Fitri menyelimuti tubuh Dicky.
"Fitri maafkan aku, maafkan aku Fit!" gumam Dicky.
"Kau ini keras kepala sekali Mas, kenapa kau tidak tidur di kamar depan saja, atau di bangku, kenapa hanya duduk di lantai menungguku??" tanya Fitri yang mulai mengompres dahi Dicky yang panas itu.
Fitri kemudian membuatkan minuman hangat untuk Dicky, lalu membantunya untuk menghabiskannya.
"Sekarang kau istirahatlah Mas, mudah-mudahan besok pagi demamnya sudah turun!" ujar Fitri.
"Fitri, apakah kau sudah memaafkan aku?" tanya Dicky.
Fitri terdiam tak mampu untuk menjawab pertanyaan Dicky.
"Kau pikir aku marah karena apa Mas?" tanya Fitri balik.
"Karena malam itu aku ketiduran dan terlambat datang, sementara kau dengan susah payah telah menyiapkan kejutan untukku!" jawab Dicky.
"Hanya itu??" tanya Fitri.
"Ya, hanya itu!" jawab Dicky.
"Apakah kau merasa melakukan sesuatu yang menyakiti hatiku Mas?" tanya Fitri lagi.
__ADS_1
Dicky menggelengkan kepalanya.
"Bukan karena kau berselingkuh di belakangku??" Fitri kembali menangis.
Dicky terlihat heran melihat sikap Fitri.
"Kenapa kau menuduh aku berselingkuh Fit? Terbersit di pikiranku saja aku tidak pernah, kau tau selama ini tidak pernah aku dekat dengan perempuan manapun?" Dicky menatap Fitri dalam, mencoba menyelami setiap pikiran Fitri.
"Tapi aku lihat sendiri kau berselingkuh dengan Ranti, bahkan kau sudah ... " Fitri kembali menangis tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Kau lihat di mana Fit?? Sungguh aku tidak pernah lagi berurusan dengan Ranti!" tegas Dicky.
Fitri kemudian mulai mengeluarkan ponselnya, lalu menyodorkan foto yang di lihatnya itu di hadapan Dicky, Dicky melotot melihat foto dirinya ada bersama dengan Ranti tanpa dia sadari.
"Siapa yang mengirimkan foto ini Fit?" tanya Dicky.
"Aku tidak tau Mas, nomornya tidak di kenal, karena aku melihat foto ini makanya aku pergi darimu, hatiku sakit Mas!" jawab Fitri sambil mengusap matanya yang basah.
"Kurang ajar Ranti, dia sudah menjebak ku! Ku pastikan dia akan keluar dari pekerjaannya!" geram Dicky.
"Menjebak??" Fitri terlihat bingung.
"Malam itu setelah operasi selesai, aku berniat langsung pulang ke rumah, seorang office girl memberikan aku minuman hangat, setelah aku minum, aku mengalami rasa kantuk yang luar biasa, setelah itu aku tidak sadar apa yang terjadi!" ungkap Dicky.
"Benarkah Mas?" tanya Fitri nyaris tak percaya.
"Kau sudah cukup lama mengenalku Fit, kau percaya padaku, atau foto dari orang yang tak di kenal itu?" tanya Dicky dengan mata yang menatap dalam Fitri.
Fitri menunduk, tidak berani menatap mata coklat Dicky yang selalu membuatnya berdebar.
"Jadi, Mas Dicky tidak selingkuh kan?" tanya Fitri.
"Tentu saja tidak Fitri, kau tau selama ini aku begitu sayang padamu, berpikir untuk selingkuh saja tidak pernah!" tegas Dicky.
Kemudian dengan spontan Fitri langsung memeluk Dicky, dan membenamkan kepalanya di dada Dicky yang sedang berbaring itu.
"Maafkan aku Mas, aku sudah menuduhmu selingkuh, maafkan aku!" ucap Fitri sambil menangis.
Dicky membelai lembut rambut Fitri.
"Lupakanlah Fit, saat ini kita fokus pada calon bayi kita saja!" bisik Dicky sambil mengelus perut Fitri.
Ada rasa hangat yang Fitri rasakan saat tangan Dicky menyentuh perutnya.
__ADS_1
Bersambung ...
****