Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Kunjungan Walikota


__ADS_3

Dicky sudah mengalami tiga kali pelepasan, setelah Fitri membantunya untuk menyalurkan hasratnya yang sudah beberapa hari ini terpendam.


Tubuh Dicky terkulai lemas, tulang-tulangnya bahkan terasa nyeri dan linu, karena begitu banyak tenaga yang di keluarkan Dicky.


"Aduh, tulangku remuk redam Fit, rasanya ngilu semua ini!" keluh Dicky.


"Sukurin! Suruh siapa mesum??" sahut Fitri.


"Tapi aku lega Fit, pasti tidur nyenyak ini nanti malam!" ujar Dicky. Sementara Fitri merapikan rambut dan pakaiannya yang sempat acak-acakan.


Tok ... Tok ... Tok


Terdengar suara ketukan pintu di ruangan itu.


"Kau kunci pintunya Fit?" tanya Dicky.


"Iya lah, aku tau kau pasti akan modus Mas, dari pada semua orang melihat kelakuanmu!" sahut Fitri yang langsung bergegas melangkah untuk membukakan pintu.


Dokter Yudi datang bersama dengan seseorang yang berpakaian tapi dan formal dengan dua orang perawat datang dengan membawa sebuah map.


"Selamat sore Bu Fitri, ini ada bapak walikota datang ingin menjenguk Dokter Dicky, sekalian saya mau kontrol kemajuan Dokter Dicky!" kata Dokter Yudi.


Pria yang adalah walikota itu nampak tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Oh, silahkan Dok! Pak!" sahut Fitri.


Bapak walikota langsung datang dan menyalami Dicky.


"Jadi ini kepala rumah sakit yang baru?" tanya Pak Walikota.


"Benar Pak!" sahut Dicky.


"Saya turut prihatin atas kejadian yang menimpa anda!" ucap Pak Walikota.


"Terimakasih Pak!" jawab Dicky.


Dokter Yudi lalu segera memeriksa kondisi tubuh Dicky.


"Ini aneh, di ruangan ber AC, Dokter Dicky bisa berkeringat seperti ini, detak jantungnya juga sangat cepat!" gumam Dokter Yudi.


Dicky dan Fitri hanya saling melirik satu sama lain.


"Tensinya juga agak tinggi nih Dok!" kata seorang perawat.


"Kan sudah aku peringatkan, kau jangan terlalu banyak bergerak dan melakukan aktifitas Dokter Dicky, bagian dalam tubuhmu masih sensitif!" tegur Dokter Yudi yang terlihat lebih senior.


"Maaf Dok, aku bosan juga berbaring terus di sini, butuh refreshing aku!" tukas Dicky.

__ADS_1


"Baik, sementara kau akan di bantu untuk naik ke atas kursi roda, jadi Bu Fitri bisa mengajakmu jalan ke luar untuk sekedar refreshing!" ujar Dokter Yudi.


Seorang perawat datang membawakan kursi roda.


Kemudian setelah memeriksa Dicky, Dokter Yudi membuka Map yang dari tadi di pegangnya.


"Oya, Pak Wali kota memberikan sertifikat untuk rumah sakit ini, dan ini adalah sertifikat untuk akreditasi rumah sakit ini, sebagai kepala rumah sakit, kau bisa tanda tangan di sini Dokter Dicky!" Dokter Yudi menyodorkan map itu ke arah Dicky.


"Wah, rumah sakit ini mendapat predikat rumah sakit terbaik di kota ini, aku sangat bangga!" ucap Dicky sambil mencoba untuk menandatangani sertifikat itu.


"Makanya kau cepatlah sembuh Dokter, supaya kau bisa langsung blusukan!" sahut Pak walikota.


Setelah Dicky menandatangani map itu, Dokter Yudi beserta Pak Walikota dan para perawat meninggalkan ruangan itu.


Fitri menyelimuti tubuh Dicky yang masih terlihat lemas tak berdaya itu, kemudian setelah mencium keningnya Fitri segera beranjak ke sofa untuk merebahkan tubuhnya yang juga terasa pegal.


Bu Eni belum juga datang ke ruangan, Fitri mulai gelisah, biasanya Bu Eni kalau beli makanan tidak pernah lama, tapi ini sejak sore hingga malam begini Bu Eni belum juga muncul.


Dicky terlihat sudah tertidur nyenyak. Perlahan Fitri melangkah keluar dari ruangan itu berniat akan mencari ibunya.


Pertama-tama Fitri berjalan ke arah kantin, mengira Ibunya masih di kantin membeli makanan.


Namun kantin terlihat sepi, hanya ada satu dua orang yang sedang makan di sana.


Fitri kembali berjalan ke arah lobby, namun ibunya juga tidak nampak di lobby itu.


Fitri yang merasa lelah lalu duduk di bangku lobby itu, dia mengeluarkan ponselnya lalu mulai menelepon ke rumah.


"Halo ..."


"Halo Bi Sumi, apakah Ibu pulang ke rumah?" tanya Fitri to the point.


"Lho, bukannya Ibu masih di rumah sakit Mbak? Kan besok pagi baru dia pulang gantian sama Bibi!" jawab Bi Sumi.


Fitri semakin cemas.


"Jadi, Ibu tidak ada di rumah ya Bi?"


"Tidak ada Mbak, kenapa tidak telepon saja ke ponselnya?" tanya Bi Sumi.


"Oh iya Bi, aku lupa kalau Ibu ada ponsel, ya sudah Bi, aku telepon Ibu dulu, Oya, Dara baik-baik saja kan Bi?" tanya Fitri.


"Iya Mbak, tadi habis belajar dia langsung tidur!" jawab Bi Sumi.


Kemudian Fitri langsung mematikan teleponnya, lalu mulai memencet nomor Bu Eni.


Beberapa kali mencoba menghubungi, namun ponsel Bu Eni tidak aktif. Fitri semakin khawatir.

__ADS_1


Fitri kemudian berjalan ke arah parkiran.


Dari jauh, mata Fitri melihat seorang wanita duduk di aspal sambil menangis. Fitri langsung mengenali siapa wanita itu.


"Ibu!" Fitri langsung berlari menghampiri wanita yang adalah ibunya itu.


"Ibu kenapa?" tanya Fitri sambil memeluk ibunya itu.


"Fitri ... Ibu kerampokan Fit! Uang ibu ... perhiasan ... ponsel juga hilang huhu huu...!" kata Bu Eni sambil menangis.


"Ya ampun Bu, kok bisa?" tanya Fitri.


"Ibu kena hipnotis Fit, tidak tau gimana ibu buka semua kalung, cincin, gelang dan uang yang Dicky kasih juga habis semua, termasuk ponsel Ibu, Ibu baru sadar pas orang itu sudah jauh ... sekarang semua habis bis bis ...!" tangis Bu Eni.


"Ibu juga kenapa pakai perhiasan mencolok segala sih di sini?" sungut Fitri.


"Ibu khilaf Fit, niatnya sih mau pamer, tapi malah kerampokan begini!" jawab Bu Eni.


Fitri segera memapah Ibunya dan membawanya perlahan ke ruangan Dicky di rawat.


Dicky yang sudah terbangun dari tidurnya heran melihat Fitri masuk bersama Ibunya sambil menangis.


"Ada apa Fit?" tanya Dicky.


"Ibu habis kerampokan Mas, semua uang dan perhiasan hilang, ponselnya juga!" jelas Fitri.


"Bagaimana bisa terjadi? Siapa yang melakukan itu?" tanya Dicky.


"Tidak tau Nak Dicky, Ibu tidak sadar mengikuti orang itu sampai parkiran, ternyata Ibu kena hipnotis, hilang semua punya Ibu, padahal cincin itu cincin pernikahan Ibu dan Bapakmu Fit!" sesal Bu Eni.


"Ibu, mendekatlah kesini!" kata Dicky.


Bu Eni langsung mendekati Dicky, lalu duduk di sampingnya.


"Ibu jangan khawatir, semua harta dan perhiasan ibu yang hilang aku akan ganti, beserta ponselnya juga!" ucap Dicky.


"Serius Nak Dicky?!" wajah Bu Eni mulai cerah.


"Serius lah Bu, tapi Ibu janji, jangan terlalu mencolok kalau memakai perhiasan, ini di Jakarta Bu bukan di kampung, bahaya untuk keselamatan Ibu!" ujar Dicky.


"Iya Nak Ibu janji, paling Ibu hanya pakai cincin kawin saja, jadi kapan nih di gantinya?" tanya Bu Eni antusias.


"Nanti biar Fitri yang atur Bu, Ibu lihat sendiri aku belum bisa bangun sendiri dari tempat tidur, belum bisa berjalan!" jawab Dicky.


Bu Eni langsung memeluk Dicky.


"Terimakasih Nak Dicky, makin sayang Ibu sama kamu, memang mantu idaman si ganteng ini!" puji Bu Eni sambil mencubit gemas pipi Dicky.

__ADS_1


****


__ADS_2