Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Makin Penasaran


__ADS_3

Teng ... Teng ... Teng


Suara lonceng sekolah berbunyi, karena listrik padam, bel sekolah berganti dengan lonceng yang di bunyikan secara manual, anak-anak mulai berhamburan ke luar kelas.


Hari ini sekolah pulang lebih cepat dari biasanya, karena listrik padam sejak pagi, membuat kegiatan belajar mengajar jadi terganggu.


Para guru mulai kembali ke ruang guru setelah dari kelas masing-masing, karena AC padam, mereka mengipasi diri mereka dengan kertas atau apa saja untuk menyejukkan tubuh mereka.


"Huh! Panas betul hari ini, listrik pakai padam pula!" sungut Pak Riko sambil mengipasi tubuhnya dengan koran.


"Sabar Pak, katanya lagi ada gangguan di gardu listrik, nanti juga nyala kok!" timpal Bu Ria.


Beberapa guru mulai bersiap akan pulang, namun Fitri masih menunggu karena Mang Salim belum datang.


"Ma, kita kapan pulang?" tanya Dara yang terlihat masuk ke ruang guru dan langsung menghampiri Fitri.


"Sebentar lagi sayang, Mama baru kirim pesan ke Mang Salim, sekarang Mang Salim dalam perjalanan ke sini!" jawab Fitri.


"Kalau gitu aku tunggu di luar saja ya Ma, sekalian main sama teman-teman!" kata Dara. Fitri menganggukkan kepalanya.


Dara langsung kembali berlari keluar ruangan.


"Bu Fitri, dengar-dengar nih, Bu Romlah emaknya si Dara udah punya toko kelontong yang lumayan rame, kalau berat ngurus si Dara Sama Kakaknya, balikin saja Bu ke emak kandungnya!" kata Bu Erna.


"Kami tidak merasa berat kok Bu mengurus mereka, lagi pula mereka itu sudah sah di mata hukum jadi anak adopsi kami!" jawab Fitri.


"Syukur deh kalau tidak berat, soalnya kan Bu Fitri sekarang kembali mengajar di sekolah, banyak yang beranggapan kalau keluarga kalian sedang mengalami masalah keuangan!" lanjut Bu Erna.


"Tidak kok Bu, sampai sekarang keluarga kami masih bisa mencukupi kebutuhan hidup, dan kami juga masih mampu mengurus Dina dan Dara!" ucap Fitri.


Tak lama Dara kembali masuk ke ruang guru itu.


"Ma, Mang Salim sudah datang!" seru Dara. Fitri menganggukkan kepalanya dan segera berdiri dari tempatnya.


"Bu Erna, aku duluan ya!" kata Fitri.


"Iya Bu, Hati-hati!" sahut Bu Erna.


Fitri lalu menggandeng Dara keluar dari ruangan itu dan langsung berjalan menuju ke parkiran, Mang Salim sudah menunggunya di dalam mobil.


"Kita langsung pulang Mbak Fitri?" tanya Mang Salim.

__ADS_1


"Dina pulang jam berapa Mang? Bukannya masih jam 1? Ini baru jam 11 Mang!" sahut Fitri.


"Iya, nanti saya balik lagi jemput Dina!" kata Mang Salim.


"Begini saja Mang, tolong Mang Salim antarkan saya ke tempat yang tadi pagi, setelah itu langsung antar Dara pulang, tidak apa-apa saya di tinggal, nanti setelah Mang Salim jemput Dina, baru jemput saya lagi, gimana Mang?" tanya Fitri.


"Waduh, Giman ya Mbak, nanti Pak Dokter marah lagi sama saya!" sahut Mang Salim.


"Mas Dicky tidak akan marah, jam segini pasien biasanya sedang antri-antrinya, saya masih penasaran Mang!" ujar Fitri.


"Ya sudah deh Mbak, nanti kalau mau di jemput langsung telepon saja ya!" kata Mang Salim akhirnya.


"Siap Mang!" sahut Fitri.


Mereka kemudian menuju ke gedung perkantoran yang ramai dengan toko bunga yang berjejer di sekitarnya.


Fitri turun di perempatan itu dan langsung menuju ke toko bunga milik Pak tua yang tadi pagi di temuinya.


Pak tua pemilik toko bunga itu nampak sedang mengatur bunga yang di pajang di depan tokonya.


"Selamat siang Pak, kita ketemu lagi!" sapa Fitri. Pak tua itu nampak terkejut dan langsung menoleh ke arah Fitri.


"Iya Pak, ini Fitri yang tadi pagi!"


"Mau apa lagi kau datang, cari si Tata lagi?!" tanya Pak Tua itu sedikit ketus.


"Iya Pak, tadi pagi sebenarnya saya sudah ketemu di jalan, tapi dia langsung lari begitu saja, dia seperti takut melihat saya!" jawab Fitri.


"Tapi dia sekarang tidak ada di sini! Dia sedang mengantar bunga tuh di gedung yang itu!" kata Pak tua sambil menunjuk sebuah gedung berlantai enam yang terletak di seberang jalan.


"Oooh, kalau begitu saya boleh tau rumahnya Pak?" tanya Fitri.


"Buat apaan sih? Mereka itu orang miskin, ibunya si Mak Acih sakit-sakitan, tiap Minggu pasti berobat, kasihan juga si Tata, harus bekerja mati-matian buat ngobatin ibunya yang sakit itu!" jelas Pak Tua.


"Mereka sudah lama tinggal di sini Pak? Maksudnya mereka orang asli Jakarta sini?" tanya Fitri.


"Bukan Mbak, mereka itu pendatang, di sini mereka ngontrak, denger-denger sih, katanya si Tata itu dulu bisa bicara, karena kecelakaan dia jadi bisu, kasian amat ya nasibnya, padahal dia cantik Persis kayak Mbak ini!" ungkap Pak Tua itu.


"Ohh, jadi dia bisa bicara dulu ya, kasihan sekali, pasti kondisi ini sangat menyiksanya!" gumam Fitri.


"Iya lah Mbak, di sini dia sering di ledekin sama anak-anak iseng karena dia bisu, kalau mau lebih kenal datang saja deh, kontrakannya itu di belakang sini, ada gang sempit, amsuk saja Mbak, tanya rumahnya Mak Acih, mantan bidan!" lanjut Pak Tua itu.

__ADS_1


"Mantan Bidan??"


"Iya, dulu sebelum sakit kan dia bidan kampung, suka membantu orang lahiran!" sahut pak tua.


"Ya sudah deh, sebagai ucapan terimakasih, saya pesan bunga mawar putih untuk suami saya, nanti di kirim ke alamat ini ya Pak, saya mau kasih kejutan buat suami saya!" kata Fitri sambil menyodorkan secarik kartu nama.


Pak Tua nampak tertegun melihat kartu nama itu.


"Dokter Dicky? Kalau tidak salah Dokter ini pernah pesan karangan bunga buat acara pernikahan di hotel deh!" gumam Pak tua.


"Oya? Jangan-jangan yang kemarin itu karangan bunga pesanan Mas Dicky buat Dimas, makanya aku bisa ketemu sama wanita itu!" sahut Fitri.


"Ya benar, buat Dimas karangan bunganya!" sambung Pak Tua.


"Kalau begitu saya pamit Pak, saya mau langsung ke kontrakannya Mak Acih saja, terimakasih Pak!" Fitri langsung beranjak pergi.


"Eh Mbak! Ini pesanannya belum di bayar lho!" seru Pak Tua sambil melambaikan tangannya memanggil Fitri.


"Oh iya Pak, saya lupa, jadi berapa pak harganya?" tanya Fitri yang datang kembali.


"Untuk bunga mawar putih 150 ribu saja!" sahut pak tua.


Fitri kemudian langsung memberikan uang sejumlah itu ke Pak Tua, kemudian langsung beranjak lagi dari tempat itu.


Tidak memerlukan waktu yang lama, Fitri sudah sampai di kontrakan yang terletak di belakang gedung itu, dan dia sudah menemukan kontrakan Mak Acih, hasil dari tanya-tanya orang sekitar.


Perlahan Fitri mengetuk pintu kontrakan itu.


Setelah lima menit menunggu, pintu itu pun di buka dari dalam.


"Selamat siang, benar ini kontrakannya Mak Acih?" tanya Fitri.


Wanita setengah baya yang ada di hadapan Fitri itu langsung melotot melihat Fitri.


Brakkk!!


Pintu itupun segera di tutup dengan keras dari dalam. Fitri langsung terkejut di buatnya.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2