Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Keputusan Fitri


__ADS_3

Dicky terus berjalan cepat menuju ke kamarnya dan langsung membanting tubuhnya di tepi tempat tidurnya itu.


Dia mencoba mengatur deru nafasnya yang cepat dan tersengal-sengal. Sementara Fitri mengikutinya hingga ke kamarnya.


Terdengar suara tangisan Alex yang kaget mendengar suara keras sejak tadi.


Perlahan Alex di letakan di atas tempat tidur itu, Fitri mulai maju mendekat di Dicky dan menatap mata laki-laki itu.


"Mas Dicky, coba kau sebutkan satu saja, kebohongan apa yang pernah aku lakukan terhadapmu selama ini?" tanya Fitri sambil terus mengumpulkan keberanian untuk terus menatap wajah suaminya itu.


Dicky diam saja tidak bisa menjawab, dalam hati dia mengakui Fitri bukanlah tipe orang yang suka menyembunyikan sesuatu terhadapnya.


"Sekarang, apakah kau mau mendengarkan semua penjelasan ku??" tanya Fitri lagi.


"Katakanlah!" sahut Dicky singkat.


"Siang tadi aku begitu pusing, ingin bermain dan menyusui Alex tapi Ibu yang lebih dominan mengatur Alex, aku ingin masak membantu Bi Sumi dan Mbok Jum, lagi-lagi Ibu melarangku!" jelas Fitri.


"Lalu?!"


"Akhirnya aku pergi ke luar dengan taksi online, selain ingin sedikit refreshing, aku juga ingin ke kantor ekspedisi itu, sekedar mencari informasi mengenai siapa yang telah mengirimi aku paket selama ini!' lanjut Fitri.


"Lalu, apakah kau bertemu dengan orang itu?" tanya Dicky.


"Ya, akhirnya aku menemukannya, dan aku sangat terkejut, ternyata si pengirim paket itu adalah Agus, mantan pacarku dulu saat di Kampung!" lirih Fitri.


"Hmm, berarti sudah terjawab semua kan, kemudian kalian mengobrol dan bernostalgia di cafe itu, untuk melepas rindu!" cetus Dicky.


"Mas! Terserah kau mau berpikir apa tentangku, aku bicarapun rasanya percuma, dan sekarang aku tau jawabannya, mengapa Ibuku tiba-tiba pulang ke Sukabumi!" seru Fitri.


Dicky terdiam, berusaha berpikir dengan logikanya, dalam hal ini Fitri tidak mungkin berbohong, tapi dia juga cemburu terhadap laki-laki itu, apalagi setelah Dicky tau kalau dia adalah Agus, mantan kekasih Fitri dulu.


Dicky pernah melihat Agus saat dia pulang dari Sukabumi menuju ke Jakarta, Agus yang patah hati mengejar Fitri kala itu, dan Dicky juga tidak menyangka, kalau Agus akan muncul kembali.


"Mas Dicky, sejak kita tinggal di sini, entah mengapa seolah hatimu semakin menjauh dariku, aku merasa dunia kita begitu berbeda, dan mungkin benar kata Ibumu, aku akan susah mengimbangi kehidupan high class kalian!" ucap Fitri sambil berlinang air mata.

__ADS_1


Kemudian Fitri duduk bersimpuh dan menangis, mengeluarkan semua isi hatinya dan perasaanya.


Seketika hati Dicky menjadi luluh, dia tidak tahan melihat Fitri yang kembali nampak frustasi seperti dulu, pada saat dia putus asa dan kehilangan harapannya karena kesuciannya telah di renggut paksa oleh orang tak bertanggung jawab.


Tiba-tiba Fitri berdiri dan mengambil Alex ke dalam gendongannya.


"Mas, maafkan aku, sebagai istri, ijinkan aku pergi sesaat meninggalkanmu, aku hanya ingin bersama Alex, di rumah ini, aku merasa seperti orang asing!" ucap Fitri.


Ucapan Fitri bagaikan petir yang menggelegar di siang bolong, Dicky tercengang mendengarnya.


"Jangan Fit! Kau akan menyiksa aku! Tarik kembali kata-katamu itu!" sergah Dicky sambil berusaha menggapai Fitri.


Namun tangan Fitri menepiskan nya, kalau dulu Fitri luluh dengan segala sentuhan Dicky, kini dia harus mengambil sikap.


"Aku paham Mas Dicky baru menemukan sosok Ibu kandung, dan aku tidak akan merebut itu, lebih baik aku yang mengalah!" ujar Fitri.


"Apa maksud mu Fit? Kau jangan macam-macam!" ujar Dicky, kini hatinya ketar ketir takut kalau Fitri akan meninggalkannya.


Sambil menggendong Alex, Fitri membalikan tubuhnya dan melangkah ke arah pintu, dia kemudian menuruni Tangga menuju ke bawah.


"Fitri! Kau mau kemana Fit?? Ini sudah gelap!" panggil Dicky. Namun Fitri tidak menoleh lagi, hatinya sudah telanjur sakit.


"Kau mau kemana Fit?" tanya Bu Anjani.


"Memangnya Ibu perduli aku akan pergi kemana? Ibu boleh menyuruh mata-mata Ibu untuk mengikutiku dan mengintai semua gerak-gerikku, Ibu punya kuasa! Tapi jangan pernah ambil Alex dari tanganku, mulai sekarang, aku sendiri yang akan meawat dan menjaga Alex!" jawab Fitri.


"Fit, kau sedang emosi, duduklah dulu!" kata Bu Anjani.


"Maaf Bu, sepertinya aku harus pergi dari rumah besar ini, aku tidak pantas untuk tinggal di istana Ibu ini, ibu sudah memfitnahku di depan suamiku, hatiku sakit Bu!" seru Fitri sambil menangis.


Bi Sumi dan Mbok Jum yang mendengar suara keributan sejak tadi nampak menahan nafasnya, Dina dan Dara juga keluar dari kamarnya.


"Fitri, maafkan aku Fit, aku mohon kau jangan pergi, aku tidak bisa hidup tanpamu Fit!" mohon Dicky sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.


Fitri sengaja tidak berpaling ke arah Dicky, dia takut pertahanannya goyah, biasanya Dicky selalu mampu untuk meluluhkan hatinya, tapi kali ini tidak.

__ADS_1


Fitri kemudian berjalan ke arah pintu keluar, semua orang mengikutinya.


"Mbak Fitri! Bibi ikut Mbak!" seru Bi Sumi yang langsung berjalan cepat ke arah Fitri dan Alex yang sudah berada dekat dengan gerbang luar.


Dina dan Dara juga nampak berlari mengejar Fitri.


"Mama!! Mama mau pergi kemana Ma? Aku mau ikut Mama saja!" kata Dina sambil menangis.


"Aku juga Ma, tidak apa-apa kita tinggal di rumah yang lebih kecil, asal kita selalu bersama!" tambah Dara.


"Sayang, tapi malam ini Ibu juga tidak tau akan pergi kemana? Kalian di sini dulu ya, kan ada Papa, besok kalian juga harus sekolah!" ucap Fitri sambil membelai rambut keduanya.


Tiba-tiba Bu Anjani maju mendekati Fitri.


"Fitri! Kalau kau mau pergi, pergi saja! Tapi tinggalkan Alex bersama ibu, dia akan lebih terjamin masa depannya, selama ini, kau hanya ibu rumah tangga biasa kan, yang hanya menumpang hidup dari putraku!" ujar Bu Anjani.


Fitri diam saja tanpa menyanggah perkataan Ibu mertuanya yang di rasa begitu menyakitkan, hanya air matanya yang mewakili perasaannya.


Dia melangkah hendak keluar dari gerbang, Dina dan Dara menangis mengejarnya.


"Mama!!" seru keduanya sambil memeluk Fitri.


Kemudian Bu Anjani melangkah mendekati Dicky yang masih terlihat shock berdiri mematung di tempatnya, dia tidak menyangka bahwa Fitri akan mengambil keputusan seberani itu.


"Dicky, sudahlah Nak, kau tak perlu memaksa istrimu ini untuk tinggal di sini, biarlah kita saja yang tinggal di sini, Ibu tidak ingin lagi kehilanganmu sayang!" ucap Bu Anjani sambil mengelus wajah Dicky.


"Aku mendapatkan ibuku dengan segala kelimpahannya, namun aku kehilangan istriku!" gumam Dicky.


"Kau sangat tampan dan pintar Nak, tidak sulit untuk mendapatkan wanita yang sepadan denganmu!" lanjut Bu Anjani.


Dicky kemudian menoleh ke pada wajah Ibunya, menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kata orang surga ada di telapak kaki Ibu, dan aku bahagia sudah mendapatkan surga itu, tapi seorang suami adalah surga bagi istrinya, dan aku tidak akan membiarkan istriku kehilangan surganya, maafkan aku Ibu, malam ini aku akan ikut Fitri untuk keluar dari rumah ini!" ucap Dicky dengan suara bergetar.


Sesaat Bu Anjani nampak terperangah mendengar ucapan putranya yang sangat di sayanginya itu.

__ADS_1


Bersambung ....


****


__ADS_2