Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Dia Datang Lagi


__ADS_3

Dicky yang sudah tiba di ruang IGD langsung memeriksa seorang anak yang terkena DBD.


Setelah memeriksanya sebentar, Dicky lalu memanggil susternya.


"Suster, pindahkan anak ini ke ruang perawatan!" ujar Dicky. Sang suster mengangguk patuh.


"Hari ini siapa dokter yang bertugas di ruang IGD?" tanya Dicky.


"Dokter baru, dia baru dua hari bekerja di sini!" jawab suster.


"Di mana Dokter nya? Aku mau bicara padanya, seharusnya langsung saja pasien ini di tangani, atau di pindahkan di ruang rawat, tidak perlu menungguku!" ujar Beni.


"Itu Dokternya!" sahut Suster sambil menunjuk ke arah belakang Dicky.


Dicky menoleh, dan dia langsung membulatkan matanya melihat siapa Dokter itu.


"Ranti? Kau bekerja di sini?" tanya Dicky tak percaya.


"Iya Dokter Dicky, aku melamar dan bekerja di sini, rumah sakit ini membutuhkan banyak dokter umum!" sahut Ranti yang kini mengenakan pakaian Dokter.


"Apa maksudmu melamar di rumah sakit ini? Masih banyak bukan rumah sakit yang lain?" tanya Dicky.


"Tenang saja Dicky, aku sengaja melamar di sini, supaya aku bisa lebih sering melihatmu!" jawab Ranti sambil tersenyum.


"Awas saja kalau kau menggangguku, ingat Ranti, aku adalah suami orang, jadi kau jangan punya niat buruk padaku!" cetus Dicky sambil berlalu meninggalkan ruang IGD itu, sementara pasiennya sudah di pindahkan suster ke ruang perawatan.


Setelah Dicky memeriksa pasiennya dan memberinya obat, dia kembali ke ruangannya, lalu menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya.


Saat ini masih belum ada pasien, jam 9 pagi baru akan ada pasien. Karena jadwal Dicky memang baru membuka konsultasi di jam 9.


"Dokter, bersiap lah, sudah ada beberapa pasien yang mengantri, sebentar lagi jam 9, konsultasi akan segera di mulai!" ujar Suster mengingatkan.


"Baik suster!" sahut Dicky singkat.


Dicky lalu membasuh wajah tegangnya di wastafel ruangan itu, untuk sekedar mendinginkan pikirannya.


Entah mengapa saat dia melihat Ranti tadi, hati dan pikirannya menjadi tidak tenang.


Kemudian dia mengangkat telepon yang ada di meja kerjanya, dia hendak menelepon Dimas.


"Halo Dim, kau sibuk tidak? Bisa ke ruanganku sekarang?" tanya Dicky.


"Aku ini baru selesai praktek, ada apa sih Bro?!" tanya Dimas.


"Datang kesini dulu Dim, sebentar lagi juga aku mau praktek nih!" sahut Dicky.

__ADS_1


Dokter Dimas yang ruang prakteknya tidak jauh dari Dicky langsung bergegas menemui Dicky di ruangan, dia langsung duduk di hadapan Dicky.


"Ada apa Bro?" tanya Dimas.


"Dim, kau tau Ranti bekerja di sini?" tanya Dicky balik. Dimas menggelengkan kepalanya.


"Masa sih? Setahuku dia bekerja di rumah sakit lain, kau lihat dia di sini?" sahut Dimas.


"Dia jadi dokter umum di IGD Dim, baru dua hari dia bekerja di sini!" ujar Dicky.


Dimas tertawa lalu menepuk bahu Dicky.


"kalau dia bekerja di sini kenapa Bro? Masalah?" tanya Dicky.


"Aku takut Dim, dia akan mengejarku lagi, saat ini aku dan Fitri sudah bahagia, hubungan kami sudah mendalam dan sekarang aku sangat menyayangi Fitri, aku takut Ranti punya maksud buruk bekerja di sini!" ungkap Dicky.


"Sudahlah Dicky, kau jangan khawatir, asal kau tidak mendekatinya lagi, tidak akan ada masalah, kecuali kau mulai bermain di belakang!" ledek Dimas.


"Aku sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi pada Ranti, ku harap kau mengerti!" sahut Dicky.


"Siap Dicky! Kau jangan khawatir!" kata Dimas.


Tiba-tiba suster masuk ke ruangan itu.


"Baik Sus, silahkan di panggil pasiennya!" ujar Dicky.


Dimas kemudian pamit keluar dari ruangan itu.


****


Pada saat jam istirahat siang, Dicky langsung bergegas menuju ke parkiran, dia berniat menjemput Fitri yang dia pikir masih ada di sekolah.


Saat Dicky ada di dalam mobilnya, Dicky membaca pesan singkat dari Fitri.


'Mas Dicky, aku sudah di rumah, jadi kau jangan ke sekolah ya, langsung ke rumah saja!"


Dicky lalu mulai melajukan mobilnya langsung menuju ke rumahnya.


Alangkah terkejutnya Dicky saat melihat ada sebuah motor besar yang terparkir di depan halaman rumahnya.


Dicky langsung masuk dan memarkirkan mobilnya, lalu berjalan cepat masuk ke dalam rumahnya.


Dicky melihat seorang laki-laki yang duduk di samping Fitri. Lalu ada perasaan bergemuruh di dada Dicky melihat laki-laki yang tak lain adalah Pak Donny itu.


"Fitri! Siapa dia?" tanya Dicky berusaha mengontrol perasaannya.

__ADS_1


"Oh, Mas Dicky sudah pulang, ini Pak Donny, guru olah raga di sekolah!" jawab Fitri memperkenalkan.


Donny berdiri dan mengulurkan tangan, namun Dicky tidak menanggapinya.


"Apa kau pulang bareng dengan dia Fit?" tanya Dicky.


"Jangan salah paham Mas, tadi pagi aku terjatuh dari tangga, kaki ku bengkak dan keseleo, lalu aku pulang naik taksi online, tapi tasku ketinggalan di sekolah, Pak Donny datang hanya untuk mengantar tasku!" jelas Fitri.


"Benar Pak Dicky, saya hanya mengantar tas Bu Fitri yang ketinggalan!" tambah Donny.


"Baiklah, kalau urusanmu sudah selesai, kau boleh pulang Pak Donny!" ujar Dicky dengan wajah datar.


"Baik, saya pamit Bu Fitri, semoga lekas pulih!" ucap Pak Donny sebelum melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


"Mas Dicky kok jutek gitu sih sama Pak Donny!" ujar Fitri.


"Lain kali kau mintalah guru wanita untuk mengantar tasmu, aku tidak suka ada laki-laki yang mendekatimu!" cetus Dicky.


"Mendekati apa sih Mas? Niatnya kan baik, mengantar tas ku yang ketinggalan, lagian rumahnya melewati rumah kita, apa salahnya?" tanya Fitri.


"Dari mana kau tau rumahnya melewati rumah kita, atau jangan-jangan kau pernah pulang sama dia? Iya Fit?" Dicky menatap Fitri tajam.


"Apa gunanya aku jadi istrimu Mas, kalau kau tidak mempercayai aku!" ujar Fitri.


Seperti tersadar Dicky langsung memeluk tubuh istrinya itu.


"Maafkan aku Fitri, aku bukannya tidak percaya padamu, aku hanya takut, aku takut kehilanganmu Fit!" ucap Dicky sambil terus memeluk Fitri.


"Aduh!" pekik Fitri saat kaki Dicky menyenggol kakinya.


"Ya ampun Fit, kakimu memar dan bengkak, ini pasti sakit, kau tidak boleh berjalan sendiri, aku akan menggendong mu!" ucap Dicky sambil mengangkat Fitri ke dalam gendongannya.


Dia lalu berjalan perlahan hendak ke atas, menuju ke kamar mereka.


"Mas Dicky, kau belum makan siang kan!" ujar Fitri.


"Tidak apa-apa sayang, nanti aku minta Bi Sumi membawakannya ke atas!" bisik Dicky sambil mengecup pipi Fitri.


Sesampainya di kamarnya, Dicky lalu membaringkan Fitri, lalu mulai mengompres kaki Fitri dengan air hangat dengan menggunakan sapu tangan handuk.


Fitri menatap lelakinya itu dengan pandangan tak berkedip, saat Dicky terus saja mengompres kakinya dan mengganti air hangatnya, sesekali Dicky mengusap kepala Fitri dengan penuh sayang.


Betapa setiap perhatian Dicky bisa meluluhkan hati Fitri, membuat Fitri semakin dalam mencintai suaminya itu.


****

__ADS_1


__ADS_2