
Hari ini hari Sabtu, seharusnya Dicky libur praktek, namun siang ini ada operasi besar pasiennya, juga acara serah terima jabatan sebagai kepala rumah sakit.
Fitri mengantar Dicky siang ini sampai ke mobilnya, Dara mengikutinya dari belakang.
"Nanti malam Mas Dicky mau di masakin apa?" tanya Fitri.
"Fit, aku kok ingin makan ikan balado buatanmu Fit, bisa buatkan untuk nanti malam?" tanya Dicky balik.
"Tentu saja bisa Mas, mau ikan apa? Ikan Mas atau ikan kembung atau bandeng?"
"Ikan apa saja Fit, aku suka ikan apapun!" kata Dicky.
"Baiklah Mas, nanti malam aku buatkan masakan itu, sama sayur capcay seafood ya, biar Mas Dicky ku ini selalu sehat dan pintar!" sahut Fitri.
"Hmm, aku jadi tak sabar untuk makan nanti malam Fit, baiklah, aku jalan dulu ya!" pamit Dicky sambil mengecup kening Fitri dan mengelus kepala Dara.
Kemudian mengelus perut Fitri yang sudah terlihat membuncit.
Kemudian Fitri mencium tangan Dicky.
"Mas Dicky hati-hati ya ..."
"Iya sayang ... sampai ketemu nanti malam!" ucap Dicky yang kemudian langsung melajukan mobilnya keluar dari rumah besarnya itu.
Setelah mobil Dicky menghilang di balik gerbang, Fitri segera menuntun Dara masuk ke dalam rumahnya.
"Hati ini kita mau masak ikan balado, Papa mau makan ikan balado katanya, Dara liatin Mama masak ya, supaya nanti Dara juga pintar masak!" kata Fitri.
"Iya Ma!" sahut Dara patuh.
"Petama-tama kita siapkan dulu ikannya, ikannya ada di kulkas, kita bumbui dulu ya!" Fitri langsung menuju dapur dan membuka kulkas, tadi pagi Bi Sumi sudah belanja banyak di pasar.
"Lho, Dara ikut bantu Mama ya, anak pintar!" ujar Bi Sumi yang sedang menyiangi sayuran.
"Iya dong Bi, aku kan juga ingin pintar memasak!" sahut Dara.
"Hari ini Mas Dicky ingin sekali makan ikan balado Bi, untung Bi Sumi beli banyak ikan tadi!" kata Fitri.
"Iya Mbak, Pak Dokter memang suka sekali ikan, makanya Bibi kalau ke pasar selalu beli ikan segar, buat stok!" sahut Bu Sumi.
"Tuh dengar Dara, makan ikan bisa buat otak pintar Lho seperti Papa Dicky, makanya Papa jadi Dokter! Dara juga harus suka makan ikan seperti Papa!" ujar Fitri.
__ADS_1
"Iya Ma!" sahut Dara.
Ting ... Tong
Tiba-tiba terdengar suara bell dari gerbang rumah Dicky, Bi Sumi langsung bergegas keluar membukakan gerbang.
Tak lama kemudian, Bi Sumi sudah muncul sambil membawa banyak barang oleh-oleh, Bu Eni dan Pak Karta jalan di belakangnya.
Fitri langsung berlari menghambur sambil menyalami kedua orang tuanya itu.
"Wah, perutmu sudah gendut Fit!" kata Bu Eni.
"Iya Bu, sudah mau enam bulan ini!" jawab Fitri.
Mereka kemudian langsung duduk di ruang tamu, Bi Sumi langsung membuatkan mereka minuman di dapur.
Dara hanya berdiri mematung memandangi mereka.
"Dara, ayo sini, kenalin nih sama Nenek dan Kakek dari Sukabumi!" panggil Fitri.
Perlahan Dara berjalan mendekati mereka. Lalu menyalaminya satu persatu.
"Ini dara Bu, anak angkat Mas Dicky dan aku!" jawab Fitri.
"Anak angkat? Kenapa kalian mengangkat anak? Bukankah kau sedang hamil anak Dicky?" tanya Bu Eni lagi.
"Tidak apa-apa Bu, Ibunya Dara tinggal di kampung, kasihan Dara kalau harus berhenti sekolah karena ikut ibunya, makanya aku dan Mas Dicky berinisiatif mengadopsinya!" jelas Fitri.
"Hati-hati Fit, bisa jadi anak ini pembawa sial! Lihat latar belakang keluarganya dulu!" cetus Bu Eni.
"Ya ampun Bu, kok Ibu tega bilang begitu, anak itu tidak ada yang sial Bu, kasihan kan Dara kalau dengar Ibu bilang begitu!" sergah Fitri.
"Iya nih, Ibumu datang-datang sudah kayak bebek saja mulutnya!" sungut Pak Karta.
"Lho, ibu kan cuma kasih peringatan Pak, kita jangan sembarangan pungut anak orang, nanti malah kita yang rugi, sudah di pelihara, setelah besar tidak tau balas Budi!" ujar Bu Eni.
"Bu, aku yakin Dara tidak seperti itu, Ibu jangan berburuk sangka dulu sebelum terjadi!" sahut Fitri.
"Terserah kalian lah! Lagian juga itu bukan urusan Ibu, tapi Ibu hanya menganggap yang di dalam perutmu itu cucu ibu, bukan yang lain!" cetus Bu Eni.
Dara terlihat sedih dan menunduk mendengar ucapan dari Bu Eni. Sementara Fitri hanya bisa mengelus rambut Dara dan berusaha untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Dara main di dalam kamar dulu ya, Nenek lagi capek makanya rada galak, maafin Neneknya Dara!" bisik Fitri.
Dara mengangguk, kemudian gadis kecil itu segera berlari masuk ke dalam kamarnya.
*****
Setelah mengoperasi pasien sejak siang sampai sore, di aula rumah sakit, ada acara serah terima jabatan kepala rumah sakit, acara itu tidak formal, hanya di hadiri oleh owner rumah sakit, dan para Dokter, juga para suster serta pegawai rumah sakit.
Kini Dicky Pradita resmi di angkat menjadi kepala rumah sakit menggantikan Dokter Rizky. Para Dokter dan perawat pun bergantian menyalaminya memberikan ucapan selamat.
Ada acara syukuran yang di adakan oleh pihak rumah sakit.
Namun Dicky ingat Fitri, pasti Fitri sudah menyiapkan masakan pesanannya, makanya Dicky tidak ikut acara syukuran tersebut.
"Kau ini bagaimana sih Bro! Ini syukuran buatmu, kau malah mau pulang!" ujar Dokter Dimas.
"Bukan begitu Dim, aku lupa kalau ada syukuran di rumah sakit, sementara aku sudah keburu pesan ikan balado buatan Fitri, aku tidak mau dia kecewa Dim!" sahut Dicky.
"Fitri lagi Fitri lagi, terserah deh, tapi aku bangga padamu Bro! Akhirnya kau yang duluan jadi kepala rumah sakit ini, semoga makin berkembang deh nih Rumah sakit!" ucap Dimas sambil menepuk bahu Dicky.
"Terimakasih Dim, kata Fitri di rumah juga sudah ada mertuaku yang datang, makanya aku sangat tidak sabar untuk bertemu dengan mereka!" lanjut Dicky.
"Oke lah Bro, kau hati-hati di jalan! Jangan buru-buru!" ujar Dimas memperingatkan.
"Siap komandan!" sahut Dicky sambil tersenyum.
Dicky langsung berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit itu, dia langsung menuju ke parkiran.
Tanpa menunggu lama, Dicky langsung melajukan mobilnya keluar dari rumah sakit itu, masih dengan mengenakan jas putihnya.
Hari sudah menjelang magrib, suasana jalan juga agak sepi, Dicky kemudian menambah kecepatan laju mobilnya, rasanya dia tidak sabar ingin cepat-cepat sampai di rumah, bertemu dengan istrinya, anak asuhnya, juga mertuanya.
Braakkk!!!
Di pertigaan jalan, tiba-tiba sebuah truk pengangkut gas elpiji melintas dengan kecepatan tinggi, hingga menabrak tepat di mobil yang Dicky kendarai.
Kecelakaan pun terjadi, mobil Dicky ringsek tekena benturan truk besar itu, suasana di tempat itu menjadi ramai seketika.
Bersambung ...
****
__ADS_1