Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Pertengkaran Ranti


__ADS_3

Setelah mengantar Fitri pulang ke rumah, Dicky langsung melajukan mobilnya kembali ke rumah sakit, sore ini dia ada jadwal praktek.


Saat Dicky tiba di ruangannya, terlihat beberapa orang pasien sudah mengantri.


Di meja prakteknya, suster Wina nampak sibuk menulis di catatan medis. Dicky langsung duduk dan meletakan tas nya di atas meja.


"Dokter, untung kau cepat datang, anak Chika menangis terus dari tadi, tangan yang di infus sampai bengkak karena anak itu berusaha untuk menariknya!" ujar Suster Wina.


"Orang tuanya di mana?" tanya Dicky.


"Tadi siang dia masih di temani oleh ibunya Dokter, tapi setelah anak itu tidur, ibunya pergi!" jawab Suster Wina.


"Keterlaluan Ranti!" geram Dicky.


"Kasihan Chika Dok, masa anak sekecil itu di tinggal orang tuanya sih, tega betul mereka!" ujar Suster Wina.


Ceklek!


Seorang Dokter yang nampak senior masuk ke dalam ruangan itu. Dia adalah Dokter Tika, rekan kerja Dicky sesama Dokter anak.


"Dokter Dicky, itu pasien yang mengantri di depan sudah bertambah, biar aku handle saja Dok, kau urus saja anak Chika, dia terus saja menangis, padahal sudah aku gendong! Mungkin kau bisa menenangkannya!" kata Dokter Tika.


"Hmm, Baiklah Dok, aku segera ke ruang rawat anak!" ujar Dicky patuh, walau bagaimana Dokter Tika lebih senior dari Dicky.


Biasanya Dicky dan Dokter Tika selalu bergantian praktek, sesuai dengan jadwal mereka masing-masing, namun hari ini, Dokter Tika belum pulang karena mengurus Chika, dan kini dia juga melayani pasien Dicky.


Dicky lalu keluar dari ruangannya dan langsung menuju ke ruang rawat anak.


Benar saja, Chika nampak menangis dengan keras, kaki mungilnya di hentak-hentakan, seolah anak itu ingin meluapkan seluruh perasaannya.


Dicky lalu segera mengangkat anak itu dalam gendongannya.


"Chika pintar, kau pasti sedih ya di tinggal ibumu, Om Dokter bisa kok merasakan perasaan Chika, tapi kau jangan khawatir sayang, sebentar lagi pasti Ayahmu akan datang menengokmu!" bisik Dicky sambil terus menimang anak itu.


Perlahan tangis Chika mulai mereda, mata mungilnya menatap Dicky, seolah mengerti setiap ucapan Dicky.


"Kau masih terlalu kecil untuk mengalami ke egoisan orang tuamu sayang, tapi kau tenang saja, Om Dokter akan terus menjagamu, anak pintar!" ucap Dicky sambil mengecup kening Chika.


Ceklek!


Pintu ruangan itu terbuka, Dio, Ayah Chika nampak masuk dan langsung mendekati mereka masih dengan mengenakan pakaian kantor.


"Maafkan aku Dokter, aku baru selesai dari pekerjaanku, aku buru-buru datang saat suster meneleponku tadi!" ujar Dio dengan nafas ngos-ngosan.

__ADS_1


"Sudahlah, yang penting kau sudah datang, kasihan anakmu rewel sedari tadi, dia butuh sentuhan dan kasih sayang orang tuanya!" sahut Dicky.


Dio langsung mengambil Chika dari gendongan Dicky.


"Malam ini aku akan menjaga Chika di rumah sakit!" ujar Dio.


"Bagus! Memang begitu seharusnya, anak kecil harus selalu di dampingi oleh orang tuanya!" kata Dicky.


Tiba-tiba Ranti datang dari arah luar dan langsung mengambil Chika dari gendongan Dio.


"Kau Ayah tidak becus! Anakku sakit gara-gara kau Dio!" sentak Ranti.


"Ranti! Kau membuat Chika kaget! Siapa yang meninggalkan Chika di rumahku?? Katanya kau mau mengurus dia, tapi kau malah membuat anakku seperti ini!" balas Dio.


Chika kembali menangis mendengar suara keributan itu, Ranti berusaha untuk menenangkannya.


"Tuh kan, ada di tanganmu Chika jadi menangis! Kau benar-benar egois Ranti!" sentak Dio, wajahnya sudah terlihat merah menahan emosi.


"Kau yang egois!! Seharusnya sejak awal aku menolak menikah denganmu! Kalau tau jadinya akan seperti ini!!" sesal Ranti.


"Jangan kau ungkit masa lalu Ranti! Sekarang kau lihat Chika, jangan membuat dia jadi korban keegoisanmu! Aku sudah tidak tahan!" seru Dio frustasi.


"Cukup!!" teriak Dicky yang sejak tadi hanya menyaksikan pertengkaran itu.


****


Matahari sudah mulai terbenam, Dicky turun dari mobilnya dan dengan langkah gontai berjalan menuju ke dalam rumahnya.


Fitri nampak sudah menunggunya di teras depan rumahnya. Dia langsung mengambil tas Dicky dan membawakannya.


"Wajahmu tampak lelah Mas, aku sudah siapkan air hangat untuk kau mandi!" kata Fitri.


"Terimakasih Fit!" sahut Dicky.


Mereka langsung beranjak masuk dan segera naik ke atas menuju ke kamar mereka.


"Aku juga sudah siapkan makan malam untukmu Mas, nanti setelah mandi, kau bisa langsung makan, sekarang mandilah dulu supaya tubuhmu segar!" ucap Fitri.


Dicky segera mengambil handuknya dan langsung beranjak menuju ke kamar mandi. Fitri menunggu sambil menyiapkan pakaian yang hendak di kenakan Dicky.


Tak lama kemudian, Dicky sudah keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang di lilitkan di pinggangnya, dia lalu duduk di samping Fitri.


"Kau kenapa Mas? Capek ya seharian melayani pasien?" tanya Fitri sambil membalurkan minyak kayu putih di tubuh Dicky.

__ADS_1


"Iya Fit, hari ini aku agak lelah!" sahut Dicky.


"Kalau begitu, aku buatkan minuman hangat untukmu ya Mas, kau mau susu hangat atau teh manis hangat, atau mau susu jahe?" tanya Fitri.


Dicky menatap dalam ke arah Fitri, kemudian tangannya mengelus pipi Fitri dengan lembut.


"Fit, aku tidak pernah menyesal telah menikahimu, kau istri yang baik!" ucap Dicky.


"Kau juga suami yang baik Mas!" balas Fitri.


"Tetaplah bersama ku Fit, sampai maut memisahkan kita!" bisik Dicky.


Kemudian dia mulai mengecup bibir Fitri.


"Mas Dicky ini kenapa sih, tumben hari ini begitu melankolis?" tanya Fitri.


"Aku baru sadar Fit, kebahagiaan suami itu, saat waktu lelahnya, lalu melihat senyum manis istrinya, hingga rasa lelahnya hilang tergantikan!" jawab Dicky.


"Ah, sejak kapan Mas Dicky jadi sepuitis ini?" tanya Fitri tersipu.


"Sejak dulu Fit!" sahut Dicky sambil tersenyum.


"Sudah sana Mas, pakai baju dulu, nanti malah masuk angin!" Fitri mendorong lembut tubuh Dicky.


Namun Dicky malah memeluk Fitri dengan erat, kemudian menciumi wajah Fitri dengan lembut berkali-kali.


Hingga Dicky tak sadar, handuknya sudah tersingkap sedari tadi, hingga benda pusakanya keluar dengan gagahnya.


"Itu Mas, burungnya keluar!" ucap Fitri malu sambil menunjuk milik Dicky.


"Tidak apa-apa, biarkan saja dia keluar, itu artinya dia butuh di belai, di kecup dan di sayang!" bisik Dicky. Wajah Fitri memerah seketika.


Dicky langsung mengambil tangan Fitri, lalu di arahkan ke miliknya, bulu kuduk Fitri meremang seketika, ketika dia menggenggam milik suaminya yang kini terasa penuh dan hangat di tangannya, kemudian Fitri mengecupnya dengan perlahan.


****


Ayo dong guys ...


Mampir ke karya Author yang baru terbit


"Perjaka Tampan & Wanita Malam"


Jangan lupa dukungannya supaya Author tetap semangat berkarya ...

__ADS_1


Terimakasih guys ... 🙏😘😉❤️


__ADS_2