Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Guru Privat Dina Dan Dara


__ADS_3

Pagi itu, keluarga Dicky terlibat sarapan pagi bersama seperti biasanya.


Namun ada yang berbeda, wajah Fitri kelihatan mendung, walaupun dia berusaha memaksakan diri untuk tersenyum.


"Bi Sumi, siang ini guru les privat Dina dan Dara akan datang, aku sudah menghubungi dari yayasan penyalur guru privat, tolong nanti di siapkan Dina dan Daranya ya!" ujar Dicky.


"Iya Pak Dokter!" sahut Bu Sumi patuh.


"Fitri, mau ya aku panggilkan suster untuk merawatmu?" tanya Dicky setengah berbisik.


"Jangan Mas! Aku seperti orang sakit saja! Kan ada Bi Sumi, Mas Dicky tenang saja!" sergah Fitri.


"Tapi Fit ..."


"Pokoknya aku tidak mau pakai suster segala, itu malah membuatku merasa lumpuh dan tidak berguna!" potong Fitri cepat. Ada yang menggenang di pelupuk matanya.


Dicky langsung spontan memeluk istrinya itu.


"Sssst, sudah jangan sedih sayang, iya iya ... aku tidak akan pakai suster, tapi berjanjilah padaku, jangan melakukan banyak aktifitas, kalau butuh apapun minta tolong saja sama Bi Sumi!" bisik Dicky sambil membenamkan kepala Fitri di dadanya.


Fitri hanya menganggukan kepalanya dalam gelungan dada suaminya itu.


"Papa, ayo kita berangkat, sudah hampir jam tujuh, nanti aku terlambat!" kata Dara mengingatkan.


"Oh iya, wah ... sepertinya Mang Salim harus sedikit ngebut nih, ayo Dina dan Dara pamit dulu sama Mama, cium tangannya dan peluk Mama, mulai sekarang kita semua harus sayang dan selalu ada di dekat Mama Fitri!" ujar Dicky.


Dina dan Dara kemudian mulai memeluk dan mencium tangan Fitri satu per satu, setelah itu mereka menghambur ke arah luar dan langsung naik ke mobil, Mang Salim sudah menunggu di dalam mobil.


"Sudah sana berangkat Mas, kasihan anak-anak kalau terlambat sekolah!" ujar Fitri.


"Iya sayang, jaga dirimu baik-baik ya, juga Dedek!" ucap Dicky sambil mengelus dan mencium perut Fitri, kemudian dia juga mengecup kening dan pipi istrinya itu dengan penuh rasa cinta.


Perlakuan Dicky kembali membuat Fitri terharu, buru-buru dia menyeka air matanya yang sempat jatuh.


"Sudah Mas, nanti Mas Dicky pulang jam berapa?" tanya Fitri.


"Aku akan pulang siang Fit!" jawab Dicky.


"Pulang siang lagi?"

__ADS_1


"Tenang saja, Dokter Tika yang akan menggantikan aku, lagi pula aku ini kepala rumah sakit, jadi tidak wajib praktek, jadi kau jangan cemas Fit, aku cukup bertanggung jawab kok terhadap pasienku!" jelas Dicky. Fitri menganggukkan kepalanya.


Kemudian Dicky segera melangkah meninggalkan ruangan itu dan langsung masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya.


Setelah suami dan anak-anak angkatnya berangkat, Fitri kemudian berjalan perlahan ke arah dapur.


"Eh Mbak Fitri mau kemana? Kata Pak Dokter Mbak Fitri jangan banyak kegiatan, apalagi ke dapur!" sergah Bi Sumi yang sedang membereskan piring-piring kotor itu.


"Siang ini Mas Dicky pulang Bi, aku ingin membuatkan Mas Dicky soto Ayam, ikan goreng dan perkedel daging, juga telur balado!" ujar Fitri.


"Iya iya, nanti Bibi buatkan menu itu, tapi Mbak Fitri duduk saja ya, tidak usah membantu, Bi Sumi bisa tangani sendiri!" sahut Bi Sumi.


"Tapi aku mau bantu sedikit lah! Aku ini bukan orang cacat Bi yang harus dikhawatirkan!" sergah Fitri.


"Iya Mbak, tapi kan Mbak Fitri ..." Bi Sumi tidak melanjutkan ucapannya.


"Mataku kurang jelas gitu?? Tapi aku kan masih bisa melihat Bi, aku masih bisa membedakan mana daging mana telur, kenapa semua orang selalu berlebihan terhadapku!!" sungut Fitri.


"Hmm, baiklah Mbak, kalau mau memasak, tapi hati-hati ya, nanti biar Bibi Bantu!" Bi Sumi akhirnya menyerah, dari pada membuat Fitri semakin sedih.


****


Bi Sumi menata aneka hidangan pesanan Fitri di sebuah piring saji yang tertata dengan indah dan menggugah selera.


"Aww!! Aduuh!!" jerit Fitri dari arah dapur.


Dengan panik Bi Sumi langsung berlari ke arah dapur.


"Mbak Fitri kenapa??" tanya Bi Sumi cemas.


"Tanganku teriris pisau Bi, aduh!!" jawab Fitri yang nampak memegangi tangannya yang berdarah teriris pisau tajam.


"Ya ampun Mbak Fitri, kalau mau potong buah kan bisa minta tolong ke Bibi!" ujar Bi Sumi sambil mengambil obat luka dan perban di kotak obat yang terletak di sudut dinding ruangan itu.


"Aku kan hanya ingin membantu saja Bi!" sahut Fitri sambil meringis saat Bi Sumi mengobati tangannya dan menutupnya pakai perban.


"Ini pasti Bibi bakal di marahi sama Pak Dokter, sudah membiarkan Mbak Fitri membantu masak sampai tangannya terpotong begini!" kata Bi Sumi.


"Bibi tenang saja, aku akan marah kalau Mas Dicky berani memarahi Bi Sumi!" sahut Fitri.

__ADS_1


Ting ... Tong ...


Tiba-tiba terdengar suara bell berbunyi di pintu rumah itu.


"Tolong bukakan pintu Bi, siapa ya yang datang!" kata Fitri yang berjalan perlahan mengikuti Bi Sumi.


Bi Sumi segera membukakan pintu rumah itu. Seorang pria sudah berdiri di depan pintu.


"Selamat siang, benar ini rumah Dokter Dicky, saya Hardi, guru les privat Dina dan Dara!" kata pria itu.


"Siapa Bi?" tanya Fitri yang sudah sampai di depan pintu.


"Ini lho Mbak, guru lesnya Dina dan Dara katanya!" jawab Bi Sumi. Kemudian Bi Sumi segera kembali ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Oh, iya, siapa tadi namanya Pak?" tanya Fitri.


"Saya Hardi Bu!" jawab Hardi, laki-laki guru privat Dina dan Dara itu.


Fitri menatap lekat laki-laki asing yang ada di hadapannya itu. Walaupun agak kurang jelas penglihatan Fitri, namun masih dapat di lihat penampilan laki-laki itu.


Dia berambut agak gondrong, memakai kaca mata dan berkumis agak tebal.


"Maaf Pak Hardi, Dina dan Dara belum pulang sekolah, bukannya Bapak baru akan datang di jam dua siang ya, saat anak-anak sudah pulang sekolah?" tanya Fitri.


"Benar Bu, saya hanya ingin memastikan alamatnya saja supaya tidak salah, kalau begitu saya mohon pamit, nanti di jam dua siang saya akan kembali!" ucap Hardi sambil membalikan tubuhnya dan melangkah meninggalkan rumah itu.


Fitri masih tertegun di tempatnya, dia merasa suara Hardi tidak asing lagi baginya, mencoba berpikir tapi Fitri lupa pernah mendengar suara itu di mana.


Setelah bayangan Hardi menghilang di balik gerbang, Fitri kembali melangkah perlahan masuk ke dalam rumahnya.


"Bi Sumi, Bibi pernah kenal tidak dengan guru les Dina dan Dara tadi?" tanya Fitri saat sampai di dalam rumah dan duduk di ruang keluarga itu.


"Tidak pernah kenal Mbak, baru pertama ini Bibi lihat dia, memangnya kenapa Mbak?" tanya Bi Sumi balik.


"Tidak apa-apa Bi, aku hanya merasa tidak asing saja dengan Pak Hardi itu, nanti lah aku tanyakan ke Mas Dicky!" ujar Fitri.


Tak lama kemudian terdengar suara mobil Dicky memasuki halaman rumahnya. Wajah Fitri mulai berbinar.


****

__ADS_1


__ADS_2