Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Kabar Mengejutkan


__ADS_3

Tidak seperti biasanya, Fitri tiba-tiba terbangun dari tidurnya, saat dia melirik ke jam dindingnya, waktu baru menunjukan pukul 3.30 dinihari.


Fitri mulai mengerjapkan matanya dan dia bangkit dari posisi tidurnya, kemudian dia duduk di tempat tidurnya.


Dicky masih terlihat nyenyak tertidur, suara dengkuran halusnya terdengar teratur.


Fitri menyingkapkan selimut Dicky, ada yang sudah tersembul di sana.


"Hmm, kebiasaan kalau tidur tidak pakai apa-apa! Untung aku yang lihat!" gumam Fitri yang kembali menyelimuti suaminya itu.


Drrrt ... Drtt ... Drrrt


Pada saat Fitri akan kembali tidur, tiba-tiba terdengar suara getaran dari ponsel Dicky.


"Siapa yang telepon di jam segini??" gumam Fitri sambil kembali bangun dan mengambil ponsel Dicky yang ada di atas meja samping tempat tidurnya.


Ada banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Ken.


Perlahan Fitri kemudian mengusap layar ponsel suaminya itu.


"Halo!"


"Halo, ini Mbak Fitri?? Bang Dicky mana Mbak?! Bisa minta tolong bangunkan??" tanya Ken dari sebrang telepon.


"Mas Dicky masih tidur, ada apa sih Ken, bilang saja padaku, nanti aku akan sampaikan!" jawab Fitri.


Terdengar suara Isak tangis dari sebrang, Ken tidak langsung mengatakan pada Fitri apa yang telah terjadi.


"Mbak, Ibu Mbak, Ibu Anjani, Ibunya Bang Dicky sudah meninggal tadi jam 3 subuh!" ucap Ken sambil terisak.


"Apa?? Kau jangan bercanda Ken!" tukas Fitri tak percaya.


"Beneran Mbak, saat itu aku yang ada di situ, tiba-tiba Ibu Anfal, pas aku panggilkan dokter, Ibu sudah tidak ada Mbak!" kata Ken dengan suara bergetar.


Fitri mendadak diam mendengar berita itu, antara percaya dan tidak, lidahnya kelu untuk mengucapkan sesuatu.


"Mbak Fitri! Mbak! Masih di situ kan Mbak!" panggil Ken.

__ADS_1


"I-Iya Ken, terimakasih, aku akan segera sampaikan ke Mas Dicky, supaya kami bisa langsung meluncur ke sana!" ucap Fitri.


Ken kemudian menutup panggilan teleponnya.


Tubuh Fitri serasa ringan seperti kapas, berkali-kali dia menepuk pipinya sendiri, berharap ini semua hanya mimpi, tapi ternyata ini adalah sebuah kenyataan yang harus di hadapi.


Fitri memandang pada Dicky yang masih tertidur tenang di sampingnya, rasanya tidak tega memberitahu kabar dukacita ini, tapi mau tidak mau, suka tidak suka, Dicky harus tau dan bisa menerima kenyataan ini, Bu Anjani telah tiada.


"Mas ..." panggil Fitri lirih sambil mengusap punggung suaminya itu.


Dicky tak bergeming sedikitpun, dia terlihat begitu nyenyak tertidur.


"Mas Dicky! Bangun Mas, bukalah matamu, ayo bangun!" panggil Fitri dengan suara agak keras.


Dicky terkejut dan langsung membuka matanya.


"Ada apa sayang? Apakah kau mimpi buruk? Tidurlah di pelukanku, supaya kau bisa tenang!" ucap Dicky yang langsung menarik Fitri hingga jatuh ke dadanya.


Fitri yang tidak tahan langsung menangis di dada Dicky.


Rasanya mulutnya tidak sanggup untuk menyampaikan berita ini, Ini terlalu menyakitkan buat Dicky, baru saja dia menemukan sosok Ibu kandung yang selama bertahun-tahun terpisah, kini mereka harus di pisahkan lagi oleh maut.


"Mas ..."


"Iya sayang!"


"Ibu Mas! Ibu mu, Ibu Anjani!"


"Ada apa dengan Ibu? Apakah kau mulai merindukannya? Besok kita akan menjenguk dia lagi, kau jangan khawatir, sekarang Ibu sudah benar-benar berubah, dia sangat menyayangiku, kamu juga Alex, bahkan dia ingin tinggal bersama kita!" ucap Dicky.


"Bukan itu Mas, tapi Ibu ... Ibumu terlah pergi, Ibu Anjani telah meninggal Mas!" Kata Fitri dengan mengumpulkan segenap kekuatannya untuk menyampaikan berita ini pada Dicky.


Dicky terdiam, kemudian dia tertawa.


"Fit, aku tau kalau aku sering bangun kesiangan dan suka sekali tidur, tapi kau jangan bercanda berlebihan begini, jangan mengerjaiku dengan cara seperti ini Fit, ini sama sekali tidak lucu!" seru Dicky tidak percaya.


"Ini sungguhan Mas! Aku tidak bercanda! Tadi Ken meneleponmu, karena kau tidur aku yang mengangkatnya, Ken bilang, Ibu sudah tiada, dia meninggal jam 3 dinihari tadi! Kalau kau tidak percaya, ini kau lihat sendiri ponselmu!" sergah Fitri.

__ADS_1


Dengan tangan sedikit gemetar Dicky mengambil ponsel yang di sodorkan Fitri.


Dia membuka pesan dan membacanya, tiba-tiba raut wajahnya berubah, Fitri dengan cepat langsung menggenggam tangan suaminya yang kini berubah dingin itu.


"Kuatkan hatimu Mas, ibu sudah tenang dan bahagia di sana!" ucap Fitri.


"Fit, ini tidak mungkin, kemarin ibu kelihatan begitu sehat, bicaranya jelas bahkan dia sempat bermain dan bercanda dengan Alex, kau lihat sendiri kan??" tanya Dicky sambil mengguncang kedua bahu Fitri.


"Iya Mas, mungkin sudah takdirnya Ibu harus pergi, Mas Dicky harus ikhlas, harus kuat, sekarang kita ke rumah sakit Mas, kasihan Ken sendirian mengurus Ibu!" ucap Fitri.


Tiba-tiba Dicky langsung memeluk Fitri dengan erat sambil menangis.


"Aku bahkan belum sempat berbakti padanya? Kenapa dia begitu cepat meninggalkan aku?? Baru saja aku bertemu, kenapa sekarang harus terpisah lagi?" tangis Dicky.


Fitri mengusap bahu suaminya itu berusaha untuk menenangkannya.


"Yang sabar Mas, kau tidak sendirian di dunia ini, masih ada Ibu yang lain, Kau masih punya Bu Nuri dan Ibuku Mas!" hibur Fitri yang juga ikut meneteskan air mata.


"Aku menyesal, di akhir hidup Ibuku aku tidak ada di sisinya, aku memang bukan anak berbakti! Aku berdosa terhadap Ibu kandungku sendiri!!" ucap Dicky sambil terus terisak.


Fitri mengusap air mata Dicky dengan kedua tangannya.


"Kau laki-laki yang hebat Mas, jangan menangis, tunjukan baktimu pada Ibumu ke semua orang, sekarang bangun, ganti pakaian dan kita ke rumah sakit sekarang, Ken sudah menunggu kita!" ujar Fitri.


Dicky mengusap matanya kemudian dia mulai berdiri dan mengganti pakaiannya, demikian juga Fitri yang ikut berganti pakaian.


Mereka lalu keluar dari kamar mereka, waktu sudah menunjukan pukul lima subuh.


"Bi Sumi, pagi ini aku dan Mas Dicky mau ke rumah sakit, Ibunya Mas Dicky meninggal, titip anak-anak dulu ya Bi! Alex masih tidur di box bayi di kamarnya!" kata Fitri saat melihat Bi Sumi yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.


"Iya Mbak, yang kuat ya Mbak, kasihan sekali Pak Dokter, soal anak-anak jangan dipikirin Mbak, Bibi akan jaga!" sahut Bu Sumi.


"Terimakasih Bi, Mang Salim di mana Bi? Aku mau minta tolong antar ke rumah sakit dulu, Mas Dicky sedang sedih, aku takut kalau dia nyetir sendiri!" tanya Fitri


"Mang Salim ada di depan Mbak, tadi dia baru mau mulai cuci mobil!" jawab Bi Sumi.


Fitri lalu menarik tangan suaminya berjalan menuju ke depan, Mang Salim memang terlihat sedang mencuci mobil yang ada di garasi rumah Dicky.

__ADS_1


Bersambung ....


****


__ADS_2