Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Sesuatu Yang Mengejutkan


__ADS_3

Pagi itu seperti biasa, Dicky bersiap akan ke rumah sakit, sementara Fitri juga bersiap mengajar ke Sekolah.


"Kau sudah siap sayang?" tanya Dicky ketika selesai sarapan.


"Sudah Mas, ayo berangkat!" sahut Fitri.


Mereka kemudian mulai naik ke dalam mobil, kemudian Dicky langsung melajukan mobilnya keluar dari rumahnya.


"Fit," panggil Dicky.


"Iya Mas!" sahut Fitri.


"Nanti siang Dokter Tika ijin karena di sekolah anaknya ada acara, jadi mungkin aku tidak bisa keluar dari rumah sakit, aku harus menangani pasien karena tidak ada Dokter pengganti!" jelas Dicky.


"Ya tidak apa-apa Mas, memang itu kan kewajibanmu sebagai Dokter, aku pulang sendiri tidak masalah!" jawab Fitri.


"Tapi aku tetap tidak rela kau naik ojek Fit!" tukas Dicky.


"Hmm, lalu aku harus naik apa Mas? Naik taksi?" tanya Fitri.


"Ya, kau naik taksi saja!" Dicky kemudian mengeluarkan dompetnya, dia mengeluarkan sebuah kartu ATM lalu memberikannya pada Fitri.


"Ini ATM ku, pin nya adalah 692019 kau peganglah, kalau kau membutuhkannya untuk ongkos atau apapun ambilah dari situ!" ujar Dicky.


"Mas, masa kartu ATM mu kau berikan padaku, itu kan milik pribadimu!" protes Fitri.


"ATM ku masih banyak Fit, ini memang sengaja aku buatkan untukmu, ambilah!" kemudian Fitri mengambil ATM itu lalu menaruhnya di dalam tasnya.


"Terimakasih Mas!" ucap Fitri.


"Sama-sama sayang!" balas Dicky.


Drrrt ... Drrt ... Drrt


Ponsel Dicky bergetar, karena sedang menyetir, Fitri membantu mengambilkan ponsel Dicky di saku celananya.


"Halo!"


"Halo Dok, ini suster Wina, ada pasien anak DBD di UGD, kondisinya cukup parah, bisakah Dokter memeriksanya?" tanya suster.


"ya, tunggu sebentar lagi, aku akan segera kesana, dia masih di UGD kan?"


"Iya dokter, dia masih di UGD sambil menunggu Dokter!" jawab Suster Wina.


"Baik Suster, terimakasih!" ucap Dicky.


Dicky kembali melajukan mobilnya kesekolah Fitri.


"Tuh kan Mas, harusnya tadi aku berangkat sendiri saja!" tukas Fitri.

__ADS_1


"Tidak Fit, sebentar lagi kita akan sampai kok!" Tak lama mereka memang sudah sampai di depan gerbang sekolah Fitri.


"Aku turun di sini saja Mas, kau tak usah masuk ke parkiran, nanti akan habis waktumu!" kata Fitri sambil mencium tangan Dicky.


"Jangan lupa cium aku dulu Fit!" kata Dicky.


"Kau ini Mas, lagi buru-buru masih saja ingat minta cium!" ujar Fitri yang kemudian mencium pipi Dicky. Dicky membalas dengan mencium kening Fitri.


Kemudian Fitri segera turun dari mobil Dicky, dan langsung masuk ke dalam gerbang sekolah.


Karena berjalan agak terburu-buru, di tangga Fitri tergelincir, dia jatuh dari tangga, tiba-tiba tangannya di tangkap cepat oleh Pak Donny yang kebetulan ada di atas tangga itu.


Pak Donny kemudian membantu Fitri bangkit dari jatuhnya, kaki Fitri terlihat sedikit memar dan bengkak.


"Aduh! Sakit sekali!" lirih Fitri.


"Kau tidak apa-apa Bu Fitri, lain kali berjalan pelan-pelan saja!" ujar Pak Donny sambil memapah Fitri ke ruang UKS.


Fitri kemudian duduk di kursi ruangan itu.


Sementara Pak Donny membuka kotak obat dan mengambil obat memar.


"Buka sepatunya Bu Fitri, supaya peredaran darahnya lancar!" titah Pak Donny.


Fitri lalu membuka sepatunya. Kaki Fitri kelihatan membesar karena bengkak, perlahan pak Donny mengurut mata kaki Fitri yang bengkak terkilir dan memar itu.


"Aku ini guru olah raga Bu, juga guru yang menangani UKS, jangan sungkan padaku!" sahut Pak Donny.


Ceklek!


Tiba-tiba Bu Sita sudah masuk ke ruangan itu.


"Hmm, bagus sekali, pagi-pagi kalian sudah berduaan di ruangan ini!" cetus Bu Sita yang tiba-tiba muncul itu.


"Maaf Bu Sita, jangan salah paham, aku baru tergelincir di tangga, Pak Donny hanya menolongku!" jelas Fitri.


"Belakangan aku sering melihat kalian bersama, siapa yang tau kalau kalian ada apa-apa!" tambah Bu Sita.


"Bu Sita, aku harap kau bisa menjaga bicaramu, ini dunia pendidikan!" seru Pak Donny. Dia lalu segera keluar dari ruangan dan memanggilkan Bu Erna.


Tak lama kemudian Bu Erna sudah datang keruangan itu.


"Ya ampun Bu Fitri, itu kakinya bengkak sekali, apa tidak sebaiknya Bu Fitri pulang saja, dalam kondisi begini mana bisa mengajar?" tanya Bu Erna cemas.


"Tidak apa-apa Bu Erna!" sahut Fitri.


"Coba suaminya di telepon Bu Fitri, kau pulang saja!" kata Bu Erna.


"Jangan Bu, suamiku sedang menangani pasien gawat darurat!" tukas Fitri.

__ADS_1


"Hmm, guru baru banyak drama!" cetus Bu Sita yang terlihat tidak menyukai Fitri.


"Coba sekarang kau jalan, bisa tidak?" tantang Bu Erna.


Fitri lalu berdiri dan mencoba berjalan, namun kakinya yang terkilir tak dapat menopang tubuhnya sehingga dia hampir terjatuh, dengan sigap Pak Donny menangkapnya.


"Tuh kan, sudah Bu Fitri pulang saja, nanti biar kelasnya aku yang handle, nanti aku ijinkan sama Pak Jamal!" tawar Bu Erna.


Akhirnya Fitri menganggukan kepalanya, dengan kondisi seperti ini memang tidak mungkin dia bisa mengajar.


Fitri mulai mengambil ponselnya dan memesan taksi online.


"Biar saya yang memapah Bu Fitri turun ke bawah!" tawar Pak Donny.


"Boleh Pak, saya takut tidak kuat memapah Bu Fitri turun tangga, Pak Donny kan badannya lebih besar!" kata Bu Erna.


Pak Donny lalu segera memapah Fitri untuk turun ke bawah. Ada rasa sungkan dalam hati Fitri, namun dia tidak ada pilihan.


Sementara bel masuk sekolah sudah berbunyi, Bu Erna dan Bu Sita segera masuk ke dalam kelas masing-masing, hari ini Bu Erna mengajar dua kelas sekaligus.


Setelah sampai di lobby, taksi yang di pesan Fitri pun sudah menunggu di parkiran, Pak Donny memapah Fitri sampai ke taksi.


"Nanti bawa ibu ini sampai depan rumahnya ya Bang!" ujar Pak Donny.


Dia lalu membantu Fitri naik ke dalam taksi. Kemudian taksi itu segera melaju meninggalkan sekolah itu.


Ketika taksi sampai depan rumah, pada saat Fitri mau membayar taksinya, ternyata tas nya tertinggal di sekolah. Hanya ponselnya saja yang masih berada dalam genggamannya.


Fitri kemudian langsung menelepon Bi Sumi di rumah.


"Bi, aku ada di luar gerbang, tolong bukakan gerbang Bi, sekalian bawakan uang, tasku tertinggal di sekolah!" ujar Fitri.


"Mbak Fitri? Apa yang terjadi Mbak? Baiklah, Bibi akan segera membukakan gerbang!" Dengan tergopoh-gopoh, Bi Sumi mengambil uang lalu membukakan gerbang.


Setelah membayar taksi, Bi Sumi memapah Fitri yang kakinya bengkak itu masuk ke dalam rumah.


Bu Sumi langsung membantu Fitri untuk duduk di sofa.


"Sebentar Mbak, Bibi ambilkan minyak gosok dulu untuk mengurut sedikit kakinya itu! Ini kayak keseleo!" kata Bi Sumi yang langsung mengambil minyak urut.


Kemudian Bi Sumi mulai mengurut kaki Fitri.


"Bibi telepon Pak Dokter ya?" tawar Bi Sumi.


"Jangan Bi! Dia sedang menangani pasiennya, itu lebih penting dari kakiku ini, aku takut dia jadi cemas kalau tau keadaanku, Bibi tau sendiri kadang dia suka berlebihan!" sergah Fitri.


Bi Sumi lalu menganggukan kepalanya.


****

__ADS_1


__ADS_2