Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Menjenguk Ibu


__ADS_3

Seorang Dokter yang terlihat usianya sudah sepuh, keluar dari kamar Bu Anjani, Dia adalah Dokter Haris, Dokter keluarga almarhum Pak Rahmat Pradita.


Dicky segera datang menghapiri Dokter Haris.


"Selamat siang Dokter, bagaimana keadaan Ibu saya?" tanya Dicky.


"Wah, akhirnya kau datang juga Dokter Dicky, waktu itu Ibu Anjani sedang menjalani pengobatan akupuntur, hanya saja dia sedikit melanggar peraturan, hingga membuatnya kembali seperti sekarang ini, syarafnya kembali melemah dan sedikit ada penyumbatan!" jelas Dokter Haris.


"Apa karena dia selalu beraktifitas dan masih aktif dalam kegiatan apapun?" tanya Dicky.


"Ya, Anda benar sekali, seharusnya yang kemarin itu di jadikan peringatan agar Bu Anjani istirahat saja di rumah tanpa melakukan kegiatan apapun!" jawab Dokter Haris.


"Baiklah, saya mau menemuinya di dalam!" ujar Dicky.


"Silahkan Dokter Dicky!" sahut dokter Haris.


Dicky kemudian masuk ke dalam kamar itu, dua orang perawat nampak sedang menyuapi dan mengganti cairan infus Bu Anjani.


Perlahan Dicky maju dan mendekati Bu Anjani, kemudian duduk di sampingnya.


"Ibu ..." panggil Dicky perlahan sambil menggenggam tangan Bu Anjani.


Bu Anjani menoleh dan tersenyum ke arah Dicky.


"Anakku, akhirnya kau datang juga!" lirih Bu Anjani.


"Bu, kenapa bisa jadi seperti ini? Yang kemarin itu di pesta Dimas, aku pikir Ibu sudah sembuh, kenapa Ibu melakukan kegiatan di saat Ibu belum sembuh benar?" tanya Dicky khawatir.


"Nak, kau bayangkan saja, jika ibu terus berdiam diri, Ibu akan mudah jenuh dan stress, apalagi kau tidak bersama Ibu, apa yang bisa Ibu lakukan selain mencari kesibukan?" ucap Bu Anjani yang kini terlihat mulai kesulitan berbicara.


"Maafkan aku Bu, sebenarnya aku sangat ingin sekali merawat Ibu, tapi ..." Dicky menghentikan ucapannya.


"Ibu tau apa yang menjadi alasanmu Nak, dan Ibu tidak akan memaksamu lagi untuk terus bersama Ibu, kau bukan Dicky kecil yang bisa selalu di atur ke sana kemari, kau Dicky dewasa yang memiliki kehidupan sendiri, sudahlah ..." wajah Bu Anjani nampak muram.


Di saat itulah Dicky menjadi dilema, di sisi lain dia sangat ingin merawat Ibunya, Ibu kandung satu-satunya yang saat ini sangat membutuhkan perhatiannya, apalagi ibunya itu hanya memiliki Dicky sebagai satu-satunya putra yang di milikinya.


Namun Dicky juga memiliki tanggung jawab terhadap keluarganya yang lain, istri dan anak-anaknya, juga tanggung jawab terhadap para pasiennya yang kini telah menunggu dirinya.


"Maafkan aku Bu ..." ucap Dicky. Hanya itu yang bisa dia ucapkan pada ibunya itu.

__ADS_1


Drrrt ... Drrrt ... Drrrt


Ponsel Dicky bergetar, Dicky kemudian merogoh ponselnya dan mengusap layar ponselnya itu.


"Halo! Ada apa Sus?"


"Dokter, waktu istirahat sudah mau habis, Dokter Dimana?" tanya Suster Wina.


"Aku, ada di rumah Ibuku, tolong waktu istirahat di perpanjang satu jam lagi Suster, aku belum selesai!" jawab Dicky.


"Tapi Dokter ..."


"Pokoknya kau turuti saja perintahku! Nanti aku akan mengabarimu lagi Sus!" potong Dicky cepat sebelum menutup teleponnya.


Dicky menarik nafas panjang, kini mulai terasa ada beban berat yang di pikulnya.


Ceklek!


Dokter Haris kembali masuk ke dalam kamar itu.


"Rencana sore ini Bu Anjani akan kami bawa ke rumah sakit, untuk lebih terkontrol kesehatannya, jadi untuk sementara beliau tidak bisa di rawat di rumah!" kata Dokter Haris.


"Baiklah Dok, aku percayakan Ibuku padamu, nanti aku akan kembali menjenguk Ibu saat dia di rumah sakit, tolong kau kabari aku saja!" ucap Dicky.


"Aku tau Dokter, kalau begitu aku permisi, aku selesaikan dulu tanggung jawabku, setelah itu aku akan kembali menemani Ibu!" ucap Dicky yang kembali ke sisi pembaringan Ibunya.


"Ibu, aku pergi sebentar ya, Ibu jangan khawatir, nanti aku akan datang lagi untuk menemani Ibu, Ibu turuti saja saran dari Dokter Haris kalau Ibu harus menjalani perawatan di rumah sakit!" ucap Dicky sambil kembali menggenggam tangan Ibunya.


Bu Anjani menganggukan kepalanya.


"Pergilah Nak, selesaikan dulu tugas muliamu!" lirih Bu Anjani.


Kemudian Dicky melepaskan genggaman tangannya, kemudian berjalan keluar dari kamar Bu Anjani.


Ken dan Keyla nampak masih duduk mengobrol di ruang keluarga itu, selain Dicky, merekalah orang-orang terdekat yang di miliki Bu Anjani.


"Ibu jadi di rawat di rumah sakit Bang?" tanya Ken.


"Ya, nanti sore mungkin dia akan di bawa ke sana atas rujukan Dokter Haris, Ken, aku mohon tolong kau jaga ibu dulu, aku harus pulang sekarang!" pinta Ken.

__ADS_1


"Dicky, kau jangan khawatir, biar aku saja yang menjaga Ibumu!" ujar Keyla tiba-tiba.


Dicky menatap tajam ke arah Keyla, wanita di hadapannya itu sungguh tidak tau malu, padahal waktu itu dia pernah membuka pakaiannya sendiri di hadapan Dicky, menunjukan tubuhnya dengan sangat murah di depan Dicky.


Kini dengan percaya dirinya dia datang dan menawarkan diri untuk menjaga ibunya, kalau bukan karena di rumah Ibunya, Dicky sudah mengusir Keyla dari tadi.


Ken, satu-satunya sepupu Dicky juga nampaknya tidak tau perbuatan Keyla terhadap Dicky.


"Maaf, sebaiknya kau jangan terlalu dalam ikut campur dalam masalah keluargaku, Bu Anjani itu ibuku, jadi aku yang lebih berhak untuk menjaganya dari pada kau yang hanya orang lain!" cetus Dicky.


"Enak saja kau bilang aku orang lain! Asal kau tau ya Dicky, Tante Anjani itu menyayangiku bahkan dari saat aku masih kecil, jadi aku juga ada hak untuk menjaganya! Kau dengar itu!" sengit Keyla yang merasa tersinggung.


"Ken, kau urus saja dia, bukankah kau akrab dengannya? Aku tidak mau lagi berurusan dengan wanita macam dia!" ujar Dicky dengan santainya sambil berjalan ke arah pintu keluar.


Wajah Keyla nampak merah padam menahan emosi.


"Ken! Antarkan aku ke klub sekarang juga!" geram Keyla.


"Mau apa kau ke sana Kak? Apa kau mau minum lagi? Sudahlah, untuk apa kau mengejarnya, dia itu pria idealis yang anti selingkuh!" sahut Ken.


"Tidak! Hatiku belum puas jika aku belum bisa menaklukkan nya!" gumam Keyla. Sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit untuk di gambarkan.


Dicky langsung meluncur kembali menuju ke rumahnya tanpa menoleh lagi, pikirannya hanya satu, dia harus menyelesaikan tugasnya hari ini, membantu pasien dan mendengarkan setiap keluhan pasien.


Untuk mengusir setiap kegundahan hatinya, Dicky mulai bersenandung dan menggoyangkan kepalanya seturut irama musik yang dinyanyikannya.


Bersambung ...


****


Hai Guys ...


Author mulai jenuh dan lelah nih guys ...


Maklum harus menangkap ide setiap hari dan itu bukan hal yang mudah, apalagi bukan hanya satu judul cerita yang harus di upload dalam satu hari.


Untuk membuat author kembali bersemangat, hanya dukungan dari para pembaca setia melalui like, vote dan juga komen yang bisa membuat author merasa di hargai.


Indahnya saling berbagi, kalian terhibur, author merasa senang.

__ADS_1


Trimaksih atas setiap dukungan dari para pembaca sekalian ... 🙏😉


Love u all 😘


__ADS_2