
Malam ini, Alex terpaksa di rawat inap di rumah sakit, karena peralatan di rumah sakit lebih memadai dari pada di rumah.
Walaupun Dicky adalah seorang Dokter, tapi dia tetap sesuai prosedur, kondisi Alex memang tidak memungkinkan untuk di bawa pulang.
Sejak pertama kali masuk rumah sakit, Bu Eni sama sekali tidak beranjak, bahkan dia mengabaikan perut laparnya hanya demi menunggui Alex.
Wajahnya menyiratkan penyesalan, ini pertama kalinya dia lalai menjaga Alex, dan karena kelalaiannya itu, kini berakibat fatal dan Alex harus di rawat di rumah sakit.
Pak Karta sudah pulang sejak sore, karena dia punya sakit bawaan asma yang mengharuskan dia untuk beristirahat di rumah.
"Bu, kalau Ibu capek pulang saja Bu, biar aku dan Mas Dicky yang akan menjaga Alex di sini!" kata Fitri.
"Biar Ibu saja yang jaga Alex Fit, kau yang seharusnya pulang karena kau sedang hamil, pasti butuh istirahat banyak!" tukas Bu Eni.
"Aku ini Mamanya Alex Bu, jadi aku yang lebih bertanggung jawab untuk menjaga Alex, lagi pula di sini juga ada Mas Dicky, asal ada suamiku aku pasti akan baik-baik saja!" ucap Fitri.
"Fitri benar Bu, sebaiknya Ibu pulang saja, suasana di rumah lebih nyaman dari pada di sini, Alex akan baik-baik saja bersama kami, kalau Ibu mau, aku akan suruh Mang Salim untuk menjemput Ibu!" tawar Dicky.
Ceklek!
Pintu ruangan itu di buka dari luar, Donny dan Anita datang dan masuk ke ruangan itu, mereka lalu mendekati ranjang Alex.
"Maaf kami baru sempat datang, tadi di sekolah kebetulan ada rapat dewan guru!" ujar Donny.
"Ada kabar baik, Donny kini sudah di resmi di angkat menjadi guru tetap di sekolahnya!" lanjut Anita senang.
"Wah, selamat ya Pak Donny, akhirnya kau di angkat juga jadi guru tetap, pastinya akan dapat fasilitas lebih banyak lagi!" ucap Fitri sambil menjabat tangan Donny.
Lalu Fitri menyenggol tangan Dicky.
"Mas, tidak memberi selamat sama ipar?" bisik Fitri.
"Ehm, selamat ya Pret! Tidak sia-sia aku menjulukimu si kampret!" ucap Dicky.
"Hush Mas Dicky! Kok begitu bilangnya!" sergah Fitri malu.
__ADS_1
"Biarkan saja Fit, kalau Dokter nyaman memanggilku begitu! Aku tidak masalah!" ujar Donny.
"Maaf Pak Donny, entah kenapa katanya Mas Dicky alergi jika menyebut namamu, harap maklum ya!" ucap Fitri.
"Bagaimana Alex Fit? Tadi aku sempat kaget mendengar kabar Alex jatuh dari tangga!" tanya Anita.
"Yah seperti yang kau lihat, kepalanya robek dan habis di jahit, badannya sedikit memar, antah dia keseleo atau apa, tapi kata Dokter tidak boleh di urut dulu!" jelas Fitri.
"Semoga kejadian ini tidak terulang lagi ya, sebagai orang tua kita pasti sangat sedih melihat anak kita yang sedang aktif-aktifnya kini malah terbaring di rumah sakit!" ujar Donny.
Bu Eni diam saja sejak tadi, tidak berkomentar apapun, dia masih duduk di samping Alex sambil mengusap-usap tangannya.
"Oya, Anita, apakah kau sudah memeriksakan dirimu ke dokter? Kau beneran hamil kan?" tanya Fitri.
"Iya Fit, aku hamil sudah empat Minggu, sekarang malah aku agak sediki merasa mual!" jawab Anita.
"Wah, selamat ya, aku senang sekali mendengar berita ini, usia kehamilan mu hampir sama dengan usia kehamilanku, anak kita akan tumbuh bersama Ta!" seru Fitri senang.
"Bu, Ibu dengar kan? Ibu akan dapat cucu dari Anita, Ibu senang kan?" lanjut Fitri sambil menoleh ke arah Bu Eni.
"Eh, iya, Ibu senang! Selamat ya Nak!" sahut Bu Eni sambil tersenyum.
"Betul itu Bu, kebetulan kan ada si kampret, dari pada Mang Salim bolak balik ke rumah sakit, ikut mobilnya dia saja tuh!" timpal Dicky.
"Tapi ..."
"Ibu pikir apa lagi sih? Sudah enak ada yang mau mengantar pulang, Ibu pasti capek seharian menunggui Alex!" potong Fitri cepat.
Akhirnya Bu Eni menganggukan kepalanya.
"Kalau begitu, kami pamit pulang saja, hari sudah gelap dan kalian pasti butuh istirahat!" pamit Donny.
"Iya Pret, titip Ibu ya, dan trimakasih karena kalian sudah menjenguk Alex!" balas Dicky.
Mereka kemudian segera keluar dari ruangan itu, Bu Eni ikut berjalan bersama mereka.
__ADS_1
Sesampainya di parkiran, Donny langsung menyalakan mesin mobilnya dan mereka segera naik ke dalam mobil, Bu Eni hanya diam saja sedari tadi.
Mobil itu pun bergerak perlahan meninggalkan rumah sakit.
"Bu, Ibu pasti lapar kan? Kita makan dulu di luar ya Bu!" tawar Donny.
"Iya Bu, pasti Ibu lapar dari tadi!" timpal Anita.
"Terserah kalian saja!" jawab Bu Eni yang memang sudah merasa lapar.
Mobil yang di kendarai Donny lalu berhenti di sebuah rumah makan Padang sederhana.
Mereka lalu turun dan mulai duduk untuk makan di warung Padang itu.
"Kalau sama si Dicky, pasti makan di restoran besar!" batin Bu Eni.
"Ibu mau makan apa? Silahkan pilih yang Ibu suka!" tawar Donny.
"Ibu makan apa sajalah terserah kalian!" sahut Bu Eni.
"Baiklah, Ibu makan yang banyak ya!" ujar Donny.
Pelayan rumah makan itu menyajikan berbagai macam makanan di meja mereka.
Karena merasa sangat lapar, Bu Eni makan banyak jenis makanan dengan lahapnya.
Donny dan Anita hanya bisa saling berpandangan.
Mereka kemudian makan bersama, hingga hidangan yang ada di meja mereka itu habis tak tersisa.
Bersambung ...
****
Hai guys ...
__ADS_1
Sambil menunggu up selanjutnya silahkan membaca novel karya author yang lain ya ...
Terimakasih 🙏😉