Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Suasana Di Rumah


__ADS_3

Karena makan dan mengobrol, Dicky dan Fitri pulang agak malam. Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam ketika mereka pulang ke rumah.


"Nanti kau pulang langsung istirahat ya Fit, supaya kau tidak kecapean, besok buka perban di perutmu, kau tidak perlu ke rumah sakit, aku yang akan melakukannya!" ujar Dicky saat mengendarai mobilnya.


"Iya Dokter, tapi memangnya kau bisa buka perban?" tanya Fitri.


"Kau tidak percaya? Kau lupa kalau aku ini juga adalah seorang dokter? Buka perban itu adalah hal yang mudah!" sahut Dicky.


"Baiklah Dokter, ayo cepat kita pulang, aku harus memompa ASI lagi!" kata Fitri.


"Kenapa Fit? Sakit lagi ya?" tanya Dicky cemas.


"Iya Dokter, terasa penuh dan nyeri!" jawab Fitri.


Dicky lalu mempercepat laju kendaraannya. Dia tidak ingin Fitri bertambah sakit karena terlalu lama di luar rumah.


Sesampainya di rumah, Dicky dan Fitri heran, karena pintu depan rumah tidak tertutup rapat, kemudian ada suara tangis anak kecil dari dalam rumah.


Dicky lalu menggandeng tangan Fitri masuk kedalam rumahnya.


Di sofa ruang tamu, terlihat Ranti sedang berdiri sambil menenangkan anaknya yang agak rewel.


"Ranti?? Mau apa lagi kau ke sini??" tanya Dicky sedikit kaget.


"Maaf Dicky, mantan suamiku meneror di rumah, aku tidak nyaman, aku mau pindah, tapi aku bingung, makanya aku datang kesini!" jawab Ranti.


"Tapi untuk apa kau ke sini? Kau tau ini sudah malam? Apalagi aku adalah pria beristri, tidak pantas di lihat orang!" dengus Dicky.


"Aku hanya ingin menumpang semalam saja Dicky, bolehkah aku menginap semalam saja? Aku akan cari kontrakan atau apartemen yang di sewakan besok!" Pinta Ranti, wajahnya terlihat memelas.


"Tidak bisa! Ada istriku di sini, aku tak akan mengijinkanmu, lebih baik sekarang kau kembali ke rumahmu, selesaikan urusanmu dengan mantan suamimu!" ujar Dicky.


Tiba-tiba Fitri menyentuh bahu Dicky, Dicky menoleh ke arah Fitri.


"Dokter, biarkan saja dia dan anaknya bermalam di sini semalam saja, ini sudah sangat malam, kasihan anaknya, masih terlalu kecil!" kata Fitri. Dicky nampak berpikir.


"Baiklah, karena Fitri yang memintanya, malam ini kau ku ijinkan menginap di rumahku, kau pakailah kamar tamu itu, kalau kau butik apa-apa bilang saja sama Bi Sumi!" ujar Dicky sambil menunjuk kamar tamu yang ada di dekat ruang tamu itu.


"Terimakasih Dicky!" ucap Ranti senang.


Fitri perlahan berjalan mendekati Ranti.

__ADS_1


Sementara Dicky beranjak pergi ke arah dapur, Bi Siti nampak sedang membereskan dapur.


"Bayimu sudah mulai tertidur, siapa namanya dan berapa umurnya?" tanya Fitri.


"Namanya Chika, umurnya baru setahun!" sahut Ranti.


"Boleh aku menggendongnya sebentar?" tanya Fitri.


"Boleh saja, silahkan!" Ranti lalu menyodorkan bayinya yang mulai tertidur itu ke arah Fitri.


Fitri lalu menggendongnya, dia kembali teringat akan bayinya, menggendong Chika sedikit mengobati rasa rindunya pada bayinya yang telah tiada.


"Fit, kau senang ya tinggal di sini bersama Dicky?" tanya Ranti sambil menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Yah, aku senang, Dokter Dicky sangat baik memperlakukan aku!" jawab Fitri.


"Memperlakukan sebagai apa? Sebagai istri atau sebagai pasien?" tanya Ranti lagi, Fitri menjadi agak risih dengan pertanyaan Ranti.


"Tentu saja sebagai istri!" cetus Dicky yang tiba-tiba muncul dari arah dapur.


"Dokter ..."


"Fitri, berikan anak itu pada Ranti, kita ke atas sekarang, kau butuh istirahat!" titah Dicky.


"Kau ini Dicky, sejak kapan kau jadi jutek padaku?" tanya Ranti yang melihat sikap dingin Dicky.


"Sejak kita tak ada hubungan apa-apa lagi, lebih baik kau ajak anakmu istirahat, aku juga mau istirahat bersama istriku!" ujar Dicky.


Dia lalu mendekati Fitri dan langsung mengangkat Fitri dalam gendongannya.


Fitri terkejut, namun Dicky sudah terlanjur menggendongnya.


Sementara Ranti terlihat terkesiap saat melihat Dicky menggendong Fitri naik ke atas menuju ke kamarnya.


Sambil mendengus kesal, Ranti menggendong bayinya dan masuk ke dalam kamar tamu itu.


Sementara Dicky yang sudah sampai di kamarnya, langsung membaringkan Fitri di tempat tidurnya.


"Seharusnya Dokter jangan menggendongku, aku bukan orang sakit yang harus kau perlakukan begitu!" sergah Fitri.


"Aku kan sudah katakan, aku akan menggendongmu sampai kau benar-benar pulih, jadi kau jangan membantah lagi!" tegas Dicky.

__ADS_1


Dicky lalu mengambil Pompa ASI yang ada di atas meja kamarnya, lalu memberikannya pada Fitri.


"Sekarang kau pompa ASI mu, supaya dadamu tidak nyeri, aku mau mandi dulu!" kata Dicky.


"Baik Dokter!" sahut Fitri patuh. Dia langsung mulai memompa ASI nya, sementara Dicky beranjak masuk ke dalam kamar mandi.


Fitri berhasil memompa ASI, ada beberapa botol yang dia hasilkan, setelah selesai, Fitri mulai berdiri untuk membersihkan dadanya dan kembali memakai pakaiannya.


Dicky sudah keluar dari kamar mandi, dia sudah memakai pakaian tidurnya, matanya melotot saat melihat beberapa botol ASI yang penuh terisi di atas meja.


"Kau sudah selesai Fit? Cepat sekali!" ujar Dicky.


"Iya Dokter, makanya tadi cepat selesai, sekarang gantian aku yang mau mandi!" kata Fitri.


"Iya Fit, kau mandi dan beristirahatlah, aku akan ke bawah menaruh botol-botol ini ke dalam Freezer!" sahut Dicky.


Fitri langsung masuk ke dalam kamar mandi, sementara Dicky membawa beberapa botol itu lalu keluar dari kamarnya menuju ke dapur yang ada di lantai satu, Dicky mulai membuka freezer dan memasukan botol ASI itu satu persatu.


Bi Sumi tidak ada di dapur, mungkin dia juga sudah tidur karena hari sudah malam.


Pada saat Dicky hendak menutup pintu Freezer nya, tiba-tiba ada tangan yang memeluknya dari belakang.


"Dicky, tidakkah kau rindu padaku??" tanya seorang wanita di belakang Dicky.


"Ranti?? Ku mohon lepaskan pelukanmu!" ujar Dicky dengan nada sedikit di tekan karena takut terdengar orang lain.


"Kenapa? Kenapa kau jadi semunafik ini? Biasanya dulu kau sangat senang jika aku peluk begini, aku merindukanmu Dicky!" ucap Ranti sambil mengeratkan pelukannya.


Dicky memegang tangan Ranti, berusaha untuk melepaskan pelukannya.


"Lepaskan sekarang atau kau ku suruh keluar dari rumahku sekarang juga??!" Ancam Dicky.


"Biarkan aku memelukmu sebentar saja Dicky, aku benar-benar sangat merindukan, aroma mu masih sama seperti dulu, aku kangen!" sahut Ranti.


"Tidak! Kau tidak ingin aku kasar kan terhadapmu, lepaskan sekarang juga atau ..."


Pranggg!!!


Tiba-tiba Dicky menyenggol piring yang ada di meja dapur itu, sehingga piring itu jatuh dan pecah berkeping-keping.


"Kau keterlaluan Ranti!!" sentak Dicky.

__ADS_1


"Ada apa Pak Dokter? Apa yang terjadi??" tanya Bi Sumi yang datang tergopoh-gopoh dari arah kamarnya.


****


__ADS_2