
Hari ini Dicky agak demam, sepanjang hari dia hanya berbaring meringkuk di bawah selimut.
Entah demam karena apa, karena pikiran atau kecapean, semuanya terasa bertumpuk menjadi satu.
Kepalanya juga berdenyut.
Beberapa kali ada panggilan dari rumah sakit, namun Fitri selalu mengabaikannya, saat ini kesehatan suaminya jadi prioritas nomor satu.
"Mas, itu jahe susu hangatnya di minum dulu, atau perlu aku panggilkan dokter Dimas kesini? Agar kau segera di periksa?" tanya Fitri saat duduk di samping Dicky yang berbaring sambil kembali menaruh kompresan di dahi Dicky.
"Kau lupa kalau dokter Dimas itu dokter gigi?" sahut Dicky.
"Oh iya ya, aku lupa, ku pikir semua dokter sama saja, bisa menyembuhkan orang!" ujar Fitri.
Kemudian Fitri membantu Dicky untuk meninggikan kepalanya dengan menambah sebuah bantal di atas kepalanya.
Setelah itu dia mulai sedikit demi sedikit membantu Dicky menghabiskan minuman hangatnya.
"Habis ini Mas Dicky makan ya? Tadi Bi Sumi sudah masak sup jagung, makan sedikit Mas, dari pagi kok Mas Dicky susah makan ya!" kata Fitri.
"Mulutku pahit Fit, rasanya aku ingin tidur saja!" sahut Dicky.
"Sedikit saja Mas, mau ya? Aku suapin deh!" rayu Fitri.
"Tidak mau!" Dicky lalu menutup wajahnya dengan bantal.
Fitri hanya geleng-geleng kepala melihat suaminya yang kini nampak seperti anak kecil.
"Ya sudah! Kalau tidak mau kau tidak sembuh-sembuh! Sebentar lagi aku melahirkan tidak ada yang menemani karena suaminya sakit, aku mengurus diri sendiri, kerumah sakit sendirian, paling Mang Salim yang menemaniku!" ujar Fitri kesal.
Dicky menyembulkan wajahnya kembali.
"Iya iya, mau makan deh, tapi sedikit saja ya! Mulutku tidak enak!" kata Dicky akhirnya.
Fitri tersenyum kemudian segera bergegas keluar kamar lalu menuju ke dapur.
"Supnya sudah siap kan Bi?" tanya Fitri.
"Sudah Mbak, ini yang untuk Pak Dokter!" jawab Bi Sumi sambil menyodorkan semangkuk sup jagung panas di atas sebuah nampan.
"Iya Bi, aku langsung bawa ke atas ya!" ujar Fitri.
"Hati-hati Mbak! Itu perut sudah sebesar itu!" seru Bi Sumi memperingatkan.
Perut Fitri memang sudah terlihat sangat besar, karena kandungannya yang sudah memasuki usia 9 bulan.
__ADS_1
Pelan-pelan Fitri menaiki tangga dan kembali ke kamarnya.
Dicky masih dalam posisinya yang semula, berbaring sambil berkemul selimut.
"Mas, ini lho, sup jagung panas, di jamin kamu pasti cepat sembuh dan keringatan kalau makan ini!" ucap Fitri.
"Nanti saja Fit, aku tidak lapar, taruh saja di meja!" tukas Dicky.
"Iiih Mas Dicky! Pokoknya harus makan! Jangan manja! Aku bukan ibumu yang memanjakan mu!' cetus Fitri.
"Ibu ..." tiba-tiba Dicky bergumam.
Fitri langsung duduk di sisi pembaringan itu sambil tetap memegang mangkuk supnya.
"Ibu? Apakah kau kangen sama Bu Nuri Mas?" tanya Fitri
Dicky terdiam, tiba-tiba rasa kerinduannya pada sosok ibu mulai menggelayutinya.
Matanya berkaca-kaca, seperti menahan suatu perasaan, selama ini Fitri hidup bersama Dicky, baru kali ini dia melihat suaminya seperti itu.
"Mas Dicky kenapa?" tanya Fitri lembut.
"Fit, entah kenapa tiba-tiba aku ingin sekali bertemu dengan orang tua kandungku jikalau mereka masih hidup, aku sangat ingin sekali Fit!" ungkap Dicky.
"Entahlah Fit, rasa benci dan rindu itu berbaur menjadi satu, aku hanya ingin tau, bagaimana wajah mereka!" lirih Dicky.
Tok ... Tok ... Tok
Pintu kamar itu di ketuk dari luar, Fitri berjalan pelan menuju ke arah pintu dan langsung membukanya.
Bi Sumi sudah berdiri di depan pintu di hadapan Fitri.
"Bi Sumi? Ada apa Bi?" tanya Fitri.
"Di bawah, ada yang ingin bertemu dengan Pak Dokter!" jawab Bu Sumi.
"Siapa Bi?" tanya Fitri.
"Bibi juga tidak tau, sebelumnya belum pernah tuh ke sini!" jawab Bi Sumi.
"Tapi Mas Dicky kan lagi sakit Bi, kalau begitu biar aku saja yang turun menemuinya!" ujar Fitri yang langsung beranjak dari situ dan berjalan menuruni tangga.
Di ruang tamu itu, duduk seorang wanita anggun dan elegan. Di lihat dari cara dia duduk nampak sekali kalau dia adalah seorang wanita terhormat dan berkelas. Nampak anggun dan menawan. Wanita itu adalah Bu Anjani.
"Selamat siang!" sapa Bu Anjani sopan.
__ADS_1
"Selamat siang, katanya anda mencari suami saya? Maafkan, saat ini dia sedang sakit jadi tidak bisa di temui!" kata Fitri.
Bu Anjani menatap ke arah perut Fitri yang besar.
"Bahkan dia sebentar lagi akan jadi seorang Ayah!" gumam Bu Anjani.
Fitri mendengar ucapan Bu Anjani dengan bingung dan heran.
"Ya, Saya Bu Anjani, saya dengar dari suster asistennya, kalau Dokter Dicky kurang sehat, makadari itu saya ingin sekali menjenguknya, jika di perkenankan, saya ingin melihatnya sebentar saja!" mohon Bu Anjani.
Fitri tertegun menatap Bu Anjani, Bu Anjani yang sering dia dengar namanya, namun baru kali ini Fitri melihat secara langsung.
Fitri terkagum melihat sosok Bu Anjani, walaupun kini usianya sudah setengah baya, namun aura kecantikannya terpancar dengan paripurna, benar-benar anggun wanita yang kini ada di hadapan Fitri itu.
"Bagaimana? Apakah saya di perkenankan untuk sebentar saja melihat kondisi Dokter Dicky?" tanya Bu Anjani membuyarkan lamunan Fitri.
"Eh, bo-boleh Bu, tapi, Mas Dicky agak lemas, bisakah Ibu naik ke atas untuk menemuinya?" Fitri gugup. Bu Anjani menganggukan kepalanya.
Kemudian Fitri mulai berjalan naik ke tangga menuju ke kamarnya di mana Dicky terbaring, semetara Bu Anjani mengikuti nya dari belakang.
Saat Fitri membuka pintu, Dicky masih nampak berbaring dengan tubuh yang di tutupi selimut tebal. Sup jagung yang di bawa Fitri bahkan belum tersentuh sedikitpun.
Fitri perlahan mendelati Dicky di ikuti oleh Bu Anjani.
"Mas Dicky, ada yang ingin bertemu denganmu!" Bisik Fitri.
Dicky mulai mengerjapkan matanya. Dia terperangah saat melihat Bu Anjani yang kini berdiri di hadapannya.
"Ibu ..." gumam Dicky.
Perlahan Bu Anjani melangkah mendekati Dicky yang masih berbaring, kemudian di belainya rambut Dicky dengan lembut.
Mereka tidak berbicara sepatah katapun, namun hati merek penuh dengan gemuruh perasaan yang sulit untuk di lukiskan dengan kata-kata.
"Dokter yang kuat dan gagah kenapa bisa sakit, makan yang banyak ya supaya kau sembuh dan pulih, Ibu yang akan menyuapimu!" ucap Bu Anjani sambil mengambil semangkuk sup jagung yang masih penuh, yang ada di meja samping ranjang Dicky.
Perlahan Dicky membuka mulutnya, Bu Anjani menyuapinya dengan perlahan dan lembut.
Fitri tertegun menatap pemandangan yang ada di hadapannya itu.
Bu Anjani nampak memandang lekat ke arah Dicky dengan tatapan penuh rindu, begitu juga sebaliknya.
Bersambung ...
****
__ADS_1