Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Rencana Dan Harapan Dicky


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Pak Dirja hari itu, akhirnya di putuskan bahwa sebagian tanah dan bangunan warisan dari mendiang orang tua Dicky, akan di hibahkan ke panti-panti sosial termasuk panti asuhan Ibu Nuri.


Saham-saham yang tertanam dari berbagai perusahaan yang tersebar baik dari dalam maupun luar negri tetap di kelola Dicky, karena itu merupakan pasif income yang bisa membuat Dicky beserta keturunannya nanti akan bisa melangsungkan kehidupan.


Rumah sakit kembali di pegang oleh Dicky, klinik di depan rumah terpaksa di tutup permanen dan di alihkan ke rumah sakit Dicky.


Rumah sakit yang tadinya sempat di tinggalkan pasien dan mengalami penurunan omset, kini perlahan mulai bangkit.


Siang itu Fitri baru keluar dari kelasnya, setelah bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaringnya, di sertai dengan sorakan para murid.


Fitri berjalan menuju ke ruang guru, ada tugas murid-muridnya yang harus di periksanya sekarang.


Beberapa orang guru datang menghampirinya, termasuk Bu Erna, Bu Ria dan Pak Riko.


"Bu Fitri, dengar-dengar suami Bu Fitri dapat warisan yang sangat besar dari mendiang orang tuanya, wah ... beruntung sekali Bu Fitri, sampai tujuh turunan seperti nya hartanya tidak akan habis-habis!" kata Bu Ria.


"Betul tuh Bu, kalau saya jadi Bu Fitri, saya bakalan resign dari sekolah, ngapain cuma jadi guru SD, gaji kecil pas-pasan, mending ongkang-ongkang kaki saja di rumah, ngurus anak dan suami, shopping, jalan-jalan, pokoknya menikmati hidup lah!" timpal Bu Erna.


"Hush kalian ini, manusia hidup kan tidak harus mengandalkan warisan orang tua, lebih nyaman hidup dengan keringat sendiri, iya kan Bu Fitri!" sergah Pak Riko.


Fitri menghentikan aktifitasnya dan menatap mereka, berita mengenai Dicky yang mendapat harta warisan yang melimpah memang sudah menjadi rahasia umum, apalagi Dicky adalah seorang publik figur yang di kenal oleh banyak orang dan kalangan.


"Aku, mengajar di SD ini karena aku memang suka mengajar, bukan semata-mata karena uang, dengan mengajar, aku bahagia bisa menyumbang ilmu, itu yang lebih berharga dari pada uang!" jawab Fitri.


"Nah, denger tuh, aku setuju sama pendapat Bu Fitri!" sahut Pak Riko.


"Jarang-jarang tuh orang seperti Bu Fitri, eh ngomong-ngomong Bu Fitri akan jadi ipar ya sama Pak Donny, tidak di sangka ya, Pak Donny itu ternyata tunangannya kembaran Bu Fitri!" ujar Bu Erna.


"Iya Bu Erna, sebentar lagi mereka akan menikah!" jawab Fitri.


"Syukurlah, sebagai mantan teman sesama guru, kami senang kalau akhirnya Pak Donny menikah juga, semoga dia bahagia deh!" timpal Bu Ria.


Dara tiba-tiba masuk ke dalam ruang guru itu.

__ADS_1


"Mama, Papa sudah jemput!" kata Dara.


"Iya Nak, tunggu sebentar ya!" Fitri langsung membereskan bukunya dan memasukannya ke dalam tas besarnya, akhirnya dia harus memeriksa tugas di rumah juga.


"Wah, tumben nih yang jemput sang suami, biasanya supirnya!" ujar Bu Ria.


"Iya Bu, kebetulan Mas Dicky agak senggang hari ini, mari Bu, Pak, duluan ya!" pamit Fitri pada mereka semua yang ada di ruang itu.


Fitri lalu menuntun tangan tangan Dara dan dengan cepat berjalan menuruni tangga menuju ke lobby.


Dicky sudah duduk menunggunya, namun Fitri sedikit tertegun, di samping Dicky sudah duduk Bu Sita, pantas saja Bu sita tidak ada tadi di ruang guru, rupanya dia ada di lobby.


Dicky langsung melambaikan tangannya saat melihat Fitri sudah datang.


"Mas Dicky, sudah lama menunggu Mas?" tanya Fitri.


"Belum kok, yuk langsung pulang!" ajak Dicky yang segera bangkit dari duduk nya.


"Ehm, Bu Fitri, baru juga saya ngobrol dengan Pak Dokter, kok buru-buru saja sih!" ujar Bu Sita.


"Pak Dokter, sekarang kan sudah jadi sultan, kalau ada lowongan kerjaan, bagian mana kek, kasih tau saya ya, saya mulai bosan jadi guru, gajinya tidak naik-naik! Capek deh!" kata Bu Sita.


"Iya deh Bu, nanti ya di info lagi, sekarang kami permisi duluan!" jawab Dicky sambil menuntun tangan Fitri keluar dari lobby menuju ke parkiran.


****


Malam itu seluruh keluarga Dicky terlibat dalam makan malam bersama di meja makan besar itu.


Donny ada di antara mereka, karena sebentar lagi akan di langsungkan pernikahan Donny dengan Anita.


Mereka semua bersepakat akan melaksanakan pernikahan di Jakarta, baru setelah itu mereka juga akan mengadakan selamatan di kampung.


"Nanti setelah menikah, kalian akan tinggal di mana?" tanya Pak Karta di sela-sela makan malamnya.

__ADS_1


"Kami rencana akan tinggal di apartemen Pak, rumah peninggalan ibu saya rencana akan di kontrakan!" jawab Donny.


"Tinggal di apartemen? Apa tidak terlalu sempit Don? Kata Anita apartemenmu hanya punya satu kamar, nanti Ibu dan Bapak tidak bisa nginep dong!" celetuk Bu Eni.


"Nanti kalau ada rejeki saya akan ambil kredit rumah yang lebih besar Bu!" sahut Donny.


"Iya nih Ibu! Segala sesuatu kan ada prosesnya Bu, asal bunyi saja tuh mulut!" sungut Pak Karta.


"Pak, Bu, Saya rencana mau mengajak kalian semua kembali pindah ke rumah mendiang Ibu saya, di rumah itu saya bisa mengenang Ibu dan Ayah saya yang telah tiada, kasihan kalau bukan saya yang merawatnya siapa lagi!" ucap Dicky tiba-tiba, semua yang ada di meja makan itu terkesiap mendengar ucapan Dicky.


"Kamu mau kembali ke rumah Bu Sultan yang besar itu Nak??" tanya Bu Eni. Dicky menganggukan kepalanya.


"Rumah itu begitu dingin, akan bertambah dingin jika tidak ada kehidupan di dalamnya, aku mau mengubah suasana rumah itu menjadi hangat, Bapak dan Ibu bisa tinggal bersama kami, sawah dan kebun di kampung, nanti akan ada orang yang akan menggarapnya, jadi Bapak tidak usah lagi menggarap kebun dan sawah, nikmati saja masa tua bersama anak cucu kalian!" ucap Dicky.


Pak Karta dan Bu Eni saling berpandangan.


"Kalau kalian akan pindah lagi ke rumah besar itu, lalu bagaimana dengan rumah ini??" tanya Bu Eni.


"Rumah ini, boleh di tempati oleh keluarga si kampret, benar kata Ibu, kasihan kalau harus tinggal di apartemen, apalagi kalau sudah punya anak nanti!" jawab Dicky.


"Siapa si kampret? Baru dengar Ibu ada nama itu!" tanya Bu Eni bingung.


"Itu Bu, panggilan sayang Mas Dicky ke Pak Donny!" sahut Fitri.


"Oalaa, tadi Bapak kira siapa, kau ini Dicky! ada-ada saja!" ujar Pak Karta sambil tertawa.


"Apa yang menyebabkan Pak Dokter memanggil nama kampret sama calon suami aku?!" tanya Anita.


Dicky hanya terdiam, bingung mau menjawab apa.


"Sudahlah, aku tak masalah Dokter mau panggil aku apa, tapi satu hal, aku banyak berhutang padamu Dokter!" ucap Donny tiba-tiba.


Bersambung ....

__ADS_1


****


__ADS_2