Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Curhat Sahabat


__ADS_3

Pagi ini, Dicky nampak sudah bersiap-siap ke rumah sakit, karena hari ini ada kunjungan gubernur Jakarta untuk meninjau rumah sakit miliknya itu.


Dia sudah rapi berpakaian, dan kini terlihat duduk di ruang makan menikmati sarapan paginya.


Di meja makan itu juga ada Fitri dan kedua anaknya, Alex dan Alena. Mereka terlihat sedang menikmati santap pagi mereka.


"Jadi pagi ini, Papa tidak bisa mengantar ku ke sekolah?" tanya Alex.


"Maafkan Papa Lex, tapi pagi ini Papa harus datang lebih pagi ke rumah sakit, Papa harus memastikan kalau semuanya berjalan dengan tertib dan teratur, karena akan ada kunjungan Gubernur di rumah sakit!" jawab Dicky.


"Kenapa Papa yang harus repot? di rumah sakit itu kan ada banyak Dokter, bukan cuma Papa kan dokter disitu?" tanya Alex.


Dicky terdiam mendengar pertanyaan dari anak sulungnya yang kritis itu, wajar Alex bertanya begitu, karena di pandangan Alex, Dicky hanyalah seorang Dokter yang bekerja di rumah sakit.


"Nak, sebagai Dokter yang baik, kan harus memberi contoh dokter-dokter yang lain, untuk datang lebih pagi, dan lebih semangat bekerja!" ujar Fitri.


Alex menganggukan kepalanya seolah mengerti, kemudian dia melanjutkan makannya.


"Kalau Papa boleh tau, nanti kalau sudah besar, Alex ingin jadi apa? Ingin menjadi guru seperti Mama, atau menjadi dokter seperti Papa?" tanya Dicky.


"Aku ingin menjadi Dokter seperti Papa, karena bisa menolong banyak orang, dan aku juga ingin punya rumah sakit yang besaaar sekali" jawab Alex sambil merentangkan tangannya.


Dicky dan Fitri tertawa melihat tingkah polos anak sulungnya itu.


"Kalau Dedek Alena, mau jadi apa kalau sudah besar?" tanya Fitri sambil membelai Alena yang ada di sebelahnya.


"Jadi mama!" jawab Alena, dengan gemas Fitri dan Dicky mencium anak perempuannya itu.


"Dede payah! jadi Mama itu kan bukan cita-cita!" cetus Alex.


"Mungkin maksudnya Alena, Alena ingin menjadi guru seperti mama!" ujar Fitri.


Setelah mereka selesai sarapan pagi bersama, Dicky kemudian langsung bergegas ke depan menuju ke mobilnya Yang sudah terparkir.


Sambil menggendong Alena, Fitri berjalan disampingnya.


"Nanti papa pulangnya jangan lama-lama ya!" kata Fitri.


"Mama Perasaan dari kemarin suruh Papa cepat-cepat pulang saja ke rumah, belum juga sekarang berangkat, ada apa sih Ma?" tanya Dicky sambil mengecup kening istrinya itu.

__ADS_1


"Tidak tau Pa, Kenapa belakangan ini selalu pengen ada deket papa terus ya, aku juga bingung nih!" sahut Fitri.


"Hmm, dasar istri manja! kau tenang saja, hari ini setelah si Gubernur selesai meninjau Rumah Sakit, Papa janji langsung pulang ke rumah!" ujar Dicky sambil mencubit lembut pipi Fitri.


"Janji lho ya! Awas kalau bohong!" ancam Fitri. Dicky tertawa.


"Duh Istrinya dokter Dicky bisa galak juga! Ampun nyonya! Janji deh tidak akan terlambat pulang!" ucap Dicky yang dengan cepat mencium bibir Fitri, kemudian langsung masuk ke dalam mobilnya itu.


"Nakal!!" seru Fitri.


Dicky tertawa dan langsung menyalakan mesin mobilnya, setelah itu ia melajukan mobilnya keluar dari rumah itu.


****


Sesampainya di rumah sakit, Dicky tersenyum karena semuanya telah rapi.


Cleaning servis sejak pagi-pagi sudah membuat seluruh lantai rumah sakit itu menjadi kinclong dan harum.


Semua taman rumah sakit juga terlihat sangat Asri, tidak ada satupun sampah yang berserakan, semuanya bersih.


Dicky berjalan perlahan menyusuri koridor Rumah Sakit, sambil melihat-lihat lingkungan rumah sakitnya, yang kini terlihat benar-benar sangat bersih.


Suster Wina, yang kini sudah diangkat menjadi kepala perawat, memanggil Dicky dari arah belakang.


Dicky menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah suster Wina yang berjalan mendekatinya.


"Ada apa suster?" tanya Dicky.


"Saya baru saja dapat laporan, kalau Bapak Gubernur akan datang yang di jam makan siang nanti, jadi dia tidak datang pagi-pagi!" jawab suster Wina.


"Alamak! Aku sudah janji sama Istriku mau pulang cepat hari ini, aku pikir pak gubernur akan datang pagi-pagi, jadi aku bisa pulang siang!" ujar Dicky sambil menepuk keningnya sendiri.


"Saya juga baru menerima laporannya barusan Dokter, kalau begitu saya permisi dulu, mau men training para suster baru!" pamit suster Wina yang langsung berbalik, dan pergi meninggalkan Dicky.


Dengan sedikit kesal, Dicky melanjutkan langkahnya menuju ke ruangannya.


Dia menghempaskan tubuhnya di sofa ruangannya itu, menyesal dia sudah buru-buru datang pagi-pagi, kalau tahu pak gubernur akan datang siang, dia juga pasti tidak akan cepat-cepat datang.


"Duh, apa yang harus aku katakan pada Fitri? Dia pasti kecewa berat!" gumam Dicky.

__ADS_1


Tok ... Tok ... Tok


Tiba-tiba pintu ruangan Dicky diketuk dari luar, Dicky kemudian langsung berteriak, menyuruh orang yang datang itu masuk.


"Selamat pagi dokter, beruntung aku bisa bertemu denganmu pagi ini!" ucap seorang laki-laki tampan yang sudah sangat dikenal Dicky, dia adalah Dio.


"Hai Dio, lama tak berjumpa denganmu, duduklah!" ujar Dicky mempersilahkan. Dio kemudian duduk di sofa di hadapan Dicky.


"Dokter, aku tahu kau adalah seorang dokter anak, anakku Chika sehat walafiat, dia menjadi anak yang cantik dan pintar, tapi memiliki Perangai yang buruk! Aku putus asa Dokter, tidak tau lagi harus berbuat apa!" ungkap Dio, wajahnya terlihat sendu.


"Aku memang dokter anak Dio, tapi aku bukan psychiater! aku tidak bisa membantu banyak, tapi kau harus belajar mengenal apa yang dibutuhkan oleh putrimu itu!" ucap Dicky.


"Aku tidak tau apa yang dia mau, dia tidak pernah mengatakan apapun padaku, tapi selalu menunjukkan ekspresinya yang terlihat berlebihan, dan itu dia lampiaskan pada orang lain! Aku pusing, setiap hari mendengar laporan Kalau anakku berulah di sekolah!" keluh Dio.


"Boleh aku tanya satu hal padamu?" tanya Dicky.


"Silakan Dokter!" sahut Dio.


"Tidakkah Kau punya keinginan untuk menikah lagi?" tanya Dicky lirih.


Dio hanya tersenyum masam menanggapi pertanyaan Dicky.


"Aku tidak pernah berpikir ke situ, memikirkan anakku sendiri saja aku sudah pusing! Lagipula aku sudah tidak mau lagi berurusan dengan yang namanya cinta, bagiku cinta itu tidak pernah ada, tidak pernah ada yang namanya cinta yang sesungguhnya!" jawab Dio.


"Wah, itu karena kau belum menemukannya saja, kau belum tahu bahwa cinta itu bisa membuat Jantungmu berdebar tujuh kali lipat!" ujar Dicky.


"Kau berlebihan Dokter! Lagi pula aku datang ke sini untuk membahas masalah anakku, Bukan membahas masalah cinta!" sungut Dio.


"Oke oke, maafkan Aku, dulu aku pernah sangat membencimu Dio, karena kau telah merebut Kekasihku, tapi ternyata semua akan indah pada waktunya, dan aku berharap kau juga bisa merasakan itu!" ucap Dicky.


"Sudahlah dokter! Lupakan masa lalu yang pahit itu, hatiku sakit jika mengingat ke belakang! Kapan-kapan aku akan membawa Chika bertemu denganmu, mungkin hanya kau yang bisa meluluhkan hatinya!" ucap Dio.


"Silakan Dio, dengan senang hati!" jawab Dicky sambil tersenyum.


****


Hai Guys...


Nanti Dokter Dicky ini akan sering muncul di novel yang terbaru ya ... anggap sebagai sekuel dari kisah ini.

__ADS_1


Yuk di tunggu dukungannya selalu ...


__ADS_2