
Sebuah mobil angkutan umum berhenti di pinggir jalan depan sebuah rumah di pedesaan kaki gunung itu.
Fitri turun dengan membawa sebuah tas dan dengan langkah gontai berjalan menuju ke rumah orang tuanya.
Bu Eni yang sedang menjemur pakaian di halaman rumahnya terkesiap melihat kedatangan Fitri yang naik angkutan umum, dia langsung meninggalkan jemurannya dan berlari menyambut Fitri.
"Fitri! Kenapa kau datang tidak mengabari Ibu dan Bapak? Mana suamimu? Kenapa dia tidak ikut?" tanya Bu Eni beruntun.
Fitri tidak menjawab, dia langsung masuk ke dalam rumah orang tuanya itu dan duduk di bangku ruangan depan, Bu Eni mengikutinya dengan tatapan heran.
"Fitri, kau kenapa? Apa kau ada masalah dengan Dicky? Cerita sama Ibu Nak!" tanya Bu Eni yang langsung duduk di sebelah Fitri.
"Tidak apa-apa Bu, aku hanya kangen saja sama Bapak dan Ibu!" jawab Fitri.
"Kau berangkat dari jam berapa Fit? Cepat sekali kau sampai! Tapi suamimu tau kan kalau kau ke rumah Bapak dan Ibu?" tanya Bu Eni lagi.
"Aku capek Bu, aku mau istirahat sebentar di kamar!" ujar Fitri mengalihkan pembicaraan.
"Ya sudah Fit, Oya, kalau kau lapar, tadi Ibu sudah masak ya, kau makan saja di meja makan, Ibu lanjutkan jemur dulu, habis itu panggil Bapakmu di sawah, dia pasti senang kau datang!" Bu Eni lalu kembali beranjak keluar menuju ke halaman rumahnya untuk melanjutkan aktifitasnya.
Sementara Fitri langsung masuk ke dalam kamarnya yang lama.
Dia duduk bersandar di tempat tidurnya, kembali dia teringat akan foto yang di lihatnya itu, Dicky sedang berpelukan dengan tubuhnya yang setengah polos dengan Ranti.
Hati Fitri begitu pedih dan sakit, dia berpikir suami yang selama ini di kagumi dan di cintainya telah berselingkuh di belakangnya, padahal dirinya baru saja ingin memberikan Dicky kejutan dengan kehamilannya, malah dia yang mendapat kejutan.
Fitri kembali meneteskan air matanya, rasa sakit itu kembali menderanya, dulu dia pernah trauma dan luka batin karena kasus pemerkosaan yang menimpanya, tapi hari ini dia kembali sakit melihat suaminya yang dia pikir berselingkuh di belakangnya.
Fitri mengusap wajahnya yang basah, kemudian dia mulai membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya.
Dia melihat ponselnya yang sengaja dia matikan itu, terakhir dia memakainya saat dia ijin dengan Pak Jamal untuk tidak datang ke sekolah.
Kebetulan juga setelah acara Happy Day sekolah libur akhir tahun, jadi Fitri mendapat libur cukup panjang di sekolah.
Tok ... Tok ... Tok ...
Terdengar suara ketukan pintu kamar Fitri, perlahan pintu kamar itu terbuka, Bu Eni lalu mendekati Fitri yang berbaring dan duduk di sisi tempat tidur Fitri.
"Fit, kau belum makan kan? Makanlah Fit, Bapakmu sudah menunggu di meja makan!" kata Bu Eni.
"Iya Bu!" sahut Fitri.
Kemudian mereka beranjak dari kamar dan langsung menuju meja makan.
__ADS_1
"Bapak sudah pulang?" tanya Fitri sambil mencium tangan Pak Karta.
"Iya Fit, nanti siang Bapak balik lagi ke sawah, ayo makan dulu!" pak Karta langsung mengambil makanannya, Fitri juga ikut mengambil makanan di piringnya.
"Fit, suamimu tau kau kesini?" tanya Pak Karta.
Fitri terdiam karena dia bingung mau menjawab apa.
"Tidak baik istri pergi tanpa seijin suaminya, walaupun ke rumah orang tuanya!" lanjut Pak Karta.
"Iya Pak!" sahut Fitri.
"Sudah Pak, jangan di tanyai terus, biarkan Fitri makan dulu, capek kan perjalanan dari Jakarta!" sergah Bu Eni.
Fitri lalu mulai menyantap makanannya, baru saja beberapa suap dia makan, perutnya kembali bergejolak.
Dia segera berjalan cepat menuju ke kamar mandi.
"Hoeeekk! Hoooekk!!"
Kembali Fitri memuntahkan semua isi perutnya.
Pak Karta dan Bu Eni saling berpandangan.
Bu Eni langsung datang menghampiri Fitri dan mengoleskan minyak angin di leher Fitri.
"Kau kurang sehat Fit? Tadi pagi-pagi kau pasti belum sarapan!" tebak Bu Eni.
"Iya Bu, aku memang belum sempat sarapan!" sahut Fitri.
"Ya sudah, sekarang kau istirahat saja di kamar, nanti Ibu buatkan wedang jahe untukmu, supaya perutmu hangat!" kata Bu Eni yang langsung memapah Fitri masuk ke dalam kamarnya.
"Terimakasih Bu!" ucap Fitri saat dia mulai berbaring dan di selimuti oleh Ibunya.
"Sebentar Fit, ibu kebelakang buat minuman untukmu, habis itu Ibu mau buat sup, supaya perutmu bisa terisi lagi!" Bu Eni beranjak pergi meninggalkan kamar Fitri.
Fitri berusaha memejamkan matanya, untuk mengurangi rasa pusing dan mual yang melandanya.
Tak lama kemudian Bu Eni sudah kembali dengan membawa segelas minuman hangat.
"Minumlah Fit, kalau sup nya belum matang, nanti sebentar lagi!" ujar Bu Eni sambil menyodorkan minuman itu ke arah Fitri.
"Terimakasih Bu!" ucap Fitri sambil meneguk minumannya.
__ADS_1
"Fit, jawab Ibu jujur, apakah saat ini kau sedang hamil?" tanya Bu Eni.
Perlahan Fitri menganggukan kepalanya.
"Suamimu tau kau sedang hamil?" tanya Bu Eni lagi. Fitri menggelengkan kepalanya.
"Fit, dalam sebuah rumah tangga, pasti ada yang namanya masalah, seharusnya kau hadapi masalahmu dengan lapang hati, jangan pernah mencoba untuk menghindar!" ujar Bu Eni.
"Aku hanya perlu menenangkan diri sejenak Bu!" sahut Fitri lirih.
"Apalagi saat ini kau sedang hamil, seharusnya ini menjadi kebahagiaan kalian, berarti jamu yang ibu berikan manjur kan!" tutur Bu Eni bijak.
Tiba-tiba Fitri memeluk Ibunya sambil menangis, tak dapat lagi dia menyembunyikan perasaan hatinya.
"Bu, kalau Mas Dicky datang mencari ku, aku mohon jangan katakan aku ada di sini, aku belum siap bertemu dengannya Bu!" isak Fitri.
Bu Eni membelai rambut putrinya itu.
"Tapi calon bayimu membutuhkan Ayahnya Fit, jangan pisahkan Dicky dengan calon anaknya, itu tidak adil untuknya!" ujar Bu Eni.
Fitri diam tak lagi mengucapkan kata apapun, hanya air matanya saja yang mewakili perasaannya saat ini.
****
Hari sudah menjelang malam, matahari sudah mulai tenggelam, suasana di desa itu sudah terlihat sangat sepi dan mencekam karena rumah penduduknya yang berjauhan.
Fitri kembali mencoba untuk memejamkan matanya, namun bayangan Dicky dengan wanita itu kembali muncul, yang membuat Fitri kembali menangis.
"Mas Dicky, kenapa kau tega mengkhianati aku!" gumam Fitri sambil membenamkan wajahnya di bawah bantalnya.
Ceklek!"
Pintu ruangan kamar Fitri terbuka, Bu Eni masuk dan langsung duduk di ranjang Fitri.
"Fit, di depan ada suamimu yang datang untuk menjemputmu, Bapak sudah terlanjur bilang kalau kau ada di sini, apakah kau ingin menemuinya?" tanya Bu Eni.
Fitri terkesiap dan langsung mengangkat wajahnya dari bantalnya.
"Apa? Mas Dicky datang ke sini ..."
"Kasihan dia Fit, katanya seharian ini dia mencarimu kemana-mana, sebenarnya apa sih yang membuatmu tak mau menemuinya?" tanya Bu Eni lagi sambil menatap Fitri dalam.
Fitri diam dan tidak mampu untuk menjawab pertanyaan ibunya itu.
__ADS_1
****