Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Sepupu Baru


__ADS_3

Seorang asisten rumah tangga, nampak membawa sebuah nampan yang besar, kemudian dia meletakkan nampan besar itu di atas sebuah meja yang ada di ruang tamu yang cukup luas itu.


Di atas nampan ada beberapa gelas minuman dingin juga ada beberapa piring cemilan, Dicky, Fitri dan anak-anaknya masih duduk di ruangan itu, sementara Karina yang baru diketahui kalau dia adalah sepupu Dicky juga duduk diantara mereka.


"Jadi sekarang sudah clear nih masalahnya? Aku tadi sempat shock lho, aku jadi merasa bersalah karena aku ikut permainan Dicky, aku yang dituduh jadi pelakor!" ujar Karina.


"Maafkan Aku, habisnya Mas Dicky juga tidak bilang-bilang kalau dia berbicara dengan sepupunya, biasanya kan dia tidak pernah seperti itu!" kata Fitri yang masih merasa malu dengan apa yang baru saja terjadi.


"Sudah-sudah, yang penting sekarang semuanya sudah jelas, Mama Fitri, Karina ini sudah menikah dengan seorang dokter juga, dan kebetulan mereka baru datang dari luar negeri, dan suaminya Karina akan bergabung dengan ku di rumah sakit!" lanjut Dicky.


"Benar Fit, kami sudah lima tahun menikah, tapi belum dikaruniai anak, makanya aku sangat senang sekali melihat anak-anaknya Dicky, aku sangat ingin bermain dengan mereka, siapa tahu saja aku bisa memiliki anak kelak, kami datang ke Indonesia karena Ken akan menikah!" jelas Karina.


Tiba-tiba dari arah pintu kamar, keluar seorang laki-laki, dia adalah Dokter Wira suami dari Karina sepupunya Dicky.


Dokter Wira tersenyum kemudian berjalan kearah mereka dan duduk bergabung dengan mereka di ruangan itu.


"Nah ini dia orangnya, kenalkan dia dokter Wira suamiku, dia yang akan membantu Dicky di rumah sakit Fit, Jadi kau jangan cemburu lagi ya, aku sudah bersuami lho!" goda Karina, Fitri tersenyum malu.


"Sudah Karina, kau jangan menggodanya lagi, sudah cukup!" sergah Dicky.


"Ciyee Dicky, mentang-mentang hari ini hari anniversary kalian, ngomong-ngomong sepertinya ada yang mau mentraktir kita nih!" sahut Karina.


"Boleh-boleh saja, memangnya Kalian mau ditraktir apa sih? apapun yang kalian mau, hari ini aku akan penuhi, karena ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami!" ucap Dicky.


"Daripada kita pergi ke restoran yang membutuhkan waktu yang lama, sementara hari sudah mau siang nih, bagaimana kalau pesan online saja, kita makan sama-sama di rumah ini, supaya anak-anak juga bisa bermain, aku ingin bermain dengan mereka!" timpal dokter Wira yang sejak tadi memperhatikan Alex dan Alena.


"Usul yang bagus, Alex! Alena! kalian boleh bermain dengan om Wira ya, dia itu dokter yang baik, tapi ingat kalian tidak boleh nakal!" ujar Dicky.

__ADS_1


"Siap Papa!" sahut Alex dan Alena bersamaan.


Rumah kediaman Karina dan dokter Wira nampak ramai siang itu, mereka makan bersama dengan gembira, bersama dengan Alex dan Alena, wajah Fitri nampak berbinar, dia sudah tidak kesal lagi, apalagi lagi setelah di liriknya, sudah tersemat cincin berlian di jari manisnya, cincin berlian yang terlihat sangat mahal dan elegan.


"Bagaimana Sayang? kau suka tidak dengan cincin itu?" bisik Dicky.


"Suka Pa, tapi lain kali jangan dengan cara seperti itu lagi ya? Aku hampir mati karena kesal terhadapmu!" sahut Fitri.


"Lagian kau ini lucu sekali Ma, mana mungkin lagi aku berselingkuh di belakangmu, aku kan hanya mengerjaimu, menguji sampai berapa dalam cintamu padaku!" kata Dicky sambil menggenggam jemari tangan Fitri.


Sementara Dokter Wira dan Karina nampak asyik bermain dengan Alex dan Alena, kesempatan itu dipergunakan Dicky untuk mengobrol berdua saja dengan istrinya itu.


****


Malam itu, Fitri nampak sedang menyiapkan pakaian couple yang akan dikenakan olehnya dan Dicky di pesta pernikahan Ken dan Dinda.


Sementara Dicky masih terlihat menatap layar laptopnya di meja sudut kamarnya itu, dia masih melayani konsultasi online di aplikasi yang dia buat sendiri.


"Papa Dicky, Ken dan Dinda beneran kan akan melangsungkan pernikahannya di hari Sabtu besok?" tanya Fitri.


"Iya benar Ma, kau kan sudah Lihat undangannya waktu itu, Memangnya kenapa sih ih?" tanya Dicky balik, matanya masih menatap ke layar laptopnya itu.


"Sudah mendekati hari H pernikahan, tapi Kenapa terlihat sepi-sepi saja? aneh deh!" gumam Fitri.


Dicky kemudian mulai menutup layar laptopnya itu, kemudian dia melangkah dan duduk di tempat tidurnya, sambil memperhatikan Fitri yang sedang menyiapkan segala sesuatunya untuk besok.


"Memangnya kau pikir mereka harus berbuat apa? membuat keributan atau keramaian?" tanya Dicky.

__ADS_1


"Ya bukannya begitu Pa, Tapi kan biasanya kalau orang yang akan melangsungkan pernikahannya, pasti ramai, misalnya mengadakan syukuran dulu atau mengundang keluarga besar, tapi ini sepi-sepi saja, benar-benar aneh!" ungkap Fitri.


"Sudahlah Ma, mungkin mereka memang tidak ingin menggembar-gemborkan tentang pernikahan mereka, lagi pula itu kan urusan mereka, urusan kita adalah besok kita harus datang tepat waktu dan kau berdandanlah yang cantik untukku!" sahut Dicky sambil mulai merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya.


Setelah selesai menyiapkan segala sesuatunya, Fitri kemudian menyusul suaminya itu berbaring di tempat tidurnya.


"Pa, kita kasih hadiah Dinda sama Ken apa ya? sejak beberapa hari yang lalu, aku memikirkan itu dan sampai sekarang belum ketemu jawabannya!" tanya Fitri.


"Aku juga tidak tahu mau memberikan mereka hadiah apa, sepertinya Ken tidak memerlukan apapun, semuanya dia sudah punya, mobil, rumah, uang, apalagi yang dia butuhkan kan?" jawab Dicky.


"Iya, tapi masa kita tidak memberikan mereka hadiah, atau kita berikan mereka hadiah tiket bulan madu saja Pa? " usul Fitri.


"Bagus juga usulmu Ma, tapi kita sendiri saja gagal bulan madu, kau ingat kan waktu itu di Bali? Maksud hatiku ingin membahagiakan mu dengan berlibur ke Bali, tapi semuanya ambyar di tengah jalan!" kenang Dicky.


"Tapi itu kan Papa yang salah, suruh siapa cium-cium Ranti, aku kan jadi panas, sudahlah jangan ingat ingat itu lagi!" cetus Fitri.


"Iya iya, belakangan kamu gampang amat cemburu sih Fit, terlalu sayang ya sama aku, Ah aku jadi merasa tersanjung!" ungkap Dicky.


"Iiih Papa nyebelin banget! Sudah sana tidur! aku sudah mengantuk!" sahut Fitri sambil menarik selimutnya menutupi tubuhnya.


Dicky yang gemas kemudian memeluk Fitri yang tertutup selimut itu sehingga Fitri menggeliat kegelian, dan tanpa melepaskan lagi Dicky kemudian mendekap erat istrinya yang sangat menggemaskan itu.


"Lepaskan Pa! Aku sesak ini! Bisa tidak sih tidur jauh-jauhan!" sungut Fitri.


"Bisa saja, kalau malam ini aku mendapat jatah sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kita, Apakah kau bersedia sayang? Aku tidak minta banyak hanya tiga ronde saja!" bisik Dicky. Bulu Kuduk Fitri langsung berdiri seketika.


Bersambung ...

__ADS_1


*****


__ADS_2