Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Main Ke Rumah Tania


__ADS_3

Setelah Fitri sedikit lebih baik kondisinya, dia mulai kembali mengajar murid-muridnya, walaupun terkadang dia merasa masih agak pusing di kepalanya.


Hingga pada jam pulang sekolah, Fitri masih duduk di ruang guru menghadap meja kerjanya, memeriksa tugas murid yang belum selesai.


Tiba-tiba Bu Sita menghampirinya.


"Bu Fitri, hari ini Pak Dokter jemput tidak?" tanya Bu Sita.


"Tidak, dia ada kerjaan di rumah sakit, aku pulang naik jemputan sekolah!" jawab Fitri.


"Hmm, padahal aku baru mau nebeng, ya sudahlah aku pulang saja duluan!" ujar Bu Sita yang langsung berjalan meninggalkan ruang guru itu.


Tak lama kemudian Pak Donny datang mendekati Fitri.


"Bu Fitri, kondisi Bu Fitri kan agak kurang sehat, dari pada menunggu mobil jemputan sampai kelas berikutnya selesai, lebih baik pulang sama saya Bu, jadi lebih cepat sampai di rumah!" tawar Pak Donny.


"Terimakasih Pak, tidak apa-apa menunggu, sekalian saya memeriksa tugas murid!" tolak Fitri halus.


"Kalau begitu, saya pulang duluan ya Bu!" pamit Pak Donny dengan wajah sedikit kecewa. Fitri menganggukan kepalanya.


Setelah tugasnya selesai, Fitri kemudian keluar dari ruang guru menuju ke lobby, dia bermaksud menunggu jemputan di sana, karena menunggu guru yang sedang memberikan kelas tambahan.


Di lobby itu, nampak Meira yang sedang makan es krim di temani oleh Maminya yang sudah menjemputnya. Fitri lalu bergegas menghampiri mereka.


"Selamat siang Meira, duh asyiknya yang lagi makan eskrim siang-siang!" sapa Fitri yang langsung duduk di sebelah Tania, Maminya Meira.


"Bu Fitri mau?" tanya Meira.


"Tidak Mei, Bu Fitri kan cuma godain Meira!" sahut Fitri sambil menjawil dagu Meira.


"Tumben Bu Fitri belum pulang?" tanya Tania.


"Iya nih Mbak, nunggu guru yang sedang ada kelas tambahan, hari ini Mas Dicky ada operasi, jadi tidak bisa menjemput!" jawab Fitri.


"Ibu Fitri bareng kita pulang saja!" celetuk Meira.


"Tidak Mei, Bu Fitri sudah bilang mau ikut jemputan sekolah, nanti mereka bingung mencari Bu Fitri!" tukas Fitri.


"Itu perkara gampang, aku tinggal bilang penjaga sekolah, kalau kau sudah pulang denganku, beres kan!" ujar Tania.


"Oh ya, Mbak Tania benar, aku lupa kalau kalian adalah pemilik sekolah ini, baiklah aku ikut kalian!" kata Fitri.

__ADS_1


Akhirnya Fitri ikut pulang bersama Tania dan Meira.


"Hari ini aku masak banyak, aku ingin mengundangmu makan siang di rumahku, kau mau kan Bu Fitri?" tanya Tania.


"Iya Bu Fitri, sekali-kali main dong ke rumah aku, kata Dara Bu Fitri pernah main ke rumahnya, masa ke rumahku belum pernah!" timpal Meira.


Fitri nampak berpikir sejenak, hari masih siang, Dicky juga akan pulang menjelang sore, apa salahnya kalau dia mampir sejenak di rumah Tania, kebetulan dia juga belum tau rumah Tania.


"Hmm, baiklah, aku akan main ke rumah kalian!" ujar Fitri akhirnya.


"Horeee, gitu dong Bu!" seru Meira senang.


Setelah mereka tiba di rumah Tania, sudah terhidang berbagai makanan di meja makan besar itu. Tania langsung mengajak Fitri ke meja makan untuk makan siang, sementara Meira langsung ke kamarnya untuk berganti pakaian, di temani oleh salah satu asisten rumah tangganya.


Fitri tertegun sesaat, Meira dan Dara sama-sama belajar di satu kelas yang sama, namun kehidupannya jauh berbeda, begitu kontras terlihat.


"Hei, kok bengong Fit, ayo kita makan, kita cuma berdua lho, mereka sudah makan semua, tidak apa ya aku memanggilmu Fitri, kan cuma ada kita berdua!" kata Tania.


"Tidak apa-apa Mbak, panggil aku nama saja, seperti dulu!" sahut Fitri.


Mereka lalu mulai menikmati makan siang mereka, Tiba-Tiba Fitri kembali merasakan mual yang luar biasa saat dia mencium aroma seafood. Dia lalu menutup mulutnya untuk menahan rasa mual itu.


Fitri hanya menggelengkan kepala nya, tidak berani membuka mulutnya.


Kemudian Tania segera membimbing Fitri ke sofa, lalu memberikan minuman hangat pada Fitri. Fitri meneguknya perlahan hingga rasa mual itu mereda.


"Maafkan aku Mbak Tania!" ucap Fitri yang merasa sungkan.


"Tidak apa-apa, sejak kapan kau sering mual Fit?" tanya Tania.


"Tadi pagi aku pusing, mual, dan saat upacara aku pingsan, di kelas juga sama, aku bahkan memuntahkan semua makanan yang ada di perutku!" ungkap Fitri.


"Fit, bisa jadi kau hamil, aku punya tes kehamilan, dulu aku beli buat stok, saat suamiku menginginkan anak lagi, aku ambilkan sebentar ya!" Tania langsung bergegas naik ke atas menuju ke kamarnya.


Tak berapa lama kemudian Tania sudah kembali dan memberikan alat tes kehamilan itu pada Fitri.


"Sekarang coba kau tes, itu toilet ada di sana!" ujar Tania sambil menunjuk ke arah toilet.


Fitri lalu bergegas masuk ke dalam toilet.


Tak lama kemudian Fitri sudah kembali. Dia duduk di samping Tania yang langsung melihat ke arah alat tes kehamilan itu.

__ADS_1


"Bagaimana Fit?" tanya Tania tak sabar.


"Positif Mbak, ada garis dua merah dengan jelas!" jawab Fitri sambil menunjukan alat tes kehamilan itu pada Tania.


"Wah, selamat ya Fit, akhirnya kau hamil juga, suamimu pasti senang!" ucap Tania.


"Iya Mbak, tapi jangan beritahu Mas Dicky dulu, aku mau kasih kejutan buat dia!" tukas Fitri sambil memasukan alat tes kehamilan itu ke dalam tasnya.


"Oke, silahkan buat kejutan spesial buat suamimu, awas jangan sampai dia jantungan!" goda Tania.


"Iya Mbak, aku akan cari waktu yang tepat untuk kasih kejutan ini!" ujar Fitri dengan mata berbinar.


Fitri begitu bahagia saat tau dirinya bisa hamil hasil dari benih Dicky, laki-laki yang sangat dia kagumi dan cintai itu.


Besok dia akan menyiapkan kejutan untuk Dicky.


Drrtt ... Drrtt ... Drrtt


Terdengar suara getaran dari ponsel Fitri. Dengan cepat Fitri mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Senyum cerah menghiasi wajah Fitri saat dia melihat Dicky yang meneleponnya.


"Halo Mas ..."


"Sayang, kau di mana? Aku telepon ke rumah kata Bi Sumi kau belum sampai?" tanya Dicky cemas.


"Aku sedang ada di rumah Mbak Tania Mas, tadi aku di ajak main dan makan Siang!" jawab Fitri.


"Ya ampun Fit, kau membuatku cemas tau, aku pikir kau kemana, kalau begitu kau tunggu di sana ya, aku akan segera menjemputmu secepatnya!" ujar Dicky.


"Iya Mas, aku tunggu ya ... !" jawab Fitri. Kemudian sambungan teleponpun di matikan.


"Cie Cie ... yang lagi berbunga-bunga, sudah kayak pengantin baru saja!" goda Tania yang masih duduk di sebelah Fitri.


"Mbak Tania bisa saja, janji ya jangan bilang-bilang dulu ke Mas Dicky kalau aku hamil!" kata Fitri.


"Beres Fit, rahasia terjamin!" sahut Tania sambil mengacungkan ke dua jempolnya.


****


Jangan lupa dukungannya guys ...


Authornya suka lupa promosi ini ..😉

__ADS_1


__ADS_2