
Ini adalah hari ke tiga Fitri di rawat di ruang VIP di rumah sakit tempat Dicky bekerja.
Sebenarnya Fitri sudah di perbolehkan pulang karena lahiran normal dan sudah pulih kembali, namun Dicky masih ingin terus mendampingi Fitri dan bayinya sambil dia juga bekerja mengontrol dan memeriksa pasien.
"Mas, kapan kita pulang ke rumah? Aku malu Mas, pasien yang lain dua hari saja sudah bisa pulang ke rumah, ini kok seperti menginap di hotel saja, sesuka hati, aku tidak enak Mas sama Bu Anjani, kan dia pemilik rumah sakit ini!" ungkap Fitri.
"Kau tau Fit, aku dapat fasilitas pelayanan di rumah sakit tanpa limit, jadi mau sampai kapanpun, tidak akan masalah, kau tenang saja, nanti juga kita pulang kok!" ujar Dicky.
"Nanti di kiranya kita memanfaatkan fasilitas lagi Mas, aku kan malu juga, apalagi banyak yang bertanya mengapa kita tidak pulang-pulang!" lanjut Fitri.
Ceklek!
Pintu ruangan sudah terbuka, Pak Karta dan Bu Eni terlihat datang dengan membawa banyak tentengan.
"Oaalaa mana cucu Ibu? Kok kamu lahiran telat bilang ke Ibu sih Fit, malah Dicky yang telepon Ibu katanya bayi kalian sudah lahir!" ujar Bu Eni sambil memeluk Fitri dan langsung menggendong Alex yang terbaring di box kacanya.
"Maaf Bu, waktu itu agak sedikit panik sampai lupa mengabari Ibu dan Bapak!" sahut Fitri.
"Duh ini cucu Ibu kenapa ganteng pisan ya? Nih kalau sudah besar bakal jadi rebutan ini, siapa dulu dong Neneknya!" seloroh Bu Eni bangga.
"Hush! Bayi baru lahir kok sudah di pikirkan dewasanya, jangan terlalu bangga diri Bu!" ujar Pak Karta memperingatkan.
"Dih Bapak ini bawaannya sirik saja sih?? Bilang saja iri karena kalah ganteng sama cucu! Ayo ngaku!!" cetus Bu Eni.
"Bu! Pikiranmu itu Lho, sudah! Sudah! Baru datang kok malah bikin ribut, maaf ya Nak Dicky!" ucap Pak Karta.
"Jangan sungkan Pak, bukankah kita satu keluarga, baik atau buruk keluarga ya tetap keluarga, tidak seperti aku, bahkan dulu aku tidak tau keluarga itu apa!" gumam Dicky.
"Mas Dicky ... jangan seperti itu, yang lalu biarlah berlalu Mas!" ucap Fitri berusaha untuk menghibur suaminya itu.
"Maafkan aku Fit!" bisik Dicky.
"Kamu kenapa Nak Dicky? Sekarang kan kamu sudah punya keluarga, Ibu tau kamu ini di besarkan di panti asuhan, pasti sedih kan dari dulu pernah di buli, merasa sepi, merasa terbuang, orang tuamu memang tega Dicky! Anak seganteng kamu kok di buang, memangnya kamu sampah!" cetus Bu Eni.
"Ibu! Jangan bicara seperi itu!" Sergah Pak Karta.
__ADS_1
"Iya Bu! Belum tentu juga kan kalau Mas Dicky di buang! Siapa tau ceritanya tidak begitu, jangan berburuk sangka Bu!" ujar Fitri memperingatkan.
"Mana ada orang baik yang taruh anaknya di panti, pikir saja pakai logika! Biasanya panti asuhan itu memang tempat pembuangan anak!" ujar Bu Eni.
Dicky hanya diam saja mendengar celotehan mertuanya itu, dalam hati dia membenarkan apa yang di ucapkan Bu Eni, seorang Ibu walau bagaimanapun tidak akan mungkin menelantarkan anaknya.
Ada yang sedih di sudut hati Dicky yang terdalam, namun dia berusaha untuk menyembunyikannya.
Tiba-tiba Dimas masuk tergopoh-gopoh tanpa mengetuk pintu dahulu, membuat semua yang ada di ruangan itu kaget.
"Dimas? Kau seperti di kejar hantu saja!" cetus Dicky.
"Gila Bro!! Ini benar-benar gila!!" seru Dimas.
"Apanya yang gila Dim??" tanya Dicky bingung.
"Sana kau lihat keluar Bro! Kau ini di ruangan terus sih!!" sahut Dimas.
"Memangnya ada apa di luar?" tanya Fitri.
"Iya, tadi juga Ibu lihat ada ramai-ramai di luar, ada bazar, ada tenda, memangnya rumah sakit ini sedang ada acara apa sih?" tanya Bu Eni.
"Masa sih??" tanya Dicky tak percaya.
"Maka nya kau lihat saja ke luar, ke taman dekat parkiran sana! Bu Anjani mengundang seluruh pasien dan pengunjung termasuk Dokter suster dan staf rumah sakit untuk menikmati sajian makan prasmanan yang di gelar di taman rumah sakit!" jelas Dimas.
"Uluh Uluh Pak!! Cucu kita membawa keberuntungan, baru juga lahir banyak orang yang merayakannya! Wah, Ibu mau pamer Ah sama Bu RT dan Ibu-ibu arisan di kampung!" Bu Eni langsung memberikan Alex ke pangkuan Fitri, dan dia langsung keluar dengan membawa ponselnya.
Dimas yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mertuamu sangat luar biasa Dic!" ujar Dimas.
Dicky dan Dimas lalu bergegas keluar dari ruangan itu.
Dicky terkesima melihat keramaian yang tidak biasa ini di depan matanya, selama dia bekerja di rumah sakit ini, belum pernah ada satu orang pun yang kelahirannya di rayakan semeriah ini. Apa maksud dari ini semua? Masih tanda tanya di benak Dicky.
__ADS_1
"Ck ck ck ... berapa anggaran biayanya ya untuk membuat pesta semeriah ini? Makanannya saja sampai berlimpah begitu, semua orang makan dengan sepuasnya, kalah pejabat kalau begini mah!" ujar Dimas kagum.
"Ini yang membuat aku tidak mengerti Dim, mengapa aku seolah di perlakukan dengan sangat istimewa?" gumam Dicky.
"Kau ini Bro! Bukannya bersyukur karirmu cemerlang di sini! Aku saja dari dulu masih saja jadi Dokter gigi, yang tiap hari bergelut dengan aneka macam gigi manusia!" ujar Dimas.
"Memangnya kau mau jadi Dokter apa lagi? Dokter mata??" tanya Dicky.
"Lapar nih, kita makan prasmanan yuk di taman, banyak gubukan nya juga lho, sudah serasa gedung pernikahan rumah sakit ini!" ujar Dimas.
"Aku mau kembali ke ruanganku saja Dim, kangen sama Alex!" tukas Dicky.
"Dih, mentang-mentang sudah punya junior mulai sombong nih orang!" sungut Dimas.
"Eh Bro! Tuh lihat Bu Anjani melihat ke arah kita! Dia jalan ke sini Bro! Alamak mimpi apa aku semalam!" seru Dimas.
Dari arah taman yang terlihat ramai itu, Bu Anjani yang menggunakan dress batik yang terlihat sangat anggun berjalan menghampiri Dicky dan Dimas yang masih berdiri di koridor rumah sakit itu.
Sambil tersenyum Bu Anjani menjabat tangan Dicky.
"Selamat atas kelahiran putramu, Alexander, aku turut berbahagia!" ucap Bu Anjani dengan suaranya yang penuh kharisma.
"Terimakasih Bu, terimakasih juga untuk hadiah buat Putra saya, saya yakin itu sangat mahal harganya, belum lagi acara yang sudah di selenggarakan di rumah sakit ini untuk kelahiran anak saya, saya benar-benar merasa tersanjung!" ucap Dicky sopan.
"Aku bangga padamu, kau bukan hanya tampan, lembut, tapi tutur katamu juga mencerminkan kepribadianmu!" kata Bu Anjani dengan pandangan lekat yang menatap Dicky sedemikian rupa.
"Ibu, katakan padaku, apakah Ibu ada hubungannya dengan masa lalu saya? Apakah Ibu pernah mengenal saya sebelumnya?" tanya Dicky.
Seketika suasana menjadi sangat hening.
Bersambung ....
****
Makan Bakso pakai kuah
__ADS_1
Ngaso dulu ahh ...
Jangan lupa dukungannya guys ...