
Pagi itu Bu Nuri sudah datang ke rumah Dicky dengan naik travel seorang diri.
Dicky sudah menunggu Ibu asuhnya itu sejak tadi di ruang tamu.
Sementara Fitri memasak membantu Bi Sumi untuk jamuan makan siang nanti bersama Bu Nuri.
Dicky langsung memeluk wanita paruh baya itu saat melihatnya, ada rasa haru di antara keduanya, seperti seorang Ibu dan Anak yang sudah lama tidak bertemu.
Mereka kemudian duduk mengobrol di ruang tamu itu.
Fitri datang dnegan membawa minuman susu jahe hangat untuk di nikmati mereka yang saling melepas rindu.
"Suamimu ini lho Fit, sejak dulu tidak hilang-hilang manjanya!" ujar Bu Nuri.
"Masa sih Bu?" tanya Fitri sambil mengambil tempat duduk di samping Dicky.
"Kalau lagi manja, habis waktu ibu untuk meladeni dia!" tambah Bu Nuri.
"Ah, pantas saja!" sahut Fitri.
"Sekarang kan manjanya lain Bu, kalau sama Fitri juga beda manjanya!" ujar Dicky tersipu.
Bu Nuri kemudian mulai mengeluarkan sebuah bungkusan besar dari dalam tasnya.
"Sesuai permintaan Dicky, Ibu membawa semua barang-barang Dicky saat di temukan di depan panti dulu!" ujar Bu Nuri.
Dicky dan Fitri menatap sebuah kotak besar yang kini ada di hadapan mereka.
"Ini selimut bayi, pakaian bayi, sarung tangan dan kaus kaki, semua masih lengkap ada di kotak ini, juga ini!" Bu Nuri menunjukan sebuah gelang kaki yang ada tulisan nama Dicky Pradita yang di ukir indah di gelang itu.
Dicky menatapnya dengan mata tak berkedip.
"Jadi, aku memang sudah punya nama, Bu Nuri memberikan aku nama sesuai dengan apa yang ada di tulisan gelang ini!" gumam Dicky.
"Iya Nak, saat ibu menemukanmu, semua barang-barang milikmu adalah barang yang mahal, itu menandakan, orang tuamu adalah orang yang cukup berada dan mapan!" lanjut Bu Nuri.
Tiba-tiba mata Dicky memerah.
"Kalau aku adalah orang berada, kenapa mereka tega membuang ku ke panti asuhan, bahkan anjing saja menyayangi dan melindungi anaknya!" geram Dicky.
"Sabar Nak, kita tidak tau apa yang menyebabkan mereka menaruh mu di panti Ibu, Oya, di dalam box bayi saat kau di temukan, ada satu amplop berisi uang yang cukup banyak, lalu ibu pakai uang itu untuk merawat mu beberapa tahun ke depan!" lanjut Bu Nuri.
__ADS_1
"Mas, kalau melihat barang-barang ini, bagaimana mencari titik terang untuk mengetahui orang tuamu masih hidup atau sudah meninggal?" tanya Fitri.
"Aku juga tidak tau Fit!" sahut Dicky.
"Sebentar ...." Bu Nuri mengeluarkan sebuah KMS (Kartu Menuju Sehat) yang terlihat sudah sangat usang dan lapuk, bahkan sudah banyak yang robek karena di makan usia.
Itu adalah kartu untuk mencatat jadwal imunisasi dan tumbuh kembang bayi, di maksud untuk meneruskan imunisasi yang sudah pernah di lakukan.
"Sebenarnya mungkin kau bukan di buang Nak, ini seperti kondisi gawat darurat, yang terpaksa, buktinya kau sangat di perhatikan tumbuh kembangnya!" ucap Bu Nuri.
Di kartu itu ada nama Dicky dan nama Ibu kandungnya, namun karena sudah lama tintanya luntur jadi sudah tidak jelas tulisannya.
"Ah, tidak ada titik terang, aku harus mencari tau kemana?!" gumam Dicky putus asa.
"Mas, Bu Nuri kan sudah membawakan apa yang kau pesan, kalau tidak di temukan petunjuk kau sabar saja, mungkin nanti kau akan menemukan petunjuk yang lain!" ujar Fitri.
"Iya Dicky, kau bersabarlah, mungkin akan ada waktunya semuanya akan terungkap!" ucap Bu Nuri sambil mengelus pipi Dicky.
"Bu, bisakah ceritakan padaku, bagaimana dulu Ibu menemukan aku?" tanya Dicky. Bu Nuri menganggukan kepalanya.
"Malam itu semua penghuni panti sedang tidur, tiba-tiba ibu mendengar suara tangisan bayi di arah depan gerbang, cepat-cepat Ibu datang, benar saja, di dalam sebuah keranjang bayi, ada seorang bayi mungil sedang menangis di sana!" ungkap Bu Nuri.
"Lalu?"
"Aduh!" tiba-tiba Fitri memegang perutnya.
"Ada apa sayang? Perutmu sakit?" tanya Dicky panik.
"Bawa istrimu ke kamarnya Nak, sepertinya dia kontraksi ringan!" titah Bu Nuri.
"Iya Bu, Sayang ayo!" Dicky mulai ingin mengangkat Fitri, namun tangan Fitri menahannya.
"Jangan Mas, aku tidak apa-apa, aku bisa bersandar di sofa ini, tadi hanya sekali saj sakitnya, sekarang hilang lagi!" ucap Fitri.
"Tapi benar kau tidak apa-apa?" tanya Dicky khawatir.
"Iya Mas, lebih baik ajak, Bu Nuri makan siang saja, Bu Nuri kan juga capek mau istirahat!" sahut Fitri.
"Kau jangan khawatir kan Ibu, coba kau fokus saja pada kontraksi di perutmu, siapa tau dalam waktu dekat kau akan melahirkan!" ujar Bu Nuri.
Bi Sumi datang ke ruangan itu.
__ADS_1
"Makan siangnya sudah siap Pak Dokter, silahkan makan!" tawar Bi Sumi.
"Iya Bi!" jawab Dicky.
"Ayo kita makan, Bu Nuri, ayo makan Bu, jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri!" kata Fitri.
"Iya Fitri, kalian tenang saja!" sahut Bu Nuri.
"Ibu menginap kan di tempat kami?" tanya Dicky.
"Maaf Dicky, nanti sore Ibu harus kembali, kasihan adik-adikmu yang masih kecil-kecil, mereka pasti akan mencari Ibu!" jawab Bu Nuri.
"Baiklah Bu, sebelumnya terimakasih atas waktu ibu untuk datang mengunjungi kami!" ucap Dicky.
"Ayo kita makan, pasti Bu Nuri sudah lapar ini, apalagi perjalanan lumayan jauh!" ajak Fitri.
Mereka kemudian berjalan ke ruang makan dan mulai menikmati santap siang mereka.
"Ibu bahagia Dicky, ternyata kau punya keluarga yang sangat harmonis dan bahagia, itulah jati dirimu yang sebenarnya!" ucap Bu Nuri.
"Iya Bu, sebenarnya aku sudah mengubur dalam-dalam masa laluku, aku sudah cukup senang dan bahagia dengan kehidupan ku yang sekarang, tapi ... entah kenapa tiba-tiba aku jadi ingin sekali mengetahui siapa orang tua kandungku yang sebenarnya!" ungkap Dicky.
"Iya Nak, semoga kau cepat menemukan di mana keberadaan mereka!" ujar Bu Nuri.
****
Seorang wanita duduk terpekur di depan sebuah makam, wanita itu adalah Bu Anjani yang terlihat menangis.
Dia meraba sebuah batu nisan yang terbuat dari pualam yang terukir itu dengan tangannya.
Banyak taburan bunga di atas pusara makam itu.
"Mas ... anak kita sudah dewasa, dia persis sepertimu, tampan, pintar dan berwibawa, kau pasti akan senang kan di sana, melihat dia dalam keadaan sehat dan baik-baik saja ...."
Kembali tangan Bu Anjani mengusap wajahnya yang basah oleh air mata.
Kemudian dia bangkit dan melangkah perlahan meninggalkan area makam itu.
Bersambung ...
****
__ADS_1
Kalau gatal harus di garuk
Ayo dukung author nya yuk