
Pagi ini makanan spesial sudah terhidang di meja, sejak subuh tadi Dicky sudah bangun dari tidurnya, dia sengaja menyiapkan makanan spesial karena hari ini adalah hari ulang tahun Fitri.
Fitri tertegun menatap aneka makanan dan sebuah kue ulang tahun di meja makan, saat dia baru turun dari lantai atas kamarnya.
"Selamat ulang tahun sayang!" ucap Dicky sambil memeluk Fitri dari belakang.
"Mas Dicky ingat saja hari ulang tahunku!" ujar Fitri sambil membalikan tubuhnya ke arah Dicky.
"Iya dong, suami yang baik pasti selalu ingat hari ulang tahun istrinya!" jawab Dicky sambil mengecup kening Fitri.
"Terimakasih Ya Mas!" ucap Fitri sambil merebahkan kepalanya di dada bidang Dicky.
"Iya Sayang, Trimakasih juga untuk servisnya semalam, nikmatnya masih terasa sampai sekarang!" bisik Dicky.
"Iiih Mas Dicky! Mulai nakal!" cetus Fitri.
Mereka kemudian langsung menuju meja makan dan mulai menikmati sarapan pagi mereka.
"Fitri, aku punya hadiah untuk ulang tahunmu kali ini!" ucap Dicky.
"Apa itu Mas?" tanya Fitri.
"Hari Kamis dan Jumat Minggu ini aku sengaja ambil cuti dari rumah sakit, aku ingin mengajakmu Bulan Madu!" jawab Dicky.
"Bulan madu? Mas Dicky seperti pengantin baru saja!" ujar Fitri.
"Setiap hari kita akan selalu menjadi pengantin baru sayang, lagi pula sejak menikah, belum pernah aku mengajakmu bulan madu!" kata Dicky.
"Mas Dicky ingin mengajakku bulan madu kemana?"' tanya Fitri. Mata wanita itu nampak berbinar.
"Ke pulau Bali, ke sebuah resort dengan villa yang menghadap ke pantai, agar saat kita bangun dari tidur, kita bisa langsung melihat laut!" jawab Dicky.
"Wah, pasti sangat indah, kau tau saja tempat yang bagus di Bali Mas!" ujar Fitri.
Dicky hanya tersenyum sambil menyelipkan rambut Fitri yang menjuntai ke belakang telinga.
"Mulai dari sekarang, kau jaga dirimu baik-baik, terutama kesehatanmu, juga calon buah hati kita!" ucap Dicky.
"Iya Mas, tapi bagaimana aku bisa cuti, sekolah masih aktif, belum libur!" tukas Fitri.
__ADS_1
"Itu soal gampang, biar aku yang akan ijin pada kepala sekolahmu, sudah siang, yuk berangkat!" kata Dicky sambil menuntun tangan Fitri menuju ke mobilnya yang sudah terparkir.
Seperti biasa, Dicky akan mengantar Fitri sampai lantai dua di depan kelasnya.
"Om Dokter!" panggil seorang murid, Dicky menoleh.
"Ini Dinda ya? Yang waktu itu periksa sama Om Dokter, sakit radang tenggorokan karena banyak minum es!" tebak Dicky.
"Lho kok Om Dokter ingat sih?" tanya Dinda dengan suara khas anak-anaknya.
"Ingat dong, kan Dinda sekolah disini, muridnya Ibu Fitri istrinya Om Dokter!" jawab Dicky sambil mengelus kepala Dinda.
Setelah Fitri masuk ke dalam kelasnya bersama-sama muridnya, Dicky kemudian berjalan ke ruang Pak Jamal, kepala sekolah.
Kemudian Dicky mulai mengetuk pintu ruangan Pak Jamal.
"Masuk!" terdengar suara dari dalam ruangan itu.
Dicky kemudian membuka pintunya dan masuk ke dalam, lalu duduk di depan Pak Jamal yang terlihat sibuk memeriksa berkas.
"Selamat Pagi Pak Jamal!" sapa Dicky.
"Pagi Pak Dokter, tumben mampir ke ruangan saya?" tanya Pak Jamal.
Pak Jamal nampak berpikir.
"Begini Pak Dokter, sudah beberapa kali Bu Fitri kan ijin, tidak enak kalau dia ijin lagi di Minggu ini, nanti saya di kira pilih kasih Pak!" ujar Pak Jamal.
"Pak Jamal, sebenarnya saya bisa saja menyuruh Fitri untuk tidak mengajar lagi, tapi karena dia suka mengajar maka saya mengijinkannya, saya harap Pak Jamal jangan terlalu kaku, kalau kurang tenaga guru kan kalian bisa mencarinya!" tukas Dicky.
"Baiklah kalau begitu Pak Dokter, saya ijinkan Bu Fitri ijin di hari Kamis dan Jumat!" ujar Pak Jamal akhirnya.
"Nah begitu dong Pak, kami kan juga butuh refreshing!" ujar Dicky yang kemudian berdiri dan menjabat tangan Pak Jamal, lalu dia segera keluar dari ruangan itu.
****
Sesampainya di rumah sakit, Dicky segera merogoh ponselnya, lalu dia mulai menelepon.
"Halo, saya jadi boking villa nya dari hari Kamis sampai Minggu, tolong di siapkan dan berikan layanan yang terbaik!" ujar Dicky.
__ADS_1
Tak lama kemudian Dicky mematikan ponselnya, kembali menaruhnya di saku jas putihnya.
"Kau mau boking Villa di mana?" tanya sebuah suara dari arah belakang Dicky. Dicky menoleh, Ranti sudah berdiri sambil tersenyum.
"Kau masih berkeliaran di sini? Aku dengar kau sudah di pecat oleh Dokter Rizky!" tanya Dicky.
"Kau lupa Dicky, kalau anakku di rawat di rumah sakit ini, kau Dokter anakku, wajar saja aku ada di sini!" sahut Ranti.
"Oh!" Dicky lalu segera berjalan menuju ke ruangannya.
"Dicky, kondisi anakku sudah membaik, apakah dia sudah di ijinkan pulang?" tanya Ranti.
"Nanti aku akan memeriksanya lagi! Sebaiknya kau jangan banyak bicara padaku Ranti, kau harus ingat batasannya!" sahut Dicky.
"Dicky, kau benar-benar berubah!" kata Ranti.
"Kau sudah tau aku berubah, makanya kau jangan buat ulah lagi, walaupun dunia terbalik aku tak mungkin akan kembali padamu, kau harus sadar itu, lebih baik kau pulihkan hubunganmu dengan Dio, demi Chika!" ujar Dicky yang langsung melangkah meninggalkan Ranti yang masih berdiri di tempatnya.
"Tapi aku menginginkanmu Dicky, aku tak rela kau begitu saja melupakan aku, setelah begitu banyak kenangan saat kita bersama dulu!" gumam Ranti.
Ceklek!
Dicky langsung membuka pintu ruangan Dimas.
"Hai Dim, belum ada pasien?" tanya Dicky yang langsung duduk di depan Dimas.
"Aku baru mulai praktek jam sembilan, ada apa sih, tumben mampir?!" tanya Dimas.
"Dimas, Kamis ini aku akan berangkat ke Bali dengan Fitri, kami akan bulan madu ke Bali!" pamer Dicky.
"Wah, kau serius Dicky? Pasti kau akan memilih villa pelangi, yang pemandangannya langsung berhadapan dengan laut!" tebak Dimas.
"Kau tau saja!" sahut Dicky.
"Tentu saja aku tau, itu kan tempat impianmu dulu saat bersama dengan Ranti, apa kau lupa??" tanya Dimas.
Untuk beberapa saat lamanya Dicky tertegun, tiba-tiba dia teringat beberapa tahun silam saat dirinya bersama dengan Ranti, mereka memiliki impian untuk pergi ke Bali, bahkan saat impian itu sudah menjadi nyata di depan mata, dengan tempat yang sudah di boking dan di bayar lunas, tiba-tiba semua lenyap begitu saja, saat Ranti pergi dan malah menikah dengan Dio.
"Hei Bro! Kenapa kau malah bengong?" tanya Dimas mengagetkan lamunan Dicky.
__ADS_1
"Eh, tidak, sudahlah Dim, aku mau siap-siap dulu, sebentar lagi jadwalku akan di mulai!" ujar Dicky yang langsung bergegas meninggalkan ruangan Dimas.
****