
Dicky terus menatap tajam ke arah Pak Hardi yang masih berdiri di depannya.
Padahal Dicky tau saat ini kasus perampokan yang terjadi di rumahnya sudah menjadi trending topik di media sosial, hampir di semua media menyiarkan berita tentang perampokan itu yang kerugiannya mencapai ratusan juta bahkan milyaran rupiah.
"Maaf Pak Hardi, kami baru saja dapat musibah, rumah kami baru saja kerampokan, sekarang sedang di tangani oleh polisi, untuk sementara Dina dan Dara off dulu lesnya, sampai menunggu situasi aman!" jelas Dicky.
"Astaga Pak Dokter, saya turut prihatin atas apa yang menimpa Bapak sekeluarga, maaf ya Pak, saya baru mendengar ini dari Bapak!" sahut Pak Hardi.
"Seharusnya Pak Hardi tau, karena berita ini sudah tersebar di media sosial, jadi kami saat ini membatasi siapa saja yang datang ke sini, termasuk Pak Hardi!" jelas Dicky.
"Sekali lagi saya mohon maaf Pak Dokter, kalau begitu saya pamit pulang saja, sampaikan salam saya untuk Dina dan Dara, kalau mereka ada kesulitan pelajaran boleh menanyakan langsung melalui pesan singkat di ponsel saya!" ucap Pak Hardi.
Dicky hanya menganggukkan kepalanya, setelah itu Pak Hardi membalikan tubuhnya dan berjalan ke arah gerbang.
"Tunggu!" panggi Dicky.
Pak Hardi menghentikan langkahnya sambil menoleh ke belakang.
"Sepertinya aku mengenali cara jalanmu, bisakah Pak Hardi membuka sebentar masker dan kacamata anda?" tanya Dicky.
"Maaf Pak Dokter, saya sedang flu, saya mau langsung pulang saja untuk meminum obat!" kilah Pak Hardi sambil buru-buru melangkah meninggalkan rumah Dicky.
Melihat gerak-gerik Pak Hardi, Dicky mulai curiga, entah mengapa tiba-tiba perasaannya jadi tidak enak.
Setelah Pak Hardi menghilang, Dicky langsung masuk kedalam rumahnya dan mengunci pintunya dari dalam.
Kemudian dia segera kembali masuk ke kamarnya.
"Mas Dicky dari mana saja sih? Kok lama sekali?" tanya Fitri yang mulai bergelayut manja saat Dicky mulai duduk di tepi tempat tidurnya.
"Tadi tamu yang datang itu Pak Hardi Fit!" jawab Dicky.
"Pak Hardi? Memangnya dia tidak tau kalau kita habis kena musibah?" tanya Fitri.
"Entahlah Fit, cuma aku kok mulai curiga ya sama Pak Hardi, seperti pernah mengenalnya tapi lupa di mana, aku lihat dari cara dia berjalan!" sahut Dicky.
"Dulu aku juga sempat berpikir begitu Mas, tapi di dunia ini kan banyak kesamaan-kesamaan, seperti dirimu dengan Dokter Dave yang sudah meninggal itu!" kata Fitri.
"Sebentar Fit, aku mau menelepon ke yayasan les privat Pak Hardi dulu, aku makin penasaran ini!" Dicky kemudian mengambil ponselnya kemudian mulai menelepon yayasan penyalur guru privat.
__ADS_1
"Halo, dengan yayasan SmartBrain di sini, ada yang bisa kami bantu?" terdengar suara seorang wanita dari sebrang telepon.
"Halo, saya Dokter Dicky, yang pernah meminta rekomendasi guru les privat, yang atas nama pak Hardi itu!" ucap Dicky.
"Oya Pak, apakah ada masalah dengan Pak Hardi?" tanya suara di sebrang.
"Tidak, tapi bolehkan saya minta alamat beliau? Hanya sekedar untuk memberikan bingkisan, karena sementara anak-anak saya libur les dulu!" jawab Dicky beralasan.
"Oh, kalau begitu baik Pak, nanti kami kirimkan kartu nama beliau melalui pesan singkat, di tunggu ya Pak!" ujar suara di sebrang.
"Baik terimakasih!" ucap Dicky sebelum memutuskan sambungan teleponnya.
Tidak sampai lima menit, terdengar suara notifikasi dari ponsel Dicky, sudah ada kartu nama yang di kirimkan pihak yayasan.
"Fit, ternyata nama lengkap pak Hardi itu adalah Doni Suhardi, apakah mungkin dia adalah si guru olah raga dulu yang sontoloyo itu??" tanya Dicky.
"Jangan berburuk sangka dulu Mas, siapa tau bukan, kalau kita Salah menuduh orang kita yang dosa Mas!" ucap Fitri.
"Aku juga bingung Fit, kepalaku tiba-tiba pusing, besok akan ku datangi alamat ini, kalau benar Pak Hardi itu adalah Pak Doni, ku pastikan semua tulangnya akan patah di tanganku!!" geram Dicky.
"Sabar Mas, yang penting kan dia sudah tidak datang lagi!" ujar Fitri.
"Mas, yang tadi itu jadi tidak??" tanya Fitri tersipu.
"Yang tadi mana ya?"
"Itu lho, yang sebelum Mas Dicky turun tadi!" sahut Fitri.
Dicky nampak berpikir, sebelum Dicky benar-benar ingat, Fitri sudah terlebih dahulu meremas milik Dicky.
"Masih keras ini, jadi tidak? Nanti keburu semua orang pada bangun!" bisik Fitri.
"Sejak kapan kau mulai agresif Fit?? Jangan keras-keras meremasnya!" ujar Dicky sambil meringis.
"Maafkan aku Mas, aku hanya tidak ingin kau stress dan banyak pikiran, barangkali dengan begini akan membuatmu sedikit lega!" ucap Fitri sambil mulai membuka kancing kemeja Dicky.
****
Pagi itu sebelum ke rumah sakit, Dicky mampir ke alamat Pak Hardi yang dia dapat dari yayasan.
__ADS_1
Sejak pagi dia sudah wanti-wanti agar Fitri dan anak-anak tidak keluar rumah, termasuk Pak Salim dan Bi Sumi. Dina dan Dara juga sudah ijin tidak masuk sekolah hari ini.
Dicky memarkirkan mobilnya di depan sebuah minimarket, dia mulai masuk kedalam sebuah gang sesuai dengan alamat yang di pegangnya.
Beberapa kali berputar namun dia belum menemukan alamat yang di maksud.
"Selamat siang Bu, apakah tau alamat ini? Namanya Doni Suhardi, mungkin Ibu kenal!" tanya Dicky pada Ibu pemilik warung.
"Lah Pak, alamat itu kan di situ, sudah lama di gusur di buat lapangan bulutangkis, dan saya juga tidak kenal tuh yang namanya Doni Suhardi!" jawab si Ibu sambil menunjuk sebuah lapangan bulutangkis di depan warungnya.
"Baiklah Bu, terimakasih informasinya!" ucap Dicky kecewa, kemudian dia segera kembali melanjutkan perjalanannya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Dicky tidak langsung masuk ke ruangannya, dia malah masuk ke ruangan Dimas.
"Hai Bro! Yang habis liburan kok tampangnya jutek!" ledek Dimas.
"Rumah kerampokan siapapun pasti akan jutek! Kau ini bisanya meledek saja!" sungut Dicky.
"Ah dasar kau! Datang-datang kasih ucapan selamat kek, kasih oleh-oleh kek, apa kek! Inget kek sama temen!!" cetus Dimas.
"Oh iya, selamat ya Dim, akhirnya kau bisa bertunangan juga dengan Mia, di tunggu undangannya Dim!" ucap Dicky sambil memeluk dan menepuk bahu sahabatnya itu.
"Iya Bro, ini kau ambilah, aku hampir saja lupa!" Dimas langsung mengeluarkan sebuah kunci mobil dari laci meja kerjanya.
"Lho, ini mobilku sudah rampung semua?" tanya Dicky.
"Sudah sejak sebelum kau pergi ke Jepang, ada info penting juga Bro, kemarin itu tukang parkir menemukan KTP yang terselip di got kering pas di samping mobilmu dulu terparkir, aneh kan!" jawab Dimas.
"KTP siapa? KTP pelaku pemutusan rem mobilku dulu??" tanya Dicky tak sabar.
"Iya, sebenarnya itu dompet yang terjatuh, dalam dompet itu ada KTP nya, si tukang parkir yang melaporkan nya!" jelas Dimas.
"Sekarang di mana tukang parkir itu?? Di mana dompet dan KTPnya??" tanya Dicky geram.
"Ada di kantor polisi!" sahut Dimas.
Bersambung ...
****
__ADS_1