
Fitri dan Dicky sedang mengantar kedua anaknya Alex dan Alena ke Posyandu terdekat, walaupun di rumah sakit anak-anaknya mendapat vaksin dan berobat gratis, namun Fitri dan Dicky selalu rutin membawa kedua anaknya itu ke posyandu, untuk sosialisasi terhadap warga yang tinggal disekitar rumah mereka.
Kebetulan hari itu Dicky juga sekalian mengunjungi Posyandu yang ada di dekat rumahnya itu, selain untuk memberikan penyuluhan kesehatan terhadap masyarakat sekitar, Dicky juga memberikan konsultasi gratis bagi warga yang tinggal di sekitar daerah itu.
Baru saja Dicky memarkirkan mobilnya di depan posyandu, beberapa warga mulai berdatangan dan memberikan ucapan dan menjabat tangan Dicky.
Ada juga beberapa warga yang minta foto dengan Dicky. Walaupun merasa agak risih, namun Dicky berusaha melakukannya dengan tulus hati, tidak ingin membuat para warga sekitar yang mengaguminya kecewa.
"Ayo sini Bu Fitri, anaknya di timbang dulu! " Panggil Bu Lurah. Fitri kemudian membawa Alex dan Alena untuk ditimbang.
"Gimana perkembangan Alex dan Alena Bu Lurah? Apakah berat badan mereka Sesuai dengan umurnya?" tanya Fitri saat beberapa ibu-ibu mulai menimbang dan mencatat perkembangan Alex dan Alena di KMS.
"Mereka sehat-sehat, walaupun tidak gemuk tapi berat badannya cukup padat untuk anak seusia mereka!" jawab seorang ibu.
"Ya iyalah, orang bapaknya Dokter, Anaknya ya pasti sehat dong!" timpal seorang ibu yang lain.
Fitri hanya tersenyum menanggapi komentar para ibu-ibu yang melayani Posyandu hari ini.
"Bu Fitri tidak berniat menambah momongan lagi?" tanya Bu Lurah yang sejak tadi duduk memperhatikan para ibu-ibu yang melakukan kegiatan di posyandu itu.
"Ah saya tidak tahu, mengurus dua orang anak saja sudah terasa repotnya!" jawab Fitri tersipu.
"Kalau saya yang jadi istrinya pak Dokter, saya akan punya banyak anak dari Pak dokter! Pasti kan bibitnya bagus, anaknya juga bagus!" kata seorang ibu muda yang sedang menimbang anak balitanya.
Setelah Alex dan Alena selesai, Fitri kemudian membawa mereka mendekati Dicky yang duduk menghadap sebuah meja konsultasi.
Beberapa orang mengantri di sana, karena hari ini kunjungan Dicky spesial untuk warga sekitar rumahnya.
Diluar Posyandu itu, banyak orang yang datang berbondong-bondong hanya sekedar untuk berkonsultasi dengan Dicky, karena jarang-jarang Dicky, seorang dokter pemilik Rumah Sakit besar, mau memberikan penyuluhan dan konsultasi gratis di Posyandu yang kecil ini.
"Ma, kapan kita pulang? Kok kita malah duduk di sini sambil nontonin papa!?" tanya Alex yang duduk di samping Fitri yang sedang memangku Alena.
__ADS_1
"Kita tunggu sampai Papa selesai Sayang, masa kita mau pulang duluan! Alex Sabar ya nunggu papa!" jawab Fitri.
"Tapi kan bosen Ma, di sini tidak ada mainan! Kalau di rumah aku bisa main sama Dedek juga sama mobil-mobilan ku!" sahut Alex.
"Ssst, sabar Lek, dari sini Alex dan Alena kan bisa belajar, bagaimana Papa melayani masyarakat, tuh lihat Papa Dicky, keren kan bisa membantu banyak orang!" ucap Fitri sambil menunjuk ke arah Dicky yang terlihat sibuk melayani konsultasi gratis.
"Ya ya Papa keyen!" seru Alena.
"Iya Ma, Makanya kalau aku sudah besar nanti, aku ingin jadi dokter seperti papa! Aku juga ingin membantu orang seperti papa!" ucap Alex.
"Nah maka nya, Alex harus sabar menunggu sampai Papa selesai melayani orang-orang! Kan nanti Alex juga seperti Papa, melayani orang-orang yang membutuhkan pelayanan!" sahut Fitri sambil mengusap kepala Alex.
Alex mengangguk-anggukan kepalanya, menandakan bahwa anak itu telah mengerti ucapan Fitri.
****
Setelah selesai dari posyandu, dan Dicky sudah menuntaskan kewajibannya sebagai dokter, yang memberikan konsultasi gratis terhadap masyarakat, mereka akhirnya pulang kerumah siang itu.
Namun saat mereka masuk ke ruang tamu, sudah ada tamu yang menunggunya, mereka adalah Bu Romlah dan kedua anaknya Dina dan Dara.
"Eh ada Bu Romlah, Dina dan Dara juga! Surprise sekali hari ini kalian datang ke sini!" ucap Dicky yang langsung duduk bergabung dengan mereka di ruang tamu itu.
Sementara Fitri nampak membawa kedua anaknya masuk dan dititipkan sebentar pada Sumi, karena Alex dan Alena nampak lelah dan mengantuk, jadi Fitri minta tolong Bi sumi untuk memberikan mereka makanan.
Setelah itu Fitri kembali ke ruang tamu, dan duduk bergabung dengan Dicky dan Bu Romlah beserta anak-anaknya.
Mbok Jum nampak membawa sebuah nampan besar, yang berisi aneka minuman dan makanan ringan, lalu dia menaruh nampan besar itu di atas meja yang ada di ruang tamu itu.
"Bu Romlah apa kabar? Dara Kelihatannya sudah pulih total, Kapan kalian akan memulai usaha lagi? Kalau kalian butuh modal, jangan sungkan beritahu kami!" tanya Dicky.
"Iya bu, sudah lama lho Dina dan Dara tidak main-main ke sini, Alex dan Alena sampai kangen!" timpal Fitri.
__ADS_1
"iya Pak Dokter, Bu Fitri, saya hanya ingin memberitahukan, Kalau sebentar lagi saya akan menikah dengan duda beranak dua, anak-anaknya sudah besar semua!" kata Bu Romlah.
"Jadi, Bu Romlah akan menikah lagi? kapan Bu?" tanya Fitri.
"Rencananya sih minggu depan bu, tapi Nikahnya di Kalimantan, karena calon suami saya itu orang Kalimantan, rencananya saya juga akan membawa Dina dan Dara ikut bersama saya!" jawab Bu Romlah.
"Wah, akan semakin jauh saja, tapi Bu Romlah jangan khawatir, Dina dan Dara tetap anak asuh saya, walaupun mereka jauh saya akan rutin mentransfer setiap bulan untuk biaya pendidikan mereka!" ucap Dicky.
"Maaf Pak Dokter, Sebelumnya saya sangat berterima kasih dan mengapresiasi kebaikan hati Pak dokter dan Bu Fitri, tapi sebaiknya sekalian tidak usah lagi mentransfer uang bulanan Dina dan Dara!" ujar Bu Romlah.
"Lho kenapa Bu Romlah? Bukankah sebelumnya kita sudah sepakat, bahwa kami akan menanggung biaya pendidikan Dina dan Dara sampai perguruan tinggi?" tanya Dicky.
"Benar pak, tapi kebetulan calon suami saya ini adalah pemilik perkebunan sawit di Kalimantan, dan dia juga sudah berjanji akan menyekolahkan Dina dan Dara sampai kuliah, dan sepertinya kami tidak akan kekurangan lagi, karena terus terang calon suami saya itu adalah tuan tanah di Kalimantan!" jelas bu Romlah.
Dicky dan Fitri terdiam dan saling berpandangan.
"Baiklah kalau begitu Bu, semoga saja kalian mendapatkan keluarga baru yang bahagia, kami akan mendoakan kalian, tapi kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungi kami ya! " ucap Dicky.
"Saya senang sekali mendengar Bu Romlah Akhirnya bisa menemukan jodohnya, Semoga tetap langgeng dan bahagia ya Bu, Dina dan Dara juga bisa bahagia sampai mereka dewasa nanti, dan jangan pernah melupakan kami ya Bu!" tambah Fitri.
"Terima kasih Pak Dokter, Bu Fitri! Mana mungkin kami akan melupakan begitu saja kebaikan yang sudah ditaburkan oleh kalian? Sampai matipun kami akan selalu mengenang kalian, dan ingat semua kebaikan yang telah kalian lakukan untuk kami!" ucap Bu Romlah, sambil beringsut menyalami Dicky dan Fitri sambil menangis.
Bersambung ...
****
Halo guys ...
Lima hari lagi tamat ya ...
Di tunggu selalu dukungannya, trimakasih...
__ADS_1