Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Dunia Baru


__ADS_3

Pagi itu Dicky dan Fitri terlihat sudah rapi, setelah sarapan Fitri berencana akan ke sekolah tampaknya mengajar kelak.


Dicky juga bersiap ke rumah sakit, dia terlebih dahulu akan mengantar Fitri ke sekolah.


"Kau sudah siap Fit? Kita berangkat sekarang ya?" tanya Dicky setelah mereka selesai sarapan.


"Iya Mas!" sahut Fitri.


Dicky lalu menuntun Fitri ke luar, mereka langsung masuk ke dalam mobil, perlahan Dicky mulai mengemudikan mobilnya keluar dari rumahnya.


Tak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di sebuah gedung sekolah yang besar dan terlihat baru di bangun, Dicky lalu memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah itu.


"Aku antar ke dalam Fit, nanti kalau sudah selesai, kau bisa telepon aku, aku akan menjemputmu!" ucap Dicky sambil turun dari mobilnya di susul oleh Fitri.


"Tidak usah Mas, aku bisa pulang sendiri naik taksi atau ojek, aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu!" sergah Fitri.


"Aku tidak akan membiarkan kau pulang sendirian Fit, pokoknya kau harus menelepon aku kalau sudah selesai!" tukas Dicky.


"Baiklah Mas Dicky, tapi kau jangan mencemaskan aku, aku bukan anak kecil yang harus di antar jemput!" cetus Fitri.


Mereka kemudian sudah sampai di lobby sekolah, sebelum naik ke atas, ke ruang kepala sekolah, mereka duduk sejenak di kursi yang ada di lobby tersebut.


"Kau pergi saja ke rumah sakit Mas, nanti kau akan terlambat, aku bisa naik ke atas sendirian," kata Fitri.


"Iya Fit, kau hati-hati ya, kalau bertemu dengan Pak Kevin, sampaikan salamku pada beliau!" ucap Dicky yang segera berdiri dari duduknya.


"Baik Mas, aku langsung ke atas ya!" ujar Fitri.


"Sebentar Fit!" Dicky lalu maju mendekat ke arah Fitri, kemudian mulai mengecup keningnya.


Ada rasa hangat dan bahagia yang Fitri rasakan.


Dicky langsung beranjak meninggalkan lobby sekolah itu, Fitri memandang suaminya yang berjalan sampai punggungnya hilang di balik pintu lobby.


Kemudian Fitri naik ke atas menuju ruang kepala sekolah.


Di lantai dua sekolah itu, ada satu ruang yang bertuliskan Ruang kepala sekolah, Fitri mulai mengetuk ruangan itu.


"Masuk!" terdengar seruan dari dalam ruangan itu.


Perlahan Fitri membuka pintunya dan masuk.


Seorang laki-laki setengah baya duduk di sebuah meja besar dengan menghadap komputer.


"Silahkan duduk!" sapa sang kepala sekolah.

__ADS_1


"Saya Fitri, dapat rekomendasi dari Pak Kevin untuk mengajar di sekolah ini!" ucap Fitri memperkenalkan diri.


"Baik Bu Fitri, saya Pak Jamal, kepala sekolah di sekolah ini, karena Bu Fitri rekomendasi langsung dari Pak Kevin, daya langsung menerima Bu Fitri mengajar di sini tanpa melalui tes, selamat bergabung di sekolah Bina Anak Bangsa!" Pak Jamal berdiri dan langsung menjabat tangan Fitri.


"Terimakasih Pak, sudah berkenan menerima saya mengajar di sini!" ucap Fitri senang.


"Sementara sekolah ini hanya menerima murid SD saja, di mulai dari kelas satu, juga menerima pindahan untuk kelas diatasnya, apalagi sekolah ini di peruntukan bagi anak-anak putus sekolah dan kurang mampu, jadi tidak terlalu mengikuti kurikulum pemerintah!" jelas Pak Jamal.


"Baik Pak!" jawab Fitri.


"Bu Fitri mengajar di kelas satu A, karena kelas satu jumlahnya paling banyak, maka di bagi tiga kelas, nanti Bu Fitri akan berkordinasi dengan Bu Erna dan Bu Sita, mereka juga mengajar di kelas satu!" lanjut Pak Jamal.


"Iya Pak, saya siap mengajar mereka!" sahut Fitri.


"Baiklah Bu Fitri, saya akan antarkan Bu Fitri ke ruang guru, untuk sekedar berkenalan dengan semua guru di sekolah ini, setelah itu Bu Fitri bisa langsung masuk ke kelas satu A!" kata Pak Jamal.


Kemudian mereka beranjak meninghalkan ruangan itu dan berjalan menuju ke ruang guru.


Beberapa guru sudah duduk di meja mereka masing-masing.


"Nah Bu Fitri, ini adalah meja kerja Bu Fitri, silahkan!" ucap Pak Jamal sambil menunjuk meja kosong yang ada di sudut ruangan.


"Terimakasih Pak!" ucap Fitri.


"Selamat pagi para pahlawan dengan tanda jasa! Perkenalkan, ini Bu Fitri yang akan mengajar di kelas satu A, semoga kita semua bisa betsama-sama mencerdaskan bangsa ini, bekerja dengan hati dan ketulusan!" sapa Pak Jamal Bijak.


"Hai Bu Fitri, saya Bu Sita, guru kelas satu juga!"


"Salam kenal Bu Fitri, saya Bu Ria guru komputer.


"Saya Pak Ricko, guru bahasa Inggris!


"Saya Bu Erna guru kelas satu juga!"


"Hai Bu Fitri, saya Pak Donny, guru olah raga!"


Mereka memperkenalkan diri satu persatu dengan sangat ramah.


Ada dunia berbeda yang di rasakan Fitri, dia tidak lagi merasa sendiri, kini dia punya banyak teman sesama guru yang saling menopang dan mendukung satu sama lain.


"Terimakasih semuanya!" ucap Fitri dengan wajah gembira.


Teeeeet ... Teeeet


Terdengar suara bel pertanda pelajaran akan segera di mulai.

__ADS_1


Para guru bergegas ke kelas mereka masing-masing.


Fitri melangkah menuju ke ruang kelas satu A yang ada di ujung Selasar.


Perlahan Fitri membuka pintu kelas itu, anak-anak kelas satu langsung berdiri memberikan salam.


"Siap! Beri salam!"


"Selamat pagi Ibu guru!" salam anak-anak serempak.


"Selamat pagi anak-anak!" balas Fitri.


"Bu Fitri!!" tiba-tiba ada seorang anak yang memanggil Fitri, Fitri menoleh, seorang anak yang duduk di pojok tersenyum ke arahnya.


"Dara? Kau sudah mulai mau sekolah? Ibu senang melihatmu!" ucap Fitri.


"Iya Bu, sekarang aku sudah sekolah, kan aku bilang kalau sekolah ini jadi aku baru mau sekolah!" jawab Dara.


"Baiklah, sebagai perkenalan, ibu akan mengabsen kalian satu persatu ya!" ujar Fitri.


Kemudian Fitri membuka buku absen dan mulai memanggil nama muridnya satu persatu.


Setelah perkenalan, Fitri mulai mengajar mereka, Fitri sedang mengetes kemampuan membaca anak-anak ini, karena kelas satu adalah kelas paling dasar untuk belajar membaca.


"Ibu akan tuliskan satu kalimat di papan tulis, siapa yang bisa membacanya dengan lancar?" tanya Fitri sambil menuliskan sebuah kalimat sederhana di papan tulis itu.


"Saya Bu!" seorang anak perempuan mengacungkan tangannya.


"Ya, sekarang kamu maju ke depan dan bacalah dengan lantang!" titah Fitri.


Anak yang wajahnya cantik dan manis, yang kelihatan paling bersih diantara mereka semua maju dengan penuh semangat.


"Saya suka baca buku!" jawab anak itu.


"Wah hebat! Siapa namamu Nak?" tanya Fitri.


"Namaku Meira Bu, Meira Alicia!" jawab anak itu sambil tersenyum.


"Kau pintar Meira, siapa yang mengajarimu membaca secepat ini?" tanya Fitri.


"Mami dan Daddy aku Bu, Daddy Kevin!" jawab Meira polos.


"Daddy Kevin? Kevin Setiawan bukan? Bapak pemilik sekolah ini!" tanya Fitri lagi.


"Iya Bu, itu Daddy aku!" jawab Meira.

__ADS_1


'Ternyata anak seorang pemilik sekolah juga sekolah di sini, benar-benar rendah hati Pak Kevin' Batin Fitri.


****


__ADS_2