
Mobil Pak Karta sudah siap terparkir di depan rumah Dicky, pagi ini mereka akan pulang ke kampung halamannya.
Fitri terlihat masih mengobrol dengan Anita di ruang tamu. Sementara Dicky mulai sibuk memeriksa pasiennya yang sudah mengantri, padahal hari masih pagi. Sengaja dia membuka kliniknya lebih cepat dari biasanya.
"Ta, apakah kau punya ponsel?" tanya Fitri. Anita menggelengkan kepalanya.
Fitri kemudian mengambil ponsel dari lemari yang ada di ruang keluarga itu, lalu kembali duduk di samping Anita.
"Ini pakailah, ponselnya masih bagus, tidak ada yang rusak, Mas Dicky memberikan aku ponsel baru, jadi ya tidak terpakai yang ini!" jelas Fitri sambil menyodorkan ponsel itu.
Anita nampak tertegun, kemudian dengan cepat dia menulis sesuatu di buku hariannya.
Terimakasih, suami mu baik sekali, kau sangat beruntung Fitri!
"Ta, Mas Dicky memang baik, seluruh hidupku tercurah padanya tidak sebanding dengan apa yang di berikannya padaku, tapi kau juga pasti akan mendapatkan laki-laki yang baik juga!" ucap Fitri sambil menggenggam tangan Anita.
Anita mengelengkan kepalanya, matanya menatap sayu, seolah hilang semua harapan dan mimpinya.
"Kau jangan putus asa Ta, aku dan suamiku akan berusaha untuk mendapatkan informasi tentang Pak Donny, dan kau bisa kembali padanya!" lanjut Fitri.
Anita kembali menulis di buku hariannya itu.
Aku sudah bisu, mana mungkin dia mau menerima aku lagi seperti dulu, jangan buang waktumu Fitri!
Fitri lalu memeluk Anita dengan erat, mencoba merasakan apa yang saudaranya ini rasakan.
"Jangan putus asa Ta, Pak Donny itu sangat mencintaimu, percayalah padaku! Dulu dia pernah terobsesi padaku hanya karena aku mirip denganmu, itu artinya dia masih belum bisa melupakanmu!" bisik Fitri.
Anita hanya bisa menangis tanpa bisa menjawab apapun. Dia menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
"Kau sudah siap belum Ta?" tanya Bu Eni yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu.
Anita nampak menganggukan kepalanya sambil mengusap matanya yang basah.
"Bu, memangnya mau berangkat sekarang?" tanya Fitri.
"Ya iya lah Fit, dari pada keburu panas!" sahut Bu Eni.
Mereka kemudian mulai berjalan ke arah depan, mobil pak Karta sudah menyala, dan semua barang sudah masuk ke dalam bagasi.
"Ayo berangkat Bu! Nanti keburu kesiangan!" seru Pak Karta dari dalam mobil.
"Iya Pak! Sabar dulu napa! Belum pamit ini sama mantu ganteng! sahut Bu Eni.
__ADS_1
Dicky dari arah klinik nampak tergopoh-gopoh menghampiri mereka.
Dia langsung menyalami Bapak dan Ibu mertuanya itu.
"Bapak dan Ibu hati-hati ya, ini ada sedikit rejeki dari saya!" ucap Dicky sambil menyodorkan sebuah amplop coklat ke arah Pak Karta yang ada di depan kemudi.
"Aduh Nak, kenapa kau harus repot begini, kau kan baru merintis usaha, pasti masih banyak keperluan kan!?" tukas Pak Karta sungkan.
"Terimalah Pak, kami masih cukup, saya hanya butuh doa dari Bapak Ibu saja, semoga usaha saya di berikan kelancaran!" ucap Dicky.
"Bapak dan Ibu juga melihat usahamu sudah di beri kelancaran, tuh buktinya banyak pasien yang mengantri di obati olehmu!" ujar Bu Eni.
"Sudah Bu, Pak, terima saja, dosa lho nolak rejeki!" ujar Fitri.
Pak Karta kemudian menerima pemberian dari Dicky.
"Terimakasih Nak!" ucap pak Karta.
Mobil yang mereka tumpangi kemudian mulai bergerak meninggalkan rumah Dicky.
"Anita, tuh lihat saudaramu, pintar cari suami, sudah ganteng, baik, banyak uangnya lagi, kau harus belajar dari saudaramu itu Ta!" ujar Bu Eni dalam perjalanan ke Sukabumi.
"Bu, jangan bicara begitu, setiap orang kan unik dan punya jodoh nya masing-masing, Anita juga pasti akan dapat jodoh yang terbaik nantinya!" kata Pak Karta bijak.
****
Ketika hari menjelang siang, Dicky mulai menutup kliniknya dan memasang tulisan Istirahat di pintu kaca kliniknya itu.
"Huh! Ke sekolah itu lagi!" sungut Dicky.
Karena siang ini dia berjanji akan datang ke sekolah internasional itu untuk menemui Pak Donny.
Fitri belum pulang dari mengajar. Dicky langsung menanggalkan jas putihnya dan memakai jaket, kali ini dia ingin naik motor saja ke sekolah itu untuk menghemat waktu.
Dicky mulai mengeluarkan motornya dari garasi mobilnya, motor yang sangat jarang di pakainya, apalagi setelah dia punya Alex.
Kemudian Dicky memakai helmnya dan mulai menyalakan mesin motor besarnya.
"Dokter mau kemana??" tanya Wina dari arah klinik karena dia takut Dicky akan lupa lagi seperti kemarin.
"Ada urusan sebentar!" sahut Dicky.
Tak lama Dicky sudah melajukan motornya keluar dari rumah nya, sementara Wina ketar ketir takut Dicky akan terlambat pulang.
__ADS_1
Setelah Dicky sudah sampai di area sekolah internasional itu, tiba-tiba ponselnya bergetar.
Dicky lalu menghentikan laju motornya dan mengambil ponselnya di saku celananya, kemudian dia mulai mengusap layar ponselnya itu.
"Halo!"
"Halo, selamat siang Tuan Muda, ini Mbok Jum!" ucap Mbok Jum yang ternyata menelepon Dicky itu.
"Ya Mbok, ada apa?" tanya Dicky.
"Nyonya kumat lagi Tuan Muda, sekarang separuh tubuhnya bahkan tidak bisa bergerak!" jawab Mbok Jum.
"Lho kok bisa? Bukankah waktu itu keadaan Ibu sudah membaik? Bahkan dia bisa datang ke acara resepsi Dimas!" tanya Dicky tak percaya.
"Entahlah Tuan, Mbok juga bingung, sekarang Dokter sedang memeriksa Nyonya, mungkin Nyonya akan di rawat inap Tuan, bisakah datang ke sini? Kasihan Nyonya Tuan muda!" pinta Mbok Jum.
Dicky terdiam beberapa saat lamanya, ada raut kecemasan yang terpancar di wajahnya.
Walau bagaimana, Ibu kandung nya saat ini sedang sakit, sebagai anak yang berbakti, Dicky harus mengutamakan Ibunya di atas segalanya.
Akhirnya Dicky mengurungkan niatnya untuk masuk ke sekolah internasional itu, dia berbalik arah dan kini kembali mengendarai motornya menuju ke rumah Bu Anjani.
Rumah itu masih nampak seperti biasa, sangat besar namun dingin dan menyimpan kesunyian dan kesepian.
Dicky melangkah masuk ke dalam rumah itu, setelah dia memarkirkan motornya di halaman depan.
Di ruang keluarga, terlihat Ken dan Keyla yang sedang terlibat dalam pembicaraan.
Mereka menghentikan obrolan mereka saat melihat Dicky masuk.
"Bang Dicky!? Sudah lama juga Bang Dicky tidak main ke sini, ini kan rumah Abang juga!" kata Ken.
"Ken, di mana Ibu? Apakah dia ada di kamarnya?" tanya Dicky.
"Iya Bang, tapi Bang Dicky tunggu di sini dulu, ada Dokter sedang memeriksanya!" sahut Ken.
"Ken, aku juga adalah Dokter, aku berhak masuk untuk melihat keadaan Ibu!" tukas Dicky yang langsung berjalan kembali menuju ke kamar Bu Anjani.
Mbok Jum nampak baru keluar dari kamar Bu Anjani, matanya merah seperti habis menangis.
Bersambung ...
****
__ADS_1