
Sore itu Dicky membereskan meja kerjanya, dia bersiap akan pulang ke rumahnya, karena siang tadi Fitri sudah meneleponnya.
Entah kenapa, Dicky ingin sekali meneguk segelas kopi hangat, yang dibuat oleh tangan istrinya itu.
Setelah Dicky selesai bertemu dengan tamu dari luar negeri seorang Doktor profesor untuk mengaplikasikan dunia kedokteran dengan teknologi, Dicky mulai belajar ilmu baru dalam dunia kedokteran.
Dicky kemudian mulai melangkahkan kakinya, keluar dari ruangan pribadinya itu, dia berjalan dengan cepat menyusuri koridor Rumah Sakit menuju ke arah lobby.
Matanya menangkap sosok yang keluar dari ruang praktek dokter ahli penyakit kelamin.
Dicky tertegun sesaat, sosok yang baru keluar dengan terburu-buru itu, seperti sangat familiar sekali, meskipun terlihat dari jarak yang jauh.
"Ken! Kenapa dia ada di sini? Bukannya dia ada di Jepang?? Dasar Jalangkung!" umpat Dicky.
Dia langsung berjalan menuju ke ruang praktek Dokter Bella, Dokter ahli penyakit kelamin, yang sudah bekerja di Rumah Sakit Dicky, selama hampir 10 tahun.
Perlahan Dicky membuka pintu ruangan itu, seorang Dokter wanita separuh baya tersenyum padanya.
"Selamat sore dokter Dicky, tumben sekali kau datang menjenguk aku di ruanganku, selama ini kau tidak pernah datang ke sini!" kata dokter Bella.
"Ah dokter Bella, Bukannya aku tak mau berkunjung, tapi aku tidak tahu harus mengkonsultasikan apa!" sahut Dicky.
"Sekarang kau datang ke sini, Apakah kelaminmu bermasalah? Apa kau merasakan sesuatu? sakit misalnya!" tanya Dokter Bella.
"Bu-bukan kelamin saya dokter, Saya kesini mau menanyakan yang baru saja Konsultasi sama Dokter, dia itu Ken sepupu saya dokter" jawab Dicky gugup.
"Oh ya ya, dia Ken sepupumu, ada apa kau menanyakannya? Ingat lho, siapapun dia, Pasien itu punya privasi!" ujar dokter Bella.
"Iya Dokter, aku tahu setiap pasien tanpa terkecuali, punya privasi di rumah sakit ini, tidak pandang dia sepupuku atau bukan, aku hanya ingin memastikan saja, kalau yang tadi datang ke sini itu, memang benar Ken sepupuku!" jelas Dicky.
__ADS_1
"Oh, memang dia Ken sepupumu dokter, dia memang baru datang ke sini, ada hal yang dia konsultasikan padaku!" ucap dokter Bella.
"Baiklah kalau begitu Dokter, terima kasih informasinya, kalau begitu aku mau pamit dulu, istri dan anak-anakku sudah menunggu di rumah!" pamit Dicky yang segera mulai beranjak dari tempat duduknya.
"Jadi kau masuk ke ruanganku, hanya untuk menanyakan itu saja dokter?" tanya Dokter Bella.
"Iya dokter, selamat sore!" jawab Dicky sambil melangkah keluar dari ruangan itu.
Sesampainya di parkiran, Dicky langsung naik ke dalam mobilnya, dan melajukan cepat menuju ke rumahnya.
Sepanjang perjalanan pulang dia terus berpikir, Kenapa Ken datang ke dokter Bella, apakah ada keluhan yang serius, sehingga dia datang berkonsultasi Pada dokter kelamin itu?
Sebenarnya Dicky hendak menanyakan nya langsung pada Dokter Bella, tapi dia juga harus menjaga kode etik kedokteran, setiap pasien punya privasi, dan Dicky harus menghormati itu, tapi di sisi lain Dicky juga penasaran apa yang terjadi dengan sepupunya itu.
hingga tak terasa, Dicky sudah sampai di pelataran parkiran rumah besarnya itu, dua orang anaknya, Alex dan Alena nampak berlari-lari kecil menyambut kedatangannya.
"Papa, Reino sudah pulang ke Jogjakarta, aku jadi bermain dengan Alena saja, rumah kita jadi sepi pa!" ujar Alex.
"Oh ya? Alex ingin rumah kita ramai ya? Nanti kita ajak Kak Dina dan Kak Dara nginep di sini ya?!" tanya Dicky.
"Iya Pa, tapi Kak Dina dan kak Dara kan sudah besar, terus mereka juga perempuan, aku tidak ada lawannya dong kalau mau main tembak-tembakan!" sahut Alex.
"Kalau begitu, yang jadi lawannya Alex ya Papa, nanti kita main tembak-tembakan ya, sekarang Papa mau ketemu mama dulu, soalnya mama sudah kangen sama papa!" ucap Dicky sambil menurunkan kedua anaknya itu ketika sudah sampai di ruang keluarga.
Bi Sumi dan Mbok Jum nampak sedang sibuk menyiapkan makan malam di meja makan, Alex dan Alena nampak kembali bermain dengan mainan mainannya yang banyak, yang berada di ruang keluarga itu.
"Eh, Pak Dokter sudah pulang, mau minum kopi Pak Dokter? Teh hangat atau susu hangat?" tanya Bi Sumi.
"Nanti saja Bi, biar Fitri yang membuatkannya untukku, oh ya, di mana istriku? Tumben dia tidak ada disini?" tanya Dicky.
__ADS_1
"Mbak Fitri sedang ada di kamarnya Pak, Mungkin dia baru mandi, tadi sih dia di sini membantu Bibi masak!" jawab Bi sumi.
Dicky hanya tersenyum, kemudian tanpa menunggu dia langsung menuju ke atas dan masuk kedalam kamarnya.
Fitri nampak duduk di depan meja rias, dia kelihatan baru selesai mandi, karena aroma sabun mandi memenuhi ruangan itu.
Dicky perlahan mendekati istrinya itu, dan langsung memeluknya dari belakang, mencium leher dan tengkuk Fitri, sehingga Fitri merinding kegelian.
"Papa sudah pulang? Kok lama sekali sih Pah? Bahkan Ini sudah mau maghrib lho!" ujar Fitri.
"Maafkan aku sayang, tadi aku mampir dulu ke ruangan dokter Bella, dokter ahli penyakit kelamin!" ucap Dicky. Fitri langsung melotot.
"Apa? Dokter kelamin? Memangnya senjatamu kenapa Pa? Kau sedang ada masalah? Kelihatannya baik-baik saja, malah semakin hari semakin kuat dan tahan lama!" tanya Fitri beruntun.
"Hei dengar dulu, tadi secara tidak sengaja, aku melihat si Ken keluar dari ruangan dokter Bella, ya karena aku kepo, aku masuk ke ruangan dokter Bella, dan aku tanya apa benar itu Ken, dan ternyata memang benar kalau itu si Ken!" jelas Dicky.
"Oh, hampir saja aku jantungan, membayangkan milik suamiku bermasalah, ngomong-ngomong bukannya si Ken ada di Jepang? Dia gampang sekali sih keluar masuk, kadang di Jepang kadang di Indonesia!" ujar Fitri.
"Sebenarnya aku malas berhubungan dengan dia, tapi aku penasaran juga, kenapa dia datang ke dokter Bella, jangan-jangan dia memang punya masalah pada alat vitalnya dan aku harus cari tahu itu!" kata Dicky.
"Waktu itu Dinda datang, sekedar sedikit curhat padaku, untung saja dia tidak jadi menikah dengan Ken, aku tidak bisa membayangkan, betapa Kasihannya Si Dinda kalau ternyata Ken punya penyakit kelamin!" ucap Fitri.
"Sudahlah sayang, kita lupakan saja masalah Ken, sekarang bisakah kamu membuatkan aku segelas kopi hangat? Entah kenapa, tiba-tiba aku ingin minum kopi, sambil mengobrol denganmu di balkon kamar kita!" bisik Dicky.
Fitri menganggukkan kepalanya, setelah itu dia beranjak dari tempatnya dan langsung keluar dari kamarnya menuju ke dapur, mulai membuatkan kopi hangat untuk suaminya itu.
Bersambung ....
****
__ADS_1