
Dicky terkesiap melihat namanya ada di setiap media sosial pagi ini, namanya kini menjadi perbincangan publik.
Bu Anjani telah mengadakan jumpa pers, mengumumkan bahwa Dokter Dicky Pradita adalah anak kandung dari Ibu Anjani, pemilik tunggal Rumah sakit berlian, yang akan mewarisi rumah sakit tersebut.
Banyak komentar yang langsung bertebaran bagaikan bintang di langit. Ada yang mendukung, tetapi banyak juga yang mempertanyakan.
Selama ini, di hadapan publik, Bu Anjani selalu mengatakan jika putranya hilang entah kemana, hal itu di lakukan nya untuk menyembunyikan keberadaan Dicky.
Tapi hari ini, dengan gamblang Bu Anjani mengatakan bahwa Dokter Dicky Pradita adalah putra tunggalnya.
Walaupun banyak yang senang mendengar kabar ini, namun tidak sedikit yang tidak mempercayai berita ini, bahkan mengatakan kalau berita itu hoak.
"Fitri, aku tidak menyangka berita ini akan menjadi trending topik, semua media memberitakan ini, aku jadi bingung harus bagaimana!" gumam Dicky.
"Aku juga bingung Mas, tapi sebaiknya kau berangkat saja ke rumah sakit, bersikaplah biasa saja, kau adalah putra Bu Anjani itu adalah suratan takdir yang tidak bisa di pungkiri lagi!" ucap Fitri sambil mengelus wajah Dicky.
"Baiklah sayang, aku berangkat ya, sini cium aku dulu biar semangat!" Dicky menyodorkan wajahnya.
Fitri lalu berjinjit dan mengecup pipi dan bibir Dicky dengan lembut.
Dicky kemudian mulai masuk ke dalam mobilnya lalu melajukan mobilnya itu meninggalkan rumahnya.
Fitri lalu segera kembali masuk ke dalam rumah.
"Fitriiii!!" terdengar teriakan Bu Eni dari arah ruang keluarga.
Fitri langsung berjalan cepat menuju ruang keluarga itu, Pak Karta dan Bi Sumi juga kelihatan kaget mendengar teriakan Bu Eni yang menggelegar bagaikan petir.
"Ada apa Bu??" tanya Fitri.
"Iya nih! Pagi-pagi sudah bikin ribut saja!" sungut Pak Karta.
"Tuh lihat berita di televisi, masa ada konglomerat yang ngaku ibunya Dicky mantu Ibu? Kalau ini benar, berati Ibu punya besan sultan nih, konglomerat!!" seru Bu Eni bangga.
"Masa sih Pak Dokter punya Ibu kandung?" tanya Bi Sumi tak percaya.
"Iya, memang benar Mas Dicky punya Ibu kandung, namanya Bu Anjani, dia adalah pemilik rumah sakit tempat di mana Mas Dicky bekerja, mereka juga baru bertemu setelah bertahun-tahun lamanya terpisah!" ucap Fitri jujur.
"Waahhh, mudah-mudahan teman-teman Ibu di kampung semua pada nonton tv deh, biar Ibu bisa pamer dan sombong nih!" ujar Bu Eni.
"Hush Ibu! Awas saja kalau berani sombong! Bapak bakalan marah sama Ibu!" ancam Pak Karta.
__ADS_1
"Dih Bapak, bawaannya sirik terus, padahal dalam hatinya juga senang tuh, punya mantu anaknya sultan konglomerat, dasar muna!" sungut Bu Eni.
"Siapa tuh Muna?" tanya Pak Karta bingung.
"Itu, Munaroh anak Betawi!" sahut Bu Eni sewot, dia lalu berjalan meninggalkan ruangan itu dengan hati dongkol.
****
Dicky tertegun heran ketika dia sampai di parkiran rumah sakit, begitu banyak wartawan dan media yang menunggu di rumah sakit itu, Dicky jadi mengurungkan niatnya untuk turun dari dalam mobilnya.
"Alamak!! Kenapa banyak sekali wartawan bertebaran di sini?! Harus telepon Dimas ini!' gumam Dicky.
Dicky lalu merogoh ponselnya dan langsung menelepon Dimas untuk meminta bantuan.
"Halo!"
"Dimas, kenapa di rumah sakit banyak sekali wartawan dan media?" tanya Dicky.
"Kan sudah ku bilang tadi, sekarang kau dan Bu Anjani sedang menjadi perbincangan publik, bahkan ada stasiun televisi yang ingin mewawancarai mu secara ekslusif!" jawab Dimas.
"Lalu bagaimana caraku masuk ke dalam? Aku takut di serbu wartawan ini?" tanya Dicky cemas.
"Jangankan di parkiran, di depan ruanganmu juga sudah banyak wartawan berkumpul, namanya juga berita tak terduga yang selama ini tak di ketahui publik, sekalinya terbuka ya begini akibatnya!" ujar Dimas.
"Jangan Bro! Mereka pasti akan mengejar mu, lebih baik kau turun saja dari mobilmu, jangan lupa pakai jaket, masker dan kaca mata hitam, di jamin tak akan ada yang mengenalimu!" usul Dimas.
"Baiklah, aku akan ikuti saran mu, nanti aku sembunyi di ruanganmu dulu ya, aku belum siap di wancara ini, aku bukan artis kok!" ujar Dicky.
"Ya sudah deh! Aku tunggu!" sahut Dimas sebelum mematikan ponselnya.
Dicky lalu menyambar jaketnya yang ada di jok belakang, dia mengambil juga kacamata hitam di laci mobilnya, dan memakai masker yang setiap hari di bawanya.
Kemudian perlahan Dicky turun dari mobilnya dan berjalan di antara kerumunan orang-orang yang sangat ingin mewawancarainya itu.
Dengan berjalan cepat dan setengah berlari, akhirnya Dicky sampai juga di ruangan Dimas.
Nafasnya tersengal-sengal seperti habis di kejar setan.
"Hufft! Untung saja aku bisa kesini, kalau tidak, entah apa yang terjadi padaku!" gumam Dicky sambil menyeka keringat yang membasahi dahinya.
"Eh Bro, sekarang semua orang di rumah sakit ini sudah tau siapa kau yang sebenarnya, siap-siap deh Dokter Dicky Pradita tidak lagi jadi kepala rumah sakit ini, tapi jadi pemilik!" ledek Dimas.
__ADS_1
"Kau bisa saja Dim, aku juga harus belajar membuka mata untuk kenyataan hidupku ini, kalau memang Bu Anjani itu adalah ibu kandungku, aku tidak bisa menyangkalnya lagi!" ucap Dicky.
"Hmm, kau beruntung sekali Bro, kalau aku jadi dirimu, aku tak akan lagi praktek, tinggal terima uang omset setiap hari, dan semua orang akan menghormatiku!" goda Dimas.
Ceklek!
Seorang perawat masuk ke dalam ruangan itu.
"Selamat lagi Dokter Dimas, jadwal praktek tinggal 10 menit lagi ya Dok!" kata Perawat itu.
Dimas hanya menganggukan kepalanya, kemudian menoleh ke arah Dicky.
"Sorry Bro, sepertinya kau harus keluar dari ruanganku!" kata Dimas sambil tersenyum.
"Ya ya ... aku keluar sekarang!" sahut Dicky kesal.
Dicky kemudian keluar dari ruangan Dimas, pasrah jika harus bertemu dengan wartawan yang akan mewawancarainya.
Tapi aneh, saat Dicky keluar, tidak ada satupun wartawan yang ada di situ, kemana perginya mereka?
Dicky lalu berjalan menuju ke ruangannya, di sana juga tidak ada wartawan, suasana berubah menjadi sepi.
Dicky membuka pintu ruangannya itu, Bu Anjani sudah duduk menunggunya di sana sambil tersenyum.
"Ibu?" tanya Dicky bingung.
"Duduklah Nak, mulai hari ini, ruangan ini sudah bukan kau yang menempatinya lagi, akan ada Dokter anak yang lain yang akan menempati ruangan ini!" ucap Bu Anjani.
"Tapi kenapa Bu?" tanya Dicky lagi.
"Karena mulai saat ini, kau adalah pemilik dari rumah sakit ini, sebenarnya pemilik tidak ada ruangan khusus, dia hanya memantau dan melihat saja, tapi karena kau suka melayani pasien, Ibu sudah membuat ruangan khusus owner, nanti kita akan sama-sama melihatnya!" ucap Bu Anjani.
"Tapi Bu, Ibu yang lebih layak untuk jadi pemilik rumah sakit ini, bukan aku Bu!" tukas Dicky.
"Tidak, ini adalah amanat dari ayahmu Nak, tugas Ibu sudah selesai!" jawab Bu Anjani sambil menatap lembut wajah Dicky.
Bersambung ...
****
Hai guys ...
__ADS_1
Banyak yang menanyakan apakah Dicky dan Dave itu saudara kembar?
Jawabannya adalah mereka bukan saudara kembar, hanya kebetulan mereka memiliki wajah yang mirip.