
Sinar matahari pagi menerpa setiap wajah di pemakaman itu, pemakaman yang mulai di tinggalkan pelayat satu demi satu.
Dicky masih terpekur menatap makam yang masih basah itu, taburan bunga memenuhi pusara Ranti yang pagi ini langsung di makamkan.
Sesuai janji, Dicky mengantar Ranti sampai tempat peristirahatannya yang terakhir.
Sejak kedatangannya dari rumah ke rumah sakit, sampai ke pemakaman, Fitri diam saja tanpa bertanya atau bicara apapun.
Dia mencoba memahami apa yang saat ini suaminya rasakan, walau di masa hidupnya Ranti pernah bersikap buruk, namun sebelum itu mereka pernah terikat dalam satu hubungan yang saling mencintai.
Kini Ranti sudah benar-benar pergi, dia pergi dan tidak akan pernah kembali lagi.
Dio juga nampak terus bersimpuh di sisi makam itu, menangis dan memeluk nisan itu.
Ranti pergi dengan menorehkan luka di hati Dio dan Chika, Dio yang kini telah resmi menjadi duda beranak satu.
Dio yang sudah tidak percaya lagi akan cinta, karena dia tidak pernah merasakan kalau cinta itu indah, dia tidak perrnah tau bagaimana rasanya di cintai dengan tulus oleh seorang wanita.
Seorang baby sitter datang menghampiri makam itu menuntun seorang anak perempuan yang cantik.
"Pak, Chika tidak mau pulang, katanya mau sama Bapak!" kata baby sitter itu.
Dio menengadahkan wajahnya, matanya terlihat merah, kemudian dia meraih Chika dalam pelukannya.
"Pa, Mama mana Pa! Aku mau sama Mama Pa!" rengek Chika yang belum menyadari apa itu kehilangan dan kematian.
"Mama sudah pergi Nak, Tapi Chika jangan takut, ada Papa yang selalu menjaga Chika!" bisik Dio.
"Tidak!! Biasanya kan Mama boboan di rumah sakit, biasanya aku selalu lihat Mama, sekarang kenapa tidak ada Mama mana, mana Papa!!" jerit Chika.
Anak itu mulai menangis dan merajuk, mengundang perhatian orang-orang di sekitar situ.
Dio berusaha untuk mendekapnya, tapi Chika malah guling-gulingan di atas makam.
"Mamaa!!!" Chika terus berteriak memanggil Mamanya.
Dio nampak menangis sambil memukul tubuhnya sendiri, laki-laki itu kelihatan sangat rapuh.
Baby sitter nya berusaha untuk menenangkan Chika. Anak itu jadi sulit untuk di kendalikan.
Dicky dan Fitri yang masih berada di situ sangat miris melihat kejadian di depan matanya.
Kemudian Dicky maju dan mendekati Chika yang masih menangis, rambut dan pakaiannya kotor terkena tanah makam.
"Chika sayang, anak pintar tidak boleh menangis, walaupun Mama sudah tidak ada, tapi Chika punya Papa yang hebat, yang akan menjaga dan melindungi Chika.
Anak itu menangis dalam pelukan Dicky, Fitri juga menangis membayangkan jikalau anak-anaknya ada di posisi Chika, tentulah hatinya akan menjadi hancur.
"Om, Om kan Dokter, kenapa tidak bisa sembuhkan Mama??" tanya Chika sambil terisak menatap Dicky.
Dicky terhenyak mendengar pertanyaan anak yang belum genap berusia empat tahun itu.
Pertanyaan yang sangat jarang sekali di lontarkan oleh anak seusia Chika.
__ADS_1
"Chika, manusia itu, tidak selamanya akan hidup di dunia, dia bisa pergi kapan pun, mungkin saat ini Mama Chika yang pergi, siaoabyau besok Om Dokter yang pergi, Dokter itu hanya membantu sayang, tidak bisa menyembuhkan orang, hanya Tuhan yang bisa menyembuhkan!" ucap Dicky.
"Kalau begitu, Tuhan jahat dong! Dia sudah ambil Mamaku!" cetus Chika.
"Bukan begitu sayang, Chika kan tau Mama Chika sakit, karena Tuhan tidak ingin Mama Chika sakit lama, Tuhan panggil deh ke surga, jadi Mama Chika tidak sakit lagi!" jelas Dicky.
"Sudahlah Dokter, tak akan ada habisnya kau menjawab pertanyaan Chika, dia masih terlalu kecil untuk mengerti semua ini!" ucap Dio sambil mengusap wajahnya.
Dia kemudian berdiri, lalu merogoh sesuatu di saku celananya.
Hari sudah semakin siang, dan makam itu telah benar-benar sepi.
"Di tangan Ranti saat meninggal, aku menemukan ini!" kata Dio sambil menyodorkan secarik kertas yang sudah usang dan lecek ke arah Dicky.
Dicky menerima kertas itu, tangannya bergetar saat melihat dan mengenali kertas itu.
Itu adalah surat terakhirnya yang di kirim nya untuk Ranti, saat jiwanya terluka, setelah Ranti memutuskan untuk menikah dengan Dio.
Dio yang sedih dan hancur mulai menggendong Chika dan berjalan meninggalkan makam itu.
Dicky masih berdiri dan perlahan membuka kertas itu, itu adalah kertas miliknya dulu, berisi sebuah puisi untuk Ranti.
Fitri membiarkan saja Dicky larut dalam suasana masa lalunya yang solah seperti video siaran ulang, mencoba tetap berdiri di sampingnya tanpa goyah.
Berulang kali ku mencoba,
Membujuk hati, lupakan semua kenangan.
Namun mimpi bertemu lagi
Ku berpegang pada janji,
Tercipta, antara kita dulu ...
Hilang mu tiada berganti ...
Biarlah begini
Ku berlayar di lautan tidak bertepian,
Sesekali di sadarkan, ombak yang menghadang ...
Aku seperti hilang ...
Puncak arah dan tujuan
Aku puisikan namamu
Bersama rindu, di dalam sendu...
Dicky membaca kembali puisi yang di tulisnya sambil meneteskan air matanya.
Fitri juga membaca puisi itu, puisi yang berisi tentang ungkapan hati yang. kehilangan kekasih.
__ADS_1
Tanpa sadar Fitri juga menangis, dia baru menyadari bahwa dulu Dicky pernah sangat dalam mencintai seorang wanita.
"Aku tidak menyangka, Mas Dicky bisa seromantis ini!" ucap Fitri saat Dicky selesai membaca surat kenangan lamanya.
"Itu hanya masa lalu Fit!" sahut Dicky.
"Kata orang, cinta pertama itu sulit untuk di lupakan, akan selalu di kenang sepanjang masa!" ungkap Fitri.
"Yah, mungkin kau benar, tapi cinta sejati, itu yang akan bertahan sampai masa depan nanti!" ucap Dicky sambil merangkul Fitri melangkah meninggalkan makam itu.
"Kenapa dulu Mas Dicky tidak mengejar cinta pertama Mas Dicky?" tanya Fitri.
"Dulu apalah arti seorang Dicky, hanya mahasiswa kedokteran biasa yang belum tau masa depan, tidak punya apapun yang di banggakan, sejak dulu orang tua Ranti tidak pernah merestui kami, apalagi mereka tau kalau aku ini anak panti asuhan!" jawab Dicky.
"Aku ... aku cemburu pada masa lalu mu Mas ..." ucap Fitri lirih yang tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya.
"Kenapa kau harus cemburu pada masa lalu? Apalagi masa lalu itu kini sudah benar-benar hilang dan pergi!" tanya Dicky.
"Apa Mas Dicky tau, siapa cinta pertama ku?" tanya Fitri balik.
"Agus!" tebak Dicky.
"Salah!"
"Lalu siapa? Yang aku tau kan mantanmu itu cuma si Agus sontoloyo itu!" ujar Dicky.
"Dulu aku terima begitu saja saat Agus menyatakan cinta padaku, padahal dalam hatiku, aku tidak pernah mencintai Agus!" jawab Fitri.
"Lalu, siapa cinta pertamamu??" tanya Dicky.
"Mas Dicky!" jawab Fitri.
"Aku??"
"Iya, Mas Dokter Dicky!" tegas Fitri.
"Ah, kenapa aku yang jadi cinta pertamamu?"
"Saat aku melihat ketulusan dan kelembutan hatimu, saat itu aku jatuh cinta padamu, seolah kau adalah mujizat yang di kirimkan Tuhan untukku!" ucap Fitri.
Dicky menghentikan langkahnya, di tatapnya dalam wajah Fitri, kemudian dengan perlahan Dicky mengecup bibir Fitri.
Kecupan itu sangat lembut dan hangat, membuat Fitri semakin dalam jatuh dalam perasaan cinta nya pada suaminya itu.
"Terimakasih sudah mencintaiku!" bisik Dicky sambil terus mengecup bibir Fitri.
Bersambung ...
****
Note : Kisah ini akan berakhir kalau tidak di akhir tahun 2021 di awal tahun 2022 ya guys ...
Akan segera di rilis kisah yang baru ya, jangan lupa tetap dukung authornya.
__ADS_1
Oya, untuk puisi Dicky yang tadi, sebenarnya itu adalah lagu dari Malaysia yang di nyanyikan oleh penyanyi yang bernama Ella, judulnya Berlayar ke lautan tidak bertepian.
Kalau kepo bisa liat di YouTube lagunya hehe.