Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Kedatangan Orang Tua Fitri


__ADS_3

Siang itu sepulang mengajar, Fitri cepat-cepat menuntun Dara menuju ke parkiran.


Mang Salim sudah menunggunya di sana, siang ini Bu Eni dan Pak Karta akan datang, jadi Fitri tidak mau berlama-lama ada di sekolah.


"Kita langsung pulang ke rumah ya Mang!" kata Fitri saat sudah naik ke dalam mobilnya.


"Siap Mbak!" sahut Mang Salim.


Mobil itupun segera meluncur ke rumah.


Sekitar 30 menit perjalanan, mereka sudah sampai di depan gerbang rumah Dicky.


Beberapa kendaraan masih nampak terparkir di depan klinik, menandakan masih ada beberapa antrian pasien, padahal ini adalah jam istirahat siang untuk Dicky dan suster Wina.


Fitri langsung bergegas masuk ke dalam rumahnya, tanpa ingin mengganggu aktifitas suaminya yang masih sibuk mengurusi pasien.


Bi Sumi terlihat sibuk menata hidangan makan siang di meja makan, sejak pagi Fitri sudah meminta Bi Sumi memasak lebih banyak dari biasanya, karena orang tuanya akan datang dari kampung.


Alex nampak tertidur di sebuah box bayi yang tidak jauh dari ruang makan, jadi sambil bekerja, Bi Sumi masih bisa mengawasi Alex yang kini sedang aktif-aktifnya.


"Makan siang sudah siap ya Bi?" tanya Fitri.


"Siap Mbak! Tinggal es buahnya saja yang belum di taruh di meja, nanti sebentar saya taruh!" jawab Bi Sumi.


"Itu pasien di depan masih banyak Bi?" tanya Fitri.


"Iya tuh Mbak, kasihan juga Pak Dokter dari pagi belum istirahat, itu pasien jadi tambah banyak karena dari mulut ke mulut! Pelayanan Dokter Dicky memuaskan katanya!" jawab Bi Sumi.


"Syukurlah, pekerjaan Mas Dicky memang sangat mulia, walaupun tidak mematok harga, ada saja rejeki dari pasien!" ucap Fitri.


Dia mulai mengangkat Alex yang baru terbangun itu dari dalam boxnya, kemudian di ciumnya bayi lucu itu beberapa kali.


"Mama kangen sama Alex, anak pintar, tidak rewel ya hari ini, Alex hebat, Alex pintar!" ucap Fitri sambil terus menciumi pipi Alex.


Bayi itu tertawa dan terlihat senang saat membuka mata sudah ada di pelukan Mamanya.


"Mam mam mam ... mam!" terdengar celotehan tak jelas dari mulut mungil Alex.


"Alex mau apa sayang? Mau mamam? Atau panggil Mama?" tanya Fitri.


Tin ... Tin ... Tin

__ADS_1


Terdengar suara klakson mobil, Fitri lalu segera berjalan ke arah depan, mobil Pak Karta sudah terparkir manis di depan gerbang rumah itu, di samping klinik.


Fitri berjalan ke arah gerbang, menyambut kedatangan kedua orang tuanya.


"Wah, lama tidak ke sini, sudah ada klinik saja di depan rumah, hebat si Dicky euy!" puji Bu Eni saat turun dari dalam mobilnya.


"Ya hebat lah, mantu kita memang luar biasa!" tambah Pak Karta.


"Mana pasiennya banyak lagi, duh, uangnya juga pasti banyak itu, Ibu pikir kalian bangkrut beneran, karena tidak dapat tunjangan lagi dari rumah sakit!" ujar Bu Eni sambil menenteng beberapa Katsir oleh-okeh dan tas nya.


"Mas Dicky lebih suka kerja mandiri Bu!" sahut Fitri yang membantu Ibunya membawakan barang.


Setelah itu Pak Karta juga membuka bagasi dan membawa sekarung beras dan sekarung petai hasil panen.


"Pak, Bu, kita makan siang sama-sama ya!" ajak Fitri yang langsung masuk ke ruang tamu.


Pak Karta dan Bu Eni nampak duduk dan Istirahat di ruang tamu tersebut.


"Nanti saja Fit, tunggu suamimu selesai bekerja, lagi pula kami tidak terlalu lapar kok!" jawab Pak Karta.


Tak lama kemudian, Dicky muncul bersama dengan suster Wina, mereka baru saja selesai praktek dan menutup klinik sementara untuk beristirahat.


"Wah, selamat siang Pak Bu, sudah lama sampai?" Dicky langsung menyalami kedua orang tua Fitri lalu duduk bergabung dengan mereka.


"Ini siapa ada suster di sini?" tanya Bu Eni sambil menoleh ke arah Wina.


"Oh, ini suster Wina Bu, asistennya Mas Dicky!" jawab Fitri.


"Asisten itu sama seperti sekertaris ya?" tanya Bu Eni lagi.


"Iya Bu!" sahut Fitri.


"Tidak boleh! Walau bagaimana dia itu perempuan kan! Tidak boleh bekerja sama-sama mantuku, nanti bisa jadi ada setan yang lewat dan menggoda!" sergah Bu Eni.


"Ibu apaan sih??!" sergah Pak Karta.


"Bu, Suster Wina ini yang membantu Mas Dicky memeriksa pasien, kalau tidak ada suster, Mas Dicky akan kewalahan sendirian Bu!" jelas Fitri.


"Ya tapi tetap saja, apa tidak ada yang lain nya? Apa harus mereka berdua??" tanya Bu Eni.


"Ibu tenang saja, nanti aku akan mencari suster yang lain untuk teman suster Wina, supaya tidak bekerja berdua saja!" ucap Dicky.

__ADS_1


"Nah! Itu baru cakep!" Bu Eni mengacungkan kedua jempolnya.


"Kalau begitu tunggu apa lagi, yuk kita makan sama-sama, makanan sudah siap dari tadi!" ajak Fitri.


Mereka kemudian makan bersama di meja makan besar itu.


"Bu, Pak, apa yang kalian ingin bicarakan padaku?" tanya Fitri di sela-sela makannya.


"Jangan di sini Fit, nanti saja setelah kalian selesai beraktifitas, lagi pula ini sesuatu yang sangat penting, tidak baik di bicarakan di tempat umum begini!" sergah Bu Eni.


"Baiklah, nanti saja setelah makan malam!" ujar Fitri.


Bu Eni dan Pak Karta nampak diam tidak bicara apa-apa lagi.


Setelah selesai makan siang, Wina segera kembali ke klinik karena dia tidak enak dengan Pak Karta dan Bu Eni.


"Bapak dan Ibu istirahat saja di kamar tamu, kalau butuh apapun jangan sungkan bilang padaku!" ucap Dicky.


"Baik Nak, kau juga istirahatlah, kasihan kau juga terlihat lelah bekerja!" sahut pak Karta.


"Itu sudah biasa Pak, supaya istri dan anak-anak tau, ini adalah keringat suami untuk menafkahi keluarga, dan aku bahagia bisa melakukan itu untuk keluargaku!" ucap Dicky.


"Duh, tambah sayang Ibu sama kamu Nak, andai saja Ibumu punya hati sepertimu, tambah sempurnalah hidupmu!" kata Bu Eni.


"Bu, katakanlah padaku, apa Ibu ku pernah menyakiti hatimu?" tanya Dicky.


Untuk beberapa saat lamanya Bu Eni terdiam.


Tiba-tiba dia teringat saat sebelum dia memutuskan untuk pulang kampung dan pergi dari rumah Bu Anjani.


Bu Anjani pernah menyodorkan sejumlah uang untuk Bu Eni, asal saja Bu Eni segera pulang kampung dan jangan pernah datang lagi.


Tentu saja Bu Eni menolak uang pemberian Bu Anjani, walaupun Bu Eni sangat suka uang dan perhiasan, tapi dia tidak mau menerima sepeserpun uang yang membuat dia kehilangan harga dirinya.


Bu Eni sangat sakit hati saat itu, walau bagaimana, Fitri dan Alex cucunya ada di rumah itu.


Namun Bu Eni menyimpan semua kejadian itu di dalam hatinya, tak pernah dia menceritakan kepada siapapun termasuk pada Fitri anaknya.


"Atas nama Ibuku, aku minta maaf jika Ibu ku pernah menyakiti hati Ibu!" ucap Dicky tiba-tiba membuyarkan lamunan Bu Eni.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2