
Fitri membuka tirai jendela pagi itu, matahari pagi sudah menerobos masuk dari jendela ruang perawatan Dicky.
Cahaya hangatnya mulai menyinari wajah Dicky yang masih berbaring sambil memejamkan matanya.
Pagi ini Fitri berencana akan pulang ke rumah, karena dia sudah meninggalkan Alex semalaman.
"Good morning sayang!" ucap Fitri sambil mengecup lembut bibir Dicky yang masih memejamkan matanya.
"Hmmh, siapa ini pagi-pagi sudah memberikan ciuman hangat? Membuat orang kecanduan saja!" sungut Dicky sambil mengerjapkan matanya.
"Kau tidur nyenyak sekali, aku tidak tega membangunkan mu!" kata Fitri.
"Ibu mana Fit? Tumben aku tidak mendengar suaranya pagi ini, biasanya dia sudah berkicau!" tanya Dicky.
"Aku juga tidak tau Mas, sejak pagi Ibu sudah tidak ada!" jawab Fitri.
"Aduh, jangan sampai dia di hipnotis lagi atau membuat hal yang aneh!" gumam Dicky.
"Mas Dicky, aku harus pulang mas, aku kepikiran Alex, takut persediaan ASI nya habis!" ujar Fitri.
Dicky menatap Fitri dengan tatapan sendu, seolah berat untuk di tinggalkan istrinya itu, namun saat dia ingat Alex, mau tidak mau Dicky harus melepaskan Fitri untuk pulang.
Ceklek!
Bu Eni tiba-tiba masuk sambil membawa satu kantong sarapan pagi.
"Wah, kalian sudah bangun, ini lihat, Ibu bawa banyak makanan untuk sarapan, ada bubur ayam, ada nasi uduk, ada lontong sayur, kalian tinggal pilih deh!" kata Bu Eni sambil membuka bungkusan plastik yang di bawanya.
"Duh Ibu, banyak sekali sih beli makanannya, lagian aku juga harus pulang Bu, kasihan Alex!" tukas Fitri.
"Yah Fitri, jadi Ibu di sini lagi nih nungguin mantu ganteng??" tanya Bu Eni.
"Kalau Ibu mau ikut Fitri pulang tidak apa-apa Bu, aku di sini tidak masalah, ada Dokter dan Suster yang akan menjagaku!" sahut Dicky.
"Wah, kalau begitu Ibu tidak rela, nanti Fitri dan Ibu tidak ada, kamu di goda suster genit lagi! Enak saja! Sudah deh, Ibu di sini saja menjaga Nak Dicky!" ujar Bu Eni.
"Ibu apaan sih? Siapa juga yang mau menggoda Mas Dicky!" sungut Fitri.
"Ya sudah, kalau Ibu mau di sini menjagaku, tentu saja boleh dengan senang hati!" sergah Dicky.
__ADS_1
"Nah bagus! Di jamin tidak ada suster yang modus! Sekarang ayo makan dulu!" Bu Eni langsung menyodorkan makanan ke arah Fitri.
Mau tidak mau Fitri langsung menyantap makanannya, setelah selesai dia langsung pamit kembali pulang ke rumah.
Giliran Dicky yang kini di suapi oleh Bu Eni.
"Nih kalau buat mantu ganteng, Bubur ayam saja ya, sini Ibu suapi Nak!" Bu Eni segera mendekat ke arah Dicky dan mulai menyuapi menantu kesayangan nya itu.
"Terimakasih Bu!" ucap Dicky saat Bu Eni menyuapinya.
"Iya Nak, makan yang banyak ya, biar kau bisa cepat pulih dan sehat, bisa main sama Alex dan kembali bekerja, setelah sarapan di minum obatnya ya Nak!" ucap Bu Eni lembut. Dicky menganggukan kepalanya.
Dalam hati Dicky amat bersyukur, walaupun mertuanya kadang kampungan dan menyebalkan, tapi dia punya hati yang tulus dan penyayang.
Terbukti dengan Pak Karta yang selalu setia mendampinginya, dan menjaga pernikahan mereka tetap langgeng di usia senja.
"Aku mau belajar banyak dari Ibu dan Bapak!" ucap Dicky.
"Mau belajar apa? Belajar bagaimana mencangkul? Atau cara membuat semur jengkol?" tanya Bu Eni.
"Belajar saling setia dan menjaga hati, juga tetap harmonis sampai rambut memutih, seperti Ibu dan Bapak!" jawab Dicky.
****
Fitri langsung berjalan masuk ke dalam gerbang rumah besar itu saat sudah tiba di tempat.
Alex nampak sedang berjemur bersama dengan Bi Sumi di taman samping rumah itu, Mbok Jum nampak duduk di sebelah Bi Sumi, Fitri langsung beranjak mendekati mereka.
"Wah, jam segini Alex sudah berjemur saja!" ujar Fitri. BI Sumi dan Mbok Jum menoleh ke arah Fitri.
"Mbak Fitri sudah pulang? Alex anteng lho, semalam tidak rewel sama sekali, dia pinter, tau saja kalau Papanya sedang sakit!" kata Bi Sumi.
"Sini Bi, berikan Alex padaku, aku sudah kangen!" Fitri mengangkat Alex dalam gendongannya dan menciumi bayi mungil itu.
"Mbok Jum kapan sampai?" tanya Fitri.
"Subuh tadi Mbak, pulang-pulang langsung di suguhi dengan berita tentang rumah ini, kami semua benar-benar tidak menyangka, si Bram itu bisa bersekongkol dengan Nyonya Arini, setelah melihat kamar mereka, benar-benar mengerikan!" sahut Mbok Jum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Memangnya sejak dulu Mbok Jum tidak curiga? Aku saja yang baru tinggal di sini sudah menemui hal yang aneh, terutama soal tidur cepat!" tanya Fitri.
__ADS_1
"Sudah lama Mbok curiga, cuma saat itu tidak ada yang seberani kamu Mbak, masuk ke dalam kamar dan membongkar semuanya!" sahut Mbok Jum.
"Termasuk pemberian obat tidur itu??" tanya Fitri.
"Menurut para pelayan, satu-satunya pelayan yang dekat dengan si Bram itu ya cuma Isah, dan ternyata dia yang selama ini menaruh obat tidur di makan malam kami!" jawab Mbok Jum.
"Sudahlah, yang penting sekarang semua sudah terungkap, termasuk harta Nyonya Anjani yang di rampok secara halus, mereka sudah menerima ganjarannya!" tukas Bi Sumi.
"Dan sekarang, Nyonya Anjani tidak lagi memakai banyak pelayan di rumah ini, hanya tinggal kita berdua Sumi, dan ini lebih baik daripada sebelumnya!" ujar Mbok Jum.
"Mbok, ada yang ingin aku tanyakan!" kata Fitri tiba-tiba.
"Katakan saja Mbak Fitri!" sahut Mbok Jum.
"Saat Bu Anjani menjenguk Mas Dicky dari jauh saat kecil, apakah Pak Bram dan Bu Arini juga tau kalau Mas Dicky masih hidup?" tanya Fitri..
"Tidak ada yang tau keberadaan Dokter Dicky, yang tau dia masih hidup hanya Nyonya Anjani sendiri, saya dan almarhum Tuan Rahmat!" jawab Mbok Jum.
"Ooooh!" Fitri mengangguk-anggukan kepalanya.
"Apakah sekarang Ibu sudah pulang?" tanya Fitri.
"Sudah, beliau sedang beristirahat di kamarnya!" jawab Bi Sumi.
Matahari sudah kian tinggi, hawa hangatnya berubah menjadi agak panas, Fitri menutupi tubuh Alex dengan selimut.
"Sudah yuk, sudah lama Alex berjemur, dia sudah gelisah mau minta susu!" ujar Fitri.
"Ayo deh, berhubung Mbak Fitri sudah sama Alex, Bibi mau masak dulu membantu Mbok Jum!" kata Bi Sumi.
"Yess, akhirnya merasakan masakan Bi Sumi lagi!" seru Fitri senang.
Mereka kemudian mulai beranjak dari taman itu, hendak kembali masuk ke dalam rumah.
Di ruang keluarga, Bu Anjani nampak sedang mengobrol dengan seseorang, Fitri tersenyum melihat siapa orang yang mengobrol akrab dengan Bu Anjani.
Bersambung ...
****
__ADS_1