
Dicky menggandeng Fitri masuk ke dalam sebuah kamar hotel VIP, di kamar itulah mereka akan bermalam dan kembali memadu kasih, menikmati malam pertama yang tidak pernah mereka lakukan dulu.
Aroma bunga harum semerbak memenuhi kamar itu, taburan bunga mawar dan melati terukir indah di lantai sampai ke atas tempat tidur yang berukuran besar dengan sebuah dekorasi yang persis seperti kamar pengantin.
Fitri terkesiap melihat kamar mewah yang di desain seperti itu, matanya berbinar bahagia dan sebuah senyuman tersungging dari bibirnya.
"Bagaimana sayang? Kau suka dekorasinya?" tanya Dicky.
"Wah, suka sekali Mas, ini semua kau yang merancangnya?"
"Iya dong Fit, aku kan juga ingin merasakan malam pertama seperti pengantin baru pada umumnya, dulu kita bahkan tidak tidur seranjang!" ungkap Dicky.
"Mas Dicky memang paling bisa! Aku bingung mau berkata apa lagi Mas!" sahut Fitri.
"Kau tidak perlu mengatakan apapun Fit, cukup katakan kalau kau sangat mencintai aku, seumur hidupmu, kita akan menua bersama, menjalani hari-hari kita yang penuh dengan kebahagiaan!" bisik Dicky.
Seluruh bulu kuduk Fitri meremang seketika.
Dicky mulai masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian, sementara Fitri duduk di sofa sambil menikmati secangkir teh hangat yang sudah tersedia di kamar itu.
Tak lama kemudian Dicky sudah keluar dengan mengenakan piyama, dia langsung duduk di samping Fitri sambil menyodorkan sesuatu.
"Sekarang giliranmu Fit, kau mandi yang wangi ya, dan pakailah ini!" ucap Dicky.
"Apa ini Mas?" tanya Fitri.
"Itu, namanya lingerie, pakaian tidur yang transparan, aku sangat ingin menikmati mu malam ini Fit!" jawab Dicky.
"Tapi Mas, perutku gendut begini tidak pantas memakai pakaian itu!" sergah Fitri.
"Siapa yang bilang tidak pantas? Hanya aku yang melihatnya, ayolah Fit, aku sangat ingin, sudah sejak tadi aku menunggu momen ini!" ucap Dicky dengan tatapan wajah yang penuh damba.
Fitri menganggukan kepalanya, lalu dia segera masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan tubuhnya lalu mengenakan lingerie yang di berikan oleh Dicky.
Tak lama Fitri keluar dari kamar mandi sudah dengan mengenakan lingerie itu, dia nampak risih sambil menutupi bagian tubuhnya yang terlihat menonjol.
"Jangan di tutup Fit, aku ingin melihatnya, ayo mendekatlah!" ujar Dicky yang wajahnya terlihat di penuhi oleh kabut gairah.
"Mas Dicky ah, aku malu!" sahut Fitri dengan wajahnya yang kemerahan.
Karena tidak tahan dan gemas melihat Fitri yang malu-malu, Dicky langsung berdiri dan menerkam Fitri dalam pelukannya, tanpa membuang waktu kemudian Dicky langsung mengangkat Fitri dan membaringkannya di tempat tidur.
"Mas Dicky?? Bukankah kakimu masih sakit? Apakah kau kuat mengangkat ku Mas?" tanya Fitri.
__ADS_1
"Entah mengapa aku jadi lupa kalau kakiku sakit Fit, malam ini pokoknya kita harus melewatinya dengan penuh keromantisan, berbeda dengan malam-malam sebelumnya!" ucap Dicky.
"Memangnya Mas Dicky mau apa?" tanya Fitri.
"Ehm ... lima ronde ya Fit!" bisik Dicky.
"Iiih Mas Dicky Ah, memangnya tidak capek?" sungut Fitri.
"Tidak lah Fit, malah semangat Mas!" sahut Dicky.
"Dua kali saja ya Mas?" tawar Fitri.
"Yah, kurang Fit, dua kali mah baru pembukaan, lima kali lah, tanggung!" sahut Dicky.
"Ya sudah deh, kalau Mas maunya lima kali, tapi tiga main di luar yang dua kali baru masuk ya!" tawar Fitri lagi.
"Yah Fitri, sama juga bohong, satu kali lah boleh main di luar, sisanya di dalam ya Fit, enak hangat!" ucap Dicky sambil tersenyum genit.
"Ya sudah deh, demi Mas Dicky nih!" sahut Fitri akhirnya. Dicky tertawa senang.
Drrrt ... Drrrt ... Drrrt
Ponsel Dicky yang ada di atas meja tiba-tiba bergetar.
"Di angkat dulu lah Mas, mana tau penting!" ujar Fitri.
Dengan wajah kesal Dicky lalu meraih ponselnya di atas meja yang ada di sisi tempat tidur itu.
Dia bertambah kesal saat melihat ternyata Dimas yang meneleponnya.
"Halo! Dasar kau mengganggu kesenangan orang saja! Dasar Jamblo!" sungut Dicky.
"Sorry Bro, tadi aku pulang duluan sama Mia, rencana aku mau ajak dia kencan di tempat yang romantis, untuk masalah acaramu aku sudah urus ya, termasuk biaya untuk menginap ibu angkat dan anak-anak panti!" jelas Dimas.
"Oke Dim, terimakasih! Sudah ya, aku baru saja mau bersenang-senang, kau mengganggu saja!" sungut Dicky.
"Kau ini Bro, aku baru mau minta pendapatmu, aku tembak Mia sekarang atau bagaimana? Dia masih keliahatan cuek padaku!" ujar Dimas.
"Ah kau payah Dim! Percuma wajah tampanmu itu, meluluhkan hati wanita saja sulit, kau berikan Mia sesuatu yang membuat dia mengagumimu, misalnya cincin kek, kalung kek!" sahut Dicky.
"Oke Bro, kebetulan aku juga sudah membelikan Mia cincin, rencana aku mau tembak dia malam ini, doakan aku ya Bro!" ujar Dimas.
"Oke siap!! Sudah sana mainkan aksimu, aku juga mau beraksi nih!" cetus Dicky yang langsung memutuskan sambungan teleponnya.
__ADS_1
****
Dimas yang kini berada di sebuah cafe bersama Mia, nampak tersenyum senang, mungkin malam ini dia akan melepaskan status jomblonya.
Dimas lalu berjalan ke arah Mia yang masih duduk menunggunya di meja cafe itu.
"Kau lama sekali Dim! Untung saja tidak aku tinggal!" sungut Mia.
"Maaf Mia, aku janji tidak akan lagi meninggalkanmu sendiri, mulai malam ini!" ucap Dimas.
"Apa maksudmu Dim?" tanya Mia.
Dimas lalu mengeluarkan sebuah kotak merah, kemudian menyodorkannya ke hadapan Mia. Mia nampak terkejut.
"Mia, maukah kau terus bersama denganku menjalani sisa hari-hari kita, merajut sebuah bahtera dan impian bersama?" tanya Dimas.
"Eh, Dimas? Sejak kapan kau jadi sepuitis ini?" tanya Mia balik.
"Sejak aku mengenal apa itu cinta!" sahut Dimas.
"Cinta? Sejak kapan pria cuek dan serampangan bisa jatuh cinta?" Mia tersenyum.
"Sejak Mia menjadi penakluk hatiku!" ucap Dimas.
Mia terkekeh mendengar ucapan Dimas.
"Mia, aku serius, sebenarnya aku tau sejak dulu dalam hatimu kau selalu mengagumi Dicky, bahkan kau rela menunggunya sekian lama, saat itulah aku juga menunggumu Mia!" ucap Dimas.
"Dimas, aku ..."
"Berhentilah menunggu sesuatu yang tidak mungkin, apakah aku tidak cukup layak untuk menjadi pemilik hatimu?" tanya Dimas.
"Dimas, aku ... aku tidak tau, bahkan aku tidak tau bagaimana perasaanku sendiri, aku bingung Dim, dan aku tidak menyangka malam ini kau begitu berbeda dari biasanya, bukan seperti Dimas yang ku kenal!" jawab Mia.
"Aku hanya butuh jawabanmu Mia, maukah kita melepaskan status jomblo kita sama-sama, sehingga kita bisa dengan bebas saling bergandeng tangan, dan semua orang tau kalau kita adalah ... calon pasangan sejati!" bisik Dimas.
Kemudian tanpa di komando Mia langsung menyodorkan jemarinya untuk di pakaikan cincin oleh Dimas.
"Yesss!!" seru Dimas senang.
Bersambung ...
****
__ADS_1