
"Hoeekk.... Hoekkk....."
Bibir serta wajah Riana nampak sangat pucat terpantul di dalam cermin. Tubuhnya begitu lemas, sedari tadi ia sudah mondar-mandir keluar masuk kamar mandi hanya untuk memuntahkan seluruh isi perutnya.
Riana kembali melabuhkan tubuhnya di atas tempat tidur usai merasakan sedikit lega pada perutnya. Kepalanya bersandar pada sandaran tempat tidur, pikirannya kini bercabang.
"Ri, buka pintunya. Ini aku Dina." Ya, Dinara mencoba mengetuk pintu berulang kali. Ia berteriak ketika tidak mendengar sahutan dari dalam sana. Sungguh, ia cemas jika terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu.
Samar-samar Riana dapat mendengar suara bel. Semula malas beranjak, akan tetapi ia teringat jika sebelumnya Dinara menghubungi dirinya jika akan datang ke apartement. Akhirnya Riana memilih beranjak dari tempat tidur, kemudian melangkah untuk membukakan pintu.
"Astaga Ri, kamu bener-bener bikin aku spot jantung tau. Aku kira kamu pingsan di dalem." Dinara melengos masuk begitu Riana sudah membukakan pintu untuknya sembari menggerutu, tidak lupa ia meletakkan kantung bawaannya ke atas meja ruang tamu.
"Sorry Din, badan aku lemes banget soalnya."
Mendengar penuturan Riana, Dinara sontak menoleh. Matanya meneliti wajah Riana yang memang nampak pucat. "Kamu mendingan pulang ke rumah deh Ri. Kalau dirumah 'kan ada Tante Linda yang jagain kamu, kalau di apartement kamu sendirian." Dinara kemudian menuntun Riana untuk duduk di sofa, ia pun melabuhkan tubuhnya disana.
"Besok aku pulang kok Din. Tadinya aku mau pulang hari ini, tapi badanku lemes banget. Buat jalan aja kepalaku pusing." Riana mengeluhkan apa yang ia rasakan sejak pagi tadi.
Dinara menghela napas berat. Inilah yang terjadi jika Riana sahabatnya itu terlalu giat bekerja sampai telat makan dan melupakan kesehatannya. "Yaudah makan bubur dulu ya." Lalu tangannya terulur mengambil kotak makanan berisi bubur ayam. "Sini aku suapin," katanya kemudian.
"Nggak usah Din." Riana menolak cepat ketika Dinara mulai ingin mengaduk bubur. "Aku makan sendiri aja, aku cuma pusing sedikit aja kok." Riana kemudian mengambil alih kotak bubur dari tangan Dinara
Dinara tidak memaksa, ia membiarkan Riana makan sendiri tanpa bantuan dirinya.
"Makasih ya Din, kamu udah sempetin bawain bubur buat aku," ucap Riana sembari memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya.
Dinara terkekeh. Ia mengalihkan perhatian dari makanan cepat saji yang berada di tangannya itu. "Kamu apaan sih Ri, kayak sama siapa aja. Aku sama Fanny tuh mikirin kamu yang sakit sendirian di apartemen. Tadinya Fanny juga mau kesini tapi tiba-tiba aja dia ada kerjaan gitu yang harus dikasih sehabis istirahat." Riana mendengarkan apa yang tengah dibicarakan oleh Dinara. "Gila banget nggak sih ngasih taunya mendadak banget, jadinya gitu deh, Fanny kejar tayang." Sembari terkekeh-kekeh hingga membuat Riana turut menarik kedua sudut bibirnya.
"Kasian ya Fanny, tapi kalian berdua betah kerja disana," tutur Riana. Jika diingat-ingat sudah hampir dua tahun mereka bekerja di perusahaan cukup besar itu.
"Mau gimana lagi Ri, gajinya lumayan sih bisa buat keliling Asia haha," celetuknya tergelak.
__ADS_1
"Iya, lumayan banget, aku juga bisa kecipratan 'kan?" goda Riana kemudian. Keduanya terkekeh dan menyelesaikan makan siang mereka hingga waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 siang.
"Yaudah Ri, aku balik ke kantor lagi ya. Kalau ada apa-apa telepon aku aja." Dinara beranjak berdiri, ia memang mengantarkan makan siang untuk Riana. Beruntung jarak perusahaan tidak terlalu jauh dari apartemen Riana.
"Iya, aku nggak anter sampe pintu ya."
"Hem...." Dinara mengangguk. Ia kemudian segera kelar dari apartemen Riana usai memesan taksi online.
Tidak berselang lama kepergian Dinara, Riana merasakan kembali gejolak di dalam perutnya yang meronta minta dikeluarkan. Buru-buru ia berlari ke dalam kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Beruntung tidak semua yang dikeluarkan sehingga tidak membuatnya begitu lemas.
Riana memilih kembali ke tempat tidur, membaringkan tubuhnya disana. Matanya baru saja akan terpejam, suara dering ponsel menyentakkan telinganya. Tangan Riana mencoba menggapai ponsel yang memang berada di atas tempat tidur.
"Hallo....."
"Hallo Ri, ini Mama." Kedua mata Riana seketika membola penuh kala mendengar suara Mama Nina di sambungan telepon.
"Mama...." sahutnya terkejut. Sebab beberapa hari ini ia mengabaikan panggilan dari Mama Nina. Alasannya tidak ingin menjawab panggilan dari mantan calon mertuanya itu karena tidak tahu harus menjawab apa ketika Mama Nina bertanya dengan pertanyaan yang sama.
Deg
Jantung Riana berdegup dua kali lebih cepat. "Mama minta maaf buat apa?" Namun ia harus bersikap biasa saja.
"Buat semuanya. Rai bener-bener keterlaluan udah nyakitin kamu. Maafin Raihan ya Ri."
"Ma...." Suara Riana bergetar, ia berusaha tegar dan sekuat tenaga menahan rasa sesak agar tidak menangis. "Mama nggak perlu minta maaf. Mungkin Riana dan Raihan belum berjodoh."
"Tapi Ri, Mama juga kecewa. Mama pengen kalian bersama-sama terus tapi anak Mama itu udah bikin kamu sakit hati."
"Nggak apa-apa Ma. Raihan berhak milih pasangan yang terbaik menurutnya." Meski bibir berkata demikian tetapi tidak dengan hatinya. Katakanlah dirinya belum berdamai, namun ia bisa apa?
"Jangan bicara gitu Ri, Mama jadi nggak enak sama kamu dan Mama kamu."
__ADS_1
"Nggak apa-apa Ma, lagian Riana belum bilang sama Mama soal Riana yang putus sama Rai."
Diseberang sana Mama Nina cukup terkejut dengan pernyataan Riana. "Ja-jadi Mama kamu belum tau Ri?"
Riana menggeleng, meskipun Mama Nina tidak bisa melihatnya. "Belum Ma. Besok Riana pulang ke rumah dan bakalan bilang yang sebenernya. Mama juga kayaknya udah curiga karena sempet nanya-nanya hubungan kita."
Mama Nina nampak terdiam, tidak ada sahutan selama beberapa saat. "Mama bener-bener nggak enak sama Mama kamu Ri kalau sampai tau. Mama malu."
"Nggak usah dipikirin Ma. Mama Linda pasti ngerti kok." Riana mencoba memberikan pengertian kepada Mama Nina. Biar bagaimanapun bukan salah Mama Nina. Tidak sepatutnya meminta maaf, sementara putranya itu justru bahagia tanpa dirinya.
"Sekali lagi Mama minta maaf ya Ri. Semoga kamu nggak marah sama Mama setelah ini dan tetep mau angkat telepon dari Mama."
"Iya, Ma...."
Telepon pun terputus, cairan bening mulai tumpah dari kelopak mata Riana. Sejak tadi Riana berusaha menahan tangisnya agar Mama Nina tidak semakin merasa bersalah.
Baru saja Riana menjatuhkan ponsel di atas tempat tidur. Suara dering ponsel kembali mengganggu dirinya. Riana menarik napas dalam agar tangisnya mereda, kemudian segera menjawab panggilan tersebut.
"Hallo Ri...."
"Rama??" Lagi-lagi Riana tidak melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu.
"Aku udah denger kamu putus sama Rai. Berengsek juga itu laki-laki. Kalian baru aja tunangan tapi mutusin kamu demi perempuan lain." Suara Rama terdengar kesal, berulang kali Riana dapat mendengar umpatan-umpatan teman masa kecilnya itu.
Riana hanya menghela napas, pasti Rama mengetahui permasalahannya dengan Raihan dari Fandy.
To be continue
...Yoona minta dukungan kalian untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih banyak 🤗...
...Always be happy 🌷...
__ADS_1
...Instagram : @rantyyoona...