Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Makin Sayang


__ADS_3

Dicky terkesima melihat ada benda bergerak di layar monitor USG 4 dimensi. Hari ini kembali mereka memeriksakan kandungan Fitri ke Dokter Mia.


"Mia, itu benar bayiku? Itu Dicky junior kan??" tanya Dicky seolah tak percaya pada apa yang di lihatnya.


"Ya iyalah, bayi siapa lagi kalau bukan bayimu Dicky, tapi untuk jenis kelamin masih belum akurat ya, karena ini kan baru jalan lima bulan, nanti bulan depan baru terlihat jelas, tapi sepertinya bayi kalian laki-laki!" jelas Dokter Mia.


"Laki-laki Dokter?" tanya Fitri.


"Iya Fit, tapi untuk lebih jelasnya bulan depan kita lihat lagi ya!" jawab Dokter Mia.


Mereka kemudian kembali di tempat duduk mereka.


"Perkembangan Bayi kalian sehat dan lincah, tidak ada yang perlu di khawatirkan!" ujar Dokter Mia.


"Terimakasih Mia, pokoknya kalau bayiku sudah lahir nanti, aku akan memberikanmu hadiah istimewa!" kata Dicky dengan raut wajah senang.


"Kau jangan berpikir terlalu jauh, jaga kandungan istrimu baik-baik, itu yang utama!" sahut Dokter Mia.


"Pasti, aku akan menjaga istriku setiap saat, kalau perlu dia aku ajak kemanapun aku pergi!" ujar Dicky.


"Mas Dicky berlebihan!" kata Fitri sambil menyenggol tangan suaminya itu.


"Biasalah Fit, suamimu ini memang selalu lebay!" timpal Dokter Mia.


"Oke, aku rasa cukup, semua vitamin, susu, dan makanan bergizi sudah aku siapkan untuk istriku, di jamin bayiku nanti tumbuh sehat dan pintar, yah minimal seperti Papanya bisa jadi Dokter!" ungkap Dicky.


"Sudahlah, kalian boleh kembali, pasienku masih banyak!" ujar Dokter Mia.


Dicky lalu menggandeng tangan Fitri keluar dari ruangan Dokter Mia.


Mereka lalu berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ke arah lobby.


"Fit, malam ini kau mau makan apa?" tanya Dicky.


"Aku mau makan bakso Mas!" sahut Fitri.


"Hah! Bakso? Tumben Fit?" tanya Dicky heran.


"Lagi pengen saja Mas!" sahut Fitri.


"Baiklah sayang, kita cari bakso yang enak, yang sehat dan tempatnya juga nyaman!" ujar Dicky.

__ADS_1


"Tapi aku mau makan di pinggir jalan Mas, dulu waktu aku masih ngajar di gudang sama anak-anak jalanan, aku sering beli bakso di pinggir jalan, rasanya enak deh Mas!" jelas Fitri.


"Tapi higienis tidak?" tanya Dicky kurang yakin.


"Selama ini aku makan sehat-sehat saja kok Mas, ayolah Mas, lagi pengen nih!" rajuk Fitri.


"Hmm, baiklah sayang, tapi aku ini Dokter lho, aku tau mana makanan yang sehat dan tidak sehat, kau hanya boleh makan bakso bening, tanpa pakai saos dan sambel!" ujar Dicky mengalah.


"Yah, mana enak makan bakso tidak pakai saos dan sambel??" gumam Fitri.


"Pokoknya ini perintah, untuk menjaga perutmu baik-baik saja, oke sayang!" Dicky langsung mengecup pipi Fitri yang wajahnya mulai cemberut.


"Jangan cium-cium sembarangan! Apalagi di tempat umum!" cetus Fitri.


"Biarin!" sahut Dicky.


"Wah wah wah ... kalian selalu saja membuatku iri!" Dokter Dimas tiba-tiba sudah berdiri di hadapan mereka.


"Dari mana Bro??!" tanya Dicky.


"Biasa cari angin ke luar, sekalian cari jodoh!" sahut Dimas. Dicky tertawa.


"Hahaha Dimas Dimas, makanya, kau cepat tembak si Mia, berapa lama lagi kalian akan jadi jomblo akut!" ledek Dicky.


"Apa perlu aku turun tangan biar kalian bersatu??" tanya Dicky.


Dimas nampak terdiam, kemudian dia maju dan mendekat ke arah Dicky.


"Boleh juga Bro, Mia selalu menghindar kalau aku ajak jalan, padahal sudah lama aku mengincar dia!" bisik Dimas.


"Oke, kau tenang saja, aku akan atur cara supaya kalian bersatu, Mia itu memang agak gengsi dan susah di tebak!" kata Dicky sambil menepuk-nepuk bahu Dimas.


Wajah Dimas nampak cerah, kemudian Dicky segera menuntun Fitri berjalan ke arah parkiran dan mulai masuk ke dalam mobilnya.


****


Pagi itu setelah sarapan, seperi biasa dia akan mengantar Fitri ke sekolah sebelum dia ke rumah sakit.


Karena perut Fitri sudah mulai membuncit, kini Dicky selalu menggendong istrinya itu saat naik ke lantai dua.


"Aku bisa naik pelan-pelan Mas!" sergah Fitri saat Dicky akan menggendongnya.

__ADS_1


"Tidak! Tergelincir sedikit, bisa fatal akibatnya, pokoknya untuk yang satu ini kau jangan membantahku Fit!" sahut Dicky.


"Tapi kan aku malu Mas, setiap hari hampir semua mata memandang pada kita!" ujar Fitri.


"Buang saja rasa malumu! Pokoknya kau harus menuruti setiap perintahku, titik!" tegas Dicky yang mulai mengangkat Fitri dalam gendongannya, kini Fitri tidak lagi di gendong di punggung, tapi di depan Dicky, karena perut Fitri sudah membesar.


"Huh! Kalian tau tidak, ini di sekolah, bukan di taman!" Cetus Bu Sita yang sudah berdiri di lantai dua.


Dicky langsung menurunkan Fitri.


"Aku tau ini di sekolah Bu, siapa bilang di taman!" cetus Dicky.


"Sudah tau di sekolah, kenapa mesra-mesraan di tempat umum? Kalian mau semua murid di sini mencontoh kalian??" tanya Bu Sita sewot.


"Sudahlah Bu, jangan buang energimu, lebih baik kau mengajar di kelas mu supaya murid mu pintar!" sahut Dicky. Bu Sita terlihat kesal.


Tiba-tiba Pak Jamal lewat di lorong itu. lalu dia menatap heran ke arah Dicky dan Bu Sita yang terlibat berdebatan.


"Ada apa ini?" tanya Pak Jamal.


"Itu Pak, mereka itu tiap hari bermesraan di area sekolah, bukankah itu tidak baik Pak jika di lihat oleh murid-murid kita yang masih SD?!" sahut Bu Sita bersemangat.


"Istriku sedang hamil, wajar saja aku menggendongnya ke atas, ku rasa Bu Sita ini hanya iri melihat kami, aku sarankan kau cepat cari suami Bu, sehingga kau bisa merasakan apa yang kami rasakan!" jelas Dicky.


"Enak saja! Aku bukannya iri! Kalau mau aku bisa mencari sepuluh suami, aku hanya tidak mau saja sekolah ini jadi buruk di mata orang tua murid!" kilah Bu sita.


"Kalau begitu, ayo coba buktikan Bu, jangankan sepuluh, satu saja aku tidak pernah melihat Bu Sita membawa suami ibu!" seru Dicky.


"Sudahlah Mas, jangan terlalu di perpanjang, tidak enak di lihat orang!" sergah Fitri yang sedari tadi diam saja.


"Ehm, Bu Sita, saya beberapa kali menerima laporan dari orang tua murid, pola mengajar Bu Sita yang kaku dan otoriter membuat para murid tidak nyaman, sehingga orang tuanya banyak yang komplain ke sekolah, sekarang, bisakah Bu Sita datang ke kantor saya? Ada hal yang hendak saya bicarakan dengan Bu Sita!" ujar Pak Jamal.


Wajah Bu Sita langsung pucat seketika.


****


Jangan lupa dukungannya guys ...


Like dan komen ...


Jika berkenan berikan hadiah buat author dan juga vote nya ... supaya Authornya senang wkwkwk 😉

__ADS_1


Trimakasih 😘❤️🙏


__ADS_2