
Setelah mengantar Dimas pulang, Dicky langsung melajukan mobilnya menuju ke rumahnya, hati sudah menjelang sore.
Pikiran Dicky berkecamuk, akankah dia menceritakan semua pengalamannya hari ini pada Fitri istrinya.
Dicky tidak mau Fitri kembali teringat akan masa lalu buruk yang menimpanya, apalagi sudah di ketahui dengan jelas bahwa pelaku kejahatan yang mencoba mencelakai dan merampok rumah Dicky adalah orang yang sama yang telah memperkosa Fitri dulu.
Di tambah lagi dengan terbongkarnya rahasia Pak Hardi yang tak lain adalah Pak Donny, mantan guru di sekolah Fitri yang kini mengajar di sekolah bergengsi.
Pikiran Dicky benar-benar kalut, kepalanya mulai pusing.
Dengan langkah gontai Dicky turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Di ruang tamu itu nampak Dina dan Dara yang sedang belajar, sejak Dicky melarang Pak Hardi alias Donny untuk datang mengajar, Dina dan Dara jadi belajar mandiri.
"Pa! Sudah dapat guru barunya belum?" tanya Dara saat Dicky masuk dan tersenyum ke arah mereka.
"Ah, Papa lupa tadi, besok ya Papa minta rekomendasi dari yayasan lagi!" jawab Dicky sambil mengelus rambut mereka.
Dina dan Dara menganggukan kepala mereka dan kembali melanjutkan aktifitas mereka.
"Mama di mana?" tanya Dicky.
"Mama ada di kamar Pa!" jawab Dina.
Dicky bergegas menuju ke kamar nya, saat melewati ruang makan, Bi Sumi nampak sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka.
"Selamat sore Pak Dokter, sudah pulang ya? Apa mau makan dulu?" sapa Bi Sumi.
"Aku mandi dulu Bi, Trimakasih!" sahut Dicky yang terus berjalan menuju ke kamarnya.
Dicky langsung membuka pintu kamarnya, di lihatnya Fitri sedang duduk sambil merajut topi bayi.
"Eh, Mas Dicky sudah pulang, mau langsung mandi Mas?" tanya Fitri sambil menaruh hasil rajutannya di atas meja.
"Sebentar lagi Fit, masih gerah, kau sedang apa?" tanya Dicky balik. Dia langsung duduk di samping Fitri.
"Lagi membuat topi Dedek Mas, tadi aku juga membuat sarung tangan dan baju Dedek!" jawab Fitri sambil menunjukan hasil karyanya.
"Bagus ... tapi jangan capek-capek ya sayang, kita kan bisa beli itu semua tanpa kau harus membuatnya!" ujar Dicky sampai mulai menarik Fitri dalam dekapan di dadanya.
Fitri hanya menganggukkan kepalanya tanpa beranjak dari tempat nya.
__ADS_1
"Iya Mas, hanya mengisi waktu saja kok, bagaimana hari ini Mas? Sudah lihat muka penjahatnya dong tadi, siapa orang nya? Mas Dicky kenal?" tanya Fitri.
Dicky menarik nafas panjang, dia memang harus terbuka pada Fitri istrinya, sehingga tidak ada dusta di antara mereka.
"Hei, kok malah bengong Mas? Apa mereka itu ada hubungannya dengan Pak Donny atau Bu Romlah? Karena hanya mereka yang terlihat jahat pada kita!" tanya Fitri lagi.
"Bukan Fit, Bu Romlah itu walaupun matre dan gila harta, tapi dia tidak punya kemampuan untuk merancang kan sesuatu yang besar, pendidikannya kurang dan otaknya juga tidak sampai ke situ!" jawab Dicky.
"Lalau siapa? Kau sudah melihatnya kan?" tanya Fitri penasaran.
"Sudah Fit, ternyata mereka adalah orang yang sama yang sudah memperkosamu dulu!" lirih Dicky. Fitri terkesiap.
Tiba-tiba Fitri teringat akan kejadian masa lalu yang menimpanya, sangat tragis dan keji. Fitri menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tidak berani membayangkan selanjutnya.
Dicky langsung memeluk Fitri erat dan membenamkan wajah istrinya itu di dadanya yang bidang, biasanya Fitri akan nyaman di sana.
"Lupakan sayang, itu masa lalu, mereka sudah ku hajar habis-habisan, dan kali ini ku pastikan mereka akan lebih lama mendekam di penjara!" ucap Dicky.
"Tapi bagaimana kalau mereka sudah keluar dari penjara nanti? Apakah tidak menjadi ancaman buat kita?" tanya Fitri.
"Tidak!! Kali ini mereka harus bertobat, aku akan mengusulkan pada pihak kepolisian agar mengirimkan guru spiritual untuk rohani mereka, supaya mereka benar-benar sadar dan bertobat!" jawab Dicky.
Fitri kemudian menarik tubuhnya dari dekapan Dicky, perutnya terasa sesak dan engab.
"Tidak usah sayang, sore ini aku mandi pakai air dingin saja, kau tetaplah di sini!" tukas Dicky.
Kemudian Dicky mulai menciumi perut Fitri yang sangat besar dan menonjol itu.
"Kata Dokter Mia, menjelang kelahiran harus lebih sering kontrol ke rumah sakit, bulan depan anak kita sudah akan lahir Mas!" ujar Fitri.
"Ya, aku akan suruh Mia datang ke sini, setiap Minggu untuk memeriksamu, jadi kau tidak perlu datang ke rumah sakit!" sahut Dicky.
"Dih, mana bisa begitu, kita yang perlu kita lah yang datang!" cetus Fitri.
"Kau tenamg saja sayang, kalau kau perlu Mia, kapanpun akan ku suruh dia datang kesini, kau lupa kalau aku punya kuasa untuk memerintah Mia??" tanya Dicky sambil menatap dalam wajah istrinya itu.
"Curang!! Mentang-mentang sudah jadi pimpinan, seenaknya saja memerintah orang!" sungut Fitri cemberut.
Dengan cepat Dicky mengecup bibir Fitri yang mengerucut itu.
"Hmm, makin menggemaskan istri yang satu ini!" ucap Dicky.
__ADS_1
"Sudah sana mandi!! Cium-cium sembarangan!" hardik Fitri sambil mendorong tubuh suaminya untuk segera ke kamar mandi.
"Tapi suka kan!! Aku tau kau pasti sangat suka di cium aku, bibirku kan seksi!" sahut Dicky terkekeh.
Fitri makin cemberut dan dongkol, walaupun sebenarnya dalam hatinya dia selalu senang di cium oleh suami tampannya itu.
Dicky lalu segera mengambil handuknya dan langsung bergegas masuk ke kamar mandi.
****
Malam itu setelah selesai makan malam, Dicky dan Fitri nampak duduk santai di ruang keluarga bersama Dina dan Dara sambil menonton tv.
Mereka nampak harmonis terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia. Bi Sumi juga terlihat membawakan cemilan lalu duduk bergabung bersama mereka.
"Bi, ajak Pak Salim masuk ke sini, dari pada dia kesepian di kamarnya!" ujar Dicky.
"Tadi Bibi sudah ajak Pak Dokter, tapi Mang Salim malah mau tidur cepat katanya.
Kriiiing ... Kriiiing
Telepon rumah berdering, dengan sigap Bi Sumi bergegas menuju meja telepon lalu mengangkat teleponnya.
"Halo selamat malam!" sapa Bi Sumi.
"Malam, Maaf, bisa bicara dengan Dokter Dicky?" tanya suara seorang laki-laki di sebrang telepon.
"Ini dari mana ya?" tanya Bi Sumi.
"Saya Dio, saya ingin bicara penting dengan Dokter, tolong di sampaikan!" jawab si penelepon yang ternyata Dio itu.
"Baik Pak, tunggu sebentar ya!" BI Sumi segera kembali ke ruang keluarga.
Dicky dan keluarganya nampak sedang bercanda dengan gembira.
"Pak Dokter, itu ada telepon buat Pak Dokter!" ujar Bi Sumi.
"Dari siapa Bi?" tanya Dicky.
"Katanya sih tadi dari, Dio, Pak Dio!" jawab Bu Sumi.
Dicky dan Fitri saling berpandangan.
__ADS_1
Bersambung ...
****