
Fitri kemudian keluar dari ruangan Dicky di rawat, melihat ada keributan apa yang terjadi.
Di depan ruang perawatan Dicky dua orang security nampak sedang memegangi tangan seorang wanita, di bantu oleh beberapa suster.
Fitri lalu mendekati kerumunan yang terdengar ricuh itu.
Matanya melotot saat melihat siapa wanita yang membuat keributan itu.
"Ibu!!" seru Fitri.
Ternyata Bu Eni yang datang dan sedikit membuat kericuhan.
"Bu Fitri kenal dengan wanita ini? Tadi dia menyerobot masuk ke ruangan Dokter Dicky, kami kasih pengertian tapi dia malah ngotot, dan mengaku menantunya Dokter Dicky!" jelas seorang security.
"Iya tuh Fit, pecat saja orang ini, masa dia tidak kenal Ibu sih? Dulu kan Ibu datang waktu Alex lahir, padahal Ibu sudah foto-foto dulu sama Alex sampai amsuk medsos, dasar security ndeso!!" umpat Bu Eni.
"Maaf Pak, dia memang Ibu saya, saya minta maaf atas keributan yang terjadi!" ucap Fitri.
"Lho Fit, kok malah minta maaf sih!! Ibu kan tidak salah! Ibu ke sini karena nonton di berita, Mantu Ibu ada yang mau ngeracunin, Ibu langsung ke sini deh naik travel!" kata Bu Eni.
"Ibu kenapa tidak telepon aku dulu sih? Main datang saja, wajar kan security itu menahan Ibu!" ujar Fitri.
"Ibu tidak kepikiran telepon kamu lah, Ibu panik takut mantu ganteng Ibu kenapa-napa, eh bener kan, malah dia kena tembak, aduuuh!!" ungkap Bu Eni.
"Bapak mana Bu? Tidak ikut??" tanya Fitri.
"Bapakmu itu memang keterlaluan Fit, Ibu ajak ke sini katanya Ibu saja, sawah di pikirin, semalam hujan lebat malah kebanjiran, sukurin! Sekarang dia sibuk ngurus sawah yang kebanjiran!" jawab Bu Eni.
"Ya ampun Bu, kasihan Bapak dong Bu!" ujar Fitri.
"Ya sudah deh, lagian Ibu kan ke.sini memang mau nengokin mantu Ibu, mana Nak Dicky, Ibu mau lihat Fit!" kata Bu Eni.
Fitri kemudian membawa Bu Eni masuk ke dalam ruangan Dicky.
Bu Eni langsung menangis di samping Dicky. Dicky yang sedang tertidur langsung terbangun dan mengerjapkan matanya terkejut melihat Bu Eni yang kini sudah di sebelahnya.
"Ibu?"
"Huuuu huhu Nak Dicky mantu Ibu! Kenapa kau bisa seperti ini Nak? Ibu cemas memikirkanmu! Mana yang sakit sayang, ini ibu sudah bawa ramuan dari kampung, mana sini Ibu kasih dan balurkan!" Ujar Bu Eni yang mulai membuka tasnya.
"Ibu, jangan Bu, Mas Dicky sudah di beri obat oleh Dokter, jangan di kasih ramuan apapun!" sergah Fitri.
"Kau ini bagaimana sih Fit? Ramuan ini lebih manjur dari pada obat Dokter tau!" cetus Bu Eni.
"Tapi tetap tidak boleh Bu, please ya Bu, simpan lagi ramuannya!" kata Fitri.
__ADS_1
Dengan wajah kecewa Bu Eni akhirnya tidak jadi mengeluarkan ramuannya.
"Ya sudah deh! Terserah kalian saja! Mana cucu Ibu? Ibu sudah kangen!" tanya Bu Eni.
"Ada Bu, sama Bi Sumi!" jawab Fitri.
"Ibu mau ketemu Alex ya Fit, nanti Ibu balik lagi ke sini sekalian bawain kalian makanan!" kata Bu Eni.
Dicky dan Fitri saling berpandangan.
"Bu, kami sudah pindah dari rumah lama!" ujar Dicky.
"Apa? Pindah? Lalu kalian tinggal di mana sekarang??" tanya Bu Eni.
"Di rumah Ibuku Bu!" jawab Dicky.
"Apa? Di rumah Bu Sultan? Mamamia! Pasti rumah itu besar seperti istana!" ujar Bu Eni.
"Tapi sekarang rumah itu dalam pengawasan polisi, karena banyak kejahatan di dalamnya, tapi syukurlah semua penjahatnya sudah tertangkap!" ucap Dicky.
Tring ... Tring ... Tring
Ponsel Fitri berdering, ada panggilan masuk dari Bi Sumi, buru-buru Fitri mengusap layar ponselnya itu.
"Halo Bi!"
"Sebentar lagi Bi, sebentar lagi aku akan pulang menyusui Alex!" jawab Fitri.
"Baiklah Mbak, cepatlah pulang, kasihan Alex!" ujar Bi Sumi. Kemudian sambungan telepon terputus.
Sejenak Fitri menoleh ke arah Dicky.
"Mas Dicky, Alex butuh ASI, lalu kau bagaimana?" tanya Fitri dengan raut wajah cemas.
Fitri sangat ingin menjaga dan menemani suaminya itu, tapi bayi mungilnya juga membutuhkannya saat ini.
"Pulanglah Fit, aku tidak apa-apa, Alex lebih membutuhkanmu!" jawab Dicky.
"Tapi Mas ..."
"Pulanglah Fit, aku tidak apa-apa!" potong Dicky cepat.
"Fit, kau pulang saja susui Alex ya, biar Ibu yang menjaga Nak Dicky!" ucap Bu Eni tiba-tiba.
"Lho Bu, katanya Ibu mau ikut pulang ke rumah!" tukas Fitri.
__ADS_1
"Iya sih, tapi kasihan Nak Dicky sendirian, biar Ibu saja yang menjaga mantu Ibu, kau pulang saja Fit, kasihan Alex!" kata Bu Eni.
"Baiklah Bu, titip Mas Dicky ya Bu, nanti malam di usahakan aku akan datang lagi menjaga Mas Dicky!" ucap Fitri dengan berat hati, Fitri kemudian memberi Dicky air minum yang ada di gelas dengan sedotan.
Dicky minum beberapa teguk karena dia memang sedang haus.
"Iya, cepatlah kau pulang Fit, kasihan cucu Ibu!" sahut Bu Eni.
"Mas, aku pulang sebentar ya!" pamit Fitri sambil mengusap rambut Dicky.
"Iya sayang, pulanglah, aku tidak apa-apa, lagi pula ada Ibu mertua yang akan menjaga aku!" balas Dicky.
Fitri kemudian dengan berat hati mulai beranjak dari tempatnya dan keluar dari ruangan itu.
"Nak Dicky, kalau kau butuh apa-apa, jangan sungkan bilang ke Ibu ya Nak, Ibu mau rebahan sebentar di sofa itu, capek seharian ini di mobil travel!" kata Bu Eni.
"Iya Bu!" sahut Dicky.
Bu Eni lalu mulai merebahkan kepalanya di sofa yang empuk itu, hawa sejuk AC membuat wanita itu mulai mengantuk.
Sementara itu Fitri dengan di antar oleh Mang Salim pulang kembali ke rumah Bu Anjani.
Suasana rumah Bu Anjani kini sudah mulai sepi, tidak seramai tadi saat Fitri pergi. Polisi juga sudah tidak terlihat lagi.
Saat tiba di rumah itu, Fitri langsung beranjak masuk ke dalam rumah, Fitri heran dan mengerutkan keningnya, di lihatnya rumah itu sangat sepi, tidak seperti biasanya.
Bi Sumi duduk di sofa ruang keluarga sambil memangku Alex.
Tanpa menunggu, Fitri langsung mengambil Alex dalam gendongan Bi Sumi dan mulai menyusuinya.
"Bi Sumi, Mas Dicky sudah sadar, dia sudah melewati masa krisisnya saat kekurangan darah!" ungkap Fitri.
"Syukurlah, Bibi senang mendengarnya!" sahut Bu Sumi.
"Tapi kenapa rumah ini jadi sepi Bi? Kemana para pelayan yang biasanya berseliweran?" tanya Fitri.
"Para pelayan di pulangkan oleh Bu Anjani ke kampung mereka masing-masing mbak, kerena kejadian yang menimpa rumah ini, sekarang rumah ini sepi tidak ada pelayan, jadi Bibi yang akan membantu untuk sementara!" jawab Bi Sumi.
"Lalu, kemana Bu Anjani? Ibu mertuaku!" tanya Fitri.
"Bu Anjani pergi lagi Mbak, katanya dia mau menjemput seseorang!" sahut Bu Sumi.
"Seseorang? Seseorang siapa ya?" gumam Fitri.
Bersambung ...
__ADS_1
****