Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Sikap Fitri


__ADS_3

Fitri mengerjapkan matanya saat tangannya meraba sampingnya, Dicky sudah tidak ada di tempatnya.


Saat dia membuka matanya, ternyata Dicky benar-benar tidak ada, tempat tidurnya kosong.


"Mas Dicky!" panggil Fitri.


Matanya mengedar ke segala penjuru kamar itu.


Dia lalu bangkit dari tidurnya, membuka kamar mandi, Dicky tidak ada di sana.


Fitri lalu mengambil mantelnya, kemudian dia mulai berjalan keluar dari villa itu.


Hembusan angin malam begitu dingin sampai menembus tulang, Fitri terus berjalan mencari di mana keberadaan suaminya itu.


Saat Fitri sudah mendekat ke arah pantai, matanya melihat Dicky yang sedang berpelukan dengan Ranti.


Matanya terbelalak melihat pemandangan di depannya itu, berkali-kali Fitri mengucek matanya, untuk meyakinkan kalau yang di lihatnya itu bukan sekedar ilusi.


Hingga dia menyadari, bahwa apa yang di lihatnya adalah nyata, bukan dari foto yang bisa di rekayasa, atau dari nomor telepon yang tidak di kenal.


Tapi Fitri melihat langsung dengan matanya sendiri.


Seketika itu juga jiwanya hancur berkeping-keping, bahkan ini lebih sakit dari pada kasus pemerkosaan yang pernah menimpa dirinya, ini lebih sakit dari pada saat dia kehilangan bayinya.


Suami yang amat dia cintai dengan segenap jiwa dan raganya, kini berpelukan dengan wanita lain, wanita yang adalah mantan kekasihnya.


Dengan langkah gontai Fitri kembali berjalan ke arah Villanya, dia kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya sambil menangis.


Ceklek!


Pintu kamar itu di buka dari luar. Dicky kemudian masuk dan langsung duduk di sisi pembaringannya.


Fitri yang terlihat berbaring dengan tertutup selimut langsung menyeka air matanya dengan tangannya, tidak ingin suaminya tau apa yang terjadi padanya.


Dicky kemudian mulai berbaring di samping Fitri.


"Maafkan aku Fit!" ucap Dicky sambil mengecup kening Fitri.


Kemudian Dicky kembali memeluk pinggang Fitri dan mulai memejamkan matanya. Saat itulah Fitri kembali menangis.


****


Matahari pagi mulai menerangi kamar itu, Dicky terkejut saat Fitri tidak lagi ada di sampingnya.

__ADS_1


"Fit! Fitri!" panggil Dicky.


Tidak ada jawaban dari Fitri, hatinya mulai gelisah.


Kemudian dia keluar dari kamarnya, Fitri nampak sedang duduk di meja besar yang menghadap ke laut, pandangan nya lurus menatap laut dengan suara deburan ombak yang bersahutan.


Dicky langsung datang menghampiri Fitri dan memeluknya dari belakang.


"Good morning sayang, tadi aku hampir gila mencarimu, aku pikir kau pergi kemana!" ucap Dicky sambil mencium lembut rambut Fitri.


"Memangnya kalau aku tidak ada kenapa Mas?" tanya Fitri dengan mata yang masih memandang lurus ke depan.


"Mana bisa aku kehilanganmu Fit, jangan lagi kau pergi jauh dariku, aku tidak bisa kehilanganmu!" jawab Dicky yang semakin erat memeluk Fitri.


'Kau tidak mau jauh dariku, tapi kau pergi menjauh dariku Mas!' batin Fitri.


"Kau kenapa Fit, apa kau ada masalah? Wajahmu kelihatan agak pucat!" tanya Dicky yang kini mulai duduk di samping Fitri.


"Tidak ada Mas, semalam aku hanya mimpi buruk!" sahut Fitri.


"Mimpi buruk? Kau mimpi apa Fit? Ku lihat kau tidur begitu nyenyak semalam!" ujar Dicky.


"Aku bermimpi Mas Dicky mengkhianati aku!" jawab Fitri.


Dicky terdiam beberapa saat lamanya.


'Bohong! Semalam kau berpelukan begitu lama, apa namanya kalau bukan mengkhianati!' batin Fitri.


"Mas Dicky, aku ingin pulang hati ini!" kata Fitri.


Dicky terkesiap mendengar permintaan Fitri.


"Pulang hari ini? Kemarin aku melihat kau begitu bahagia Fit, kita belum jalan-jalan dan menikmati indahnya pulau ini, lagi pula aku sudah boking tempat ini sampai hati Minggu!" ujar Dicky.


"Pokoknya aku mau pulang hari ini!" tegas Fitri.


Kemudian Fitri bangkit dari duduknya dan segera masuk kembali ke dalam villa, Dicky mengikutinya dari belakang.


Fitri langsung membereskan semua pakaiannya dan memasukannya ke dalam koper.


"Fitri! Apa yang terjadi denganmu? Kenapa sikapmu aneh sekali? Apa salahku sehingga kau jadi seperti ini padaku?" tanya Dicky dengan tatapan bingung.


Fitri tidak memperdulikan pertanyaan Dicky, dia terus saja membereskan barang dan pakaiannya hingga benar-benar selesai.

__ADS_1


"Mas, aku mau pulang hari ini, kalau Mas Dicky masih mau di sini, terserah, tapi aku akan tetap pulang hari ini!" kata Fitri.


Dicky lalu mulai memeluk Fitri, namun tangan Fitri menepiskan pelukan Dicky, sehingga laki-laki itu heran di buatnya.


"Fitri, apa yang terjadi denganmu? Katakanlah padaku sayang, kau jangan seperti ini, kasihan bayi kita kalau mendengar Mamanya begitu emosional, apakah ini bawaan bayi? Apakah hormon kehamilan yang membuatmu seperti ini Fit?" tanya Dicky.


Fitri lalu berbalik dan menatap Dicky dengan mata yang tajam.


"Kau pikir seperti itu?? Kau pikir hormon kehamilan yang membuatku seperi ini??" tanya Fitri.


"Ya, bisa jadi Fit, wanita hamil sering kali memiliki hormon yang tak menentu, rasa sensitif nya lebih tinggi dan sering emosional!" jawab Dicky.


"Bagus! Anggap saja seperti itu!" cetus Fitri. Dia lalu mengangkat kopernya dan bersiap akan pergi.


"Tunggu Fit, kalau kau mau pulang sekarang, aku juga akan pulang!" cegah Dicky. Dia langsung membereskan semua pakaiannya dan langsung menyusul Fitri yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju lobby.


Mereka akhirnya pulang hari ini ke Jakarta, tanpa Dicky tau alasan perubahan sikap Fitri.


Sepanjang perjalanan pulang, mereka hampir tidak saling bicara, Fitri yang biasanya begitu ceria dan banyak bicara, mendadak berubah menjadi pendiam.


Fitri hanya bicara seperlunya, itupun dengan wajah datar dan hampir tanpa ekspresi.


Hingga mereka sudah tiba di rumah mereka. Fitri kemudian langsung beranjak masuk ke dalam kamar, di susul oleh Dicky.


"Mas, untuk sementara ini, aku mendadak ingin tinggal di rumah Ibu!" kata Fitri tiba-tiba.


"Di rumah Ibu? Tapi kenapa Fit? Apa kau tega meninggalkan aku sendirian di rumah, jauh dengan istri dan calon anakku?" tanya Dicky.


"Pokoknya aku ingin tinggal di kampung dengan Ibu dan Bapak, di sana aku jauh lebih tenang!" sahut Fitri.


"Fit, sejak di Bali sikapmu mendadak aneh, katakan padaku apa yang terjadi padamu? Jangan buat aku seperti ini Fit, please ... aku sedih melihat sikapmu yang berubah padaku sepeti ini!" ungkap Dicky sambil terduduk lesu di sisi pembaringannya.


Dalam hati Fitri kasihan melihat suaminya seperti itu, dia juga tidak tega bersikap seperi itu pada Dicky, selama ini Dicky sudah teramat baik padanya.


Saat Fitri terluka dan tidak punya lagi harapan hidup, Dicky datang padanya menutup semua luka hatinya, datang dengan harapan yang baru, datang dengan berjuta harapan.


Adilkah saat Fitri begitu marah pada Dicky, tanpa penjelasan dia langsung pergi begitu saja, sementara dia menyadari, Dicky hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.


Dia bukan Dewa atau malaikat tanpa dosa yang sempurna. Mengapa dia menuntut Dicky selalu sempurna.


Tiba-tiba Fitri menangis sambil bersimpuh di lantai kamarnya itu, hatinya begitu sedih dan pilu, Fitri terus menangis menumpahkan segenap rasa yang terkumpul dan sudah di tahannya selama ini.


Perlahan Dicky bangkit dari tempatnya, kemudian langsung memeluk Fitri dengan erat.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2