Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Bubur Ayam dan Soto Ayam


__ADS_3

Pagi itu setelah Fitri bangun dan mandi, kemudian dia mulai menyusui Alex. Setelah Alex kenyang kemudian Fitri mulai memandikan Alex, cuaca pagi ini agak mendung, jadi Alex tidak di jemur pagi ini.


Sekilas Fitri menoleh ke arah Dicky yang masih nyenyak tertidur, berada di samping Fitri, Dicky selalu bisa tidur dengan nyenyak. Fitri tersenyum memandang wajah suaminya yang sedang tidur itu.


Setelah Alex mandi dan berpakaian, Fitri kemudian membawanya ke bawah, biasanya Bu Anjani menunggu untuk mengajaknya bermain.


"Dicky mana? Apakah dia masih tidur? Ibu sudah membuatkan dia bubur ayam, nanti setelah dia bangun tolong di berikan ya!" kata Bu Anjani sambil mengambil Alex dari gendongan Fitri.


"Iya Bu!" sahut Fitri singkat.


"Ya sudah, sekarang kau kembali ke kamarmu, tolong urus putraku dengan baik, aku mau bermain dengan cucuku dulu!" ujar Bu Anjani.


Fitri mengangguk kemudian kembali naik ke atas menuju ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, Dicky nampak sudah bangun dan mengucek matanya.


"Mas Dicky, kau sudah bangun?" tanya Fitri yang langsung duduk di tepi tempat tidurnya.


"Fit, Alex mana? Aku mau ngobrol dengan Alex, semalam dia cepat tidur sampai tidak sempat ngobrol!" ujar Dicky.


"Alex sedang bersama Ibu Mas!" sahut Fitri.


"Ibu Eni atau Ibu Anjani?" tanya Dicky.


"Ya Ibu Anjani, belakangan dia senang sekali bermain dengan Alex!" jawab Fitri.


"Hmm, Alex bakal jadi rebutan ini, lalu kapan giliranku menggendongnya lagi!?" keluh Dicky.


"Sudahlah Mas, sekarang lebih baik kau mandi dulu, setelah itu sarapan, Ibu Anjani sudah membuatkan mu bubur Ayam tuh!" kata Fitri.


"Aku mana bisa mandi Fit, dadaku masih di perban begini!" sahut Dicky.


"Oh Iya ya, kalau begitu aku akan menyeka tubuhmu ya Mas, sebentar!"


Fitri langsung beranjak bangun dan mengambil baskom yang di isi oleh air hangat yang ada di kamar mandi, setelah itu dia kembali dengan membawa washlap di tangannya.


Dengan cekatan Fitri membuka seluruh pakaian Dicky dan mulai menyeka tubuh suaminya itu.


"Selama di rumah sakit, siapa yang menyeka tubuhmu Mas? Suster?" tanya Fitri sambil terus membersihkan tubuh suaminya itu.


"Hmm, memangnya kalau suster kenapa?" tanya Dicky sambil memicingkan matanya ke arah Fitri.


"Berarti, suster sudah lihat tubuh kamu dong Mas, lihat semuanya??" tanya Fitri melotot.


"Kalau iya kenapa??" Dicky mulai tersenyum nakal.

__ADS_1


"Dasar mesum!" sungut Fitri. Dicky tertawa geli.


"Fitri ... Fitri ... kau ini polos sekali, mana mungkin aku membiarkan ada orang lain melihat tubuhku ini, hahahaha pasti kau cemburu sekali ini!" goda Dicky sambil tertawa terpingkal-pingkal.


"Lalu, apa kau tidak membersihkan tubuhmu berhari-hari??" tanya Fitri penasaran.


"Ada perawat pria yang membantuku, kau tenang saja sayang, tidak ada yang melihat dan menyentuh milikku ini selain kamu!" ucap Dicky yang membuat Fitri meremang seketika.


Setelah Dicky kembali memakai pakaiannya dan sudah wangi, Fitri kemudian membantu Dicky untuk keluar dari kamarnya dan turun ke bawah menuju ke ruang makan.


Bi Sumi nampak sibuk menyiapkan banyak makanan di meja itu.


Tiba-tiba Bu Eni muncul dari arah dapur.


"Taraaa! Ibu punya sesuatu yang spesial nih untuk sarapan kalian, coba lihat, soto ayam Sukabumi!!" seru Bu Eni sambil menyodorkan satu panci soto ayamnya.


"Ini Ibu yang masak?" tanya Dicky.


"Tentu saja, untuk mantu kesayangan yang paling ganteng pake banget, ayo sayang di coba soto Ibu!" sahut Bu Eni.


Bu Anjani kemudian masuk ke ruangan itu sambil menggendong Alex. Dia langsung duduk di depan Dicky dan Fitri.


"Bubur ayam Ibu sudah di coba belum?" tanya Bu Anjani.


"Lah, terus soto ayam Ibu gimana dong?" tanya Bu Eni yang baru meletakan satu panci soto ayam di atas meja.


"Ibu tenang saja, aku pasti makan juga kok Soto ayamnya, pagi ini aku pasti kenyang dan cepat pulih!" ujar Dicky menenangkan kedua Ibu yang ada di hadapannya.


Mereka kemudian terlibat makan bersama di meja makan itu.


Alex terlihat mulai rewel, mungkin dia mulai haus dan minta menyusu, buru-buru Fitri mengambil Alek dari pangkuan Bu Anjani.


Setelah mereka selesai sarapan, mereka kemudian duduk santai di ruang keluarga sambil menikmati indahnya kolam ikan dengan air yang gemericik di ruangan itu, dan cahaya sinar matahari yang langsung masuk ke dalam ruangan itu.


"Dicky, seperti yang pernah ibu katakan sebelumnya, Ibu ingin mengadakan pesta syukuran untukmu dan anakmu, sebagai wujud rasa syukur Ibu karena kau telah kembali pada Ibu, juga kau telah selamat dari musibah yang menimpamu waktu itu!" ucap Bu Anjani.


"Terserah Ibu saja!" sahut Dicky.


"Sekalian peresmian dirimu menjadi pemilik rumah sakit menggantikan Ibu, jadi Ibu akan mundur dari kepemilikan, dan semuanya akan di ganti atas namamu Nak!" lanjut Bu Anjani.


"Yesss!! Mantuku tambah kaya!! Uhuuuy!" seru Bu Eni tiba-tiba.


"Ibu Ah! Buat malu saja!" gerutu Fitri.


"Sudah saatnya Ibu pensiun Nak, Ibu hanya ingin tinggal di rumah bermain dengan cucu-cucu Ibu saja, menikmati masa tua dengan damai dan bahagia!" ucap Bu Anjani.

__ADS_1


"Tapi Bu ... Aku masih terlalu muda untuk mengelola rumah sakit sebesar itu sendirian!" tukas Dicky.


"Kamu pasti bisa Nak, kamu ini cerdas sejak dulu, Ibu tau itu!" ujar Bu Anjani.


"Betul itu Nak Dicky, kamu tidak sendirian, kan ada Fitri yang akan membantumu, kalau Ibu di ajak juga tidak menolak hehe!" sambung Bu Eni.


"Oya Dicky, tadi Pak Dirja Papanya Keyla telepon Ibu, nanti malam dia mau datang untuk menjenguk mu, sekalian dia ingin melihat langsung anak Ibu ini, karena selama ini, dia berpikir kalau Dicky tidak ada!" lanjut Bu Anjani.


"Papanya Keyla??" gumam Dicky.


"Keyla yang ganjen itu Bu??" lanjut Bu Eni.


"Iya, Keyla hanya tinggal dengan Papanya, Mamanya sudah meninggal sejak Keyla masih kecil, jadi Bu Eni, nanti tolong di bantu siapkan jamuan untuk makan malam ya, aku sudah bilang sama Mbok Jum dan Bi Sumi, pokoknya Bu Eni mandorin saja deh!" kata Bu Anjani.


"Siap Bu Sultan!" sahut Bu Eni.


Bi Sumi masuk ke ruangan itu dengan membawa seorang wanita setengah baya, melihat wanita itu, Dicky langsung berdiri dan melangkah maju menyalami dan memeluk wanita itu.


"Ibu Nuri! Kapan Ibu datang?? Kenapa tidak mengabari aku dulu Bu, supaya aku bisa menyuruh orang untuk menjemput Ibu!" kata Dicky sambil membimbing Bu Nuri duduk di sampingnya.


Bu Anjani dan Bu Eni juga langsung menyalami Ibu asuh Dicky itu.


Bi Sumi langsung ke belakang membuatkan minuman untuk Bu Nuri.


"Dicky, Ibu juga datang mendadak, si Adi saudaramu telah melangsungkan pernikahannya tadi pagi di rumah sakit, makanya Ibu datang!" kata Bu Nuri.


"Adi?? Adi sudah menikah Bu? Kenapa dia tidak mengundangku?" tanya Dicky.


"Dia bukan sengaja tidak mengundangmu Nak, tapi calon istrinya sedang sakit parah, makanya pernikahannya mendadak dan darurat, kasihan Adi ... saat ini dia harus terus merawat istrinya itu!" ungkap Bu Nuri.


"Kapan-kapan aku harus bertemu Adi!" gumam Dicky.


Bersambung ...


****


Hai guys ... pembaca kesayangan author ...


Sedikit curhat, sebenarnya Author tidak terbiasa menulis novel panjang, bawaannya ingin cepat tamat saja.


Tapi banyak hal yang masih belum terungkap dalam cerita ini, misalnya soal siapa pengagum misterius Fitri, soal Ranti yang masih koma dan Dio yang belum bayar hutang ke Dicky, juga soal Donny yang kini menghilang, apakah Fitri punya saudara lain, dan masih ada hal yang belum terungkap.


Jadi harap sabar ya guys ...apalagi author tidak hanya menulis satu cerita, jadi otaknya juga terbagi-bagi 😉


Terimakasih atas setiap dukungan kalian semua ... salam sayang author buat kalian ...

__ADS_1


__ADS_2