Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Hadiah Untuk Istri


__ADS_3

Sore itu, seusai Dicky praktek di rumah sakit, Dicky mampir ke sebuah toko perhiasan.


Dia bermaksud hendak membelikan Fitri sebuah kalung yang indah. Sebagai kejutan untuk sang istri tercinta.


"Cari yang model apa Mas? Ada yang bisa di bantu?" tanya seorang penjaga toko yang sejak tadi memperhatikan Dicky yang sedang melihat-lihat berbagai jenis kalung di etalase.


"Saya mau mencari kalung, yang paling bagus untuk istri saya Mbak!" jawab Dicky.


"Baiklah Mas, saya akan pilihkan beberapa yang paling bagus!" Sang penjaga toko langsung mengambilkan beberapa kalung yang model terbaru dan sangat indah di pandang mata.


"Wah, ini bagus-bagus semua Mbak, saya bingung mau pilih yang mana!" ujar Dicky.


"Yang ini bagus Mas, nampak elegan dan cantik modelnya!" kata Penjaga toko sambil menyodorkan sebuah kalung berwarna siver, yang nampak indah berkilauan terkena sinar lampu.


"Iya, yang ini cantik Mbak, kalau begitu saya pilih yang ini saja!" ucap Dicky.


"Baik Pak, tapi yang ini agak mahal harganya, maklum limited edition, dan desainnya juga mewah!" sahut Si penjaga toko.


"Tidak apa-apa Mbak, asal istri saya suka dan bahagia, itu sudah cukup!" ujar Dicky.


"Wah, bahagia sekali ini yang jadi istrinya Mas, dapat hadiah kalung sebagus ini, siapa yang tidak akan bahagia?!" sahut penjaga toko sambil mulai membungkus kalung itu.


Setelah membayar dan menerima barangnya, Dicky langsung bergegas pulang ke rumahnya.


Sepanjang perjalanan pulang kerumahnya, Dicky senyum-senyum sendiri, membayangkan bagaimana reaksi Fitri saat menerima hadiah darinya.


Tak lama kemudian Dicky pun sudah sampai di rumahnya.


Fitri nampak berjalan menyambutnya pulang, dengan senyum cerah dia membawakan tas kerja Dicky lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya.


"Kau pasti sudah mandi, wangi sabun nya sampai tercium di penciuman ku!" kata Dicky.


"Kau bisa saja Mas, Oya, aku sudah masak untukmu, setelah selesai mandi kau makanlah, aku juga sudah menyiapkan air hangat di bathtub, supaya kau segar!" ucap Fitri.


"Terimakasih Fit!" ucap Dicky yang langsung naik ke atas di temani Fitri.

__ADS_1


Dicky kemudian langsung menyambar handuknya dan masuk ke kamar mandi, tak lama kemudian Dicky sudah keluar dengan wajah yang segar dengan rambut yang basah habis keramas, dia mulai mengambil pakaiannya di dalam lemari.


Fitri terkesima melihat ketampanan natural suaminya itu, tak sadar dia terus menatap suaminya itu dengan dada bergemuruh.


"Fit, apa menurutmu aku sangat tampan? Hingga kau menatapku seperti itu!" tanya Dicky yang menyadari kalau Fitri tak berkedip menatapnya.


"Ah, ti-tidak Mas, itu hanya perasaanmu saja!" kilah Fitri salah tingkah sambil memalingkan wajahnya.


"Tak perlu malu seperti itu Fit, aku malah senang, kau mulai memperhatikan aku, itu artinya kau sayang padaku, pada Mas Dicky mu ini!" ucap Dicky lembut sambil mulai duduk di samping Fitri.


"Sudahlah Mas, kau pakai baju sana!" tukas Fitri sambil mendorong lembut tubuh Dicky untuk menjauhinya.


"Fit, aku punya kejutan untukmu!" Dicky mulai mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari dalam tasnya, lalu dia mulai membukanya, mata Fitri membulat saat melihat Kilauan dari kalung indah yang baru saja di lihatnya.


"Cantik sekali, punya siapa itu Mas?" tanya Fitri.


"Punya Fitri, dari Dokter Dicky Pradita suaminya!" jawab Dicky sambil tersenyum.


"Buat aku Mas, ini pasti sangat mahal harganya!" gumam Fitri.


"Terimakasih Mas ..." ucapnya lirih.


Kemudian Fitri merebahkan kepalanya di dada Dicky yang berbulu halus itu, ada rasa nyaman dan hangat di sana.


"Apa kau bahagia Fit? Tidak menyesal kan menikah denganku?" tanya Dicky lembut.


Fitri menggelengkan kepalanya.


"Tidak Mas, kau sangat baik padaku, mana mungkin aku menyesal!" jawab Fitri sambil menyeka air matanya.


"Apakah kau masih trauma dengan hubungan laki-laki dan perempuan?" tanya Dicky lagi.


"Entahlah Mas, aku tidak tau!" jawab Fitri.


"Kalau aku memintanya darimu bagaimana Fit? Aku sudah lama menginginkan itu!" bisik Dicky matanya mulai berkabut gairah.

__ADS_1


"Silahkan Mas, aku siap!" jawab Fitri yang memang sudah begitu jatuh hati pada suaminya itu.


Dicky perlahan mulai mencium bibir Fitri yang kemerahan, ciuman itu semakin dalam dan panas, ada getaran aneh yang mereka berdua rasakan.


Akhirnya untuk yang pertama kalinya, mereka melakukan hubungan suami istri, Dicky nampak bergairah dan antusias, menumpahkan semua benih-benih cintanya di rahim Fitri, hingga dia terkulai lemas.


"Terimakasih sayang, boleh aku melakukannya lagi?" tanya Dicky dengan nafas yang masih tersengal-sengal.


"Kita makan dulu Mas, supaya kau ada tenaga!" jawab Fitri.


"Kau benar sayang, kita makan dulu, aku juga sudah lapar sedari tadi!" ucap Dicky.


"Mas Dicky ..."


"Iya sayang,"


"Ada yang mau aku tanyakan sebelumnya, apakah kau masih perjaka? Apa kau pernah melakukan hubungan ini sebelumnya? Mungkin dengan Ranti?" tanya Fitri.


"Jujur aku belum pernah melakukan hubungan intim seperti ini, kau lah wanita pertama yang aku setubuhi, benihku tadi adalah benih pertama yang masuk ke dalam rahim seorang wanita!" jawab Dicky.


Tiba-tiba Fitri menangis.


"Maafkan aku Mas, seharusnya kau mendapat wanita yang masih perawan, aku bukan hanya tidak perawan lagi, tapi aku bekas ..."


"Cukup Fitri, aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu, aku tak pernah melihat latar belakang orang, asal kau tulus mencintaiku, itu sudah cukup!" Dicky kemudian kembali memeluk Fitri yang masih mengenakan selimut itu.


"Terimakasih Mas Dicky!" ucap Fitri.


"Pakai kembali pakaianmu Sayang, kita makan di bawah, kau lihat hari sudah gelap, nanti malam kita lanjutkan pertempuran ini!" bisik Dicky sambil mengecup kening Fitri, kemudian dia mulai memakai bajunya.


Setelah mereka rapi berpakaian, mereka lalu turun ke bawah, menikmati sajian yang sudah Fitri siapkan sejak sore tadi, sementara Mbok Sumi sibuk mengepel lantai ruangan bawah.


Bi Sumi bingung melihat Dicky dan Fitri kelihatan mesra di meja makan, sebelumnya tidak pernah seperti itu.


****

__ADS_1


__ADS_2