
Pagi itu, suster Wina, perawat asisten Dicky terkejut saat membuka pintu ruangan Dicky, Dicky nampak tertidur di kursi dengan kepala yang tertelungkup di meja kerjanya.
"Dokter Dicky! Dokter! Bangun Dok! Kenapa Dokter tertidur di sini? Dokter tidak pulang sejak semalam?" tanya Suster Wina.
Dicky mulai mengerjapkan matanya dan langsung terperanjat kaget, sinar matahari mulai menerobos masuk melalui celah jendela kamar itu.
"Suster? Jam berapa sekarang??" tanya Dicky panik.
"Jam tujuh Dokter, aku kira Dokter pulang semalam!" jawab Suster Wina.
Dicky bingung dan tidak sadar apa yang terjadi dengan dirinya.
"Bodoh! Kenapa aku bisa ketiduran di sini??' gumam Dicky.
Tanpa menoleh lagi, dia langsung berjalan cepat keluar dari ruangannya.
Suster Wina heran melihat Dicky yang nampak bingung dan linglung.
Dicky melajukan mobilnya cepat menuju ke rumahnya, rasa bersalah timbul dari dalam dirinya, semalam Fitri pasti menunggunya, lagi pula Dicky berjanji akan pulang malam itu.
Dicky membuka ponselnya, banyak sekali pesan dan panggilan tak terjawab dari Fitri.
Setelah sampai di rumahnya, tanpa menunggu Dicky segera masuk ke dalam, lalu mencari Fitri.
"Fitri!! Fitri! Di mana kau sayang? Maafkan aku!! Fitri!!" teriak Dicky.
Bi Sumi yang terkejut langsung datang tergopoh-gopoh menghampiri Dicky.
"Pak Dokter sudah pulang?" tanya Bi Sumi.
"Bi, dimana Fitri?"' tanya Dicky panik.
"Pak, dari semalam Mbak Fitri menunggu Pak Dokter, tapi entah kenapa tiba-tiba Mbak Fitri naik ke atas, Bibi pikir Mbak Fitri mau tidur, tapi subuh tadi Mbak Fitri sudah tidak ada, Bibi juga bingung Pak!" jelas Bi Sumi.
"Ya Tuhan Fitri, aku ketiduran semalam Bi, padahal biasanya aku tidak pernah sengantuk itu, Fitri pasti marah padaku!" ujar Dicky sambil menghempaskan tubuhnya yang nampak lelah itu.
Kemudian Dicky mulai menelepon ponsel Fitri, namun ponsel itu tidak aktif.
"Kenapa ponselnya di matikan sih! Fitri, di mana kau sayang!" gumam Dicky.
__ADS_1
"Pak Dokter istirahat saja dulu, mandi dulu, sarapan dulu, Bibi buatkan minuman hangat dan sarapan buat pak Dokter, Mbak Fitri pasti baik-baik saja, Pak Dokter jangan terlalu cemas!" ujar Bi Sumi.
"Aku harus mencari Fitri Bi! Sekolah, ya, mungkin dia ada di sekolah, aku harus ke sekolah sekarang!" seru Dicky sambil bangun dari duduknya.
"Pak Dokter mandi dulu, masa datang ketemu orang belum mandi, mandilah Pak, setelah itu sarapan sedikit!" sergah Bi Sumi.
Akhirnya Dicky menuruti saran Bi Sumi, dia lalu naik ke atas menuju ke kamarnya.
Dicky tertegun melihat kamar yang sepi dan sunyi itu, biasanya ada Fitri dengan senyumnya yang selalu menyambutnya.
Tiba-tiba ada yang menetes dari mata Dicky, dia benar-benar merasa bersalah pada Fitri.
"Maafkan aku Fit, kau pasti lelah kan semalam menungguku, tapi kenapa kau semarah ini padaku Fit?" gumam Dicky.
Dengan langkah gontai, Dicky mengambil handuknya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah mandi dan membersihkan tubuhnya yang sejak tadi di rasa sangat lengket, Dicky kemudian mulai berpakaian, matanya tertuju pada bantalnya, di atas Bantal Dicky ada sesuatu yang menarik perhatian Dicky.
Dia lalu berjalan ke arah tempat tidurnya, matanya terbuka lebar setelah melihat sebuah alat tes kehamilan dan secarik kartu di atas bantalnya.
"Apa? Fitri hamil?" seru Dicky dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Mas Dicky, ini hadiah buat Mas Dicky, semoga melalui hadiah ini, Mas Dicky semakin sayang padaku!"
Dicky mencium kartu itu sambil menangis, berkali-kali dia menatap alat tes kehamilan itu, ada rasa bahagia yang membuncah setelah dia tau Fitri hamil hasil benihnya.
Lalu dengan cepat Dicky keluar dari kamarnya, dia tidak sabar untuk mencari Fitri.
"Bi Sumi!! Bibi!!" panggil Dicky dari arah tangga.
"Iya Pak, sarapan sudah ada di meja Pak!" sahut Bi Sumi dari arah dapur.
"Fitri hamil Bi! Fitri hamil anak aku!!" seru Dicky.
"Apa? Mbak Fitri hamil? Kok dia tidak bilang pada Bibi?" tanya Bi Sumi sambil menyodorkan minuman hangat ke arah Dicky.
"Fitri bilang kemarin dia mau kasih kejutan buat aku, ini kejutannya Bi, Fitri hamil!" sahut Dicky antusias.
"Wah, pak Dokter akan jadi Ayah!" ujar Bi Sumi.
__ADS_1
"Sekarang aku harus ke sekolah, aku akan berikan dia banyak hadiah dan cinta, aku tidak sabar ingin memeluk dan mencium perutnya itu Bi, aku jalan Bi!" Dicky langsung bergegas jalan ke arah mobilnya yang terparkir, Bi Sumi mengikutinya dari belakang.
"Tapi Pak Dokter belum sarapan!" sergah Bi Sumi.
"Fitri lebih penting dari sarapan Bi, aku harus cepat menemukannya!" sahut Dicky yang langsung naik ke dalam mobilnya dan dengan cepat melajukannya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di sekolah, karena Dicky mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sekolah itu nampak ramai, sepertinya sedang ada acara. Dicky langsung bergegas masuk dan ingin langsung menemui Fitri.
"Lho, Pak Dokter kok datang sendiri?" tanya Bu Sita yang kebetulan ada di tempat itu.
"Aku mau menemui istriku, di mana Fitri? Katakan di mana dia?!" kata Dicky tak sabar.
"Mana ku tau di mana dia, kau pikir aku pengawalnya!" cetus Bu Sita.
Tanpa membuang waktu Dicky langsung naik ke atas menuju ke kelas Fitri, namun kelas itu kosong, semua anak-anak ada kegiatan di lapangan.
Dicky lalu berjalan menuju ke lapangan, namun di tengah koridor sekolah dia berpapasan dengan Pak Jamal, sang kepala sekolah.
"Lho, pak Dokter kok ada di sini?" tanya Pak Jamal heran.
"Iya Pak, saya mau menjemput istri saya!" sahut Dicky.
"Bu Fitri?" tanya Pak Jamal lagi.
"Iya Pak, memangnya saya punya berapa istri??" jawab Dicky kesal.
"Oh, maaf Pak Dokter, hari ini sekolah ada acara happy Day, jadi murid-murid tidak belajar, makanya tadi pagi Bu Fitri ijin tidak masuk ke sekolah!" ujar Pak Jamal.
"Fitri tidak masuk?? Jadi dia tidak ada di sekolah?" tanya Dicky setengah berteriak.
"I-Iya Pak Dokter, tadi pagi-pagi sekali dia menelepon saya!" jawab Pak Jamal.
Dicky terhenyak mendapati kenyataan bahwa Fitri tidak ada di sekolah. Hati dan pikirannya tiba-tiba di liputi rasa kekhawatiran.
"Fitri, kau ada di mana sebenarnya, jangan membuat aku cemas sayang!" gumam Dicky.
Setelah itu Dicky kembali berjalan cepat menuju ke parkiran sekolah itu.
__ADS_1
****