Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Suasana Hati Dicky


__ADS_3

Dicky mengecup kening Fitri pagi itu saat Fitri mengantarkan Dicky sampai naik ke mobil.


Fitri libur mengajar selama satu Minggu, sekentara Dicky pagi itu seperti biasa akan ke rumah sakit.


"Mas, karena aku libur nanti siang aku antar saja ke umah sakit makan siangnya ya?" tawar Fitri.


"Jangan Fit, lebih baik kau di rumah saja, apalagi kau masih mual-mualnya, besok baru kita konsultasi ke Dokter Mia, kebetulan besok jadwalku tidak banyak!" sergah Dicky.


"Hmm, baiklah!" sahut Fitri singkat.


"Nanti siang aku pulang untuk makan siang, masaklah yang enak untukku, tapi ingat, kau jangan belanja ke pasar lagi, biar Bi Sumi saja yang belanja, kau mengerti sayang?" ucap Dicky sambil mengelus wajah Fitri.


"Iya pak Dokter!" sahut Fitri patuh.


"Istri pintar, punya siapa sih?!" goda Dicky.


"Sudah sana berangkat! Nanti kau kesiangan!" tukas Fitri sambil menyembunyikan semburat merah di pipinya.


Sepanjang perjalanan hingga sampai di rumah sakit, tak henti-hentinya Dicky bersiul senang, sesekali dia bersenandung, menyanyikan lagu cinta.


Sejak dia tau di rahim Fitri ada calon bayinya, entah mengapa Dicky selalu berwajah cerah, seolah dia ingin semua orang tau kalau Fitri hamil benihnya.


"Selamat pagi Dokter Dicky! Sapa Dokter Rizky, kepala rumah sakit yang kebetulan berpapasan dengan Dicky di koridor rumah sakit.


"Selamat Pagi Dokter Rizky!" balas Dicky sambil tersenyum cerah dan menjabat tangan Dokter senior itu.


"Kelihatannya kau sedang senang hati hari ini, sampai jalan saja tidak tidak menengok sekeliling!" kata Dokter Rizky.


"Ah Dokter Rizky, aku jadi malu, istriku sedang hamil Dok, hamil anakku!" ujar Dicky bangga.


"Oya? Selamat kalau begitu, semoga semuanya lancar sampai melahirkan ya!" ucap Dokter Rizky.


"Terimakasih Dok, saya pasti akan menjaga mereka dengan baik!" sahut Dicky.


Dicky terus berjalan hingga dia sampai di ruangan Dokter Dimas, Dokter Dimas yang sedang sarapan di meja kerjanya nampak terkejut melihat kehadiran Dicky yang tiba-tiba itu.


"Hai Dicky, kemana saja kau, belakangan aku jarang melihatmu!" sapa Dimas.


"Dim, aku mau kasih tau, Fitri hamil Dim, dia hamil anakku!!" seru Dicky senang.


"Wah, selamat Bro, akhirnya kau bertekuk lutut juga sama Fitri, walaupun dia lugu dan sedikit kampungan!" ledek Dimas.

__ADS_1


"Sial!! Tutup mulutmu yang jomblo itu! Setidaknya aku tidak sepertimu, jomblo akut yang haus akan cinta!" balas Dicky.


"Wah, walau jomblo tapi pengalamanku lebih banyak darimu bro!" ujar Dimas.


"Persetan dengan pengalaman, yang penting aku akan punya anak yang sah dan halal, mutu terjamin!" cetus Dicky yang kemudian langsung berjalan keluar dari ruangan Dimas.


Saat Dicky sampai di ruangannya, suster Wina nampak sedang membereskan berkas pasien dan catatan rekam medis di rak yang ada di ruangan Dicky.


"Selamat pagi Dokter Dicky!" sapa suster Wina saat melihat Dicky masuk ke ruangannya.


"Pagi Sus, hari ini aku sedang senang, kau ajak teman-teman mu nanti siang makan di kantin, aku akan mentraktir kalian para suster!" ujar Dicky dengan wajah berseri-seri.


"Wuuiiih, ada angin apa nih Dok, tidak biasanya Dokter Dicky sesenang ini!" sahut Suster Wina.


"Istriku sedang hamil Sus, sebentar lagi aku akan jadi calon Papa!" kata Dicky bangga.


"Selamat ya Dok, semoga ibu dan calon bayinya sehat-sehat!" ucap Suster Wina.


"Hmm, Oya Sus, bagaimana mengenai soal cctv yang ku bilang kemarin? Kau sudah tanyakan ke operator?" tanya Dicky.


"Sudah Dok, tapi untuk di ruangan ini tidak di ketahui pada Rabu malam, karena ternyata cctv nya tertutup kain yang sengaja di lempar! Tapi sekarang kain itu sudah saya ambil Dok!" jawab Suster Wina.


"Oya? Kurang ajar, berarti sudah di rencanakan semua ini!" dengus Dicky.


Tanpa menunggu, Dicky segera keluar dari ruangannya, dia berjalan menuju ruang UGD untuk menemui Ranti.


"Mau cari siapa Dokter?" tanya seorang perawat di tuang UGD.


"Di mana Dokter Ranti?" tanya Dicky tanpa basa-basi.


"Hari ini Dokter Ranti ijin tidak masuk, karena anaknya sakit Dokter!" jawab perawat itu.


"Baik, kapan dia akan masuk kembali?" tanya Dicky lagi.


"Tidak tau Dokter, Dokter Ranti tidak memberi kabar apapun kapan masuknya!" jawab perawat itu.


Tanpa menunggu, Dicky segera keluar dari tuang UGD itu, mengingat perbuatan Ranti beberapa waktu yang lalu, membuat Dicky geram dan ingin memberi pelajaran pada wanita itu.


Tidak ada bukti yang cukup kuat mengenai perbuatan Ranti malam itu, bahkan office girl yang menjadi saksi kunci juga sudah mengundurkan diri.


Sementara cctv juga sudah tidak bisa di andalkan lagi, Ranti lebih lihai dari pada semua sistem canggih apapun, dia sudah mempelajari kemungkinannya terlebih dahulu sebelum bertindak, Ranti memang pintar.

__ADS_1


Akhirnya Dicky kembali ke ruangannya, karena sebentar lagi jadwal prakteknya akan segera di mulai.


Di depan ruangan Dicky, sudah terlihat beberapa pasien yang sedang menunggu, Dicky segera masuk ke dalam ruangannya, Suster Wina nampak sibuk mengecek kondisi pasien.


"Sudah mulai bisa di panggilkan Sus!" titah Dicky.


"Baik Dokter!" sahut suster Wina.


Tak berapa lama kemudian, masuklah seorang laki-laki muda dengan menggendong seorang anak kecil.


Saat Dicky mendongak, dia terperangah melihat siapa orang yang ada di hadapannya itu.


"Kau ... Dio?" tanya Dicky gugup.


Dio adalah mantan suami Ranti, dulu Ranti meninggalkan Dicky karena menikah dengan laki-laki ini, dan kini mereka bahkan sudah bercerai.


"Dicky, anakku sakit, sudah beberapa hari ini demamnya tidak turun, aku mohon kau periksalah kondisinya!" ucap Dio.


"Baiklah, silahkan baringkan dia di sana!" sahut Dicky sambil menunjuk ranjang pasien.


Dio segera meletakan anaknya di atas ranjang pasien.


Dicky kemudian mulai memeriksanya.


"Kondisi anakmu agak lemah, hanya terdengar rintihan dari mulutnya, saran ku anakmu harus di rawat inap, nanti akan di lakukan cek darah di lab, untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya!" jelas Dicky.


"Terimakasih Dicky, aku benar-benar khawatir akan kondisi Chika, ibunya benar-benar keterlaluan, giliran anaknya sakit, dia langsung menyerahkannya padaku, sementara dia pergi entah kemana!" keluh Dio.


"Bukankah kalian sudah bercerai?" tanya Dicky.


"Aku tidak pernah menceraikannya, dia yang minta cerai padaku, sekarang Ranti benar-benar sudah berubah, entah apa yang di inginkannya saat ini!" lanjut Dio.


Dicky menarik nafas panjang, kemudian dia menoleh ke arah Chika yang terbaring lemah.


"Suster, tolong siapkan ruangan rawat inap untuk anak ini, jangan lupa langsung di pasang infus, kondisinya sangat lemah!" titah Dicky.


"Baik Dokter!" jawab Suster Wina patuh.


****


Hai guys ... authornya jarang ber iklan lho ...

__ADS_1


Tapi jangan lupa dukungannya selalu ya ...


Terimakasih ...😘😉❤️


__ADS_2